
Ting.
Satu notif muncul di ponsel Aish menjelang waktunya pulang.
"Gue tunggu di depan"
Sebuah pesan WA dari Richard.
"Kamu pulang sendiri?" tanya Siras saat Aish akan keluar ruangan setelah melakukan doa bersama.
"Iya bang, eh maksud saya diantar pulang sama Richard" kata Aish.
"Sialan, dia lagi" batin Siras sedikit kecewa.
"Kenapa Hendra izin tidak melakukan praktek jaga lagi Aishyah" tanya Siras mensejajari langkah Aish yang menuju ke pintu keluar.
"Saya juga nggak tahu bang dokter, Hendra cuma bilang kalau sedang ada masalah keluarga" kata Aish.
"Jadi kamu datang dan pulang dari rumah sakit sendirian?" tanya Siras.
"Iya, kan Hendra nggak bisa hadir bang. Jadi saya ya jalan sendiri" kata Aish berhenti di depan pintu masuk, sepertinya sedang ada yang ingin disampaikan oleh abang dokternya.
"Biasanya kamu pulang jam berapa dari sekolah?" tanya Siras.
"Jam dua siang bang. Kenapa memangnya?" tanya Aish.
"Tidak apa-apa, besok kamu ada jadwal jaga atau tidak?" tanya Siras lagi.
"Sepertinya nggak ada bang, tiga hari lagi baru saya ada jadwal jaga" jawab Aish.
"Oh, ok" kata Siras mengangguk.
"Kalau begitu saya duluan ya bang dokter, Richard sudah nungguin daritadi" kata Aish berpamitan.
"Iya, kamu hati-hati dijalan" kata Siras.
"Iya bang. Assalamualaikum" kata Aish.
"Waalaikumsalam" jawab Siras, dan diapun kembali memasuki ruang UGD untuk bersiap-siap pulang ke apartemennya sendiri.
"Sorry, lama ya nunggunya?" tanya Aish saat menghampiri Richard yang sedang senderan di depan mobilnya.
"It's ok. Kita langsung pulang atau mau kemana dulu?" tanya Richard.
"Langsung pulang saja deh" kata Aish.
Richard membukakan pintu mobilnya untuk Aishyah, gadis itu berterimakasih sebelum memasuki mobil. Kemudian Richard berjalan setengah berlari mengitari mobil bagian depannya menuju kursi kemudi.
__ADS_1
Setelah seat belt mereka terpasang sempurna, Richard mulai menyalakan mesin mobilnya. Mereka bersiap melintasi jalan raya di malam ini.
"Lo dapat tugas kesenian nggak?" tanya Aish memecah keheningan.
"Dapat" jawab Richard singkat.
"Haduh, nih cowok kayaknya lagi mode irit bicara nih" batin Aish.
Sebenarnya Aish ingin meminta Richard untuk mengajarinya sesuatu tentang seni agar dia bisa unjuk gigi di ujian kesenian minggu depan. Tapi sepertinya Richard sedang tidak mood, dia jadi merasa sungkan.
"Kenapa lo gelisah?" tanya Richard.
"Kelihatan banget ya? hehe.... Sorry ya Richard" kata Aish.
"Lo ada masalah sama ujian kesenian nanti?" tanya Richard tepat sasaran, Aish jadi sedikit tersenyum senang.
"Masalah banget buat gue Richard. Gue tuh bloon banget kalau sudah berhadapan sama yang namanya kesenian" kata Aish.
"Kenapa memangnya?" tanya Richard.
"Karena otak kiri gue nih lebih berfungsi secara optimal daripada otak kanan gue. Asal lo tahu ya, gue tuh baca not balok saja nggak paham, urusan tangga nada juga masih sering salah sebut. Terus gimana dong nasib ujian kesenian gue minggu depan?" tanya Aish, sebenarnya setengah merengek.
"Kenapa nggak minta ajari sama Falen saja, setahu gue dia suka main gitar. Atau Hendra saja, dia bahkan bisa main piano" kata Richard.
"Uwah, lo bisa tahu kemampuan teman-teman gue ya?" tanya Aish takjub.
"oh gitu" tanggapan Aish hanya membulatkan ujung bibirnya.
"Jadi Hendra sama Falen lagi ada urusan tiap pulang sekolah, mereka nggak bisa bantu buat ngajarin gue. Kalau Seno memang selalu sibuk" kata Aish menjelaskan.
"Lo sendiri rencananya mau nunjukin apa?" tanya Richard memastikan.
"Gue juga nggak tahu, bingung gue. Apalagi gue nggak ada sedikitpun bakat untuk memainkan alat musik, apalagi nyanyi atau nari. Buta banget gue di pelajaran ini" kata Aish sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Lo mau kalau gue ajari main gitar? Setahu gue itu alat musik yang kunci dasarnya mudah diingat" Richard menawarkan diri untuk mengajari Aish.
