Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
impian Aish


__ADS_3

Aish sangat fokus pada laptopnya, dia sedang menggambar sebuah desain rumah idaman yang ingin sekali dia buat dengan hasil jerih payahnya nanti saat sudah bekerja.


Sejak dulu, saat dia dan Alif masih rukun. Mereka berdua sangat menginginkan sebuah rumah beraksen Eropa kuno.


Semacam rumah model Belanda kalau orang Indonesia menyebutnya.


Rumah kokoh dengan teras yang diisi kursi kayu aestetik. Dengan jembatan dan sungai buatan yang akan diisi dengan ikan hias yang menyenangkan jika dipandang.


Dengan banyak tanaman hias yang akan menambah keindahan.


Rumah seperti saat dia bertemu dengan ayahnya dalam mimpi.


"Kakak suka banget sama rumah seperti itu, dek. Lihat deh, tiangnya kokoh banget. Kalau kakak sudah gede, nanti kakak bikin rumah kayak gitu" kata Alif waktu itu, saat mereka sekeluarga sedang quality time. Kebetulan ada rumah peninggalan Belanda yang dirombak menjadi cafe anak muda.


"Kenapa yang seperti itu, kak?" tanya Aish dengan polosnya.


"Menurut kakak, tiang yang kokoh itu ibarat keluarga yang kuat. Kayak keluarga kita. Iya kan, yah?" Ayah tersenyum dari balik kemudi, sedangkan bunda menoleh dengan memberi senyuman hangat.


"Kami akan menantikan saat itu, saat dimana kakak mengajak kita sekeluarga pindah ke rumah impian kakak, ya kan yah?" senyuman bunda tak pernah putus dengan ucapan kak Alif.


"Aish juga suka. Aish mau kayak kakak" celoteh gadis kecil yang sedang dipeluk oleh kakak tercantiknya.


Ayah sedang berada di puncak kejayaannya waktu itu. Tiap weekend selalu ada jalan-jalan bersama keluarga.


Lagi, buliran bening terjatuh dari netra Aish. Segera dihapusnya karena mengganggu penglihatan saat sedang merancang model bangunan impiannya.


Mengenang masa lalu memang membuat sebagian hati kita menjadi sendu. Apalagi saat kesendirian seperti ini, hidup sebatang kara bagi remaja seusia Aish bukanlah perkara mudah. Beruntung dia dikelilingi orang-orang yang tulus mencintainya.


Tadi, selepas Falen dan Hendra berpamitan, Aish langsung saja asyik dengan laptop jadul yang masih bisa terpakai. Hadiah dari bundanya saat masuk SMA Mahardika dulu.


Laptop second yang dibelikan oleh bundanya dengan hasil tabungan saat bunda menjahit.


Aish memangku laptopnya, matanya fokus pada layar didepannya.


Sebenarnya sudah dari beberapa bulan yang lalu dia membuat desain rumah itu di waktu senggangnya.


Hingga suara pintu yang terbuka pun, tak membuatnya tersadar. Dia terlalu fokus.


Richard sudah duduk di kursi, tepat di samping ranjang. Tapi rupanya Aish masih belum sadar.


"Lagi ngapain sih?" tanya Richard yang membuat Aish terkejut setengah mati. Laptopnya hampir terjatuh.


Richard membantu menahan laptop itu agar tidak terjatuh dari pangkuan Aish, sementara Aish masih mengusap dadanya yang berdegup kencang.


Sedikit terlihat ada gambar rumah di layar itu, tapi Richard hanya bisa melihatnya sekilas.


"Ya Allah, kaget gue" kata Aish yang masih mengusap dada.


"Untung nggak jatuh, kalau jatuh pasti rusak deh" gumam Aish mengelusi laptop kesayangannya.


"Kalau rusak gue beliin lagi, model terbaru dan termahal. Lagian laptop usang gitu masih dipelihara" ejek Richard yang jadi ingin seperti laptop jelek nan usang yang ada dipangkuan Aish. Bisa disayang, dibelai, di elus di pangkuan.


Aish hanya melotot mendengar ejekan Richard. "Kenangannya itu yang mahal, nggak terbeli. Lo mana tahu" kata Aish.


