
"Apapun bakalan gue lakuin buat bikin lo selalu ada disamping gue, Ra. Apapun itu, asalkan gue bisa selalu sama lo" keseriusan Richard mantap meyakini keputusannya.
Aish menggeleng, tersenyum singkat. "Kalau keyakinan lo saja cuma segitu, mana bisa gue yakin kalau hati lo nantinya nggak bakalan berubah buat gue, Richard" ucapan yang semakin membuat Richard galau.
"Terus mau lo apa? Kurang bukti apalagi selama ini buat nunjukin keseriusan perasaan gue buat lo, Ra?" pasrah Richard yang selalu menemukan jalan buntu tiap mendiskusikan masa depan mereka berdua.
"Apa nggak perlu buat kita berfikir ulang tentang hubungan kita ini, Richard? Gue takut saat perasaan gue ke elo sudah terlalu besar, dan kita dihadapkan dengan masalah keyakinan, akhirnya gue harus belajar buat merelakan lagi, kehilangan lagi".
"Kehilangan orang yang kita sayangi itu sakit banget, Richard. Berkali-kali gue ngerasain, bahkan sampai saat ini gue mungkin belum bisa ikhlas".
Richard terdiam, membiarkan Aish mengatakan seluruh isi hatinya yang terasa mengganjal.
"Dulu saat kehilangan ayah, satu-satunya penyemangat gue karena masih ada bunda yang selalu bersikap sok tegar dihadapan gue".
"Bunda sama kayak gue, selalu bohong saat mengatakan kalau kita nggak pernah rindu sama kak Alif yang sudah pergi, bahkan dia nggak datang sekedar melihat ayah untuk terakhir kalinya".
"Merindukan orang yang sudah tidak bisa kita temui itu rasanya beda dengan merindukan orang yang masih bisa kita temui tapi nggak bisa kita gapai lagi. Rasanya lebih sakit".
"Perpisahan karena kematian, hanya doa yang bisa gue panjatkan. Dan pasti gue merasakan kehadiran mereka yang juga memeluk dalam perasaan".
"Tapi perpisahan karena keegoisan, rasanya lebih sakit karena kita bisa melihat mereka tapi tak bisa memeluk karena keadaan. Rasanya tuh sakit banget, Richard".
Mulai, setetes demi setetes air mata berjatuhan di sela ucapan yang keluar dari bibir Aish.
"Saat gue kehilangan bunda, gue yakin lo bisa bantu gue buat melalui hari terberat gue. Dan terbukti, lo selalu ada saat gue sendiri"
Aish sedikit tersenyum pada Richard saat mengatakannya. Richard pun membalas senyuman pahit itu, mendengar isi hati Aish yang sebelumnya tak pernah dia utarakan.
Keceriaan yang selalu Aish tampilkan, sebenarnya dia pun menyimpan kesedihan luar biasa.
"Sekarang, gue terlalu takut untuk kehilangan lo, sejak awal kita sudah salah. Gue sudah terlalu bergantung sama lo. Kalau nanti nasib mengharuskan kita berpisah, entah siapa yang akan jadi alasan buat gue bertahan" akhirnya Aish lega telah mengatakan segala unek-uneknya selama ini.
Panjang lebar pilihan kata yang telah Aish tuturkan, berharap Richard tidak akan tersinggung dengan ucapannya.
Kini, keduanya terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing.
"Gue nggak akan sanggup kalau lo jauhin gue, Ra. Seenggaknya, kita coba untuk bertahan dulu. Nanti saat fikiran kita sudah lebih dewasa, pasti ada jalan keluar terbaik. Sekarang, kita jalani saja dulu. Gue nggak bakalan ngijinin lo barang sejengkal untuk pergi ninggalin gue".
Giliran Richard yang mengeluarkan unek-uneknya.
"Apalagi kondisi lo sekarang seperti ini, nggak mungkin gue tega biarin lo menghadapinya sendiri".
"Please, Ra. Jangan bahas ini sekarang" kata Richard tak tahan dengan situasi semacam ini.
Aish mengangguk, dia mengelap air mata dengan ujung hijabnya. Tak lupa mengelap ingusnya yang ikut turun saat tadi menangis, masih menggunakan ujung hijabnya.
"Lo jorok banget sih, itu kan ada tissue di atas meja. Ngapain ngelap ingus pakai hijab sih, abis ini ganti hijab lo. Jijik gue" kata Richard dengan pandangan malas.
