Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
senasib


__ADS_3

"Spada ... Selamat sore..."


"Siapa ya mbak?" Aish dan Widya saling berpandangan, ada yang bertamu rupanya.


"Biar saya yang bukain pintunya ya mbak" kata Widya yang sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Hallo adekku tersayang" ternyata Romeo yang mendatangi Aish malam ini, bersama Richard.


"Kak Romeo bukan sih?" gumam Aish yang menggerakkan kursi rodanya menuju ruang tamu.


"Hai dek, lihat nih apa yang kakak bawain buat kamu" kata Romeo yang sudah melihat Aish datang.


"Uwah, apa itu kak?" tanya Aish dengan mata berbinar.


Heboh sekali mereka berdua.


"Kue Pie, uwah.... Rasanya macam-macam" kata Aish setelah membuka kotak kue yang Romeo bawa.


"Sesuai janji gue kemarin, kue pie buat lo" kata Romeo.


"Kalian kemarin darimana?" tanya Richard, baru sekarang dia berkesempatan untuk menanyakannya.


Tumben sekali Richard mau datang bersama Romeo.


"Kemarin gue cuma ngajak adek imut ini ke mall doang, biasa cuci mata" Romeo semakin menggoda Richard yang merengut saja daritadi.


Jadi tadi ceritanya, saat Romeo melihat penampilan adiknya yang sudah rapi. Bisa dipastikan kalau dia akan mengunjungi pacarnya.


Berhubung Romeo gabut, bolehlah gangguin orang pacaran.


Akhirnya, setelah sedikit merengek manja, Richard yang jengah dengan sikap kakaknya memilih mengalah. Dan memperbolehkan Romeo ikut dengannya.


Tapi di tengah perjalanan, Romeo masih membelokkan setir menuju kedai es krim di mall yang dia kunjungi kemarin bersama Aish, hanya untuk membeli sekotak kue pie.


Padahal rencananya tadi, Richard yang akan mengajak Aish jalan-jalan jadi gagal total gara-gara kakaknya yang resek ini.


"Ke mall yang tadi?" tanya Richard.


"Iya, terus adek gue yang ini harus kehilangan sepotong kue pie stroberinya gara-gara gue. Maafin kakak ya, dek" kata Romeo tulus, tapi terkesan main-main karena memang dia tidak pernah serius.


Aish sedikit gemetar, jangan sampai mulut ngaco kakaknya Richard itu bocor untuk bercerita part Mike.


Akhirnya, malam itu dihabiskan dengan dominan Romeo dan Aish yang bercanda.


Membuat Richard semakin merengutkan wajahnya, tapi juga tak mungkin untuk meninggalkan mereka berdua.


★★★★★


Karena tak ada kerjaan, Yopi yang sedari sore sudah pulang iseng-iseng mengirimkan chatt pada Nindi untuk mengajaknya jalan-jalan.


Hanya sekedar berkeliling dengan membawa motor Aish.


Tak terduga, Nindi mau!


Jadilah sekarang mereka berdua ada di pasar malam yang kebetulan ada di lapangan, diperbatasan kampung Aish dan Nindi.


"Ini pertama kalinya gue datang ke tempat kayak gini" kata Yopi, mereka berdua sedang duduk di bangku yang biasanya ada di pinggir lapangan.


"Aku sih sering dulu waktu kecil, sama ayahku" kata Nindi, tangannya juga sibuk mengupas kacang tanah rebus.


"Waktu kecil, gue mainnya ke Disneyland" ingatan Yopi menerawang, betapa bahagianya dia waktu kecil.


"Asyik dong, masih kecil mainnya sudah sampai ke luar negri. Aku mah paling jauh ke Yogyakarta, lihat candi. Itupun bareng teman seangkatan waktu ada acara perpisahan SD".


Perkataan Nindi membuat Yopi tertawa.


"Sumpah? Lo nggak pernah ke liar negri? Singapore deh, paling dekat sama negara kita" tanya Yopi masih tidak percaya.


