Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
tambah dekat


__ADS_3

"Gue minta maaf ya Ai, keceplosan gue" kata Hendra.


Yang lain hanya saling melirik tanpa tahu harus berbuat apa. Karena mereka tahu kesedihan terdalam yang telah membuat keluarga Aish berantakan.


Aish mendongak dan tersenyum, "iya Hen, gue aja yang terlalu baper. Gue sebenarnya kangen sama kakak, tapi ngelihat dia sekarang kayak bukan kakak gue sendiri. Benci banget dia ngelihat gue, lo tahu sendiri kan?".


"Iya, gue janji nggak akan bahas kakak lo lagi deh" kata Hendra.


"Sekarang lo abisin makannya, terus minum obat ya" kata Falen.


"Lo tuh perhatian banget ya Fal, cewek lo pasti bahagia ya punya pacar perhatian banget kayak lo" kata Aish, miris mengingat malah pacar sahabatnya yang telah membuatnya seperti ini.


"Lo masih nggak mau bilang siapa yang ngejahatin lo kemarin?" tanya Falen, dan yang lain menatap intens pada Aish.


Aish menggeleng, "gue kan sudah bilang kalau gue bukan tukang ngadu, lagian sudah berlalu, yasudah sih lupain aja".


"Nggak bisa gitu song Ai, mereka tuh sudah kelewatan. Lo sampek sakit gini" kata Falen.


"Biarin aja sih, mana obat gue?" tanya Aish.


Seno memberikan obatnya, Aish menerima dan meminumnya.


"Assalamualaikum" terdengar suara dari depan.


Bunda datang membawa beberapa kantong kresek yang entah apa isinya.


"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak.


"Maaf ya bunda lama, tadi supirnya nak Seno bunda ajak ke pasar dulu. Lupa bunda nggak punya apa-apa di kulkas. Nanti kalian makan dulu ya sebelum pulang. Bunda mau masakin dulu sebentar. Kalian tolong jagain Aish ya" kata bunda panjang dan lebar.


"Nggak usah repot-repot bun, kita balik aja deh" kata Hendra.


"Eehhh .... nggak bisa gitu dong. Bunda sudah capek-capek belanja ke pasar, malah mau ditinggalin. Pokoknya kalian harus makan dulu. Telpon orang rumah kalian ya, bilang kalau pulang agak telat. Kalau nggak mau, bunda bakalan larang kalian buat berteman sama anak bunda yang cantik ini" omel bunda Aish.


"Ish. Bunda nih, selalu saja. Malu bun" kata Aish.


"Yasudah kalau gitu, kita hubungi orang rumah dulu ya" kata Falen yang memang selalu sendiri di rumahnya.


"Sekarang gue paham darimana kecerewetan lo berasal Ai" kata Seno takjub setelah mendengar bunda Aish yang mengomel.


"Dari nenek buyut gue" jawab Aish asal, membuat teman-temannya tertawa.


Proses meminta izin terasa sangat mudah bagi Falen dan Hendra. Falen yang memang selalu ditinggal sendirian oleh orang tuanya terlihat antusias saat bunda menyuruhnya tetap tinggal.


Berbeda dengan Seno, sang putra mahkota itu sangat susah mendapatkan izin pulang terlambat, sampai harus video call untuk memastikannya. Meski terkesan alot, akhirnya persetujuan didapat setelah bunda Aish turun tangan.

__ADS_1


Dan Hendra yang memang sering pulang telat, tanpa izinpun sebenarnya tidak masalah. Hanya saja Aish tetap menyuruhnya meminta izin agar lebih sopan.


Kini mereka ada di ruang tamu, Aish merasa risih jika harus berada di dalam kamarnya dengan banyak cowok. Meskipun mereka adalah teman terdekatnya.


Mereka sedang belajar bersama, menjelaskan pada Aish tentang pelajaran yang tertinggal hari ini, dan membuat kerja rumah bersama. Sambil mendengarkan musik dari ponsel Seno.


"Lo beneran besok sudah mau masuk?" tanya Falen di sela-sela belajarnya.


"Iya, nggak sembuh-sembuh gue kalau dirumah terus" kata Aish.


"Kalau masih kerasa nggak enak badan sebaiknya istirahat dulu aja Ai" kata Seno.


"Nggak deh, gue masuk sekolah aja. Beneran gue sudah enakan kok" kata Aish.


