Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
A night with Mahendra


__ADS_3

"Baru jam sembilan, Hen" kata Aish yang baru saja turun dari motor sport Hendra.


"Kenapa?" tanya Hendra.


"Ada penampakan nggak sih di jam-jam segini?" tanya Aish penasaran.


"Banyak lah. Munculnya mana tahu waktu" jawab Hendra.


"Apalagi di tempat kayak gini, banyak yang nggak jujur jualannya, princess" kata Hendra.


"Maksudnya?" tanya Aish.


"Ya mereka pakai pesugihan" kata Hendra berbisik di telinga Aish.


Wajah Aish memucat mendengar omongan Hendra. Ngeri juga meski di keramaian.


"Jangan kebanyakan ngobrolin mereka deh. Mereka itu peka banget. Ada yang nyinggung dunianya saja mereka sudah tahu, apalagi kalau kita sengaja ngobrolin mereka. Kadang ada yang ikut tanpa kita sadari" Hendra masih menghentikan langkahnya di luar pintu masuk pasar malam agar obrolannya mengenai mereka yang tak kasat mata tak membuat kehebohan di dunianya.


"Sudah ya, kita masuk dulu. Nanti gue kasih lihat bentukannya para jin penglaris kalau kita ketemu" kata Hendra.


"Jalan sama lo berasa traveling ke tempat horor, Hen" kata Aish, meski tersenyum tapi dia jadi merinding juga.


Tidak apa-apa lah, sebagai pengalih perhatian dari segala kegundahan yang beberapa hari ini membuatnya hampir bunuh diri.


Setelah membayar tiket masuk, keduanya lantas melangkahkan kaki untuk memulai traveling.


"Lo selama ini masih sering di lihatin penampakan gitu nggak, Hen?" tanya Aish.


"Masih, sering malah. Tapi gue kan memang dasarnya dari dulu nggak takut sama yang kayak gitu. Jadi, waktu gue dikasih kesempatan kayak gini ya gue manfaatin saja" kata Hendra.


"Terus, lo biasanya tanya sama siapa kalau lo lagi dalam keadaan ketakutan? Pasti adalah ya yang bikin lo takut, meski cuma satu dari sekian banyak" tanya Aish penasaran, tapi takut juga.


"Bang Rian. Selama ini gue sering ngobrol sama bang Rian. Meski nggak cuma masalah horor doang, gue juga sering sharing masalah lainnya juga" kata Hendra.


"Dia ternyata orangnya asyik, nggak pelit ilmu juga nggak ngerasa terganggu kalau gue recokin" kata Hendra.


"Coba deh lo lihat dua lapak pedagang yang laris di depan itu" kata Hendra, mereka berdua berhenti di sebuah lapak yang masih kosong. Sepertinya penjualnya sedang libur malam ini.


"Yang jualan sosis bakar sama ayam geprek itu ya?" tanya Aish.


"Iya. Lo bisa ngerasain nggak perbedaan dari keduanya?" tanya Hendra.


"Ehm .. Apa ya? Bentar gue mikir dulu" kata Aish sambil mengamati kedua lapak yang Hendra tunjuk tadi.


"Jangan pakai otak, rasain pakai hati. Buka mata batin lo" kata Hendra.


"Mana bisa Mahendra. Gue kan nggak punya keahlian kayak lo" kata Aish yang sudah mengerucutkan bibirnya.


Hendra malah mencubit bibir Aish, gemas sekali melihat bibir itu maju.


"Ish, Mahendra. Ngeselin banget sih" kata Aish setelah Hendra melepas tangannya dari bibir Aish.


"Habisnya, lo lucu banget sih" kata Hendra dengan gelak tawanya.


"Ayo, bilang sama gue apa bedanya dari dua penjual itu" kata Hendra.


"Ehm .. Rasanya, menurut gue. Ehm... Penjual ayam gepreknya lebih adem ya? Meski sama-sama murah senyum, tapi penjual sosis bakar itu kok sering masukin sesuatu ke dalam arangnya ya?" kata Aish setelah mengamati keduanya.


"Pinter banget sih lo, princess" kata Hendra.


"Iya dong" kata Aish bangga.