"Boleh tolong ambilin, nggak? Kejauhan sih naruh tissuenya" kata Aish dengan rencana jahilnya.
Kotak tissue itu ada diujung meja, meski lebih dekat dengan tempat duduk Aish, tapi perlu berdiri untuk bisa menggapainya. Kaki Aish masih sakit, tidak bisa berdiri.
Dan saat Richard berdiri untuk mengambilkan tissue, tentu badannya berada persis didepan Aish.
Segera Aish menarik kaos Richard, dan menggunakannya untuk mengelap sisa ingus yang ada. Bahkan Aish tertawa saat melakukan itu.
Sementara Richard yang sudah berhasil menarik beberapa lembar tissue malah melotot pada Aish yang menertawakannya.
"Kan lagi gue ambilin tissuenya, Ra. Kenapa malah dilap pakai kaos gue sih? Lo jorok banget tahu nggak" komentar Richard yang membuat Aish semakin menertawakannya.
"Astaga, kaosnya basah, Ra. Dan itu karena ada ingus lo. Hih, jijik gue. Ya ampun, lo jorok banget sih" Richard menggerutu karena ulah Aish.
"Dikit doang Richard. Lo nggak beneran sayang ya sama gue? Masak gitu doang marah sih?" kata Aish yang bertingkah merajuk.
Tapi masih mengisakan senyum dengan mata yang sedikit sembab.
Richard jadi gemas saat melihat sisi kekanak-kanakan Aish yang seperti ini.
Giliran Richard yang jahil. Dia menangkupkan telapak tangannya di pipi Aish. Dengan gerakan seolah ingin mencium, Richard memajukan wajahnya perlahan.
"Mau apa lo? Jangan macam-macam ya, Richard" kata Aish berusaha melepaskan pegangan tangan Richard di pipinya.
Karena pegangan tangan Richard terlalu kuat, Aish malah berusaha menendang Richard menggunakan kaki kirinya yang sedang di gibs.
"Aduh, auwwhh.... Sakit banget" keluh Aish yang melupakan kondisi kakinya karena ulah Richard.
Sontak Richard segera melepas tangannya, dan segera berjongkok di hadapan Aish untuk melihat kondisi kaki Aish.
"Aduh, sorry ya. Maaf ya, Ra. Sakit banget ya?" tanya Richard khawatir.
Aish hanya meringis menahan sakit, dan membiarkan rasa sakit itu menghilang dengan sendirinya.
Dan ya, mereka sudah akur lagi.
__ADS_1
★★★★★
Keesokan harinya, Richard tidak bisa langsung pulang ke rumah selepas jam sekolah usai.
Willy mengajaknya untuk melihat rencana desain interior dari studio musik yang sedang digarapnya.
"Sya, Richard bilang dia nggak bisa langsung pulang ke rumahnya sekarang. Kakaknya ngajakin meeting bareng buat diskusiin masalah studio musiknya" kata Yopi sambil mengemudikan mobil menuju rumah Richard.
"Kok dia nggak ngabarin gue sih?" tanya Aish.
"Hape lo mati, Sya. Kata Richard dia nggak bisa hubungi lo" jawab Yopi.
Aish mengecek ponselnya, dan memang benar jika dia lupa mencharger hape itu sejak semalam.
Salah satu kebiasaan buruknya.
"Oh, iya. Hape gue mati, Yop" kata Aish cengengesan.
"Kebiasaan banget lo" gerutu Yopi dengan fokus masih pada jalan raya.
"Ya sorry. Terus, lo sendiri juga mau langsung pergi nanti kalau sudah sampai ke rumah Richard?" tanya Aish.
"Iya, gue masih ada kerjaan di cafe kan, Sya. Kerja sambilan" kata Yopi.
Aish memahami keadaan Yopi yang sama sepertinya.
"Oke deh, masih ada mbak Widya yang nemenin gue nanti" kata Aish yang mulai akrab dengan art yang Richard tugaskan untuk menjaganya.
Aish dan Yopi kali ini cukup bersahabat, keduanya masih saja mengobrol sampai tiba di depan rumah.
Yopi membantu Aish kembali duduk di kursi rodanya. Setelahnya, dia membiarkan Widya mendorong kursi roda Aish hingga memasuki rumah besar. Dan segera bergegas pergi setelah Aish sudah masuk ke dalam.
"Mbak, bagaimana caranya saya nanti bisa naik ke lantai dua?" tanya Aish yang sudah berada di ruang tamu.