"Memangnya lagi ngapain? Serius banget sih? Sampai gue masuk daritadi nggak nyadar?" tanya Richard yang ingin mengintip layar laptop Aish, tapi dicegah oleh si empunya.


"Bukan apa-apa kok" kata Aish sambil menekan ctrl+s , mengamankan hasil gambarnya sebelum buru-buru keluar dari aplikasi gambar.


"Lagi ngerjain tugas doang, nggak ada yang lain" kata Aish, dia tidak mau membagikan gambar itu pada siapapun.


"Masak sih? Tugas apaan?" tanya Richard sedikit tidak percaya.


"Ehm, sudah selesai. Sudah gue kirim ke guru, cuma tugas biasa kok" kata Aish yang meletakkan laptopnya diatas nakas.


"Teman lo tadi balik jam berapa?" tanya Richard mengalihkan pembicaraan. Melihat wajah Aish yang tidak ingin membagi tahu, membuatnya ingin mencari tahu sendiri nanti.


"Sekitar satu jam yang lalu kayaknya" kata Aish.


"Ehm, kapan ya gue boleh pulang?" tanya Aish, dia sudah tidak betah terlalu lama dirumah sakit.


"Besok gue tanyain ke dokternya ya. Lo sudah ngerasa baikan apa belum?" Richard menanyakan itu sambil mengamati beberapa bagian tubuh Aish yang terlihat. Masih ada beberapa luka yang belum kering.


"Gue sehat kok. Cuma ya kakinya masih sakit kalau digerakin" sambil mengamati kakinya, dia berusaha menggerakkan. Dan itu terasa sangat sakit meski sudah di gibs.

__ADS_1


Saat melihat gibs di kakinya, sudut bibirnya terangkat. Dia tersenyum melihat banyaknya coretan disana.


Teman-temannya memberi coretan menggunakan spidol yang sengaja Nindi bawa tadi sore saat berkunjung.


"Jadi banyak coretannya, perasaan tadi sore waktu gue tinggalin masih bersih. Siapa saja tadi yang jenguk lo?" Richard melihat ke sudut ruangan, sudah banyak buah tangan yang berjejer rapi disana.


"Tadi banyak yang datang, ada Nindi, Ilham, teman-teman dari Cafe juga ada. Terus Mike--" belum sempat Aish melanjutkan ucapannya, Richard langsung memotong saat mendengar nama Mike disebut.


"Ngapain dia kesini lagi?" tanya Richard tidak suka.


"Dia datang sama dua teman lainnya dari tim basket sekolah. Memangnya kenapa?" tanya Aish, gadis polos ini masih tidak menyadari jika Richard selalu cemburu saat ada Mike, bahkan saat Aish menyebut namanya saja sudah membuat hati Richard terbakar.


"Gue nggak suka lo dekat-dekat sama cowok sialan itu" kata Richard membuang muka.


"Dia kan cuma jenguk gue, Richard. Lagian ada Falen dan Hendra kok dari tadi. Bahkan mereka berdua baru pulang saat jam kunjung sudah habis" kata Aish.


"Tetap saja gue nggak suka. Pokoknya lo harus jaga jarak dari tuh cowok" keposesifan Richard kembali mencuat.


Aish hanya memutar bola matanya. Kalau sudah seperti ini, pasti akan berlanjut dengan perdebatan sengit jika tidak ada yang mau mengalah.


"Iya, baiklah tuan" kata Aish semakin membuat Richard emosi.


Saat Richard akan berkata-kata, Aish menutup bibirnya dengan telunjuk. Mengisyaratkan agar Richard diam.


"Sudah, jangan marah-marah ya... Nanti lekas tua. Lagian, rambutnya di cat putih sih. Sudah kayak rambutnya Engkong. Kan jadinya suka marah" kecerewetan Aish yang seperti ini yang sebenarnya selalu Richard rindukan. Apalagi sikap sok cuek Aish saat berkata-kata, membuat Richard jadi tambah gemas.


Dia tidak jadi marah.


Dan sumpah, besok Richard akan mengubah warna rambutnya.


Meski Aish mengatakan itu hanya untuk bercanda, nyatanya meski berwarna apapun rambut Richard, wajahnya memang tampan.


Kadang Aish berfikir, kenapa semua orang kaya bisa terlihat tampan?


Seperti Falen, Hendra, Seno, mereka semua tak pernah terlihat jelek meski hanya memakai kaos oblong yang penuh keringat.


