Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
wellerman I


__ADS_3

Hari yang ditunggu telah tiba. Rupanya pak guru kesenian sengaja menggiring seluruh murid kelas sepuluh menuju aula untuk melakukan ujian pada mereka.


Murid yang terpilih akan otomatis mendapat nilai A, dan berkesempatan tampil di acara ulang tahun sekolah yang diadakan tiap tahunnya sebelum ujian kenaikan kelas.


Riuh suara para murid memenuhi seluruh ruang aula. Mereka berkelompok sesuai kelas masing-masing. Richard dan gengnya berada di barisan paling akhir. Kelas IPS selalu menjadi cheerleader di saat seperti ini.


Aish sudah sangat gugup, tangannya bahkan terasa dingin. Dia diapit oleh ketiga punggawanya, memberi semangat agar princessnya merasa lebih baik.


"Baiklah anak-anak, bapak minta perhatiannya" kata pak guru memulai acara.


"Memang tidak semua bisa tampil hari ini. Penentuannya nanti bapak sengaja menggunakan lampu sorot. Nantinya lampu sorot akan diputar secara acak, siapa nanti yang tersorot dipastikan akan tampil ke depan untuk menghibur kita semua" kata pak guru menjelaskan.


"Ada juga nanti dari suara terbanyak, jadi ada kesempatan khusus untuk kalian memilih siapa yang berhak tampil maju ke depan dan unjuk kebolehan. Baiklah, tanpa berlama-lama. Segera acara kita mulai" kata pak guru.


Tiba-tiba lampu aula padam, membuat para siswi berteriak histeris. "Harap tenang semuanya" kata pak guru dari atas podium yang lampunya tetap menyala. Para murid mulai kembali tenang.


"Silahkan lampu sorot berputar" kata pak guru, lampu menyorot ke arah para murid. Berputar sebentar kemudian berhenti pada seorang murid yang harus maju.


"Semoga bukan gue, semoga bukan gue" kata Aish lirih dan berulang-ulang, berharap tidak tersorot lampu.


Doanya terkabul kali ini, seorang siswa dari kelas bahasa yang tersorot lampu. Adrian, seperti itu namanya.


Dia berdiri dan maju ke atas podium. Setelah berbasa-basi singkat dengan pak guru. Adrian segera memulai. Sesuai kelasnya, rupanya Adrian mendeklamasikan puisi tentang kasih sayang orang tua.


Semua murid diam, meresapi setiap bait dari puisi Adrian. Aish sampai meneteskan air mata mendengarnya. Dia teringat pengorbanan ayahnya yang pernah hancur diawal-awal kebangkrutannya dulu, hingga meninggalkan Aish berdua saja dengan bundanya yang kini harus bekerja keras untuknya


Seno menjulurkan tisu pada Aish, cowok itu menyadari jika hati Aish tersentuh oleh pembacaan puisi Adrian. Falen menggamit pundak Aish, kemudian meletakkan kepala sahabatnya itu di dadanya. Dia membiarkan Aish menumpahkan kesedihannya.


Tepuk tangan terdengar riuh setelah Adrian selesai dengan puisinya. Siswa itu turun dengan wajah yang puas, karena melihat semua yang ada disana tersentuh oleh puisinya.


Lampu ruangan kembali padam, sorotan lampu yang berputar kembali membuat sebagian besar murid disana deg-deg an. Apalagi Aish.


Keberuntungan masih ada di pihaknya, karena sampai tiga kali sorotan lampu, dia masih terhindar dari keharusan tampil pagi ini. Bahkan belum ada seorangpun dari kelasnya yang mewakili untuk tampil duluan.


"Baiklah, untuk penampil yang selanjutnya ini berbeda. Kalian boleh menyarankan satu nama agar bisa tampil di hadapan kita semua" kata pak guru.


Awalnya semua murid masih terdiam. Tapi tiba-tiba, entah siapa yang memulai duluan. Ada yang meneriakkan nama Aishyah untuk tampil.


