
"Uwah bagus banget, kok lo bisa nemuin tempat kayak gini?" tanya Aish. Richard membawanya ke sebuah puncak, entah dimana dia sekarang. Yang jelas tidak ada signal di ponselnya, dan mereka berkendara cukup lama tadi, pinggang Aish terasa sedikit pegal sekarang. Bahkan mereka harus menyewa sepeda motor untuk bisa sampai disini.
"Gue sering kesini, sendirian" kata Richard. Mereka tengah duduk di sebuah pondok bambu semacam gazebo yang bisa melihat riuhnya pusat kota dari atas sini.
"Ngapain?" tanya Aish.
"Saat gue lagi pengen sendiri, gue pasti kesini. Disini gue bebas mau ngapain saja. Tapi biasanya gue cuma duduk berlama-lama doang sih" kata Richard.
"Lo benar, disini membuat hati jadi tenang ya. Udaranya segar. Untung lo nyuruh gue pakai jaket tadi" kata Aish.
"I Love you, my Khumaira" kata Richard memberikan sebuah cincin pada Aish.
"Apa? Lo panggil gue apa?" tanya Aish geli mendengar panggilan Richard padanya.
"Khumaira, panggilan sayang gue buat lo. Kan kalau teman-teman lo yang nggak jelas itu panggilnya princess sama lo. Jadi, gue mau panggil lo Khumaira" kata Richard.
Aish tersenyum geli, tapi boleh lah. Toh memang namanya memang Khumaira.
"Terus gue panggil lo apa dong?" tanya Aish.
"Nama gue itu Richard Putra Hutama, terserah lo mau panggil apa" kata Richard kembali menggenggam cincinnya.
"Engmh, Tama deh. Dari kata Hutama" kata Aish.
"Boleh sih, tapi itu nama kakek gue. Semua anggota keluarga gue pakai nama belakang Hutama" kata Richard.
"Jadi kalau keluarga lo lagi kumpul, terus gue panggil Tama, pasti semuanya bakal noleh ya?" tanya Aish sambil tertawa, membayangkan jika hal itu benar terjadi.
"Lo panggil gue sayang, nih buat lo" kata Richard kembali memberikan cincin pada Aish.
"Lo lagi ngelamar gue?" canda Aish.
"Anggap saja begitu" kata Richard mengambil jemari Aish, dia menyematkan cincin itu di jari manisnya. Dan ternyata pas, indah melingkar di jari manis Aishyah.
"Meskipun ini warnanya silver, tapi bisa gue jamin kalau itu emas asli, seasli cinta gue sama lo" kata Richard.
"Pasti aslinya lo tuh tukang gombal ya, pantesan mantan lo banyak" kata Aish mencibir Richard.
"Sengaja gue pilih cincin bentuk daun, gue berharap rasa cinta dihati lo buat gue akan selalu tumbuh jika terus disiram dan dipupuk. Jangan sampai layu" kata Richard sambil menggenggam tangan Aish.
"Gue ngeri kalau lo ngomong gitu, nggak biasanya" kata Aish.
"Mungkin mantan gue memang banyak, Ra. Tapi cinta tulus gue cuma buat lo. Gue bisa jamin itu pakai nyawa gue" kata Richard.
"Lo jangan ngomongin nyawa, gue nggak suka" kata Aish membuang muka.
"Iya, gue minta maaf. Tapi gue serius cuma cinta sama lo, Ra" kata Richard.
"Memangnya lo yakin kalau orang tua lo setuju kalau lo sama gue? Kelas kita beda, gue nggak berasal dari kasta yang sama kayak lo" kata Aish.
"Gue nggak perduli sama mereka, toh mereka juga nggak pernah perduli sama gue" kata Richard.
Aish akan memulai rencananya kali ini, sesungguhnya hatinya bergetar dengan ketulusan Richard. Tapi tugasnya harus dia lakukan, dia harus mengesampingkan perasaannya dulu kali ini.
"Sebenarnya keluarga lo tuh kayak gimana sih?" tanya Aish memulai rencananya.
