Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
kalut


__ADS_3

Hati Sekar sangat sakit. Pikirannya mendidih. Tak termaafkan. Sahabatnya tega merebut kekasihnya.


Mungkin jika Seno yang bersama Aishyah, Sekar masih bisa menerimanya. Tapi ini kenyataannya, bahkan kekasihnya juga sangat perduli pada Aishyah.


Air mata terus mengalir di pipi halus Sekar. Wajah kuning langsat itu berubah merah padam.


"Sekar, tunggu. Kamu salah paham" Aish mencoba mengejar Sekar yang berlari tanpa mau mendengarkannya.


"Sekar, Aish. Tunggu!" Terdengar suara bersahutan dari Seno, Hendra dan Falen mengejar dua wanita yang berlari di depannya.


Jadilah mereka saling berkejaran di pagi buta seperti ini. Para prajurit ikut panik, merekapun ikut berlari mengejar tuannya yang menangis tersedu.


"Ada apa ini? kenapa ribut sekali?" Babah Aish keluar dari kamarnya, bertanya pada prajurit tentang kehebohan di pagi buta.


"Putri dan para tamunya sedang lari berkejaran" jawab seorang prajurit yang berjaga di salah satu pintu.


"Mengapa mereka berkejaran?" babah lanjut bertanya.


"Kami tidak tahu" jawab prajurit. Babah bingung dengan situasi itu.


"Mungkin mereka sedang bermain-main" babah membatin, kemudian bergegas ke sungai untuk membersihkan diri dan berwudhu.


Babah meminta orang-orangnya untuk ikut berwudhu juga. Babah ingin solat tahajud dan solat subuh bersama pengikutnya. Seperti yang biasa dilakukan di rumahnya. Babah selalu solat berjamaah.


Sekar ternyata berlari ke arah depan istana. Lelah berlari, dia berhenti di taman depan istana dan duduk di salah satu kursinya.


Nafasnya masih memburu, dadanya naik turun mengambil banyak oksigen. Air matanya sudah tidak terlalu deras. Tapi sesenggukannya tambah parah. Hidungnya sampai memerah karena terlalu banyak menangis.


Aishpun sama capeknya, melihat Sekar yang sedang duduk, dia jadi lega. Setidaknya tidak harus mengejarnya terus-terusan. Diapun capek.


Aish berjalan mendekat pada Sekar, gadis itu memalingkan muka melihat kedatangan Aish.


"Kamu salah paham Sekar" ucap Aish mengawali pembicaraan.


"Jika aku hanya mendengar dari ucapan orang, mungkin aku tidak akan percaya. Tapi aku melihat dengan mataku sendiri. Kamu masih mau membela dirimu Aishyah?" Sekar membentak Aish.


Seno, Hendra dan Falen yang baru datang kaget karena suara bentakan Sekar yang sangat keras. Seperti orang sedang kesetanan.


"Jangan ngegas dong kalau ngomong" Entah keberanian darimana membuat Seno berani menentang Sekar.


"Maksud kamu apa" Sekar kembali bicara dengan nada tinggi.


"Bahkan kau Frans, kau juga masih mau membela Aishyah?" tanya Sekar.


"Aku yang kau cintai, apa sekarang sudah pudar rasa cintamu padaku?" Sekar melunak melihat Frans yang ternyata juga mengejarnya.


"Aish sudah seperti saudara bagi kami, jangan kau sakiti dia. Itu sama seperti kau menyakitiku Sekar" kata Falen.


Aish menatap Falen takjub, begini rasanya dibela oleh orang yang menganggap kita saudara ya?


Rasanya seperti ada kenyamanan, ada perlindungan, ada keberanian. Entahlah, disituasi seperti ini memang sudah seharusnya mereka saling menguatkan satu sama lainnya.

__ADS_1


"Seperti itu kau membelanya, sejak kapan kau jadi dekat dengannya. Bahkan kalian tidak pernah bertemu sebelumnya" kata Sekar curiga


Mereka gelagapan, bingung harus menjawab apa. Mana mungkin mereka bilang bahwa mereka bersahabat bahkan duduk bersebelahan di sekolah. Malah mungkin Sekar tidak tahu apa itu sekolah.


"Sebenarnya kami teman di sanggar, iya, sanggar" kata Aish gugup.


"Sanggar apa?" tanya Sekar.


"Sanggar latihan silat Sekar, aku pernah bilang kalau aku latihan silat kan?" Aish mencari alasan yang tepat, untungnya Sekar pernah bercerita bahwa dia ikut sanggar tari, jadi bisa dipastikan ada juga sanggar silat kan.


"Memangnya ada yang seperti itu?" tanya Sekar.


"Ada, kau saja yang tidak tahu" Hendra yang menjawab.


Seno hanya melongo, bagaimana jika beneran harus berlatih silat? Mana mungkin dia bisa? Aish ada-ada saja.


Sekar melunak mendengar penjelasan Aish dan teman-temannya. Mungkin memang mereka saling kenal saat berlatih di sanggar silat ya?


"Lantas kenapa kalian harus berpelukan seperti itu? Aku tidak suka melihatnya Frans. Kau tahu aku sangat mencintaimu" kata Sekar.


Falen tak menyangka, bahkan di kehidupan yang tak dia ketahui ada seorang wanita yang sangat mencintainya? "Ketampananku sangat absolut" Batin Falen pede.


