
"Gue heran sama lo, Sya. Kok bisa sih si Richard jadi klepek-klepek sama lo?" tanya Yopi setelah Aish membantunya meminum obat.
"Ya mana gue tahu, Yop. Yang gue heran, kenapa Richard masih mau berteman sama lo? Padahal lo sudah merebut Emily dari dia kan?" tanya Aish.
Yopi terdiam, kena skak mat oleh Aish jadi membuatnya sedikit jengkel juga.
Sebenarnya Aish sudah penasaran sejak dulu, tapi untuk bertanya langsung pada Richard kok rasanya agak gimana gitu.
"Lo belum tahu tentang pertemanan kita berempat, ya?" tanya Yopi.
"Kok empat sih, bukannya tiga ya? Oh, maksud lo berempat sama Emily?" tanya Aish.
"Bukan. Lo beneran nggak tahu apa pura-pura nggak tahu sih?" tanya Yopi.
"Beneran gue nggak tahu" jawab Aish.
"Richard belum cerita sama lo kalau si Brian itu pernah juga jadi sahabat kita?" tanya Yopi.
"Maksud lo Falen? Jadi, Falen itu teman kalian? Tapi kok kayaknya sekarang musuhan gitu sih?" tanya Aish.
Yopi menghembuskan napasnya, sejak awal dia sudah salah bicara. Biarlah sekalian saja diceritakan.
"Iya, dulu itu gue, Reno, Richard sama Brian itu teman baik. Mulai dari SD kita sekolah di tempat yang sama. Brian satu-satunya muslim diantara kami. Bahkan juga satu-satunya diantara keluarga besarnya".
"Brian dan Richard punya banyak kesamaan, selera mereka hampir sama. Mereka juga sama-sama suka taekwondo".
" Awalnya semua baik saja. Sampai waktu kita kelas 8 SMP, ada murid baru, yaitu Emily".
"Dia cantik banget, semua tertarik sama dia, kecuali Reno. Sebenarnya gue sama Emily dari awal sudah sama-sama suka, tapi karena gue kalah pamor sama Richard dan Brian, gue ngalah sama mereka" kata Yopi dengan senyum penyesalan.
"Tapi ternyata Emily cuma dijadikan bahan taruhan sama mereka berdua, tanpa sepengetahuan gue. Dan yang keluar sebagai pemenang dalam taruhan itu lo tahu sendiri kan?" tanya Yopi.
"Richard ya?" tanya Aish.
"Iya, dalam taruhannya, pemenang kompetisi Taekwondo se Jawa-Bali waktu itu berhak mendekati Emily".
"Dan Richard lah pemenang kompetisi taekwondo se Jawa-Bali waktu itu. Brian sedikit tidak terima, mereka jadi adu kekuatan untuk menjadi pemenang diantara mereka sendiri. Dan tetap Richard yang menang. Itu semua membuat Brian menjauhi kami, dia pikir gue dan Reno lebih memilih Richard daripada dia sebagai teman".
"Awal terbongkarnya kasus Emily sebagai bahan taruhan ya malam tahun baru kemarin. Saat Emily datang ke gue buat ngaduin kelakuannya si Richard yang selalu ceritain tentang lo, yang katanya lebih perhatian sama lo".
"Gue cerita sama dia tentang taruhannya Richard dan Brian. Dia nangis, gue nggak terima dong saat orang yang gue sayangi diperlakukan kayak gitu sama orang lain. Akhirnya, kejadian itu terjadi. Kita sama-sama khilaf telah melakukan perbuatan itu. Gue nyesel, tapi keadaan nggak bisa dirubah" kata Yopi menyesali perbuatannya.
"Terus kenapa lo berantem sama Richard waktu itu? Waktu gue temuin kalian di jalanan?" tanya Aish.
"Richard marah waktu gue kasih tahu Emily tentang taruhannya. Dia kan emosian orangnya" kata Yopi.
"Oh gitu. Kalau gue pikir-pikir, sebenarnya kalian itu termasuk anak pintar loh ya. Kenapa nggak masuk di kelas IPA?" tanya Aish.
"Richard nggak mau satu kelas sama Brian, pokoknya dia nggak mau lagi sesuatu yang sama dengan Brian. Jadi, gue sama Reno cuma bisa nemenin dia biar nggak terlalu berandalan. Gue rasa, Brian sudah punya teman yang baik kayak lo" jawab Yopi.
"Gue jadi sangsi sama perasaan Richard sama gue. Jangan-jangan dia cuma mainin gue doang?" tanya Aish yang meragukan Richard.
"Kalau menurut gue sih enggak ya. Dia nggak pernah se bucin itu sama cewek lain. Lo tahu sendiri kan kalau dia sudah berani pacaran sejak SMP. Tapi itu semua ya si ceweknya yang nembak duluan, kecuali Emily. Karena dia kan bahan taruhan" kata Yopy.
"Kalau sama lo, gue rasa dia serius" kata Yopy.
"Semoga saja" jawab Aish lirih.
__ADS_1
"Lo dari kemarin kasih gue minum obat apaan sih? Rasanya aneh banget?" tanya Yopy.
"Ada deh, yang penting insyaallah bikin lo cepat sembuh" kata Aish tersenyum.
Richard datang tak lama setelah Aish selesai dengan obrolannya dengan Yopi. Sedikit merasa tidak suka karena Aish yang duduk disamping ranjang Yopi, bukannya duduk disofa.
"Kenapa lo duduknya dekat-dekat sama si brengsek ini sih?" tanya Richard pada Aish yang sibuk dengan ponselnya.
