
Seno dan Hendra berhenti saat menyadari Falen dan Aish tidak ada dibelakangnya. Mereka celingukan mencari dua kawannya yang terpencar. Si pria ikut berhenti, berpura-pura memainkan ponselnya.
"Kemana si princess sama bule gila?" tanya Hendra, Seno hanya mengendikkan bahu.
"Apa mungkin duluan ke toko perlengkapan tulisnya ya?" tanya Seno.
"Mungkin" jawab Hendra.
"Ok deh, kita tunggu disana saja" kata Seno.
Saat Seno dan Hendra berjalan lagi, pria itu ikut berjalan. Falen sudah gatel ingin menegur, dia langsung memegang lengan si pria gondrong.
"Ngapain lo ngikutin mereka?" tanya Falen mengagetkan si pria.
"Eh copot maknya kurang ajar" loh.... pria gondrong itu latah ya? Sangat tidak pantas dengan penampilannya yang memakai jaket kulit dan berambut gondrong.
"Eh, lo ngapain Bule?" tanya Hendra saat mendengar keributan di belakangnya.
"Nih orang nguntit kalian daritadi, makanya gue tegur. Siapa tahu dia berbahaya" kata Falen tetap mencengkram lengan si gondrong.
"Ye salah paham bule ganteng. Eyke ngikutin adik manis ini loh. Eyke lihat ada aura bintang dari kawan ye yang berkacamata ini" kata si pria gondrong.
"Lah, gue maksud lo mas?" tanya Seno menunjuk diri sendiri.
"Panggil eyke jeng Kayla, jangan panggil mas dong ah" kata si gondrong dengan gaya kemayu.
"Tampilan gahar gini minta dipanggil jeng, yang benar saja mbak?" tanya Seno lagi.
"Tapi benar deh, yey punya aura bintang bersinar terang benderang bok!! Lepasin ah tangannya, kalau mau pegang eyke, kita cari tempat aja abang bule ganteng" kata si gondrong.
Falen segera melepas tangannya dari lengan si mas-mas yang merasa sebagai mbak, dia sampai mengelap tangannya sendiri di jaket yang Hendra kenakan.
"Sialan lo bule" kata Hendra.
"Nih ya eyke kasih tau, PH di tempat kerja eyke lagi nyari pemain film. Film romantis remaja gitu, eyke lihat face yey sangat imut dan lucu. Pas banget sama karakter yang lagi kita cari. Coba yey datang ya ke audisi pencarian pemain kita. Eyke yakin seratus persen kalau yey bakalan diterima, dan yey pasti jadi bintang masa depan" kata jeng Kayla menjelaskan, sambil memberi sebuah kartu nama yang berisi informasi mengenai PH tempatnya bekerja.
"Audisinya lusa sore, yey harus datang pokoknya. Sekarang kasih eyke nomer wa yey, biar yey nggak bisa kabur kemana-mana"Kata jeng Kayla, dan Seno yang seperti terhipnotis langsung memberikan nomer ponselnya pada wanita jadi-jadian itu.
"Ok deh, sekarang yey lanjutin urusan yey. Eyke juga mau lanjutin urusan eyke. Tapi ingat, lusa yey harus wajib datang ke PH itu. Jangan sampai telat apalagi nggak datang. Eyke bakal cari yey sampai ke lubang semut sekalipun. Karena mata eyke tidak mungkin bisa salah mengenal calon bintang masa depan seperti yey" kata jeng Kayla sambil mengibaskan rambutnya dan berjalan meninggalkan empat sekawan yang melongo.
"Heh, dia beneran orang bukan sih?" tanya Seno
"Beneran bego, kalian semua nampak kan. Kecuali kalau cuma gue yang nampak" kata Hendra.
__ADS_1
Seno melihat kartu nama di tangannya, sebuah PH terpampang disana. "Menurut lo dia beneran nggak sih?" tanyanya.
"Gue juga nggak tahu" jawab Falen.
"Menurut lo, gue harus datang apa nggak ya?" tanya Seno lagi.
"Terserah lo Seno" jawab Falen lagi.
"Menurut lo gimana princess?" tanya Seno.
"Lo serius nanya?" tanya Aish yang sedari tadi diam saja.
"Serius gue. Asyik juga kali ya kalai jadi artis" tanya Seno sambil melihat langit-langit mall yang tinggi.
"Ya terserah lo sih. Kalau lo bisa, kenapa enggak. Mumpung ada jalannya juga" kata Aish.
"Gue masih nggak percaya sih" kata Seno.
"Nanti lo coba searching di mbak google deh tentang PH itu. Atau lo tanya daddy lo aja, kan dia bisnisman tuh, pasti relasinya banyak kan. Coba tanya kebenaran tentang PH itu" kata Aish memberi saran.