"Kenapa kalian diam? kenapa tidak ada yang berani bicara?" Sekar masih kekeuh bertanya.


"Kami hanya ingin mensuport Aishyah, dia sedang ada masalah, mana mungkin kami tega membiarkan dia sendirian malam-malam begini. Sudah ya ngambeknya" Falen mendekati Sekar, berusaha menenangkannya.


Awalnya Sekar menolak Falen yang mendekatinya, tapi bukan Falen jika tidak bisa meluluhkan hati wanita.


Akhirnyapun, semua kembali normal, meski masih menyisakan tanya di hati Sekar, tapi diapun mau menerima semua penjelasan keempat sekawan itu. Dan berdamai dengan keadaan, selanjutnya berusaha menolak perjodohannya dengan Senopati.


"Pasti babah sudah nungguin nih buat jamaah" kata Aish sambil berjalan masuk ke dalam istana, mencari babahnya yang pasti sudah bersiap solat.


"Kamu mau kemana Frans?" tanya Sekar.


"Solat subuh lah, kan jarang banget gue bisa solat nggak dipaksa gini" jawab Falen enteng.


"Bukannya kamu bukan muslim ya? sejak kapan kamu solat?" tanya Sekar.


"Hah?" Falen yang kaget membalikkan badannya menghadap Sekar.


Satu lagi yang baru mereka ketahui, ternyata di zaman ini Frans adalah non muslim. Dan itu pasti menyulitkan untuk Falen beribadah.


"Sudah biarkan saja semaunya dia. Kita tunggu saja disini" kata Hendra.


Ucapan Hendra membungkam mulut Sekar, kini Falen bisa melanjutkan langkah kedua temannya untuk beribadah.


Sebenarnya Sekar sangat merasa aneh dengan semua ini. Aishyah yang bisa tiba-tiba dekat dengan kedua lelakinya, Frans yang mau solat, Seno dan Hendra yang berteman, tapi untuk sementara dia masih belum bisa berbuat apa-apa.


Tidak ada bukti apapun untuk menjatuhkan Aishyah.


"Jangan dikira karena aku diam saja maka kalian bisa membodohi ku, awas saja kalau sampai kau macam-macam denganku Aishyah" Sekar membatin sambil meremas pinggiran pakaiannya.

__ADS_1


Sebenarnya Hendra merasa ada yang tidak beres dengan perubahan mimik Sekar. Jadi dia juga harus berhati-hati ke depannya. Jangan sampai mereka salah langkah dan membahayakan nyawa mereka sendiri.


*****


Disisi lain, Aish sedang menuju sungai kecil dibelakang bangunan kamar yang diperuntukkan untuk tamu kerajaan.


Aish diantar beberapa pelayan wanita untuk menemaninya membersihkan badan dan berwudhu. Sementara Seno dan Falen bersama mencari tempat yang pas untuk berwudhu juga.


Di belakang bongkahan batu besar, Aish menanggalkan hijabnya. Membuka outer gamisnya, dan menggulung lengan dalaman gamisnya hingga sikunya terlihat.


Ternyata rambutnya panjang jika diurai, berwarna hitam legam sedikit bergelombang karena sering diikat.


Dengan menggunakan jari-jari tangannya, Aish menyisir rambutnya yang mulai kusut. Entah sudah berapa lama dia tidak menyisir rambutnya. Agak kusut dan terasa lengket.


Tapi untuk mandi di pagi buta begini dia juga takut, meskipun sudah ditemani beberapa pelayan.


"Kalian biasanya mandi pagi seperti ini atau jika sudah ada matahari?" tanya Aish.


"Saat terbit fajar ndoro, kami bersama mandi di seberang sana" ucap salah satu dari mereka menunjuk seberang sungai. Terlihat ada genangan air menyerupai kolam yang tertutup dedaunan.


"Oh, nanti aku ikut ya kalau kalian mau mandi. Jangan lupa ajak ya" kata Aish.


"Injih ndoro" kata pelayan itu lagi.


Selesai dengan kegiatannya, Aish memakai kembali outer gamisnya, dan memakai jilbabnya asal. Menampakkan keningnya yang tidak lebar, ditumbuhi rambut-rambut tipis.


Saat hendak masuk, dia bertemu Seno dan Falen yang juga telah selesai berwudhu.


"uwah... tuan putri cantik banget sih" Falen menggoda.


"Pagi-pagi sudah menggombal. Ayo buruan, kita solat" kata Aish lanjut berjalan.


"Kalian tahu dimana babah saya sekarang?" tanya Aish pada pelayan.


"Tahu ndoro, mari saya antar" kata pelayan itu.


"Assalamualaikum", ucap Aish memasuki ruangan dimana babah dan beberapa pengikutnya sedang bersiap solat.


"Waalaikumsalam" ucap mereka kompak.


"Mari kita solat bersama nak" ucap babah Aish.


Ketiganya masuk dan mengambil tempat yang sesuai. Hanya Aish seorang wanita di jamaah itu, dia mengambil tempat di belakang.


Setelah mendengar seruan adzan, mereka solat dengan khusuk diimami sang babah dengan lantunan ayat yang merdu.


Tidak pernah ketiganya solat sekhusyuk ini, mungkin karena masalah yang mendera, membuat para hambanya jadi mengingat betapa penting tuhannya.


Setelah solat, mereka bertiga berdoa dengan sangat khusyuk. Mengutarakan segala isi hatinya pada sang khalik. Berharap bantuannya akan segera datang.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2