Widya mendorong kursi roda itu menuju ke arah kolam renang. Tangga yang biasa Aish gunakan untuk menuju ke kamarnya, dilewatinya begitu saja.
"Lho, mbak. Kok ke arah sini?" tanya Aish semakin tidak mengerti.
"Disini kan ada tangga yang khusus kursi roda, non" kata Widya.
Memang benar, di sebelah gazebo ada tangga lurus ke atas tanpa anak tangga yang didesain khusus untuk difabel.
Letak tangga yang sedikit disamarkan dengan adanya akuarium besar membuatnya semakin tak terlihat.
"Dulu, almarhum kakeknya den Richard yang dari bapak kan juga pakai kursi roda sebelum beliau meninggal, non. Jadi, tangga ini dikhususkan untuk beliau saat ingin melihat keadaan cucunya" kata Widya menceritakan sedikit keluarga Richard.
"Oh, gitu ya. Terus kenapa Richard nggak pernah ngajak lewat sini, mbak? Malah susah payah gendong saya sampai ke atas?" tanya Aish yang tak habis pikir dengan kelakuan Richard yang mempersulit diri sendiri.
"Saya kurang tahu kalau masalah itu, non. Lebih baik non tanyakan langsung sama orangnya, ya" kata Widya.
" Iya, deh. Nanti saya tanya sendiri" kata Aish.
Hingga menjelang malam, Richard masih belum juga pulang ke rumahnya.
Saat Aish menghidupkan kembali hapenya, chatt dari Richard mengabarkan jika meetingnya masih belum menemukan kesepakatan.
Masih butuh diskusi untuk mendapatkan tata ruang yang sesuai dengan harapan Richard.
Yang bisa Aish lakukan kali ini hanyalah berdiam diri dikamarnya.
"Non, ini makan malamnya. Tidak apa-apa kan kalau non Aish makan malam di kamar?" tanya Widya sambil menata makanan diatas meja kecil di hadapan Aish.
"Nggak apa-apa mbak, santai saja. Makasih ya mbak, saya jadi merepotkan" kata Aish.
Widya hanya mengangguk dengan tangan yang sibuk menyiapkan obat-obatan yang harus Aish minum setelah makan.
"Saya permisi dulu ya, non. Nanti kalau ada apa-apa, non bisa panggil saya lagi" kata Widya setelah menyelesaikan tugasnya.
"Iya, mbak. Makasih ya" kata Aish sopan.
Widya mengangguk, berpamitan setelah mendapat ijin dari nona mudanya.
Aish makan dengan tenang sambil sesekali melihat ke layar ponselnya. Dia sedang membaca artikel di internet.
Selesai dengan acara makan malamnya, Aish terlalu sungkan untuk memanggil Widya hanya untuk membereskan piring kotor.
Dengan inisiatifnya sendiri, Aish berusaha menggapai kursi rodanya. Setelah beberapa kali belajar, kini dia sudah bisa sendiri untuk duduk sendiri di kursi itu.
Aish menata piring dan gelas kotor diatas nampan, lalu menaruhnya dipangkuan. Segera dia bergegas keluar kamar. Kata Widya tadi, tidak ada seorangpun pemilik rumah yang sudah pulang.
Papa dan mama Richard kembali ke Kalimantan untuk melihat kondisi pabrik dan kebun. Mungkin untuk beberapa minggu ke depan mereka masih belum bisa pulang.
Sampai di dekat tangga dekat gazebo, Aish sedikit ragu untuk turun sendiri. "Kalau gue kekencengan nih turunnya, pasti nyungsep. Kalau tangan gue fokus sama rodanya, yang ada piring sama gelasnya yang jatuh, terus pecah" Aish berdebat dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Terus bagaimana caranya gue turun?".
"Ah, bodo amat dah. Satu tangan pegang roda, satu tangan pegang nampan. Bismillah, aman" kata Aish mulai menuruni tangga.
Awalnya masih mulus, rodanya bisa dikendalikan. Tapi semakin turun, kenapa semakin cepat perputaran roda itu?
"Aduh, gimana nih. Aaahhh, rodanya kekencengan" sedikit panik, Aish hanya bisa pasrah kali ini.
Tapi kursi rodanya terlalu cepat saat akan sampai dibawah. "Biarlah gue jatuh lagi, semoga saja nggak terlalu sakit" batin Aish di antara paniknya.
"Aaaaahhhhhh...." teriak Aish di tengah kencangnya roda berputar.