Nindi menggeleng, "Nggak semua orang seberuntung kamu, Yopi" kata Nindi.


"Dulu gue beruntung banget, Nin. Sekarang gue apes banget" kata Yopi.


"Nggak ada satu masalah yang nggak meninggalkan hikmah, Yop. Asal kita mau terus positif thinking".


Yopi menaikkan alisnya mendengar perkataan Nindi.


"Bijak banget omongan lo, sudah kayak motivator tau nggak" ejek Yopi.


"Loh, tapi kan benar" kata Nindi tak terima.


"Hehehe, iya... Gue salah, sorry deh. Tampang lo lucu banget kalau nggak terima gitu" tak sengaja pandangan mereka berdua bertemu.


Keduanya jadi salah tingkah, suasana canggung menghinggapi.


Ehem...


Mengurangi kecanggungan, Yopi berinisiatif bicara duluan.


"Lo nggak dimarahi sama nyokap lo kalau pulang malam?" tanya Yopi.

__ADS_1


"Kalau ndak lebih dari jam sepuluh malam sih masih ok" kata Nindi.


Yopi melihat jam tangannya, ternyata sudah jam sembilan.


"Bentar lagi dong, Nin. Sekarang sudah jam sembilan lebih dikit" kata Yopi.


"Iya, sebentar lagi aku pulang" kata Nindi, matanya tak lepas mengamati wahana yang ada di pasar malam itu.


Yopi melihat wajah Nindi dari samping. "Nih cewek cantiknya natural banget. Beda banget sama Emily yang selalu pakai make up, pakaiannya seksi, rambut tertata rapi".


Masih asyik mengamati, "Rambut Nindi tuh panjang terurai, dia jarang banget ngikat rambutnya. Hidungnya juga pas banget buat wajahnya yang imut. Sayang banget permata kayak dia baru kelihatan".


"Terutama bibirnya tuh, tipis, imut banget sih. Pakaiannya juga sederhana".


Dalam hati Yopi terus saja mengamati wajah Nindi dari samping. Memang Nindi kali ini hanya mengenakan celana jeans biru muda, dengan kaos kebesaran dan tas selempang. Sangat santai.


Dan Yopi baru menyadari jika penampilan gadis sederhana itu juga bisa cantik, Nindi buktinya.


"Kenapa Yop?" tanya Nindi yang merasa terus diperhatikan.


"Lo punya pacar nggak sih, Nin?" tanya Yopi.


"Waktu itu kalau gue nggak salah dengar, lo bilang kalau sudah ada hati yang lo jaga" kata Yopi lagi.


Nindi mengangguk, "Bukan pacar sih, dulu dia itu kakak kelasku di SMP, Yop. Terus sama-sama masuk 72 juga. Dua tahun diatas kita, sekarang dia lagi kuliah di luar kota" Nindi bercerita sambil menunduk.


"Nasib kita sama, Nin. Pacar gue juga sekarang lagi di Perancis, dia ninggalin gue tanpa kabar. Waktu dia berangkat ke Perancis waktu itu, gue lagi dirumah sakit" Yopi bercerita tentang Emily.


Satu hal yang membuat Yopi tak bisa berpaling dari kekasihnya itu adalah adanya calon anak dari hasil hubungan terlarang mereka.


Dan Yopi menyesalkan hal itu.


"Kamu ndak berusaha cari nomer telponnya? Sekarang kan audah canggih, Yop. Pasti dia juga punya akun sosmed, DM kan bisa?" tanya Nindi.


"Sudah gue coba segala cara, Nin. Hasilnya nihil, akunnya sudah dinonaktifkan sepertinya. Dan untuk bertanya sama keluarganya, gue nggak berani" terlihat penyesalan dalam ucapan Yopi.


Nindi memandang kasihan pada Yopi, kisahnya hampir sama dengannya.


"Lo sendiri, LDR an ya sama pacar lo?" tanya Yopi.