"Hengmh, mulai deh. Si bucin nyari gara-gara" ledek Reno yang ada di belakang Richard.
Yopi terbangun karena kegaduhan temannya, padahal dia baru saja tertidur.
"Ada apaan sih?" tanya Yopi.
"Tau nih, datang-datang malah marah nggak jelas" kata Aish.
"Biasa, abang bucin hatinya sedang panas" ledek Reno yang ditatap tajam oleh Richard.
Tidak ingin berlanjut, Aish pindah duduk di sofa saja. Biar aman.
Richard mengikuti Aish, duduk disamping pacarnya.
"Nih, ada undangan buat lo. Besok datang ke sekolah buat musyawarah tentang kasus lo, Ra. Gue harap lo mau datang" kata Richard menyerahkan amplop pemberian bu Kris.
"Gue sudah nggak minat sih sebenarnya, tapi karena gue penasaran sama pelakunya. Boleh deh gue datang. By the way, apa sudah ketahuan ya pelakunya?" tanya Aish.
"Sudah, lo bisa tanya si boncel yang telat ngasih barang bukti" kata Richard, dia sedang ngambek pada Reno yang lupa memberitahunya tentang rekaman yang dia punya.
Aish menoleh pada Reno, menunggu penjelasan darinya.
"Nggak apa-apa kok, Ren. Yang penting pelakunya sudah ketemu, gue lega" kata Aish.
Sedang asyik ngobrol, terdengar suara ketukan dari luar ruangan.
"Biar gue bukain" kata Aish.
Saat tahu siapa yang datang, senyum diwajahnya terbit sempurna.
"Hai princess, gue kangen banget sama lo" kata Seno yang datang bersama Hendra dan juga, Falen.
"Aahhh, gue juga kangen banget sama lo Senopati" kata Aish yang tanpa sadar memberi pelukan persahabatan pada Seno.
Richard berdiri, tidak suka melihat pacarnya memeluk pria lain meskipun itu adalah sahabatnya.
Mendekati Aish, Richard melepas pelukannya dengan paksa. Membuat Aish dan Seno menatap bengong pada Richard.
"Kenapa sih?" tanya Aish kesal.
"Kalian mau ngapain kesini?" tanya Richard.
"Mereka itu mau jenguk Yopi pastinya, iya kan teman-teman?" tanya Aish.
"Ayo masuk, tuh si Yopi masih tiduran" kata Aish.
Falen, Hendra dan Seno masuk, sebenarnya tujuan mereka datang selain untuk menjenguk Yopi juga untuk melihat keadaan Aish. Sekolah terasa sepi tanpanya. Apalagi Seno yang terbiasa dengan kecerewetan Aish.
"Gimana kondisi lo, Yop?" tanya Falen.
__ADS_1
"Gue sudah lebih baik, semoga bisa cepat keluar dari sini. Gue sudah nggak betah" kata Yopi.
"Kenapa badan lo merah-merah gitu?" tanya Seno yang melihat bercak kemerahan di badan Yopi.
"Iya nih, alergi obat gue. Untung saja princess kalian ini punya obat mujarab" kata Yopi.
"Apaan sih lo Yop" kata Aish malu.
Mereka bertiga mengunjungi Yopi hingga selepas ashar. Lalu meminta Aish untuk ikut bersama mereka saja.
Akhirnya Aish berhasil keluar dengan teman-temannya meski harus sedikit berdebat dengan Richard yang tidak terima.
"Gue keluar sebentar ya" kata Richard pada kedua temannya.
"Mau kemana sih? Nyusulin Aishyah? Nggak usah aneh-aneh deh, Ri. Aishyah tuh jalan sama temannya, nggak usah dikintilin terus. Nanti lama-lama dia ilfil lho sama lo" kata Reno.
"Cg, bukan. Gue mau ketemu seseorang. Lo tungguin Yopi dulu ya" kata Richard yang berlalu tanpa menunggu persetujuan dari temannya.
★★★★★
"Gue minta maaf sama lo ya, princess. Nggak becus gue jadi ketua OSIS" kata Falen. Mereka sedang nongkrong di cafe Destination.
"Nggak apa-apa Fal, lo santai saja. Besok gue disuruh ke sekolah buat berembug katanya ya?" tanya Aish.
"Iya, gue juga. Besok mau gue jemput?" tanya Falen.
"Nggak akan bisa lo jemput princess, Fal. Sekarang dia ada bodyguardnya" kata Seno.
"Iya sih, betul juga lo, Sen. Bodyguardnya sangar abis" kata Falen.
Mereka berempat ngobrol dan bercanda hingga lupa waktu.
Sehabis Maghrib, Aish dikejutkan oleh kedatangan Richard yang menghampirinya bersama Willy.
"Hai, Aishyah. Kamu juga ada disini?" tanya Willy.
"Mas Willy? Lagi ngapain sama Richard?" tanya Aish.
"Ngobrolin masalah kamu disekolah, kalian audah daritadi? Kenapa nggak ketemu ya?" tanya Willy.
"Ini sudah mau pulang, mas" jawab Aish.
"Besok kamu datang ke sekolah sama saya ya. Papa sedang diluar pulau, jadi saya yang mewakili untuk rapat donatur besok" kata Willy.
Richard hanya diam, berdiri disamping Aish tanpa bersuara. Dia masih belum bisa menerima Falen seperti dulu.
"Ehm, boleh deh mas" kata Aish.
"Yasudah, saya permisi dulu ya. Besok saya langsung ke rumah kamu" kata Willy sebelum pergi.
.
.
.
.
__ADS_1