
Yopi menyempatkan diri ke rumah Nindi sore itu, memberikan sekotak bolen pisang sebelum berangkat ke Destinasi cafe. Sepulang dari Bandung kemarin.
Tapi tenang, dia tidak hanya membelikan untuk Nindi saja. Tapi Aish, Ilham, terutama engkong jiga dibelikannya makanan khas Bandung yang terbuat dari bahan pisang itu.
Kebetulan owner dari outletnya adalah temannya saat SMP dulu, yang berarti juga teman Richard dan Reno juga.
Jangan ditanya lagi untuk Richard, dia bahkan sudah memborong dagangan temannya itu kemarin. Dan membagi-bagikan kue itu pada pegawai cafe dan studionya.
Saat Yopi datang, Nindi terlihat sangat bahagia.
"Eh, Yopi datang. Ayo masuk dulu" kata Nindi dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Yopi jadi heran, tidak mungkin jika hanya karena kehadirannya membuat Nindi sebahagia itu kan? Pasti ada alasan lainnya, dan Yopi belum tahu.
"Nih, gue bawain oleh-oleh dari Bandung" kata Yopi yang menyerahkan sekotak kue untuk Nindi setelah duduk di ruang tamu gadis itu.
"Oh iya, makasih banget lho ya. Kamu baik banget sih" kata Nindi saat menerimanya. Masih dengan senyuman yang aneh.
Kebahagiaan Nindi bahkan sampai memberikan semburat merah di kedua pipinya, jelas terlihat meski warna kulitnya kuning langsat. Membuatnya terlihat semakin cantik.
"Sepi banget rumah lo, pada kemana?" tanya Yopi.
"Ayah belum pulang kerja, kalau ibuku lagi ke rumah saudara sama adikku" kata Nindi.
"Elo sendirian?" tanya Yopi.
"He em" jawab Nindi singkat, dia sudah membuka kotak kuenya di hadapan Yopi.
"Uwah, bolen pisang ya" kata Nindi, bahkan dia sudah memakan satu.
"Lo kelihatan happy banget? Nggak biasanya" komentar Yopi.
"Eh, kelihatan banget ya. Hehe" kata Nindi sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
Nindi terlalu bahagai.
"Kenapa sih?" tanya Yopi penasaran.
"Ehm, hari Sabtu depan ini ada saudaranya ayahku di Solo mau menikah, Yop. Terus kami sekeluarga diundang ke sana" jawab Nindi.
"Masak gara-gara sodara lo nikah sampai bikin lo senang banget sih?" tanya Yopi.
"Iya, soalnya kan mas Fahri itu kuliahnya di Solo, Yopi. Jadi, aku bisa ketemu sama dia kan. Aku mau nanyain kelanjutan hubungan aku. Biar nggak ngegantung begini, Yop" kata Nindi sambil mengunyah bolennya.
"Oh, gitu. Oke tuh. Jadi, lo bisa segera move on ya kalau ada apa-apa" goda Yopi.
"Ih, Yopi. Masak ngomongnya gitu sih. Ya, semoga dia nggak macam-macam disana Yop, semoga dia jarang kasih kabar itu cuma karena sibuk kuliah aja" kata Nindi setengah cemberut.
"Muka lo lucu banget kalau lagi ngambek gitu. Yasudah deh, selamat berjuang buat week end nanti, ya. Gue mau langsung jalan, sudah ditugguin sama si bos nih" kata Yopi, berdiri dan berpamitan pada Nindi.
"Lo kalau makan yang bener dong, kayak anak kecil deh" kata Yopi yang melihat ada noda coklat di bibir Nindi.
Jari tangannya kembali terulur untuk membersihkan ujung bibir Nindi. Membuat Nindi jadi salah tingkah.
"Eh, iya. Hehe" kata Nindi yang sudah menghabiskan sepotong kue yang Yopi bawa.
Tanpa diduga, Yopi kembali menyatukan bibirnya dengan Nindi. Mengecupnya singkat sebelum beranjak keluar.
Bukan-bukan, Yopi hanya sedikit **********. Tapi tidak sampai lama, mereka menyudahi aksi nakalnya.
"Yopi ih..." kata Nindi yang terdengar manja di telinga Yopi.
"Salah sendiri lo nggak ngasih gue minuman, malah asyik makan sendiri" goda Yopi yang masih mengelus bibir Nindi dengan jempolnya. Membersihkan sisa saliva disana.
Nindi hanya tersipu malu, dia tidak marah. Pertemanan mereka memang aneh.