Membuat yang lainnya ikut meneriakkan namanya juga.


"Aishyah.. Aishyah.. Aishyah"


Teriak semua murid didalam aula.

__ADS_1


Aish sangat gugup, dia tak menyangka ada yang memintanya untuk tampil. Mau tidak mau, dia harus tampil ke depan.


"Semangat princess, jangan takut" kata Falen.


"Semangat princess, kamu pasti bisa" kata Seno.


"Semangat princess, tunjukkan pada mereka" kata Hendra.


Aish berdiri dari tempatnya, teman sekelasnya memberi semangat padanya yang akan mengawali kelas IPA-2 untuk tampil. Dia berjalan ragu menuju ke atas podium.


"Silahkan Aishyah Khumaira, dari kelas IPA-2. Jadi kamu mau menampilkan apa?" tanya pak guru.


"Saya mau nyanyi pak" kata Aish.


"Pakai alat musik apa?" tanya pak guru lagi.


"Engmh, gitar pak" jawab Aish.


Pak guru mengambilkan gitar untuk Aish, dua orang anggota OSIS membantu menyiapkan kursi dan standing mick untuk Aish yang akan bernyanyi.


Mata Aish masih sempat mencari keberadaan Richard. Dia terlihat di belakang sana, sedang menatapnya juga. Dia duduk bersama Reno dan Yopi yang terlihat sedang menyenggol Richard yang sedang menatap Aishyah.


"Silahkan Aishyah" kata pak guru.


Aish duduk dengan gelisah, sebisa mungkin dia tidak akan mengecewakan Richard yang sudah rela mengajarinya selama satu minggu ini.


Dia bernyanyi dengan baik, bahkan teman-temannya yang tahu lagu itu juga ikut bernyanyi.


Tapi di tengah lagu, Aish salah dalam memetik gitarnya. Dia lupa harus meletakkan jarinya di posisi apa untuk mendapatkan kunci yang benar.


"Huuuuu .... turun... turun" kata teman-temannya. Entah siapa yang mengawali untuk meneriakkan kata 'turun' seperti itu. Tapi itu sukses membuat Aish down dan sangat malu.


Tiba-tiba timbul sebuah ide dalam kepalanya. Dia akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak mempermalukan ketiga sahabatnya, terutama Richard. Dan yang paling utama, dia tidak ingin mempermalukan diri sendiri.


"Mohon perhatiannya sebentar" kata Aish memecah kericuhan suasana, temannya mulai diam dan memperhatikan.


"Minta bantuannya dong teman-teman. Saya mohon untuk bersedia tepuk tangan seperti ini" kata Aish memperagakan tepukan tangan yang harus teman-temannya lakukan.


prok.. prok.. prok.. prok..


suara tepukan dari tangan Aish diikuti oleh semua temannya. Sekarang suara tepukan tangan itu terdengar kencang dan teratur.


Aish mulai bernyanyi lagi, tanpa diiringi alunan nada dari alat musik apapun. Hanya suara tepuk tangan dari semua temannya.

__ADS_1


There once was a ship that put to sea


The name of the ship was the Billy of Tea


The winds blew up, her bow dipped down


Oh blow, my bully boys, blow (huh)


Soon may the Wellerman come


To bring us sugar and tea and rum


One day, when the tonguing is done


We'll take our leave and go


She'd not been two weeks from shore


When down on her a right whale bore


The captain called all hands and swore


He'd take that whale in tow (huh)


Soon may the Wellerman come


To bring us sugar and tea and rum


One day, when the tonguing is done


We'll take our leave and go


Da-da-da-da-da


Da-da-da-da-da-da-da


Da-da-da-da-da-da-da-da-da-da-da


Aish menyanyikan lagu yang populer akhir-akhir ini. Lagu yang sering dibawakan oleh para vloger maupun pengedit video untuk dijadikan back ground musik mereka.


Aish pastikan jika semua temannya pasti tahu tentang lagu milik Nathan Evan yang berjudul Wellerman itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2