"Hampir, sedikit lagi pasti gue jatuh, terus piring dan gelasnya pecah" batin Aish yang hanya bisa memejamkan matanya.
"Ouch.. It's so sick" kata seseorang didepan Aish.
"Eh, gue nggak jatuh. Kenapa tiba-tiba kursinya berhenti?" kata Aish yang sudah membuka mata.
Dan mendapati seorang lelaki yang jatuh terduduk di depannya. Dia mengerang kesakitan, berusaha berdiri sambil memegangi bokongnya yang tadi sempat terjatuh.
"Maaf, sakit banget ya?" tanya Aish.
"Of course, lo ngapain sih main disini? Lagian lo siapa coba? Kenapa bisa ada dirumah gue?" tanya lelaki itu.
Aish bingung harus menjawab apa. Diamatinya sosok yang masih menggerutu di depannya ini.
Seorang lelaki tampan yang tidak lebih tinggi daripada Richard. Rambutnya sedikit curly, tapi ditata dengan sangat baik hingga menampilkan kesan keren.
Dengan hodie hitam dan celana jeans biru muda. Dan baru kali ini Aish melihatnya. Siapa dia?
"Lo siapa?" tanya Aish ragu, masih menatap lekat sosok itu.
Mendengar pertanyaan Aish, cowok itu malah memindai penampilan Aish yang selamat dari insiden luncur bebas, dan berhasil menyelamatkan orang beserta peralatan makan dipangkuannya.
"Seharusnya gue yang tanya sama lo. Kenapa lo bisa ada disini?" tanya orang itu.
"Wait, lo cantik juga. Pasti bukan Art kan disini? soalnya Lo nggak pakai seragam kayak yang lain. Tapi, kayaknya gue pernah lihat lo, dimana ya?" kata orang itu berusaha mengingat wajah Aish.
"Gue Aishyah" kata Aish memperkenalkan diri.
"Oh, yeah. Lo pacarnya Richard ya?" tanya orang itu dengan tawa mengembang.
Sedikit ragu, tapi Aish menganggukkan kepalanya.
"Hai, gue Romeo. Ternyata seperti ini adek ipar gue. Pantesan Richard seketika bertobat, hahahaha" kata Romeo, kakak Richard yang terpaut tiga tahun dengannya.
Aish menyambut uluran tangan Romeo yang masih tersenyum daritadi. Sangat berbeda dengan Richard yang sok cool dan irit senyum.
"Maaf ya, kak" kata Aish, tidak nyaman juga dipandangi terus sejak tadi.
"Just call me Romeo. Kenapa kaki lo? Patah?" tanya Romeo.
Aish menggeleng, "Hampir, tapi nggak sampai patah, Alhamdulillah" jawab Aish yang ikut mengamati kakinya.
"Lo abis kecelakaan apa gimana sih? Kenapa tangan lo juga lecet-lecet gitu?" tanya Romeo yang masih mengamati keseluruhan keadaan Aish.
"Iya, abis kena sedikit insiden waktu camping sekolah. Tapi Alhamdulillah masih bisa tertolong" kata Aish.
"Terus, tadi lo mau kemana? Kenapa nggak minta tolong sama art sih kalau butuh apa-apa?" tanya Romeo yang lebih humble daripada adiknya.
"Gue nggak enak, kalau bisa gue lakuin sendiri kenapa harus nyusahin orang lain? Iya kan?" tanya Aish.
"Tapi tadi lo hampir jatuh lho, masih untung ada yang ngelihat. Kalau enggak, bisa patah beneran kaki lo" kata Romeo yang mendorong kursi roda Aish ke arah gazebo.
"Makasih ya, kak. Maaf jadi bikin kakak jatuh tadi" kata Aish merasa tidak enak pada Romeo.
Romeo tersenyum, "Cantik juga nih adek ipar" gumam Romeo.
"Kenapa kak?" tanya Aish yang tak bisa mendengar dengan jelas gumaman Romeo.
"Eh, nggak apa-apa. Lo mau ngapain habis ini?" tanya Romeo.
"Nggak ngapa-ngapain sih kak" kata Aish.
"Kita ngobrol ya, beruntung gue pulang kali ini. Bisa ditemenin sama cewek secantik lo" kata Romeo mulai menggombal.
"Kakak bisa saja" kata Aish, tapi mengangguk saat Romeo mengajaknya ke ruang keluarga agar bisa ngobrol lebih santai.
.
.
.
__ADS_1