"Mama sebenarnya sayang sama semua anaknya, tapi dia nggak bisa nolak keinginan papa. Kadang gue kangen dengan kebersamaan keluarga gue. Bahkan natal kemarin kita nggak ada acara apapun. Lo tahu sendiri kemarin gue ada dimana" kata Richard.
"Sebenarnya kenapa lo sampai kecelakaan kemarin?" tanya Aish.
"Gue yang terlalu kekanak-kanakan, gue cuma pingin ada quality time. Papa sudah berencana liburan bersama, tapi batal gara-gara urusan pekerjaan. Gue kecewa, cuma di arena balap gue bisa meluapkan emosi, cuma waktu itu gue lagi lepas kontrol aja" kata Richard.
"Kalau saudara lo ada berapa?" tanya Aish.
"Gue empat bersaudara, semuanya cowok. Kakak pertama gue ada di Hokkaido, ada perusahaan mama disana. Namanya Alando Putra Hutama. Lo tahu sendiri kebanyakan orang Jepang nggak mau nikah, kakak gue sama" kata Richard mulai menceritakan tentang keluarganya.
"Terus?" tanya Aish dengan wajah serius. Richard tersenyum sebelum melanjutkan ceritanya.
"Kakak gue yang kedua ada di kota ini juga, cuma dia sudah berkeluarga. Namanya Willy Putra Hutama, istrinya kak Helda Margaretha, divonis nggak bisa punya keturunan. Tapi sepertinya kakak gue beneran cinta sama dia, mereka sudah mengadopsi seorang anak laki-laki".
"Mama nggak suka sama kak Helda, makanya kak Willy memutuskan untuk membangun perusahaannya sendiri. Dia sukses dengan hobinya di bidang advertising".
"Kakak lo yang ketiga?" tanya Aish lagi.
__ADS_1
"Romeo Putra Hutama, dia ada diluar negri sekarang. Lagi kuliah di sebuah universitas di Australia" semua informasi mengalir begitu saja dari mulut Richard, tidak butuh waktu lama untuk Aish melakukannya.
"Engmh... Dari semua kakak lo, paling dekat sama siapa?" tanya Aish.
"Nggak ada yang dekat, malah terkesan jauh. Gue sepertinya nggak pernah ketemu sama mereka. Apalagi kakak pertama gue" kata Richard.
"Terus, kenapa sampai orang tua lo juga jarang ketemu sama lo?" tanya Aish.
"Papa sering ke luar pulau buat berkunjung ke pabrik dan perkebunan disana, mama sudah pasti ikut. Mereka kalau pergi bisa sampai berbulan-bulan" kata Richard.
"Lo pasti kesepian banget ya? Biasanya lo ngapain kalau ngerasa sepi?" tanya Aish lagi.
"Sekarang, gue kalau kesepian pasti ke tempat lo" jawab Richard.
"Setidaknya, keluarga lo masih lengkap. Saat dibutuhkan, mereka pasti ada. Lo harus bisa mensyukuri itu semua. Lo masih lebih beruntung daripada gue, Richard" kata Aish.
Richard terdiam, memang benar apa yang Aish katakan. Tapi untuk menjalaninya, mungkin Richard merasa lebih baik berada di posisi Aish yang keluarganya benar-benar tidak ada, daripada mereka ada, tapi sepertinya tidak ada.
Aish sedikit kecewa, terlebih pada dirinya sendiri. Richard benar-benar membutuhkannya, dia pasti sudah menemukan kebahagiaan dengannya. Hatinya mendadak ngilu.
"Bagaimana kalau seandainya masa depan nggak merestui buat kita bersama?" tanya Aish.
"Gue bakal lawan masa depan semacam itu. Yang gue mau, masa depan lo harus sama gue. Apapun yang akan terjadi, gue nggak akan pernah nglepasin lo, Ra. Gue nggak pernah seserius ini sama cewek".
"Lo beda, Ra. Cuma lo cewek yang berani marahin gue, nantangin gue, tapi juga cuma lo yang rela bantuin gue sampai mencelakai diri lo sendiri. Gue belum pernah melihat ketulusan dari orang lain selama ini, baru lo" kata Richard dengan sungguh-sungguh.