"Dia bukan pacar aku sebenarnya, hubungan aku sama dia tuh rumit. Tapi aku ndak bisa langsung bilang kalau nggak ada apa-apa diantara aku sama dia" kata Nindi.


"Iya, cerita lo rumit. Jadi, orang tua kalian nggak setuju?" tanya Yopi.


"Ndak ada yang tahu hubungan kami. Keluarga dia dan keluargaku masih ada hubungan saudara, meskipun saudara jauh. Jadi, tiap lebaran pasti kita ketemu" kata Nindi.


"Back street gitu?" masih penasaran rupanya Yopi.


Kembali terdiam, mereka berdua larut dalam kesedihan. Sama-sama merindukan yang tak boleh dirindukan lagi.


Tiba-tiba, entah siapa yang mengawali. Keduanya tertawa terbahak-bahak, menertawakan nasib mereka sendiri.


"Kenapa lo ketawa?" tanya Yopi setelah berhasil meredakan tawanya.


"Aku ngetawain kamu" kata Nindi yang juga sudah bisa diam.


"Gue juga ngetawain lo" kata Yopi.


"Nasib kita gini amat ya, Yop" sekarang Nindi malah berair mata, sedikit cairan bening itu mulai berjatuhan dari pipinya.


"Kok lo nangis sih, Nin? Jangan nangis dong, nanti orang-orang ngiranya yang enggak-enggak" bingung Yopi melihat Nindi yang terus berair mata.


"Sudah ya, cup...cup..." Yopi menenangkan Nindi, membawanya ke dalam pelukan. Dan mengelus rambut Nindi yang terurai.


"Aku tuh kangen sama dia, Yop. Nggak ada cowok lain yang bisa gantiin dia di hati aku" Nindi masih sesenggukan dalam dekapan Yopi.


"Sudah ya, tenang. Eh, nggak apa-apa deh kalau lo mau nangis. Katanya nangis bisa bikin kita lega ya?".


"Gue juga sebenarnya pengen nangis, Nin. Tapi gue malu, masak cowok nangis. Iya kan?" Yopi masih saja bicara di sela tangisan Nindi.


Cukup lama Nindi terisak dalam dekapan Yopi. Setelah merasa lega, Nindi mengusap air matanya yang tersisa.


"Nasib kita sama ya?" tanya Nindi sambil menghapus jejak tangisannya.


Yopi tersenyum, lalu mengangguk dan membantu Nindi menghapus air matanya.


"Sudah lega?" tanya Yopi.


Nindi hanya mengangguk.


"Mau makan?" tanya Yopi.


"Endak. Aku ndak pernah makan terlalu malam, takut gemuk" kata Nindi berusaha tersenyum.


"Kenapa?" tanya Yopi.


"Kak Fahri ndak suka cewek gemuk, nanti kalau aku gemuk, dia ndak mau lagi sama aku" kata Nindi.


"Eh, gue kasih tahu sama lo. Seharusnya, cowok tuh bisa terima orang yang dia sayang bagaimanapun bentuknya, Nin".

__ADS_1


"Cinta kan seharusnya nggak bersyarat. Lo lihat Richard sama Aish deh" kata Yopi yang mengagumi bos dan pasangannya.


"Richard itu dari keluarga terpandang, tapi awal mereka ketemu, Aishyah itu nggak pernah tahu asal usulnya Richard".


"Aishyah itu cupu banget disekolah dulu, tapi gue salut karena teman-teman dia itu solid banget buat jagain dia" kata Yopi.


"Dia temannya artis terkenal ya, Senopati loh" kagum Nindi.


"Seno itu dulu juga cupu, nasibnya doang lagi baik" kata Yopi.


"Bilang saja kamu iri" ejek Nindi.


"Nggak lah. Nggak suka gue dikenal banyak orang kayak gitu. Dia jadi nggak sebebas dulu kalau mau kemana-mana" kata Yopi.


Mengingat hanya Seno yang hanya satu kali mengunjungi Aish saat dirumah sakit kemarin.


