
"Hah? malam-malam begini harus ke sungai? Bisa mati dipatok ular pak" kata Aish sambil berlalu untuk kembali ke kamarnya, tapi saat hendak berbelok, seseorang menepuk pundaknya sedikit keras. Membuatnya terkesiap kaget.
Saat dia menoleh, ternyata wajah tampan Falen yang tersenyum secerah mentari di malam buta seperti ini.
"Ngagetin aja sih, untung jantung gue nggak pake lem" Aish kesal sambil mengusap-usap dadanya yang deg deg an.
"Kenapa kalau pakai lem Ai? Ada-ada saja lo mah" Falen terkekeh pelan.
"Auto copot lem di jantung gue Falen cerdas" kata Aish agak ngegas.
"Sabar, neng Aish cantik kenapa belom bobok?" tanya Falen.
"Gue kebangun Fal, nyariin babah gue. Gue kirain sudah mau subuh, ternyata masih tengah malam" kata Aish.
"Lo sendiri ngapain malam-malam gini berkeliaran nggak jelas?" lanjutnya.
"Gue denger suara lo tadi dari kamar, makanya gue samperin. Ikut gue yuk ketemu sama yang lain" kata Falen disetujui Aish.
Mereka berdua berjalan bersama menuju kamar yang ditiduri tiga cowok ganteng itu. Tampak Seno dan Hendra masih terlelap tak menyadari kedatangan putri junjungan mereka.
Falen membangunkan keduanya, sementara Aish masih terdiam diambang pintu. Menunggu kedua temannya bangun.
"Hendra, Seno, bangun.." kata Falen sambil mengguncang bahu keduanya pelan.
Masih tak bergeming. "Hei, kalian tidur apa pingsan sih, susah banget dibangunin. Ayo bagun" Falen masih mengguncang bahu mereka, agak sedikit kencang kali ini.
Hendra memicingkan mata menyesuaikan netranya dengan cahaya remang dari obor. Sementara Seno masih anteng.
"Haduh ni bocah susah banget banguninnya, bangun Seno" Falen mulai membentak.
"Bentar mah, lima menit lagi" ucap Seno dengan mata masih terpejam.
"Yah, gue dikira emaknya" kata Falen tertawa.
"Bangun bego, gue bukan emak lo" Falen tetap mengguncang bahu Seno.
"hengmh... iya.. iya.. apaan sih lo Fal. Malam-malam buta gini bangunin orang lagi tidur" Akhirnya Seno membuka mata.
"Uwah .. ada bidadari Aish. Ngapain bengong disitu?" tanya Seno melihat Aish hanya berdiri diam diambang pintu.
"Kalian sudah benar-benar bangun?"tanya Aish mendekat.
Sementara Falen menuju tempat Aish berdiri lalu menutup pintu kamar.
Hendra dan Seno masih mengumpulkan nyawanya.
"Ayo, kita coba sekarang saja mumpung sudah lengkap" kata Falen tak dimengerti oleh Aish.
"Coba apa nih? jangan aneh-aneh ya kalian" Aish mulai gelisah.
"cg! lo pikir apaan? Kita mau nyoba merapal mantra dari lo waktu itu, siapa tahu kita bisa pulang kan?" tanya Falen.
Aish manggut-manggut, mencerna ucapan Falen. "Benar juga itu, yaudah yuk kita coba" Aish mendekat dan duduk diranjang.
Seno, Hendra, Aish dan Falen duduk melingkar seperti posisi waktu di taman dulu. Lalu Aish mengingatkan mereka bunyi mantranya. Setelah semua hafal, mereka mencoba merapal mantranya bersama.
"Wahai tamagoni tunjukkan kebenarannya" kata mereka bersama, bahkan mereka sampai mengulang tiga kali.
Lama mereka menunggu, tali tidak terjadi apa-apa. Mereka mulai gelisah. Apakah tidak berhasil?
__ADS_1
Mereka mencoba lagi, kali ini mereka berpegangan tangan, memejamkan mata dan merapal mantra bersama sebanyak tiga kali.
"Wahai tamagoni tunjukkan kebenarannya"
"wahai tamagoni tunjukkan kebenarannya"
"wahai tamagoni tunjukkan kebenarannya"
Terasa angin berhembus menerpa bulu kuduk mereka. Mata sudah terbuka, saling melihat sesamanya.
Cahaya api dari obor sampai-sampai bergoyang menandakan bahwa memang ada angin yang menyapa.
Angin berhembus membisikkan sesuatu di telinga mereka, seolah mengatakan sesuatu.
"Kemalangan menuju kebenaran, keangkuhan merusak tatanan, penderitaan awal munculnya kehidupan"
Sepenggal kalimat yang didengar oleh mereka. Hanya kata tanpa rupa, mereka saling terdiam dan akhirnya suasana kembali tenang.
"Kalian dengar?" tanya Aish. Temannya hanya mengangguk cengo.
"Apa maksudnya ya?" tanya Seno.
"Gue juga nggak paham" jawab Falen.
"Kemalangan menuju kebenaran?" kata Aish.