"Jadi, penjual sosis itu ngasih semacam garam gitu ke dalam arangnya. Kayak nambah energi buat jin penarik konsumennya gitu. Sedangkan penjual ayam geprek itu gue yakin kalau yang jualan punya suatu amalan yang nggak dilarang menurut agamanya, soalnya gue nggak lihat adanya jin yang menarik konsumen disana" kata Hendra menjelaskan.


"Memangnya di lapaknya penjual sosis bakar itu ada jinnya ya Hen?" tanya Aish.


"Ada, lo mau nyoba lihat?" tanya Hendra.


"Memangnya bisa?" tanya Aish seperti tertantang untuk melihat pemandangan di dunia lain.


"Oke, gue bantu buat buka mata batin lo ya. Mau?" tanya Hendra memastikan lagi.


"Lo bisa?" tanya Aish.


"Bisa. Gue sering latihan sama bang Rian. Jadi, sekarang ilmu gue tentang gituan lumayan lah. Meski nggak jago" kata Hendra.


"Bentar deh, kalau gue mau dibuka mata batin, terus gue ngerasa nggak kuat buat lihat sosok-sosok mereka nih, bisa nggak ditutup lagi?" tanya Aish.


"Bisa dong. Kalau bisa dibuka, ya harusnya bisa ditutup. Lo tenang saja, gue sudah sering ngelakuin ini sama Falen. Dia sering jadi kelinci percobaan gue selama ini" kata Hendra tertawa, mengenang kebersamaannya dengan teman bulenya yang kini sudah berada di benua lain.


"Oh ya? Uwah, gue banyak ketinggalan ya tentang kalian" kata Aish menyayangkan waktunya yang sering terbuang untuk sekolah dan kerja.


Jarang sekali mereka ada waktu bersama selain akhir pekan yang memang dikhususkan untuk jadwal bertemunya princess dan para punggawanya.

__ADS_1


"Eh, nggak juga sih. Gue tahu kok kalau kalian berdua sering pergi ke club malam" kata Aish dengan pandangan tajamnya pada Mahendra.


"Nggak sering juga kali, princess. Cuma nyoba doang" kata Hendra dengan cengir kudanya. Tiba-tiba menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Jangan dong, Hen. Kan nggak baik minuman beralkohol itu buat kesehatan. Lagian kalian masih belum cukup umur kenapa bisa masuk sih?" tanya Aish.


"Temannya Falen om-om, hahahaha" kata Hendra.


"Sudah deh, nggak usah bahas yang itu. Sekarang lo jadi apa nggak nih yang mau lihat 'itu'?" tanya Hendra.


"Boleh deh. Topi kalau gue nggak kuat, lo segera tutup lagi, ya" kata Aish yang tertarik dengan pandangan yang Hendra alami.


"Oke, sekarang lo tutup mata lo. Fokus, bisa juga lo pakai dzikir kalau susah buat fokus" perintah Hendra.


"Tapi lo jangan nge prang gue ya. Nanti gue tutup mata, malah lo tinggal sembunyi" kata Aish sedikit ragu, Hendra kan suka usil.


"Nggak akan. Percaya deh sama gue" kata Hendra yang sudah mode serius.


"Oke, sudah" kata Aish yang sudah menutup matanya.


"Fokus ya" kata Hendra yang kini menutup kedua mata Aish dengan telapak tangan kanannya. Sementara telapak tangan kirinya memegang tengkuk Aish sambil mengusapnya pelan.


Ada mantra yang Hendra baca tanpa sepengetahuan Aish. Hanya bibirnya saja yang komat-kamit.


Tidak butuh waktu yang lama, Hendra sudah menyelesaikan ritual singkatnya untuk mencoba membuka mata batin Aish.


"Buka mata lo pelan-pelan. Kalau bisa, lihat ke arah gue aja dulu. Biar lo nggak kaget kalau lihat mereka, soalnya disini banyak banget" kata Hendra.


"Oke" kata Aish yang membelokkan badannya menghadap pada Hendra.


Kedua tangan Hendra menangkup bahu Aish. Setelahnya, Aish mendongak untuk menatap mata Hendra karena memang Hendra lebih tinggi. Dia berusaha menetralkan pandangannya yang sedikit buram setelah menutup matanya barusan.


"Ready? But, please don't scream too loud although you will see something bad" kata Hendra.