"Beneran?" tanya Aish dengan mata berbinar.
"Benar dong, masak gue bohong?" kata Richard.
"Boleh banget tuh, secepatnya lo ajari gue ya Richard" kata Aish memohon.
"Besok pulang sekolah gimana? Lo ada jadwal jaga atau enggak besok?" tanya Richard.
"Tiga hari ke depan gue free, jadi besok pulang sekolah ya, gue minta tolong sama lo buat ajari gue" kata Aish memastikan lagi.
"Oke, besok pulang sekolah lo bisa langsung ke ruang kesenian" kata Richard.
__ADS_1
"Makasih ya Richard. Lo sering banget bantuin gue" kata Aish.
"Iya, sama-sama" kata Richard sambil tersenyum dan melirik ke arah Aish yang juga tersenyum memandangnya, membuat jantung Richard berdetak tak karuan hanya karena melihat senyuman Aishyah.
***********
Penggalian di area pantai masih dilakukan oleh orang-orang dari kepolisian dan anggota preman. Di kasus ini, dua kubu yang biasanya seperti air dan api itu malah bekerja sama untuk memecahkan sebuah misteri yang didapat dari penglihatan tak kasat mata seorang remaja.
"Kenapa masih belum kelihatan juga ya bang? Padahal sudah digali sedalam ini" tanya Hendra mulai ragu dengan kesaksian sosok wanita itu.
Hendra mulai kepikiran dengan perkataan bang Rian bahwa mereka yang tak kasat mata seringkali berkata bohong. Lalu, apakah kesaksian sosok itu kepada Hendra juga hanya merupakan satu kebohongan semata?
Karena penggalian yang dilakukan sudah cukup dalam, sudah sebatas dada orang dewasa. Dengan lebar sekita dua meter, tapi masih belum ada tanda-tanda keberadaan sebuah jenazah di dalamnya.
"Coba gali beberapa saat lagi, jika memang tidak ditemukan apapun, kita hentikan" perintah Fian kepada anggotanya.
Salah seorang dari mereka merasa telah mengenai sesuatu. Terasa di ujung cangkulnya seperti membentur benda keras. Pria itu berhenti menggali, anak buah Rian yang lain menambah penerangan ke arah temannya dengan menggunakan senter dari ponselnya.
Rupanya memang ujung cangkulnya telah mengenai sebuah lengan yang kulitnya sudah banyak yang terkelupas. Mereka mulai menggali di area itu dengan sangat hati-hati.
Mereka menarik paksa jenazah yang sudah berbau menyengat itu dengan sekuat tenaga agar bisa segera dikeluarkan, tapi malah membuat beberapa anggota badannya seperti salah satu telapak tangan dan kakinya tertinggal di tumpukan pasir pantai.
Jenazah itu benar-benar mengenakan gaun berwarna navy yang telah usang. Beberapa helai rambutnya masih ada yang melekat di tempurung kepalanya yang terbakar.
Bau menyengat dari tubuhnya menandakan jika jenazah itu masih belum terlalu lama dikuburkan disana.
Kini sosok wanita itu menangis dengan sangat keras di pendengaran Hendra dan Rian saat melihat tubuhnya yang hangus dan dikuburkan dengan sangat tidak layak.
Hal itu membuat kedua Hendra dan Rian menutup kedua daun telinganya. Sementara Fian dan Falen melihatnya dengan ekspresi aneh.
Seorang anggota polisi yang ada dibawah segera memasukkan jenazah yang anggota tubuhnya sudah banyak yang terlepas itu kedalam sebuah tas koper besar.
Mereka sengaja tidak menggunakan kantong jenazah yang biasanya berwarna kuning agar tidak menimbulkan kecurigaan pada orang lain yang melihatnya.
Setelah memberikan koper berisi jenazah itu pada Fian, yang lainnya membantu mengisi kembali lubang yang telah dibuat dengan menggunakan pasir pantai. Dan mengembalikan semuanya seperti kondisi semula.
Tak lupa menaruh batang kayu yang telah beralih fungsi sebagai tempat duduk ke asalnya. Persis seperti kondisi saat mereka akan menggali agar tidak membuat orang lain curiga.
Setelah itu, mereka bergegas menuju rumah sakit untuk menyerahkan koper beserta jenazahnya kepada dokter yang telah Fian hubungi dan menjadi orang kepercayaannya juga.
.
.
.
silahkan klik like dan berikan komen sebelum melanjutkan ke bab selanjutnya. Terimakasih para pembaca semuanya.
__ADS_1