Berbeda dengan Ilham, meski sudah memakai kaos terbaiknya, kenapa Ilham masih dipanggil buluk?


Padahal sudah terlihat cukup berbeda dari penampilannya yang biasa.


"Cg, nggak kok" Aish menjawab dengan malas.


"Bentar lagi ujian semester ya, nggak terasa ya sudah mau kelas 12" kata Aish mencari bahan obrolan.


"Iya, dan setelah lulus, gue mau langsung nikahin lo" kata Richard, selalu membahas nikah kalau sudah lulus.


"Kenapa sih isi tuh kepala cuma nikah, nikah doang. Nggak ada yang lain apa? Seperti contohnya kuliah yang rajin, belajar yang tekun. Dapat kerjaan yang bagus, karirnya meroket" Kembali bibir tipis Aish melantunkan ayat-ayat mulia. Richard hanya menopang dagu saat mendengar ceramah dari gadis kesayangannya.


"Nanti kalau kita sudah sama-sama dewasa, baru deh mikirin nikah. Kalau semua impian kita sudah terwujud. Dan keluarga kita sudah saling mengenal, sudah dapat restu. Pasti senang kan kalau pernikahan itu dilakukan dengan perencanaan yang matang?".


Saat Aish melihat Richard untuk bertanya di akhir khutbahnya, malah mendapati sang kekasih yang sedang menatapnya tanpa berkedip.


Aish melempar bantal ke wajah Richard, terdengar gelak tawa setelah bantal itu berhasil diamankan.


"Sudah ceramahnya?" pertanyaan yang sangat menjengkelkan.


"Oke, gue diem" dengan bersidekap tangan di dada, Aish membuang pandangan.


Richard menangkup wajah Aish, giliran Aish yang panas dingin. "Ya ampun, boleh nggak sih yang kayak gini di skip aja?".


"Gue tuh terlalu takut kalau lo ninggalin gue, Ra. Kelamaan pacaran nanti lo bosan sama gue. Lo nyari pelampiasan ke cowok lain. Lo nyari kesempurnaan dari orang lain yang gue nggak punya" jedaan dari ucapan Richard semakin membuat hati Aish deg-degan.


"Gue nggak perduli sama yang lainnya, yang penting gue bisa miliki lo tanpa khawatir kalau lo bakal ninggalin gue karena kita sudah terikat pernikahan".


Tuhan, batin Aish semakin tak karuan. Jangan kau kirim setan ke ruangan ini, karena kekhilafan akan mudah terjadi jika hanya ada dua orang dalam ruangan yang sama.


Richard menurunkan tangannya, menangkap telapak tangan sang kekasih dan menggenggamnya erat.


"Gue bisa gila kalau jauh dari lo, Ra" hati kedua insan ini sama-sama berdetak kencang. Rasanya seperti habis lari maraton, bahkan mereka bisa mendengar debaran masing-masing.


"Tapi kan gue masih punya impian buat masa depan gue, Richard" jujur Aish masih ingin meniti karir untuk kehidupannya yang lebih baik.


"Kita bisa berjuang bersama, Ra. Bahkan kalaupun kita nikah sekarang, gue bisa nafkahin lo dari hasil kerja gue" keyakinan Richard yang memang sudah mempunyai usaha yang cukup sukses.

__ADS_1


"Tau lah, gue pikir-pikir lagi" Aish melepaskan genggaman tangan Richard. Membuat Richard sedikit mendesah.


"Gue pastiin bakalan nikahin lo setelah lulus" batin Richard meyakini keinginan tulusnya.


"Lo tuh, dulu kan ketus banget sama gue Ra. Apalagi pertama kali kita ketemu. Lo ingat nggak?" tanya Richard mengalihkan pembicaraan, ingin bisa lebih santai.


"Iya, lo kan waktu itu nabrak gue. Sakit banget itu. Lo waktu itu lagi mesra-mesraan sama Emily ya, sampai oleng gitu yang bawa mobil" memang rasanya sedikit tercubit hati ini saat mengungkap masa lalu pacar kita.


"Iya, gue khilaf waktu itu" Richard semakin menggoda Aish, biar saja bukan hanya dirinya yang sering terbakar cemburu.