Aish hanya mengangguk dan menoleh pelan ke arah penjual sosis yang sedang mereka amati.


Setelah pandangannya fokus dan terlihat jelas sosok jin penglaris yang sedang menunggui lapak itu, Aish yang terkejut bahkan tak bisa berteriak.


Dia hanya melotot sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan saat jin yang sedang dia lihat juga sedang melihatnya.


"Astaghfirullahaladzim... Ya Allah, bentuknya gitu banget, Hen" gumam Aish.


Hendra hanya tersenyum mendengar gumaman princessnya.


"Dia itu kurus dan nggak begitu tinggi ya Hen, matanya kenapa bisa nangis darah gitu? Terus kan dia nggak pakai baju, Hen. Tapi nggak kelihatan lho alat vitalnya, hehehe. Lagi juga, kulitnya kayak kulit pohon ya" kata Aish menjabarkan bentuk aneh jin yang sedang diamatinya.


"Kalau dipegang keras apa enggak ya kulitnya?" tanya Aish penasaran.


Sedangkan jin yang sedang mereka amati juga melihat ke arah mereka, hanya saja dia tidak bisa meninggalkan kewajibannya yang sudah terikat untuk terus menjaga dan mencari pembeli di lapak itu.


"Pegang aja kalau bisa. Lo tuh ada-ada saja" kata Hendra.


"Mereka itu apa minta tumbal, Hen?" tanya Aish.


"Sejauh yang gue tahu nih. Kalau jin semacam itu ada dua macam, ada yang minta tumbal ada yang enggak juga" kata Hendra.


"Yang minta tumbal itu lebih ke pesugihan, tapi yang nggak pakai tumbal ya kayak mereka itu. Cuma bantuin buat cari pelanggan aja sih" kata Hendra.


Aish hanya manggut-manggut saja mendengarnya.


"Sama saja Hen, sama-sama pesugihan juga. Cuma yang satu pakai tumbal, yang satunya enggak, gitu doang" kata Aish.


"Benar juga sih. Dah yuk, nyari jajan. Lo berani lewat di depannya?" tanya Hendra.


"Bismillah, berani gue. Tapi lo jangan ninggalin gue ya" kata Aish yang sangat penasaran dengan berbagai macam makhluk Tuhan yang lainnya.


Langkah Aish terasa ringan kali ini. Sejenak dia memang sengaja melupakan dulu masalahnya dengan Richard.


Bersama Hendra, dia sedang mencoba situasi baru sebelum memulai kehidupan barunya.


"Masyaallah, Mahendra.... Kok ada yang ngeludahin dagangan juga sih?" tanya Aish. Serasa perutnya seperti diaduk-aduk melihat penampakan itu.


"Sama, itu juga penglaris. Dagangannya jadi terasa semakin enak kalau kena ludahnya" jawab Hendra.


"Ayo ikut gue" kata Hendra seperti terburu-buru, hingga menarik tangan Aish agar berjalan lebih cepat.


"Eh .. kenapa sih? Mau kemana?" tanya Aish.


Tak berniat menjawab pertanyaan Aishyah, Hendra tetap saja melanjutkan langkahnya menuju salah satu lapak yang cukup ramai. Tapi tidak seramai lapak sosis yang tadi dilihatnya


Aish tertegun melihat sebuah penampakan manusia berkepala kambing yang ada di depannya.


"Astaghfirullah, Mahendra... Gue takut" kata Aish lirih, tangannya menggamit lengan Hendra dengan kuat.

__ADS_1


"Lo nggak usah takut, bentar ya. Lihat nih apa yang bakalan gue lakuin" kata Hendra.


Mereka berdua kini berada di belakang sebuah lapak penjual wafle. Jajanan yang cukup populer akhir-akhir ini.


Di belakang lapak itu Aish melihat ada sebuah kendi kecil yang berada di atas cobek yang diisi dengan air dan bunga tujuh rupa.


Tiba-tiba Hendra menendang kendi itu dengan sangat keras ke arah sungai yang menjadi pembatas antara pasar malam dengan mall besar di seberang sungai itu.


"Hendra, kenapa ditendang?" tanya Aish sedikit berteriak.


Karena saat Hendra menendang kendi itu dan tercebur ke dalam sungai, maka penampakan yang Aish lihat tadi juga ikut tercebur kedalamnya.


