
"Bang dokter" kata Aish menyapa Siras yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Hai, sudah keluar rupanya" kata Siras tersenyum.
"Kan saya sudah bilang bang, nggak usah repot jemput" kata Aish.
"Kamu sudah tidak ada jadwal jaga lagi kan Aishyah, jadi ke depannya kita akan jarang bertemu. Makanya saya ingin ketemu kamu sekarang" kata Siras.
"Abang nggak ke rumah sakit?" tanya Aish.
"Tidak, saya libur hari ini" kata Siras.
"Bisa kebetulan sekali ya bang?" tanya Aish.
"Ya, saya ingin ajak kamu makan siang. Please, jangan tolak ajakan saya kali ini" kata Siras.
"Hengmh ... oke deh bang. Saya kabari bunda dulu ya" kata Aish menyetujui ajakan Siras. Tidak apa-apa lah sekali-kali makan diluar. Apalagi sejak kemarin si dokter ini sepertinya sedang marah kan padanya?
Rupanya Siras mengajaknya makan di restoran yang menjual aneka macam olahan mie. Saat Aish masuk, dia sedikit terkejut saat melihat harganya yang sangat jauh berbeda dengan mie ayam yang biasa dia makan di tukang mie langganannya.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Siras yang melihat Aish cuma membolak-balik buku menu.
"Terserah bang dokter saja deh. Saya nggak paham sama menunya" kata Aish.
Siras tersenyum melihat kepolisan Aishyah, diapun memesan sesuai keinginannya yang dia rasa juga cocok di lidah Aish.
"Kenapa belum dimakan Aishyah?" tanya Siras setelah cukup lama hidangan yang ada di meja mereka masih belum di jamah olehnya.
"Saya nggak bisa pakai sumpit bang, ada sendok saja nggak sih?" tanya Aish lirih, dia sedang malu rupanya.
Siras tergelak, dia merasa lucu dengan ekspresi Aish saat ini. "Hahaha, biar saya mintakan ke waitersnya ya" kata Siras.
"Jangan diketawain dong bang dokter, jahat banget sih" kata Aish.
Siras memanggil waiters, meminta sendok sesuai keinginan Aish. Akhirnya, Aish bisa makan dengan perasaan malu. Tapi rasa masakan yang sangat lezat, membuat sedikit demi sedikit rasa malunya hilang. Diapun bisa menikmati makanannya.
"Ternyata menu orang kaya memang enak" batin Aish.
★★★★★
"Ayo is, buruan. Keburu siang nanti dagangannya keburu habis, bisa-bisa bunda dapatnya yang mahal-mahal loh" kata bunda mengomel sepagi ini.
"Iya bunda, Aish cuma ngerendam doang kok. Nyucinya entar agak siang. Sabar sedikit bun" kata Aish.
Minggu pagi ini Aish harus mengantarkan bundanya ke pasar, nanti sore akan ada acara tahlilan di rumah Aish. Bunda dapat giliran acara tahlil ibu-ibu komplek tiap Minggu sore.
Dan disinilah Aish dan bundanya sekarang, dengan skill yang tinggi, bunda menawar harga yang penjual tawarkan. Sering kali Aish mendengar bundanya beradu mulut karena pedagangnya menolak harga yang bunda tawar.
"Bunda nih, beda cuma dua ratus perak doang masih mau adu mulut" kata Aish.
__ADS_1
"Ya nggak apa-apa dong is, kan lumayan kalau dikumpulin meskipun dua ratus perak" kata bunda tidak mau kalah.
"Terserah bunda saja. Ini kurang apa lagi bunda?" tanya Aish yang sudah menenteng banyak kantong kresek di kedua tangannya.
"Yah, ayamnya belum kebeli is. Lupa bunda, haduuhh ... Bisa-bisa kehabisan ini" kata bunda setengah berlari menuju penjual daging ayam segar.
"Bang, ayamnya masih ada kan?" tanya bunda setelah sampai di lapak ayam.
"Uwaduh, baru saja habis buk" kata penjual.
"Yaahh .. lagi butuh banget bang, masak habis sih?" tanya bunda.
"Mau berapa kilo memangnya bu?" tanya pedagang ayam.
"Lima kilo doang sih bang, kalau ada langsung saya bayar tunai deh bang" kata bunda.
"Ada sih bu, tapi dirumah saya tuh. Di sembelih dulu" kata penjual.
"Jauh nggak bang rumahnya?" tanya bunda.
"Enggak juga, cuma naik angkot sekali doang" kata penjual.
"Biar Aish yang kesana bun. Bunda pulang saja bawa belanjaan yang sudah dibeli ya. Aish ke rumah abangnya dulu buat ngambil ayam" kata Aish.
"Benar nggak apa-apa is?" tanya bunda.
"Iya bun. Bunda tenang saja, lagian juga kan sudah kenal abangnya juga. Aman deh pokoknya" kata Aish.
"Bang, biar ayamnya dibawa sama anak saya ya nanti. Awas jangan macam-macam loh bang" kata bunda.