Aish terdiam, bagi Aish juga cuma Richard cowok pertama yang mau menerima dengan apa adanya. Tapi bagaimana jika kenyataan mendapati salah seorang keluarga Richard yang benar-benar membunuh kakaknya? Hingga menyebabkan bundanya meninggal.
Masih sanggupkah Aish menerima Richard? Biarlah takdir yang memutuskan nanti. Apapun itu, siap ataupun tidak siap. Aish akan tetap berjuang untuknya sendiri.
Aish tiba dirumahnya sore hari, Richard berpamitan akan mengunjungi Reno. Biasanya dia akan menginap dirumah Reno.
Suasana kembali sepi saat malam menghampiri. Selepas maghrib, Aish duduk termenung di meja belajarnya. Dia tidak bisa terus-terusan seperti ini. Lama-kelamaan uang akan habis percuma jika dia tidak berusaha untuk mencari pekerjaan.
Aish menghitung jumlah uang yang dia miliki sekarang. Jumlah yang cukup jika dikelola dengan baik. Kemarin dia mendapatkan uang santunan kematian dari pihak sekolah dengan jumlah yang amazing, dua puluh juta rupiah. Angka yang sangat fantastik baginya yang tidak pernah mengelola keuangan di rumah.
Ditambah lagi dengan uang yang bunda beri dalam bentuk tabungan, tapi untuk yang satu ini akan dia gunakan untuk biaya kuliah nanti.
Belum tahu saja dia kalau sebenarnya ada tambahan dari sahabat-sahabatnya. Karena pribadi Aish yang tidak suka merepotkan orang lain, maka ketiga sahabatnya memberikan uang dari pribadi mereka melalui pihak sekolah saja.
Besok dia akan menghubungi bang Rian untuk meminta bantuan agar mencarikannya motor second yang masih bagus, sekalian tanya lowongan pekerjaan saja padanya. Siapa tahu ada.
Dia teringat obrolannya dengan Richard pagi tadi. Sekarang yang harus Aish lakukan adalah melaporkan semua informasi yang didapatkan pada Fian.
Aish membuat laporan menggunakan ponselnya, melalui aplikasi ms.Word yang tersedia dan akan dikirimkan dalam bentuk email pada Fian. Agar penyelidikan bisa segera menemukan titik terang.
gambar cincin pemberian Richard
★★★★★
"Ada perlu apa lo minta ketemu sama gue, is?" tanya Rian. Semalam Aish menghubungi Rian, memintanya agar bisa datang ke rumah engkong pagi ini.
"Bang, bantuin gue cari motor bekas dong. Gue pengen beli motor bang" kata Aish.
"Lo mau motor apa?" tanya Rian yang kini duduk bersama kedua orang tuanya, dan juga Aish.
"Motor matic bang, yang irit bahan bakar, terus modelnya bagus, yang warna biru bang" kata Aish.
"Gampang itu, nanti gue anter ke tempat teman gue, lo bisa pilih sendiri" kata Rian.
"Sama satu lagi bang" kata Aish.
"Apa?" tanya Rian.
"Abang punya informasi lowongan kerja part time nggak? Yang kerjanya dari sore sampai malam" tanya Aish.
"Buat siapa?" tanya Rian.
"Buat gue bang, buat menyambung hidup" jawab Aish.
Rian dan kedua orang tuanya saling pandang, mereka merasa kasihan pada gadis yang dipaksa menjadi dewasa dalam waktu singkat itu.
__ADS_1
"Kalau informasi dari gue nih is, kebanyakan lowongan security kalau jam segitu. Ada kemarin perusahaan lagi nyari security buat jaga dari jam empat sampai jam sebelas malam" kata Rian.
"Cewek boleh ngelamar nggak bang? Kayaknya gue cocok tuh buat lowongannya" kata Aish bersemangat.
"Kalau gue yang rekomendasikan pasti boleh sih, tapi apa lo yakin mau jadi security?" tanya Rian memastikan.
"Iya bang, gue juga punya basic bela diri kan walaupun masih amatiran. Tolongin gue ya bang, buat menyambung hidup nih bang" kata Aish merengek.
