Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
sudah jelas


__ADS_3

"Ini rumah lo?" tanya Aish mengagumi bangunan megah dihadapannya. Richard hanya menganggapi dengan anggukan.


Richard membukakan pintu mobilnya, meminta Aish turun dan mengajaknya ke ruang tamu.


"Rumah lo gede banget ya" kata Aish.


"Rumah orang tua gue" kata Richard.


"Lo tunggu disini sebentar ya, gue ke atas dulu mau ambil buku pelajaran gue" kata Richard, Aish mengangguk dan duduk dengan tenang.


"Silahkan diminum non" kata seorang art yang memberinya secangkir teh.


"Terimakasih bu" kata Aish sopan, Art itu mengangguk dan tersenyum sebelum masuk lagi.


"Pantesan dulu bodyguard nya panggil Richard itu tuan muda. Ruang tamunya saja seluas rumah gue" kata Aish lirih memindai ruang tamu itu.


Ada foto keluarga yang terpampang indah dalam pigura besar dan menempel di tengah ruangan.


Sepasang suami-istri yang diapit empat pria berjas formal. Nampak ada Richard disana, foto keluarga tanpa senyuman.


Ibunya Richard sangat cantik, bersisian dengan pria gagah yang masih terlihat auranya. Aish mengamati satu per satu wajah pria dalam foto itu. Alisnya mengernyit saat mendapati wajah yang sepertinya tak asing. Tapi Aish tak banyak berpikir, mungkin memang pernah bertemu di suatu tempat.


Aish lebih memilih memainkan ponselnya sembari menunggu Richard yang tak kunjung turun.


Mendengar suara langkah kaki, Aish mendongak untuk melihat siapa yang datang. Dia gugup saat melihat seorang wanita datang mendekatinya. Wanita yang ada di dalam foto, aslinya jauh lebih cantik. Dia mengenakan gaun selutut tanpa lengan berwarna maron. Aish tersenyum saat wanita itu semakin dekat.


"Kamu siapa?" tanya orang itu.


"Saya temannya Richard, tante" kata Aish berdiri dan mengulurkan tangannya, untung saja uluran tangan itu disambut oleh ibu Richard. Aish mencium punggung tangannya, membuat ibu Richard merasa dihormati. Karena anak-anaknya tidak pernah ada yang melakukan itu padanya selama ini.


"Nama kamu siapa?" tanya wanita itu lagi.


"Saya Aishyah, tante" kata Aish.


"Mama ngapain disini?" tanya Richard saat mendapati mamanya sedang mengintrogasi Aish.


"Nothing. What will you do?" tanya mama Richard.


"Bukan urusan mama" kata Richard cuek.


"Maaf tante, kami mau belajar bersama. Besok kan ujian semester" malah Aish yang menjawab.


"Oh, good. Mama pergi dulu ya" kata mamanya yang pergi tanpa menoleh lagi.


"Kasar banget sih sama orang tua?" tanya Aish.


"Cg, iya sorry. Kita ke halaman belakang saja ya" kata Richard menuntun Aish untuk mengikutinya.


Sepanjang dia berjalan, Aish selalu kagum pada interior rumah mewah itu. Bahkan dalam mimpipun Aish tak pernah menyangka untuk bisa masuk ke rumah bak kerajaan seperti ini. Tapi rumah ini terasa sepi, tak ada keceriaan.


Richard berhenti, menyuruh Aish duduk di gazebo yang ada di halaman belakang yang luas. Ada kolam renang dan taman kecil yang membuat nyaman.


"Pantesan lo tinggi banget, pasti renang setiap hari ya?" canda Aish, Richard hanya menanggapi dengan senyuman.


Richard mengeluarkan buku pelajaran untuk ujian besok. Jadwal yang sama, mereka memilih untuk belajar Matematika.


Sejauh yang Aish rasakan, Richard bukanlah anak yang bodoh. Dia bisa menyelesaikan semua soal latihan dengan benar. Lantas, kenapa dia ada di kelas IPS? Aish masih belum mengerti sampai sejauh itu.

__ADS_1


Mereka belajar dengan serius, ditemani beberapa cemilan yang sengaja Richard pinta pada Art-nya.


"Kalau gue perhatiin, sebenarnya lo tuh pintar. Kenapa pilih IPS?" tanya Aish.


"Karena ada Brian di kelas IPA" jawab Richard.


"Brian siapa?" tanya Aish.


"Lo nggak tahu Brian?" tanya Richard, Aish hanya menggeleng.


"Brian Falentino Usmany" Richard menyebut nama panjang Falen.


"Maksud lo Falen?" tanya Aish yang mendapat anggukan kepala dari Richard.


"Alasan apa sih yang membuat kalian nggak akur? Gue rasa, Falen anak yang baik" tanya Aish.


"Lo tanya saja sama anaknya langsung" jawab Richard.


"Dia sahabat baik gue, jadi gue harap lo bisa akur ya sama Falen" kata Aish.


"Kalau lo disuruh pilih, antara gue atau Brian. Lo pilih siapa?" tanya Richard.


Aish terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Richard. "Gue nggak tahu, dan gue nggak pernah berharap akan dipertemukan dengan keadaan seperti itu" jawab Aish, membuat Richard bungkam.