"Siap buk. Amanah mah saya orangnya" kata penjual itu.
"Bunda pulang duluan ya is. Kamu hati-hati, ini uangnya" kata bunda.
"Iya bun" kata Aish
"Biar eneng ikut motor abang saja ya sekarang, nanti pulangnya baru dah naik angkot. Biar nggak nyasar juga neng" kata penjual.
"Iya deh bang. Boleh. Jauh nggak sih bang?" tanya Aish.
"Deket neng, nanti ngambilnya ke kandang ayam. Soalnya ayamnya baru mau dipotong. Biasa neng, kalau hari Minggu banyak yang beli. Tadi habis diborong sama orang buat hajatan katanya" si Abang bercerita sambil membereskan lapaknya.
Aish sudah berada di atas motor si abang, motor matic itu penuh dengan perlengkapan berdagang yang ditaruh dibagian depannya.
Tidak terlalu jauh memang letak kandang ayam yang si abang maksud. Cuma lima belas menit mereka sudah sampai.
"Bentar ya neng, tunggu disini saja. Biar abang sembelih dulu ayamnya di dalam" kata si abang.
Aish hanya mengangguk dan menunggu di tempat yang abang itu maksud. Dia melihat sekeliling, kandang itu berukuran sekitar 4x5 meter, di dalamnya ada seorang ibu-ibu yang membantu si abang memotong ayam yang sudah disembelih dan sudah dicabuti bulu-bulunya.
__ADS_1
Cukup lama Aish menunggu, si abang keluar dari kandang ayamnya setelah hampir satu jam. Untung saja Aish membawa ponsel untuk mengusir rasa jenuh saat menunggu.
"Maaf lama ya neng, ini ayamnya lima kilo" kata si abang menyerahkan dua kantong kresek berisi daging ayam.
"Iya bang tidak apa-apa. Terimakasih ya bang, ini uangnya dihitung dulu" kata Aish.
"Iya neng, sudah pas. Makasih ya neng" kata si abang.
"Eh, tunggu neng. Ini saya kasih bonus ceker sama kepala ayam. Mau nggak?" kata ibu yang tadi membantu si abangnya.
"Boleh dong bu. Makasih banyak ya" kata Aish senang.
"Yasudah, saya permisi dulu. Assalamualaikum" kata Aish.
"Waalaikumsalam, hati-hati ya neng" kata si ibu.
Aish berjalan ke arah jalan raya, jaraknya tidak terlalu jauh. Dia harus menunggu angkotnya datang.
Tapi di hari Minggu seperti ini, angkot malah jarang yang lewat. Karena cukup lama menunggu, diapun berjalan kaki sambil menenteng kresek berisi daging ayam.
Aish berjalan sambil bersenandung, dia sedang mendengarkan musik dari ponselnya. Dia berjalan sambil melihat sekitar. Rupanya ada kerumunan disana.
"Kenapa banyak orang ya?" tanya Aish dalam hati. Dia mendekat ke arah kerumunan, mencoba melihat apa yang sedang terjadi.
Ternyata ada yang sedang berkelahi. Di depannya ada dua buah mobil yang terparkir di tepi jalan.
Di salah satu mobil, tampak wanita yang sedang menangis. Dia bersender ke badan mobil dan duduk di aspal, padahal sedang memakai hot pants. Wanita itu menangis sambil menunduk, Aish jadi tidak bisa melihat dengan jelas karena wajahnya tertutupi rambut panjang yang menjuntai sampai ke depan wajahnya.
Beberapa meter di depannya, seorang pria sedang menghajar pria lainnya. Pria berjaket putih itu duduk di atas perut pria yang berkaos biru. Jaketnya sampai banyak bercak merah karena noda darah dari lawannya.
Aish berusaha melihat dengan jelas, dia berusaha sedikit mendekat karena orang-orang sibuk bersorak tanpa ada yang berniat memisah mereka. Bahkan ada yang sempat-sempatnya memvideokan kejadian itu.
Mata Aish terbelalak melihat pemandangan di depannya. Kantong kreseknya sampai terjatuh ke atas aspal karena kedua tangannya refleks menutup mulutnya yang menganga karena terkejut.
Dia segera berlari menuju dua orang yang sedang adu jotos. Lebih tepatnya, seseorang yang sedang menghajar lawannya.
Karena pria berbaju biru itu sudah kepayahan, bahkan terlihat sudah tidak berkutik karena dihajar terus oleh pria yang berjaket putih.
"Stop! Stop! Berhenti! Apa-apaan sih kalian?" teriak Aish yang tidak diperdulikan oleh keduanya.
Si pria berkaos biru sudah terkapar, wajahnya sudah babak belur. Tapi semua itu tak menyurutkan keinginan dari pria yang berjaket putih untuk tetap menghajarnya.
Pria berjaket putih itu sudah seperti kesetanan, dia menghajar tanpa ampun.
.
.
.
__ADS_1
.