"Abang dapat pahala yang besar nih kalau bantuin anak yatim-piatu kayak Aish" kata Aish membuat Rian tidak mungkin bisa berkata tidak.
"Huft, iya deh. Besok siang lo gue anterin ke kantornya ya" kata Rian.
"Hari ini saja bang, setelah kita cari motor. Gue mau pakai baju formal deh, terus pakai jaket. Biar langsung bisa interview. Kebetulan semalam gue sudah bikin cv, bang" kata Aish.
"Lo beneran neng, yakin sama keputusan lo?" tanya engkong.
"Iya kong, Aish yakin banget. Lagipula, siapa yang mau nanggung biaya hidup Aish kalau bukan Aish sendiri, iya kan?" tanya Aish.
"Lo bisa tinggal sama gue disini, rumah lo dikontrakin saja. Jadi lo bisa biayain hidup lo dari hasil uang kontrakan, bagaimana?" tanya engkong, pria tua itu tidak tega jika Aish harus banting tulang.
"Banyak banget kenangan Aish sama bunda dirumah itu, kong" kata Aish menunduk, rupanya tawaran engkong tidak mampan untuk mematahkan keinginan Aish mencari pekerjaan.
"Lo memang keras kepala, neng. Tapi lo harus hati-hati ya, jaga diri baik-baik. Banyak banget orang jahat diluar sana" kata engkong.
"Iya kong, Aish mohon doanya ya. Semoga Aish dijauhkan dari orang jahat" kata Aish.
"Ayo dah, gue anterin cari motor sekarang. Biar nanti nggak kesiangan ke kantor teman gue" kata Rian.
"Iya bang. Tunggu sebentar ya, gue mau siap-siap dulu" kata Aish, dia berlari dengan riang menuju rumahnya sendiri.
"Hati-hati neng, awas jatoh" teriak enyak.
★★★★★
Aish tengah berdiri di lobi sebuah perusahaan, dia menunggu Rian datang. Setelah mengantarnya membeli motor, Aish langsung mengendarainya untuk mendatangi perusahaan ini. Sedangkan Rian tetap membawa mobilnya.
"Bang, sini" kata Aish melambaikan tangannya saat melihat Rian datang.
"Sebentar ya, gue telpon temen gue dulu" kata Rian. Aish mengangguk dan kembali duduk.
Tak lama kemudian, seorang pria sekitaran tiga puluh tahunan datang menghampiri. Rupanya dia adalah teman bang Rian.
"Sorry lama, tadi gue harus temui bos dulu sebentar" kata orang itu sambil menyalami Rian.
"Nggak apa-apa. Jadi gimana?" tanya Rian.
"Mana yang mau ngelamar disini?" tanya orang itu.
"Ini, namanya Aishyah. Dia bisanya kerja dari sore sampai malam, kalau pagi masih sekolah" kata Rian.
"Lo yakin? Cewek cantik gini mau jadi security?" tanya orang itu, Rian hanya mengangguk.
"Bisa kita bicara si ruangan saya sebentar?" tanya orang itu.
"Bisa pak" kaya Aish mantap, senyumnya terus saja berkembang.
"Sebentar ya, Rian" kata orang itu. Rian kembali duduk dan menunggu di lobi.
"Nama saya Ridwan, saya pimpinan HRD disini. Nama kamu siapa?" tanya Ridwan sambil membaca cv Aish.
"Nama saya Aishyah Khumaira, pak. Saya kelas 11 sekarang. Mohon untuk dipertimbangkan lamaran saya pak, karena saya sedang butuh pekerjaan" kata Aish.
"Kamu yakin dengan profesi security ini?" tanya Ridwan.
"Yakin pak, saya ada sedikit pengalaman bela diri. Jadi, apa saya diterima pak?" tanya Aish.
"Iya, tentu. Kamu boleh mulai kerja besok sore ya. Besok kamu temui saya dulu untuk menerima seragamnya" kata Ridwan.
"Terimakasih pak" kata Aish bahagia.
.
.
__ADS_1
.