Aish melirik kesal, "Jadi apa yang namanya cemburu itu seperti ini ya? Kayak nggak ada oksigen" penuturan terjujur dari hati Aish, meski hanya berani terungkap di hatinya saja.


"Bahkan kalian kalau ngobrol ber 'aku-kamu' loh" kata Aish dengan memicingkan matanya seperti orang silau.


"Jadi, lo mau kita panggilannya 'aku-kamu' juga?" dengan senyum mengejek, Richard semakin membuat Aish cemberut.


"Nggak" kata singkat yang keluar dari mulut Aish semakin membuat Richard tertawa.


Richard berdiri, mengambil spidol merah dari dalam tasnya. Pergerakan itu tak luput dari pandangan Aish.


Setelah mendapatkan spidolnya, Richard mendekat pada kaki Aish yang di gibs. Dan mulai menuliskan sesuatu disana.


Richard menulis sambil terus menyunggingkan senyum.


"Sudah, selesai" kata Richard masih tersenyum.


"Aishyah Love Richard, forever and ever."


"Aishyah cuma punyanya Richard".


"Jangan diganggu, pacarnya Richard".


"Ih .... ngeselin banget sih. Tulisannya kok gitu, norak banget. Gimana cara hapusnya coba? Richard ih.... Malu-maluin banget" kata Aish sedikit menendang-nendangkan kakinya.


"Mana warnanya beda sama yang lain, kan kelihatan banget jadinya, Richard.... Lo tuh nyebelin banget sih" omelan Aish masih berlanjut, tapi tak mendapat sahutan apapun dari Richard yang malah asyik dengan ponselnya.


"Richard, lo dengerin gue nggak sih? Gue lagi ngomong! Malah sibuk sama hape" gerutu Aish, lalu melemparkan sebuah bantal lagi pada wajah Richard yang terlihat sok sibuk.


"Bentar, sayang. Gue lagi pesan makanan nih, belum sempat makan daritadi. Laper gue. Lo mau sekalian gue pesankan apa?" sorot mata Richard kembali menatap Aish yang terlihat berpikir.


"Gue tadi sudah makan sih, makanan rumah sakit memang nggak enak ya" komentar yang sama tentang makanan rumah sakit dari semua pasien juga terucap dari bibir Aish.


"Tapi habis kan?" ejek Richard.


"Iya, hehehehe" Aish tergelak karena memang dia menghabiskan makanan yang katanya tidak enak itu.


"Masih mau makan lagi?" tanya Richard.


Aish mengangguk senang, "Gue kepingin makan cwie mie pakai toping keju sama ayam suwir, sama minum milk shake coklat dong. Boleh nggak?" puppy eyes yang Aish tunjukkan tentu tak bisa membuat Richard menolak permintaan Aish.


"Sebentar hamba pesankan tuan putri" dengan tangan yang masih sibuk dengan layar ponselnya, Richard masih sempat mengedipkan sebelah matanya.


Aish hanya tertawa.


Bukankah kalau rukun seperti ini perasaan kita juga ikut senang? Jangan terus-terusan berantem ya, Richard dan Aish.


Richard telah selesai dengan urusan pemesanan makanannya. Kembali dia memandang pada Aish. Dia berpindah duduk di atas ranjang, dimana Aish juga duduk sambil membolak-balik novel yang belum sempat dibacanya sejak Nindi membawakan untuknya tadi sore.


"Gue minta maaf ya, sebelum lo pergi camping kemarin kan kita sempat berantem. Gue takut banget waktu lihat lo sakit. Lo tuh kenapa sih nggak pernah maj dengerin gue? Nakal banget" pandangan Richard tulus mengatakannya.


"Iya, gue juga salah. Maafin gue ya" pandangan mereka bertemu.


Pengungkapan rasa sayang keduanya tersalurkan dari pandangan mata dan genggaman tangan.


Cukup lama dalam keadaan seperti itu membuat pertahanan Aishpun goyah.


Tuhan, sekali saja. Dosakah jika secara sadar untuk sekedar memagut merahnya bibir kekasih?


Wajah mereka semakin mendekat, hanya kurang 1 cm saja agar kedua bibir itu menempel.


"Pesanan datang.... Eh, kalian mau ngapain?" suara cempreng Reno mengagetkan Richard dan Aish.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2