"Keangkuhan merusak tatanan?" lanjut Seno.
"Penderitaan awal munculnya kehidupan?" tanya Hendra.
"Apa maksudnya?" tanya Falen.
"Kira-kira maksudnya apa ya?" tanya Seno.
"Gue juga nggak ngerti. Benar-benar membagongkan" kata Falen.
"Apaan membagongkan?" tanya Hendra.
"Kudet lo!" ledek Falen.
"Lo tuh yang alay" jawab Hendra.
"Sialan Lo" lanjut Falen.
"Brengsek lo" sambung Hendra.
"Bajingan lo" masih bersambung.
"Pedofil lo".
"Kambing lo".
"SUDAH DIAM!!! " tuh kan Aish marah.
"Kayak bocah aja berantemnya gitu. Berantem beneran sana, tonjok-tonjokan. Kan seru kita bisa lihat tontonan gratis ya kan Sen?" Aish malah mengompori.
"Jangan dong, entar wajah tampan gue babak belur kan sayang" kata Falen.
Hendra pura-pura muntah.
__ADS_1
Seno malah menangis lirih.
"Loh Seno, kenapa nangis?" tanya Aish mendekat pada Seno dan duduk disampingnya.
"Gue rindu mommy, biasanya kalau ada masalah mommy sama papi gue yang turun tangan. Sekarang gue malah terdampar disini sendirian" kata Seno terisak.
"Lo kan nggak sendiri Sen, ada gue, Falen sama Hendra juga" kata Aish.
"Maafin gue ya, gara-gara gue ngajak kalian main permainan gituan malah bikin kita tersesat di dunia aneh kayak gini. Gue juga kangen sama bunda gue Sen, bunda sendirian dirumah, ayah gue sudah di surga, kakak gua satu-satunya sudah nggak peduli sama bunda.. hiks..hiks.." Aish yang memang sedikit cengeng malah nangis duluan.
Seno mengambil kepala Aish untuk didekap sayang. Seperti kakak yang menenangkan adiknya, Aish pasrah saja didekap sayang oleh sahabatnya itu. Mereka menangis bersama.
Hendra si anak kaku tidak tahu harus berbuat apa, menenangkan kucing ribut saja dia tidak bisa, apalagi menenangkan cewek yang lagi nangis? Jadi dia hanya diam berdiri mengamati temannya yang sedang menangis.
Falen datang duduk disamping Aish, bocah bule itu memegang pundak Seno dan mengapit Aish ditengahnya. Ikut menenangkan.
"Sudah nggak usah sedih, kita hadapi bersama ya. Toh disini kita juga punya keluarga yang sayang sama kita" katanya.
"Sebenarnya yang harus kita kasihani itu si Hendra, dia yang nggak jelas asal-usulnya di negri ini malah paling kuat. Jadi, kita harus tetap saling percaya dan semoga cepat dapat jalan keluarnya ya..." lanjut Falen.
Hendra yang mendengar pernyataan Falen mengernyit.
"Bisa-bisanya lo masih ledekin gue disaat kayak gini bule bego!" kata Hendra.
"Tuh kan, dia masih bisa marah disituasi kayak gini. Udah dong jangan sedih lagi. Kita harus kuat biar bisa cari jalan keluarnya sama-sama" kata Falen masih saling berpelukan.
"Cg!" Hendra hanya mendecak sebal.
Tanpa mereka ketahui, ternyata ada sepasang telinga yang mencuri dengar pembicaraan mereka.
Saat Hendra membuka pintu, Seseorang yang sedang menguping itu jatuh terjerembab karena pintu yang digunakan sebagai sandaran telinganya terbuka. Sontak keempat orang di dalam ruangan itu kaget.
Ternyata ada Sekar yang mencuri dengar diam-diam.
Saat dia berdiri dengan canggung, dia mengamati Aish yang masih berada dipelukan Falen dan Seno.
Membuat hatinya sebagai seorang wanita terusik. Pasalnya Seno adalah orang yang telah dijodohkan dengannya, sedangkan Falen yang dia kenal sebagai Frans adalah kekasihnya.
Dan apa ini? Mereka berdua malah memeluk wanita yang diakui sebagai sahabatnya.
Hatinya hancur, rasa cemburu tumbuh subur memenuhi rongga-rongga dalam hatinya.
Air matanya tumpah tanpa perintah. Menatap nanar pemandangan yang menyakitkan didepan matanya. Segera dia berlari dari kamar itu. Berlari tanpa tahu arah. Yang penting terbebas dari sahabat yang menusuknya dari belakang itu.
Aish menyadari kesalahannya, segera ia berlari mengikuti arah yang Sekar tuju.eninggalkan ketiga sahabatnya.
"Hadeeeehhh... Nambah lagi masalah" Hendra menggerutu masih terdengar Seno dan Falen.
Mereka ikut mengejar Sekar dan Aish.
***********************
jangan lupa klik tombol like nya ya teman-teman... beri dukungan juga dengan dijadikan favorit..
Terimakasih
salam sayang dari saya
😘😘
__ADS_1