
Aish tidak tahu lagi harus bagaimana, pikirannya buntu. Tremornya masih belum bisa dikendalikan, dia kedinginan.
Abang dokternya sedang sibuk memeriksa Richard di dalam sana. Tidak mungkin juga menghubungi Hendra yang sedang sibuk dengan keluarganya. Seno juga sedang sibuk-sibuknya dengan jadwal syutingnya.
Akhirnya, dia memutuskan untuk menghubungi Falen. Berharap temannya yang satu ini bisa mendengar keluh kesahnya, karena tidak mungkin juga menghubungi bundanya. Dia tidak mau sampai membuat khawatir wanita kesayangannya.
Tapi sampai beberapa kali mencoba menghubungi, hasilnya nihil. Cowok bule itu pasti sedang asyik-asyiknya bermimpi, karena ini memang sudah larut malam.
Aish duduk sendirian, memeluk tasnya dengan erat. Cukup lama baginya untuk bisa menenangkan diri, agar tidak lagi gemetaran. Sampai akhirnya dia bisa memegang ponselnya dengan baik.
Dia segera mengabari sang bunda, beralasan berjaga sampai pagi karena temannya sedang sakit. Agar bundanya mengizinkan dan tidak mengkhawatirkannya.
Empat jam berlalu, dokter Siras baru saja keluar dari ruang tindakan. Dia mendapati Aish yang duduk sendirian di depan ruangan, hingga tertidur.
Dokter itu menghampiri Aish, duduk dengan tenang di sampingnya. Dan tanpa sadar, tangannya mengelus kepala Aish yang terbalut hijab.
"Kasihan kamu, pasti kelelahan saat berusaha melawan phobia kamu ya?" batin Siras.
Cukup lama dokter muda itu memandangi wajah ayu Aish, dia lupa bahwa pasien di dalam keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Untungnya ada suster yang datang, mengingatkan atasannya untuk segera menghubungi pihak keluarga.
"Maaf dokter, pasien membutuhkan pertolongan secepatnya" kata suster itu pelan.
"Oh iya, saya tanyakan sama dia sebentar" kata dokter Siras gugup, dengan cepat menarik tangannya dari ujung hijab Aishyah.
"Aishyah, bangun" kata Siras sambil menepuk pelan pipi Aish.
"Hengmh ... iya" kata Aish berusaha membuka mata.
"Saya dimana?" tanyanya, lalu beberapa detik setelah sadar diapun segera bertanya pada abang dokternya.
"Bang dokter, bagaimana Richard? Apa dia sudah baik-baik saja?" tanya Aish.
"Pendarahannya sudah berhenti, lukanya sudah dijahit. Tapi karena kehilangan banyak darah, dia memerlukan pendonor secepatnya. Stok darah yang sesuai dengan golongan darahnya sedang kosong. Untuk menghubungi PMI butuh waktu yang tidak singkat. Apa kamu bisa membantu kami menghubungi pihak keluarganya? Mungkin keluarganya ada yang punya golongan darah yang sama dengannya" dokter Siras menjelaskan dengan detail.
Aish diam, selama ini dia tidak terlalu dekat dengan Richard. Dia tidak tahu tentang keluarganya. Gadis itu sedikit berfikir.
"Golongan darahnya apa bang dokter?" tanya Aish.
"Golongan darahnya sedikit sulit didapat Aishyah, A-. Stok darah A- dan O- di rumah sakit ini sedang menipis. Sekantong darah masih dalam proses transfusi, masih butuh beberapa lagi" kata Siras.
"Golongan darah saya A dokter, tapi saya tidak tahu apakah A- atau bukan. Dokter bisa mengambil darah saya. Saya sehat, tidak berpenyakit. Saya mau mendonorkan darah saya buat Richard, abang dokter" kata Aish.
"Kamu yakin?" tanya Siras.
"Sangat yakin bang dokter, darah saya bisa diambil sebanyak-banyaknya. Yang penting teman saya selamat" kata Aish.
__ADS_1
"Tapi kamu kan takut darah Aishyah, abang khawatir kalau ditengah proses pengambilan darah, malah terjadi sesuatu sama kamu" kata Siras lagi.
"Abang dokter nggak usah khawatir, saya usahakan berani. Yang penting teman saya selamat" kata Aish tetap pada pendiriannya.
"Yasudah kalau memang begitu mau kamu. Suster, tolong periksa golongan darah Aishyah apakah sesuai dengan golongan darah pasien" perintah Dokter Siras pada susternya.
"Baik dok. Ayo Aishyah, kita periksa. Ikut saya ya" kata Suster itu menunjukkan jalan bagi Aishyah.
"Saya pergi dulu bang dokter, sekalian saya akan usahakan menghubungi keluarganya Richard" kata Aish.
Dokter itu hanya mengangguk, sebenarnya dia tidak terlalu yakin untuk menerima tawaran Aishyah. Tapi memang keadaan sedang urgent, jadi mau tidak mau, harus segera diambil tindakan.