"Terserah lo sih, tapi kalau besok lo ngerasa pusing lagi mending langsung ke uks aja ya" kata Falen.


Cukup lama belajar, terdengar adzan maghrib berkumandang. "Kita solat di mushola yuk, deket kok dari sini" ajak Aish.


"Boleh juga" kata Seno.


"Tapi gue nggak bawa sarung" kata Falen.


"Ada sarungnya ayah kayaknya, bentar gue ambilin ya" kata Aish berdiri untuk mengambil sarung si kamar bundanya.


"Bun, sarungnya ayah masih ada kan ya?" tanya Aish pada bundanya yang sibuk di dapur.


Aish berjalan ke ruang tamu membawa dua buah sarung dan mukenanya sendiri. Lalu mengajak kedua temannya berjalan bersama ke mushola di dekat rumahnya. Sementara Hendra memilih untuk membantu bunda Aish di dapur.


"Uwah .. temannya kak Aish abang bule ya" tanya gadis-gadis kecil yang mau solat di mushola juga, mereka caper pada Falen.


"Iya, ganteng kan temannya kak Aish" kata Aish.


"Ganteng kak" kata para gadis itu senang, membuat Falen tambah narsis.


"Yang satunya oppa korea ya kak? kayak Kim So Hyun, ganteng banget" kata gadis lainnya menunjuk Seno.


"Siapa itu Kim so siapa?" tanya Seno.


"Oppa korea kak, gantengnya 11 12 sama kakak deh pokoknya" kata gadis itu, membuat Aish tertawa.


"Kalian kebanyakan nonton drakor, kak Aish nggak ngerti. Sudah deh ayo buruan, keburu kelar solat jamaahnya nanti" kata Aish.


Merekapun bergegas menuju mushola, mengambil wudhu dan bersiap solat bersama.


********

__ADS_1


Sementara di rumah Aish.


"Bunda nggak solat juga" tanya Hendra yang membantu mencuci sayuran.


"Bunda lagi halangan" kata bunda Aish malu, aneh rasanya membahas itu di depan teman anaknya.


"Kamu duduk saja di depan nggak apa-apa nak Hendra, biar bunda saja yang siapkan" kata bunda.


"Nggak apa-apa bun, disini saja sama bunda. Sendirian rasanya nggak nyaman" kata Hendra.


"Kamu sering bantuin mama kamu ya? kelihatannya kok luwes sekali" tanya bunda.


"Nggak juga sih Bun, mama itu orangnya sibuk. Sejak papa sama mama pisah, mama kerja buat kami. Ya papa juga ngasih nafkah sebenarnya buat aku" kata Hendra.


"Oh, gitu. Jadi mamanya Hendra sama kayak bunda ya. Bedanya bunda kerja dirumah, sedangkan mamanya Hendra kerja kantoran ya?" tanya bunda.


"Iya bun, kantornya kakek. Kakeknya Hendra punya pabrik, mama yang kelola sekarang" jawab Hendra.


"Mamanya Hendra tuh cantik ya, kayak masih muda gitu. Kenapa nggak nikah lagi saja?" tanya bunda.


"Hengmh ... mungkin trauma bun. Ini mau dipotongin juga ya bun?" tanya Hendra.


"Iya, bunda mau bikin tumis kangkung pakai udang. Kamu sering masak ya? Bisa masak apa saja?" tanya bunda.


"Nggak sering juga sih bun, kadang aku kalau lagi pingin lebih suka masak masakan western, karena nggak terlalu banyak bumbu. Ribet kalau harus meracik banyak bumbu" kata Hendra.


"Bunda malah nggak ngerti sama masakan yang kayak gitu. Lain kali kamu ajarin bunda masak yang begituan ya. hehe" kata bunda.


Hendra menjadi lebih dekat dengan bunda Aish berkat salah satu hobi memasaknya. Membuat bunda Aish tidak habis pikir, ternyata meskipun kaya harta, banyak juga yang merasa kesepian. Sehingga lebih mencari kebahagiaan diluar rumah.


Hidup memang sawang sinawang kata orang Jawa. Yang terlihat mewah belum tentu bahagia, yang sederhana belum tentu sengsara.


.


.


ini visual sahabatnya Aishyah yaa, menurut pandangan author. Maaf kalau diluar ekspektasi pembaca semua...


Abang bule Falentino yang digemari mbak-mbak



yang ini kang Seno yang seperti oppa-oppa


__ADS_1


lah yang ini mas Hendra yang cuek



__ADS_2