"Gue jalan dulu ya, lo hati-hati dirumah sendirian nanti ada yang nyulik" kata Yopi yang sudah berada di teras rumah Nindi.
"Nggak ada yang bakalan nyulik, orang sudah gede gini" kata Nindi tertawa. Dia melambaikan tangannya saat Yopi sudah berada diatas motor dan bersiap pergi.
"Hati-hati Yopi" teriak Nindi. Dan gadis itu pun kembali masuk ke dalam rumahnya. Menutup pintu ruang tamu dan membiarkan pintu tokonya terbuka. Nindi kembali menjaga toko ibunya sambil memakan kue yang dibawakan Yopi.
Sampai di cafe, tentu dia sedikit terlambat. Bahkan pergantian shift untuk Waitress sudah dilakukan beberapa saat yang lalu.
Ilham dan Aish yang memang selalu bekerja di shift sore bahkan sudah sibuk melayani para pengunjung cafe.
"Lo darimana, Yop? Tumben baru datang?" tanya Aish yang melihat kedatangan Yopi.
"Bannya kempes, Sya. Richard kemana?" taya Yopi.
"Tadi ada mas Willy datang, terus dia nyariin lo gitu. Katanya mau diajak meeting buat konsep iklan yang Mas Willy janjikan. Mereka ada di gedung sebelah, di ruang meeting katanya" jawab Aish.
Sial, Yopi lupa!
"Oke deh, gue langsung kesana ya" pamit Yopi dengan terburu-buru.
Aish hanya mengendikkan bahunya membiarkan Yopi pergi.
__ADS_1
"Kenapa lo?" tanya Ilham yang kebetulan lewat.
"Nggak apa-apa, Ham. Yopi jadi aneh belakangan ini" kata Aish yang kembali berjalan menuju dapur.
"Aneh gimana?" tanya Ilham yang berjalan mensejajari langkah Aish.
"Sering telat, jarang anterin gue pulang, terus juga sering ngilang" kata Aish yang berjalan bersisian dengan Ilham.
"Gue malah sering ketemu dia lagi sama Nindi, sih" kata Ilham mencoba mengingat-ingat.
"Oh ya? Kok lo bisa ketemu mereka?" tanya Aish.
"Rumah gue kan melewati rumahnya Nindi, Sya. Kadang gue lihat Yopi nurunin Nindi di depan rumahnya gitu. Kadang pulang sekolah, kadang waktu gue pulang kerja malam gitu" kata Ilham.
"Oh, iya. Makasih lo sudah ngasih tau gue. Kerja lagi yuk" kata Aish bersemangat, tapi masih kepikiran Yopi dan Nindi.
Selama bekerja seharian ini, Aish jadi kepikiran omongannya Ilham. Kalau hubungan Yopi dan Nindi semakin dekat, kan kasihan Emily disana.
Emily sedang membesarkan anaknya sendirian tanpa adanya Yopi sebagai ayahnya. Meskipun dari yang Aish dengar, bahwa keluarganya disana sangat menyayangi Silvia.
Tapi tentu tak akan pernah bisa menggantikan posisi seorang ayah pada anak perempuannya.
Apalagi Emily disana juga sedang mendalami ilmu fashion. Sesuai minatnya. Pasti rasa lelahnya akan berlipat ganda karena dia juga mengurusi bayinya saat malam hari.
Dari dulu memang Emily sangat fashionable. Sangat terlihat dari cara berpakaiannya, juga pembawaannya saat berjalan. Dia sangat elegan.
Sangat berbeda jauh dengan seorang Aishyah yang bahkan lebih suka memakai gamis longgar saat pergi kemana-mana.
Akhir-akhir ini, Emily sering sekali menghubungi Aishyah. Entah melalui sambungan telepon atau bahkan video call saat Silvia sedang tidak tertidur.
Emily sering memamerkan anaknya yang sangat lucu dan cantik.
Rindunya pada Yopi sedikit terobati karena Aish juga sering mengirimkan foto-foto keseharian Yopi.
Tugas Aish bertambah, dia harus mengabadikan beberapa momen dalam keseharian Yopi. Entah melalui foto ataupun video.
Tapi Aish sangat menyukai pekerjaan barunya ini. Menjadi seorang paparazi untuk teman barunya, yang adalah mantan dari kekasihnya sendiri.
Aish baru saja selesai solat Maghrib, sekarang waktunya dia istirahat. Kalau biasanya dia akan menghabiskan waku istirahatnya bersama Ilham, kali ini berbeda.
Aish memilih untuk mengedit beberapa foto Yopi yang berhasil ditangkapnya hari ini menjadi sebuah video pendek. Dia akan mengirimnya pada Emily, sesuai permintaan Emily tempo hari.