*******
"Bagaimana sus?" tanya Siras pada suster yang membawa Aish tadi.
"Cocok dokter, sekarang Aishyah sedang diambil darahnya" kata suster.
"Iya, terimakasih" kata dokter itu berlalu, menuju ruangan Aishyah.
Siras melihat Aishyah sibuk dengan ponselnya, mungkin gadis itu sedang mencari informasi tentang keluarga Richard.
"Hai, bagaimana perasaan kamu?" tanya Siras.
"Saya nggak berani lihat selangnya bang dokter, biar saya lihat hp saja" jawab Aishyah.
"Masih belum bisa bang, semua teman yang saya hubungi masih belum ada yang membalas pesan saya" jawab Aish.
"Oh begitu, mungkin mereka sedang tidur" kata Siras semakin mendekat ke arah Aish
"Mungkin, memang sudah malam" jawab Aish, berusaha tak melihat selang saat darahnya mengalir melewatinya.
"Kamu tidur saja kalau memang mengantuk Aishyah" kata Siras.
"Perut saya nggak nyaman bang, rasanya seperti saat baru saja turun dari wahana rollercoaster" kata Aish sambil memejamkan matanya, menaruh ponselnya di perut dalam genggaman tangannya yang tidak ditusuk jarum.
"Apa perlu saya ambilkan minyak kayu putih?" tanya Siras sedikit khawatir.
"Boleh deh bang" jawab Aish.
Siras keluar dari ruangan itu, mencari suster untuk meminta tolong mencarikan minyak kayu putih untuk Aish. Dia sendiri kembali menemui Aish.
Tidak lama seorang suster datang membawa pesanan dokter Siras. Pria itu segera menyerahkan pada Aish.
"Aishyah, ini minyak kayu putihnya" kata Siras.
__ADS_1
Gadis itu bergeming, dia tetap menutup matanya. Dia ketiduran, mungkin dia merasa lelah. Siras membiarkan Aish tertidur dengan nyenyak.
Siras memeriksa kantong darah, masih terisi separuhnya. Perjuangan Aish masih kurang separuh, semoga gadis itu kuat.
Ponsel Aish yang berada di genggamannya berdering. Tertera nama Falen yang menghubungi, Siras ragu untuk mengangkat ataukah membangunkan Aish yang baru saja tertidur.
Namun rupanya gadis itu terganggu dengan dering ponselnya, matanya perlahan terbuka dan memeriksa ponselnya. Sejenak senyumnya mengembang, setelah membaca nama di ponselnya.
..."Assalamualaikum, Fal"...
..."....."...
..."Sorry gue ganggu ya malam-malam begini"...
..."....."...
..."Gue mau tanya sama lo, kan dulu lo satu sekolah sama Richard di SMP ya? lo tahu nggak keluarganya Richard?"...
..."......"...
..."Gue lagi serius bule, masalahnya dia masuk rumah sakit. Kecelakaan kayaknya, gue daritadi bingung mau ngabarin keluarganya bagaimana. Soalnya gue nggak tahu sama sekali"...
..."....."...
..."Iyadeh, ok. Gue tungguin kabar dari lo ya. Makasih banget ya Fal. Assalamualaikum"...
Siras mendengarkan dengan cermat saat Aish berbicara dengan orang yang menghubunginya. Ingin bertanya tapi takut dikira kepo. Jadi dia diam saja sampai panggilannya selesai. Mungkin Aish akan menceritakan padanya.
"Bagaimana Aishyah, sudah ada kabar dari teman kamu?" akhirnya dokter Siras yang bertanya duluan, dia sudah tidak sabar lagi.
"Belum bang dokter, masalahnya ini juga sudah larut malam, pasti orang-orang sudah pada tidur kan bang?" kata Aish cemas juga.
"Benar juga sih kamu" kata Siras.
"Besok pagi-pagi sekali akan saya coba lagi deh cari informasinya bang. Engmh, kira-kira abang dokter tahu nggak gimana itu ceritanya sampai Richard berakhir seperti itu? Abang tahu darimana kalai dia habis ikut balapan liar?" tanya Aish.
"Saya dengar dari orang-orang yang mengantar dia tadi. Sebenarnya korbannya bukan hanya dia saja, cuma yang mengalami luka cukup serius hanya teman kamu itu. Mereka juga mengaku tidak mengenali si Richard ini. Entah mereka berbohong atau sedang merahasiakannya. Saya juga tidak tahu" kata dokter Siras.
"Ngomong-ngomong, ini masih lama nggak sih bang dokter? Saya sudah nggak tahan, dari tadi sudah berusaha nggak ngelihatin darah yang keluar, tapi tetap saja terlihat. Ngeri-ngeri sedap rasanya bang" kata Aish.
"Hehe, kamu itu ada-ada saja. Tunggu sebentar lagi, anggap saja sedang latihan menghilangkan phobia kamu" kata Siras.
.
.
__ADS_1
.