
Falen yang sudah khawatir sejak tadi langsung saja menghampiri Aish."Lo kok basah semua Ai? Terus gimana bisa lo sama Richard?".
Falen selalu merangkul pundak Aish, meskipun Aish melarangnya. Dan saat ini, pundak itu juga tetap dirangkul oleh Falen yang khawatir pada sahabatnya.
Aish masih terdiam, hidungnya masih terasa sakit. Mungkin nanti dia pilek.
"Gue tadi nemuin dia sudah basah, mungkin tercebur. Gue balik ke kelas gue dulu ya" kata Richard.
"Permisi bu, saya kembali ke kelas saya" Richard berpamitan pada Bu Siska.
"Iya, terimakasih ya Richard" kata Bu Siska.
"Mari masuk Aishyah" kata bu Siska.
Richard menatap sekilas pada Aish yang juga melihatnya dengan tatapan penuh rasa terimakasih. Pria tinggi berkulit eksotis itu mengangguk kemudian melangkah pergi.
Falen masih setia merangkul pundak sahabatnya yang sangat berantakan itu. Dia basah kuyup dan kedinginan, bibirnya hingga terlihat biru.
"Kamu bawa baju ganti?" tanya bu Siska.
"Bawa baju olahraga bu" jawab Aish.
"Yasudah kamu ganti baju olahraga dulu saja ya, biar tidak masuk angin" kata bu Siska.
"Biar saya antarkan ke toilet bu" kata Falen.
"Iya silahkan" kata bu Siska.
Teman sekelasnya jadi heboh, kenapa lagi sih Aish itu? Masalah mulu.
Falen setia mengantar Aish, tetap dengan rangkulan dipundak cewek mungil yang sedang menggigil.
"Kebiasaan lo yang kayak gini nih yang bikin gue kena masalah" kata Aish.
"Maksudnya?" tanya Falen.
"Ada yang marah, ngiranya lo suka sama gue".
"Kok bisa?".
"Kok bisa, kok bisa. Lo tuh secara nggak langsung bikin hati cewek lain ngira yang enggak-enggak. Perhatian lo ke gue dikiranya lo tuh ada rasa sama gue".
"Jadi lo kayak gini gara-gara ada yang ngebully?".
Aish hanya mengendikkan bahu.
"Terus kenapa bisa Richard yang sama lo?"
"Nggak sengaja Richard dengar pas mereka mainin gue kayak boneka, mungkin juga pas lagi ke toilet kali".
"Jadi yang mainin lo nggak cuma satu orang?"
"Kalau satu lawan satu gue nggak mungkin mengenaskan kayak gini Fal, mereka berempat, gue sendirian. Kalah jumlah gue".
"Kurang ajar, siapa sih yang sudah ngelakuin ini sama Aish?" batin Falen.
"Lo nggak pingin ngasih tahu siapa yang udah ngejahatin lo?" tanya Falen.
Aish menggeleng," gue bukan tukang ngadu".
"Yaudah gue cari tahu sendiri" kata Falen tetap merangkul pundak sahabatnya.
__ADS_1
"Dah sana masuk, gue tungguin lo disini ya" kata Falen.
Aish mengangguk dan masuk ke dalam toilet wanita untuk ganti baju. Sementara Falen menunggu di depan toilet sambil memainkan ponselnya.
"Ngapain lo disini?" tanya seseorang.
"Nungguin Aishyah, lo sendiri?" tanya Falen.
"Gue mau masuk, minggir dong" katanya menyerobot masuk, membuat Falen menghindar.
"Dasar cewek bar-bar" umpat Falen.
Di dalam toilet, Aish sedang merapikan hijabnya. Dia menelisik isi toilet, tempat tadi dia dipermainkan kakak tingkatnya karena sahabat yang sedang menunggunya di luar.
Seseorang mengusik Aish yang sedang melamun.
"Lo sudah ditungguin, kenapa malah ngelamun disini?" tanya Sekar.
"Eh, iya. Lo abis dari toilet ya?" tanya Aish.
" Lo pikir gue darimana?" Sekar balik tanya.
"Jangan galak-galak. Yaudah gue duluan ya" kata Aish sambil membawa baju seragam basahnya yang telah dilipat rapi di lengannya.
"Gue juga mau keluar kok" kata Sekar.
"Yaudah, bareng yuk" kata Aish menggandeng lengan Sekar.
"Eh, princess bawa sang putri" kata Falen melihat dua cewek didepannya.
Sekar hanya melengos, Aish tersenyum.
"Kita balik ke kelas duluan ya Sekar" kata Aish hanya ditanggapi anggukan kepala Sekar.
"Gue kenapa sih? Kenal juga baru kemarin, kenapa gue ngerasa nggak suka melihat mereka dekat ya?" Sekar membatin sambil melangkah pergi ke kelasnya, berjalan dibelakang dua sahabat yang berangkulan.