Sambil menikmati makanannya, dia juga terlihat sibuk dengan ponselnya. Dia sedang makan di depan mushola, dibawah tangga. Berharap tidak akan ada yang tahu kegiatannya kali ini.
"Aish dimana?" tanya Richard pada seorang waiters yang sedang lewat.
Tanpa permisi, Richard melangkah menuju mushola yang dikhususkan untuk karyawan. Dia akan mencari Aish disana.
Hampir seharian dia belum bertemu dengan pacarnya itu. Tadi pulang sekolah, Richard tidak sempat menjemput Aish. Sampai hampir malam begini, dia baru sempat mencarinya.
Rasanya ada yang kurang di telinganya kalau belum mendengar cerewetnya Aish.
Sampai di mushola, Richard menengok ke dalamnya melalui jendela. Tapi tak menemukan sosok yang dicarinya. Sudah tak ada yang melaksanakan solat.
"Ngumpet dimana sih" gumam Richard yang masih celingukan.
Saat melihat ke bawah tangga, Richard menemukan Aish yang fokus pada layar hapenya.
Dengan sepiring nasi, dan terlihat ada semangkuk es di depannya.
"Ngapain juga dia disitu" gumam Richard yang mendekati Aish.
Dia berjongkok di dekat Aish tang tak menyadari kedatangannya karena masih sibuk dengan hapenya.
Bahkan terkikik pelan. Dan terdengar ada musik lucu dari ponselnya.
"Lagi ngapain sih?" pertanyaan Richard sangat mengagetkan Aish yang sedang fokus.
Hapenya bahkan sampai terjatuh kedalam semangkuk es yang belum sempat Aish nikmati.
"Yaahhh... Jatuh..." Aish masih setengah sadar.
"Richard iihh .... Lihat deh, hapeku kan jatuh. Kemasukan air, Richard" omelan baru terdengar setelah beberapa saat Aish ngebug.
Aish mengambil ponselnya dari dalam mangkuk, layarnya sudah menghitam. Mati.
"Innalilahi" kata Aish dengan tampang yang sangat lucu, sambil mengelap ponselnya yang mati.
Richard terkikik pelan, tak berani tertawa karena tahu pasti Aish akan marah setelah ini.
"Lo datangnya kenapa nggak bersuara sih, gue kan kaget Richard. Lihat deh, hape gue kan mati. Rusak pasti nih" mulai menggerutu tak jelas.
Richard terlihat biasa-biasa saja, tak merasa bersalah.
"Lagian ngapain sih disini sendirian? Lo lagi ngapain?" tanya Richard masih dalam posisi berjongkok, tak berniat membantu Aish sama sekali.
"Bukan urusan lo, ya. Mau ngapain juga terserah gue. Lo tuh yang gangguin gue, tiba-tiba muncul. Hape gue jadi korbannya. Mati Richard, kalau rusak gimana dong?" kata Aish masih bersungut.
__ADS_1
Hapenya belum bisa dihidupkan.
"Besok gue beliin yang lebih bagus" kata Richard yang sukses mendapat lirikan tajam dari Aish.
"Nggak mau gue, pokoknya hapenya harus bisa nyala" kata Aish.
Gadis itu beranjak dari tempatnya, setelah mengeringkan ponselnya dan menaruh di kantong celemek. Aishpun beranjak untuk membersihkan sisa makanan yang hanya disentuhnya sedikit dari tadi.
Masih dengan wajah muram, Aish beranjak meninggalkan Richard. Dengan membawa nampan berisi piring, gelas dan mangkuk es yang masih utuh.
"Eh, mau kemana?" tanya Richard yang berjalan di belakang Aish.
Richard sangat suka melihat wajah Aish yang ngambek seperti itu. Dia merasa sangat lucu.
"Terserah gue, dan lo jangan ngikutin gue. Karena gue masih marah sama lo" kata Aish yang melewati beberapa rekan kerjanya. Masih dengan Richard yang mengekor dibelakangnya.
"Besok gue beliin yang baru, Ra" kata Richard yang masih berusaha mengambil hati kekasihnya.
"Hape gue yang itu juga pemberian lo, Richard. Bahkan ada kenangan tersendiri disana. Lo lupa ya?" kata Aish yang sudah berada di dapur cafe.
Dia sedang mencuci peralatan makan yang baru saja dipakainya. Dan Richard masih berada di dekatnya, berdiri menyandarkan tubuhnya di dekat wastafel tempat cuci piring. Sambil mengamati Aish yang sedang mengomel dengan senyuman kecil.