"Benar juga lo princess. Gue jadi nggak sabar nih" kata Seno.
"Lo serius pengen jadi artis?" tanya Hendra.
"Biasa aja sih gue" jawab Hendra.
"Lo yakin pengen jadi artis Sen?" tanya Aish lagi.
"Ya coba aja princess, siapa tahu jadi artis beneran. Iya kan?" tanya Seno.
"Ya terserah sih, tapi jangan lupa minta saran sama mommy sama daddy lo ya. Terus kalau memang sudah beneran jadi artis harus bisa manage waktu lo. Ingat, belajar paling penting di usia kita sekarang" kata Aish panjang lebar.
"Iya princess. Belum juga jadi artis sudah diceramahi panjang lebar" kata Seno diiringi tawa.
"Benar juga sih. Yasudah kita lanjut ke toko buku aja deh. Keburu sore" kata Aish.
Falen kembali merangkul pundak Aish untuk berjalan ke toko buku. Mereka bertiga sebenarnya hanya mengantar Aish saja. Untuk selanjutnya akan nonton film di bioskop yang masih berada di kawasan mall itu juga.
*******
Disinilah mereka sekarang, setelah selesai dengan kegiatan Aish di toko buku, sesuai rencana mereka pergi ke bioskop. Falen selalu merangkul pundak Aish saat berjalan bersama dimanapun mereka berjalan.
Seseorang mengamati keempat sekawan yang sedang berjalan itu dengan pandangan penuh selidik.
__ADS_1
Ternyata benar mereka adalah Aishyah dan teman-temannya. Cewek itu adalah Sekar yang kebetulan juga sedang ingin nonton dengan teman-teman ceweknya.
Entah mengapa, setiap melihat Falen yang berjalan dengan rangkulan tangannya di pundak Aish, maka hatinya merasakan aneh. Seperti rasa tidak suka yang berlebihan dengan kedekatan yang mereka berdua tampilkan.
"Kenapa hati gue rasanya sesak banget kalau melihat mereka dekat ya? Padahal memang Falen sahabat Aishyah, dan gue nggak ada hubungannya dengan mereka berdua. Tapi kenapa gue merasa hati gue terbakar setiap melihat kebersamaan mereka" batin Sekar saat mengamati Falen dan Aisyah sedang berada diatas eskalator. Dia sendiri sedang antri membeli tiket bersama temannya.
"Lo lihat apaan sih Sekar?" tanya Maya, teman Sekar.
"Nggak lihat apa-apa kok" jawab Sekar gugup, takut temannya juga melihat ke arah yang sama.
"Hei, itu kan si Aishyah sama teman-temannya ya. Ternyata mereka memang sangat kompak ya, nggak di sekolah, nggak diluar lingkungan sekolah, mereka selalu saja bersama" kata Maya yang ternyata melihat mereka.
"Beruntung banget sih si Aish dikelilingi cowok-cowok ganteng dan tajir kayak mereka. Gue jadi pengen" kata Maya lagi.
"Lo tuh sirik banget sala orang" kata Sekar tetap memandang Falen dan Aish yang masih saling berangkulan saat sedang diskusi tentang film yang akan ditonton.
"Kita nonton yang jam empat saja gimana? Biar nggak kemalaman pulangnya, lagian sekarang sudah jam tiga. Jadi nggak terlalu lama juga nunggu waktu putarnya" tanya Aish mencari suara.
"Ok aja gue nurut" kata Hendra.
"Tapi jangan nonton film drama ya, gue ngantuk kalau lihat film kayak gitu. Mendingan film action saja" saran Falen.
"Kalau gue sudah jadi artis film drama, lo harus bisa nonton adegan gue tanpa tidur" kata Seno berandai-andai.
"Lo nih ya, belum juga jadi artis sudah nyuruh-nyuruh" kata Falen.
"Sudah dong, ribut mulu. Biar gue saja yang pilihin. Kalian tunggu ya, gue beli tiket dulu" kata Aish.
"Gue temenin" kata Falen berjalan dengan tetap merangkul Aish.
Sekar masih melihat ke arah Aish dan Falen. Dia sampai tidak menyadari jika mereka berdua juga akan antri di barisan mereka.
"Hai Sekar, lo juga mau nonton ya?" tanya Aish mengagetkan Sekar yang bengong sambil melihat ke arahnya.
"Sekar, haaii Sekar" kata Aish mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah Sekar.
"Eh .. apa. Hai Aish, lo kok disini sih?" tanya Sekar gugup dan malu karena terbukti mengamati gerak-gerik dua orang dihadapannya.
.
.
.
__ADS_1
.