Sudah seminggu ini ujian dilakukan, setiap pulang sekolah Aish masih belajar bersama Richard. Dan sesekali Falen dan Hendra mendatangi kediaman Aish di sore hari untuk melakukan hal yang sama, belajar.


Meski sebenarnya ada misi lain, karena diam-diam mereka berdua masih bertemu dengan bang Rian dirumah engkong untuk membahas masalah penemuan mayat waktu itu. Sejauh ini masih aman tanpa sepengetahuan Aish.


Para murid bisa bernapas lega setelah melalui ujian kenaikan kelas yang sangat menguras isi otaknya. Kini tinggal menunggu hasil ujian dibagikan dalam bentu raport.


★★★★★


Rian meminta mereka datang ke kediamannya saja, mengantisipasi kebocoran berita jika harus bertemu di tempat umum. Kini mereka tengah berada di ruang tamu si boss preman.


"Ini adalah hasil dari pengujian tes DNA yang kalian minta" kata dokter Retno memberikan amplop putih pada Fian.


Fian membacakan hasilnya dengan suara keras, agar mereka semua bisa mendengarkannya.


"Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa probabilitas terduga saudara kandung adalah >99,9%. Oleh karena itu, tidak dapat disingkirkan dari kemungkinan sebagai saudara kandung" Fian mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


"Ya Allah, Aishyah" kata Falen lemas, dia melorot dari tempat duduknya.


Hendra juga menutup wajahnya dengan kedua tangan. Harapannya jika jenazah itu bukanlah kak Alif telah sirna. Kesedihan akan menimpa Aish kembali.


"Sekarang bagaimana caranya kita memberitahu Aish?" tanya Hendra.


"Besok kita ajak dia ke rumah sakit saja Hen, kita obrolin bersama. Sekalian kita ajak bunda ya" kata Falen.


"Iya, begitu lebih baik" kata Hendra.


"Biar besok saya yang sampaikan berita ini. Besok akan saya temani kalian" kata Fian.


"Biar gue yang bawa Aish dan ibunya ke rumah sakit besok, kita bertemu disana saja" kata Rian.


Setelahnya, mereka pamit langsung menuju ke rumah Aish. Falen tidak mau menunggu lagi, secepatnya dia harus membuat janji dengan Aish.


"Assalamualaikum" kata Falen setelah sampai di teras rumah Aishyah.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, loh Falen sama Hendra kesini toh. Aish masih belum pulang, tadi keluar sama Richard. Ayo masuk, tunggu di dalam saja" kata bunda, kedua remaja itu mengekorinya. Mereka duduk di ruang tamu.


"Tunggu sebentar lagi ya, bunda telpon Aishnya dulu biar cepat pulang" kata bunda.


"Memangnya mereka kemana bun?" tanya Falen.


"Tadi bunda suruh beli kain sama benang, sudah daritadi kok perginya" kata bunda yang berusaha menelpon Aish.


"Sudah, sebentar lagi sampai. Lagi di jalan katanya. Bunda bikinin minum dulu sebentar ya" kata bunda.


"Nggak usah repot-repot bun" kata Falen, tapi bunda tetap saja masuk dan membuat minuman.


Cukup lama mereka menunggu, sekitar satu jam baru Aish datang bersama Richard. Tangan Aish memegang beberapa belanjaan.


"Assalamualaikum, maaf ya kalian nunggu lama ya?" tanya Aish yang baru datang.


"Waalaikumsalam. Nggak apa-apa kok" kata Falen.


"Lama banget sih is, teman kamu sudah nunggu daritadi loh" kata bunda.


"Macet bun" jawab Aish yang ikut duduk bersama Richard.


"Maaf ya lama, ada apaan nih? Tumben kesini nggak bilang-bilang dulu?" tanya Aish.


"Besok lo bisa ikut kita ke rumah sakit nggak? Ada yang perlu gue sampein ke lo, kalau bisa bunda lo juga ikutan" kata Falen langsung pada intinya.


"Memangnya ada apa? Siapa yang sakit?" tanya Aish.


"Besok kita bicarakan sama-sama ya, ini penting banget princess. Gue harap lo bisa datang" kata Hendra.


"Sama bunda ya, bentar gue panggil bunda dulu" kata Aish.


"Memangnya ada apa sampai ke rumah sakit segala nak?" tanya bunda setelah sampai di ruang tamu.


"Besok kita bahas sama-sama di sana saja ya bun. Nggak enak kalau bicara disini" kata Falen.


"Besok biar gue yang anterin" kata Richard.


"Terserah lo" kata Falen malas.


"Kita cuma mau menyampaikan itu saja sih bun, besok jangan lupa ya princess. Sekarang gue mau pulang" kata Falen berdiri, dia tidak suka terlalu lama bersama Richard. Kedua remaja jangkung itu saling menatap sinis. Aish masih belum bisa menyatukan mereka.


"Hati-hati ya kalian berdua" kata Aish.


Falen dan Hendra menyalimi bunda, setelahnya mereka benar-benar pergi.


"Gue juga pulang ya" kata Richard.


"Iya, hati-hati. Makasih sudah mau nganterin gue tadi" kata Aish.


"Iya besok biar gue juga yang nganter lo sama bunda ke rumah sakit ya" kata Richard yang mendapat anggukan dari Aish.


"Nanti gue kabari lagi" kata Aish melepas kepergian Richard.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2