Sosok itu meneriakkan kata-kata yang entah apa artinya. Aish tidak tahu.


Tapi suaranya sangat melengking baginya yang saat ini kebetulan bisa melihat dan mendengar makhluk dari dunia lain.


"Dia ngomong apa barusan?" tanya Aish yang masih syok.


Sebelum Hendra menjawabnya, Cowok itu segera menarik tangan Aish dan sedikit berlari untuk menjauh dari lapak.


Mereka berhenti di lapak lain yang berjarak kira-kira tiga ratus meter. Dengan jarak pandang yang bisa melihat lapak sebelumnya.


"Ngomong dulu Hendra, minimal kasih aba-aba dulu gitu sebelum ngajak lari. Jangan main tarik gitu dong" kata Aish yang masih sedikit ngos-ngosan.


"Sorry, tuh lihat. Pemilik lapaknya mulai sadar kalau jinnya hilang" kata Hendra menunjuk seseorang yang kebingungan mencari kendi yang tadi ditendang Hendra.


"Iya sih, tapi ya jangan langsung ditarik gitu. Kaget gue" omel Aish.


"Kok lo bisa nendang gituan sih?" tanya Aish.


"Ya bisa. Ilmu mereka juga ada tingkatannya, princess. Yang tadi itu jinnya yang paling bodoh. Tapi sebodoh-bodohnya mereka, masih bisa disuruh nyari konsumen" kata Hendra.


"Sama kayak sekolah gitu maksudnya?" tanya Aish.


"Ya gitu deh. Beli pesugihan semacam itu juga ada tingkatan harganya. Sesuai isi kantong peminatnya" kata Hendra.


"Ada ya yang kayak gitu" gumam Aish.


"Ada dong" kata Hendra.


"Trus kalau gue lagi nggak bisa ngelihat mereka nih, gimana caranya gue bisa ngebedain mana penjual yang jujur sama yang punya jin penglaris kayak gitu?" tanya Aish serius.


Jijik juga kan kalau makan makanan enak, ternyata karena diludahi sama jin. Hiii...


"Susah sih ngebedainnya. Memang cuma orang-orang terpilih doang yang tahu" kata Hendra menyombongkan diri.


Aish mencebik saja mendengar ucapan Hendra.


"Gaya lo, Mahendra" kata Aish.


"Makanya baca doa dulu sebelum makan. Jadi, makanan apapun yang masuk ke dalam mulut lo sudah di netralin sama kekuatan doa" kata Hendra.


"Tapi ya tetap saja bisa kemasukan ludahnya jin, Hendra. Ada nggak sih yang lebih spesifik gitu caranya?" tanya Aish.


"Lo ngeraguin kekuatan Tuhan?" tanya Hendra yang tak menyangka jika Aish masih akan mendebatnya juga.


"Nggak dong, masak gue ngeraguin Tuhan sih" kata Aish takut-takut.


"Ya makanya, sebelum makan, dimanapun dan kapanpun itu doa dulu. Pasti Tuhan yang akan ngejagain lo dengan kekuatan-Nya" kata Hendra yang sok bijak malam ini.


"Sudah yuk, lo mau cari jajan apa? Jangan kebanyakan nonton mereka. Bisa GR terus ikut sama lo, kan bahaya" kata Hendra menakuti princessnya.


"Yah, jangan gitu dong, Hen. Oke deh, gue pengen makan takoyaki aja dama minum es boba coklat" kata Aish yang melihat lapak takoyaki dan boba terlihat aman.


"Oke. Kita kesana" kata Hendra mendekat ke arah lapak tujuan.


Tapi siapa sangka, setelah Aish mendekati lapak Takoyaki malah di tangan penjualnya sedang duduk seorang nenek tapi bertubuh kecil semacam peri, tapi agak sedikit besar.


Nenek imut itu duduk diatas spatula kecil yang digunakan untuk membolak-balik adonan dia tas loyang. Dan kaki kotornya tercelup pada adonan yang sedang digoreng.


"Nggak jadi, Hen. Beli kerak telor asli Betawi sama boba coklat aja deh" kata Aish memundurkan langkahnya menuju penjual kerak telor yang tak jauh darinya.


Hendra hanya tersenyum sambil menuruti permintaan sang princess.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2