Sesekali Sekar melihat Falen yang mengelus sayang pada Aish. Memang gadis itu pantas disayang, dia baik, ramah, cantik, dan terlihat soleha. Sementara Sekar merasa menjadi sangat buruk bila dibandingkan dengan Aishyah.
Kelas mereka bersebelahan, Falen dan Aish sudah masuk ke dalam kelasnya duluan, sementara Sekar masih menatap pintu kelas yang sudah tertutup di sebelahnya dengan hati yang entahlah, diapun bingung.
************
Pulang sekolah, Falen sudah janji untuk mengantar pacarnya dulu. Sementara Aish yang mau diantar Hendra ngotot tidak mau, masih ada urusan katanya.
Hendra tidak bisa memaksa, bukan haknya. Sementara Seno sudah pasti bersama sang sopir yang kini setia 24 jam kemanapun dia pergi.
Aish berjalan bersama Hendra menuju parkiran, Hendra akan mengambil motornya. Aish akan menunggu seseorang disana.
"Lo beneran nggak mau gue anterin nih?" tanya Hendra.
"Iya, bener. Gue bisa pulang sendiri. Gue lagi ada urusan bentar" kata Aish tersenyum.
"Yaudah hati-hati ya, kabari kita kalau ada apa-apa" kata Hendra
"he em" kata Aish.
Hendra mengusap pucuk hijab Aish, teman-temannya selalu melakukan itu saat berpamitan. Aish senang banyak yang menyayanginya.
Hendra pergi, meninggalkan Aish yang masih celingukan mencari seseorang.
Cukup lama orang yang dia cari masih belum nampak. Aish berusaha bertanya pada teman seangkatannya yang akan masuk parkiran.
__ADS_1
"Permisi, maaf, lo ngelihat Richard nggak?" tanya Aish.
"Lo lagi nyari punggawa lain ya?" ejek anak itu.
"Apaan sih, gue lagi ada perlu" jawab Aish jengkel.
"Tuh anak nggak mungkin cepat pulang, dia lagi diruang kesenian sama teman-temannya" kata anak itu lagi.
"Iya, makasih ya" Aish segera berlalu mencari Richard ke ruang kesenian.
Ragu untuk masuk atau tidak, Aish malah mematung di depan pintu. Menengok ke dalam, ternyata Richard sedang latihan bersama teman-temannya.
"Ternyata Richard anak band ya?" Aish bertanya dalam hati.
"Oh, ternyata dia vokalis rupanya" batin Aish melihat Richard yang sedang tes vokal.
"Ngapain Lo sampai nyasar disini?" tanya seseorang dari belakang Aish membuatnya terperanjat karena kaget.
"Huh dasar, ngagetin tahu nggak sih lo Reno" kata Aish sambil mengelus dadanya yang dag dig dug.
"Masuk ya masuk, kalau nggak mau ya jangan halangi jalan orang dong" kata Reno.
"Iya, iya. Gue ada perlu sama teman lo, tapi kayaknya dia lagi sibuk ya?" tanya Aish.
"Bisa minta tolong panggilin nggak?" lanjutnya.
Reno hanya mendecak tanpa berkata apa-apa, pergi meninggalkan Aish yang ngomel nggak jelas. Terlihat dia membisikkan sesuatu pada Richard, membuatnya menoleh pada Aish.
Ternyata Reno memanggilkan Richard, Aish sudah suudzon rupanya. "Nanti gue harus minta maaf nih sama Reno" batin Aish.
Richard menghampiri Aish yabg mematung diambang pintu. "Lo nyariin gue?".
"Eh, iya. Gue mau ngembaliin jaket lo yang tadi. Makasih ya Richard. Nih jaketnya" kata Aish menyerahkan jaket itu pada Richard.
"Iya sama-sama. Lo udah pulang?" tanya Richard sambil memakai jaket itu lagi.
"Iya, gue mau langsung pulang" jawab Aish.
"Lo nggak bilang sama Falen?".
"Enggak, gue nggak mau nambah masalah".
"Ya terserah Lo sih"
"Yaudah sekali lagi makasih ya, gue balik duluan".
"Iya"
Aish melangkah meninggalkan Richard yang masih memandanginya hingga cewek imut itu hilang dari pandangan.
"Selera lo sudah ganti yang soleha ya?" tanya Reno mengagetkan Richard.
"Bukan urusan lo" jawab Richard.
"Gas aja sih kalau menurut gue, dia kan masih jomblo. Cuma lo harus berurusan sama punggawanya. hahahaha" kata Reno.
Richard hanya menatap sinis dan meninggalkan Reno untuk berlatih lagi.
.
.
__ADS_1
.
.