"Iya, Richard sama Aish tuh kayak Tom and Jerry, tapi aku lihat Richard sayang banget sama Aish, ya" kata Nindi tersenyum saat mengingat kelakuan Richard yang posesif.


"Aish itu terlalu frontal buat Richard yang pendiam. Tapi mereka selalu kembali satu sama lainnya. Cobaan di hubungan mereka itu berat banget, Nin" kata Yopi.


Nindi hanya mengangguk saja mendengar cerita Yopi.


Kembali dia mengingat lelakinya, yang selalu menginginkan Nindi yang perfect.


Nindi jadi meragu, apa benar hati mereka masih saling bertaut. Apalagi di dunia perkuliahan, pasti banyak perempuan yang lebih daripada Nindi.


"Aku jadi kepikiran kak Fahri, pulang dari sini aku langsung hubungi dia deh, Yop" kata Nindi.


"Memangnya dia kuliah dimana, Nin?" tabya Yopi.


"Di Solo, soale keluarganya banyak yang disana" kata Nindi.


"Yaudah, gue anterin lo pulang deh. Biar bisa cepet menghubungi cowok lo" kata Yopi.


Dia segera berdiri, ingin mengantar Nindi pulang.


★★★★★


Sementara di tempat Aish, dia yang sedang diapeli oleh Richard dan harus rela diganggu oleh Romeo.


Seperti tak dihiraukan, Aish malah asyik bercerita dengan Romeo.


"Minggu ini gue balik ke Aussie, dek" kata Romeo.


"Lebih cepat balik, lebih baik sih" kata Richard.


"Yah, kok cepat banget sih kak?" tanya Aish.


"Dia kan harus kuliah, Ra. Biarin dong dia balik. Biar nggak suka gangguin kita" kata Richard.


"Lo ngerasa terganggu nggak sih sama kehadiran gue, dek?" tanya Romeo.


Aish hanya menggelengkan kepala, tak berani menjawab dengan perkataan.


"Tuh kan, adek ipar gue aja nggak ngerasa terganggu, kenapa lo yang adek gue sendiri malah terganggu sih?" kata Romeo dengan pandangan mengejek pada adiknya.


"Terserah lo, Romeo. Apa sekalian lo nggak usah kuliah di sana lagi? Pindah saja lo kuliah disini" cerca Richard yang merasa tak suka dengan perkataan Romeo.


"Ide uang bagus itu, nanti biar gue minta pulang. Pasti mama setuju" kata Romeo.


"Jangan, sudah deh. Lebih bagus lo disana saja. Nggak usah gangguin kita" kata Richard yang langsung ditertawakan oleh kakaknya.


"Lo takut banget gue ngrebut cewek lo" ejek Romeo.


"Nggak mungkin Aish tergoda sama cowok kegatelan kayak lo" balas Richard.


Aish hanya terdiam mendengar pertengkaran kakak beradik itu.


Awalnya Romeo hanya ingin meledek Richard, tapi lama-lama emosinya tersulut juga karena memang Richard orangnya terlalu serius menanggapi gurauan kakaknya.


"Sudah dong, kalau mau berantem diluar saja" kata Aish.


Kedua kakak beradik itu memandang pada Aish. Dan terdiam, merasa sama-sama bodoh.


"Makanya, lo punya bibir tuh jangan kebanyakan ngomong, Romeo" kata Richard.


"Lo tuh es batu keisi nyawa" balas Romeo.


"Mendingan kalian pulang deh, gue mau tidur nih. Ngantuk, sudah malam" kata Aish mengusir keduanya.


Kalau hanya datang untuk bertengkar, kan bisa dirumahnya saja. Kenapa harus bertengkar saat berkunjung.


"Besok pagi, gue jemput lo, Ra. Pulangnya juga gue anterin" kata Richard.


"Iya, terserah lo saja. Asalkan nggak ngerepotin lo" kata Aish.


Dan ya, akhirnya kakak beradik itu memutuskan pulang saja. Membiarkan Aishyah istirahat.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2