"Nggak semuanya kalau rusak itu langsung beli. Kalau masih bisa diperbaiki ya diperbaiki dulu dong. Apalagi kan hape ini dapat hadiah waktu lo nyatain cinta sama gue waktu itu" Aish sedikit menggumam saat mengatakannya, tapi masih terdengar oleh Richard.
"Lo masih ingat ya, ya memang sih. Tapi kan cuma hape hadiah, Ra. Biar gue beliin khusus buat lo, oke?" Richard masih menawar.
"Kan ada kenangan tersendiri, Richard. Sayang kalau dibuang" kata Aish yang masih sibuk dengan piringnya. Dan ditambah lagi beberapa gelas oleh seorang waitress yang datang.
"Tolong sekalian cuciin ya, Aish. Lagi rame nih di depan" katanya.
"Iya" jawab Aish, padahal ini masih jam istirahatnya.
Richard hanya membiarkan, karena Aish pun tak menolak.
"Jujur deh, Ra. Waktu lo terima gue, sebenarnya lo sudah ada rasa apa belum sih sama gue waktu itu?" tanya Richard, penasaran juga dia kenapa waktu itu Aish mau saja jadi pacarnya.
"Nggak ada sih, hehe.. Ya kan gue kasihan sama lo yang sudah capek-capek nyanyi diatas panggung buat gue" kata Aish sambil menaik turunkan alisnya, sedikit mengejek Richard.
"Sakit banget hati gue, Ra" kata Richard sambil memegangi dadanya.
"Hehehehe... Niatnya, gue setelah turun dari panggung mau ngobrol serius sama lo buat lurusin masalah itu, tapi lupa sampai sekarang" kata Aish dengan tampang datar, meniru ekspresi Richard biasanya.
"Maksudnya?" tanya Richard heran, dia sampai memasang wajah yang sangat serius.
"Ya gue mau bilang kalau lebih baik kita jadi teman biasa saja. Tapi malah kelupaan gue, sampai sekarang" kata Aish kembali menegaskan.
"Jadi, lo nggak beneran suka atau sayang gitu sama gue, Ra?" Richard terkejut dengan pernyataan Aish.
"Dulu sih, iya Richard" kata Aish sambil mengelap tangannya, dia sudah selesai mencuci piring dan gelas.
"Terus sekarang? Lo masih ragu gitu sama gue?" tanya Richard, dia sangat serius kali ini.
"Yang gue rasain, memang benar apa kata Nindi, witing Trisno jalaran soko kulino" kata Aish sambil menggamit lengan Richard dengan manja sambil tersenyum menatap wajah Richard.
Dia sudah lupa dengan ponselnya yang mati, entah rusak atau tidak.
"Maksudnya? Gue nggak ngerti" kata Richard.
"Lo jangan kebanyakan main sama tuh anak deh, ketularan dia ngomongnya" kata Richard membuat Aish cemberut.
Niatnya untuk menggoda Richard malah nggak jadi karena Richard yang mengejek temannya.
"Tau lah, lo gitu orangnya. Terus gue harus main sama Yopi doang gitu? Oh, main sama Mike aja deh. Biar gue diajarin basket sama tuh anak" kata Aish.
Richard menangkup kedua bahu Aish dengan tangannya. Menatap Aish dengan tajam, sebelum berkata-kata. Membuat Aish sedikit ngeri jika Richard sudah begitu.
"Jangan macam-macam sama Mike, ya. Nanti gue patahin leher tuh anak kalau sampai lo dekat-dekat sama dia" kata Richard yang malah membuat Aish terkikik, tak takut sama sekali.
"Eits, ganggu ya gue?" tanya Ilham yang baru datang dengan nampan berisi gelas dan piring kotor ditangannya.
Richard segera melepas tangannya dari bahu Aish, membuat gadis itu tergelak.
"Bos Richard bisa nggak ke tempat asalnya? Gua sama rekan kerja gue yang bernama Ilham ini lagi mau bekerja. Tolong jangan di ganggu ya bos. Kalau ada perlu sama saya, nanti saja selepas jam sepuluh malam" kata Aish.
Richard kembali menampilkan wajah datarnya, melenggang pergi meninggalkan kedua anak buahnya yang sedang menahan tawa.
"Nanti malam, lo pulang sama gue" kata Richard yang menghentikan langkahnya dan menoleh pada Aish.
"Siap, bos" kata Aish dengan sikap hormat seperti saat upacara. Sedangkan Ilham hanya terdiam.
.
.
.
.
__ADS_1