Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Ilham tak lagi buluk


__ADS_3

"Pokoknya ini gara-gara lo ya, Richard. Sebel banget gue sama lo" Aish masih saja menggerutu karena ponselnya yang belum juga bisa nyala setelah masuk ke dalam mangkuk es tadi sore.


"Besok gue beliin yang baru, Ra. Nggak usah rewel deh" masih dengan tampang datarnya Richard menanggapi Aish.


"Pilih yang paling mahal, Sya" seloroh Yopi memanas-manasi Aish.


"Couple an gitu sama aa' Richard, biar afdhol" kata Reno.


Aish melirik ponsel yang sedang Richard gunakan. Memang sangat bagus, pasti harganya sangat mahal.


"Lo mau yang kayak gini?" tanya Richard memberi penawaran.


"Nggak mau, pokoknya gue tetep mau hape yang ini" masih kekeuh dengan prinsipnya untuk memakai ponsel yang katanya penuh kenangan.


"Yaudah, terserah lo saja. Besok gue anterin ke tukang service hape deh, biar lo puas" kata Richard mengalah.


"Nanti gue coba taruh di dalam beras dulu, deh. Katanya hape yang kena air bisa nyala lagi kalau ditaruh didalam beras" kata Aish.


Ketiga cowok itu serempak menoleh pads Aish. "Ajaran darimana itu? Sesat itu, jangan ditiru" kata Reno dengan tawa yang mengembang.


"Kita buktiin, kalau bisa nyala awas lo, Ren. Lo nggak boleh panggil Ilham dengan sebutan Buluk lagi, loh" kata Aish ingin bertaruh dengan Reno, entah kenapa tiba-tiba saja mulutnya berkata begitu.


"Oh, ok. Dengan senang hati, tuan putri. Gue tunggu kabar baiknya. Tapi kalau masih nggak nyala, gue bakalan manggil si Buluk dengan tambahan Dekil, hahahahaha" tawa Reno seolah sudah menjadi pemenangnya.


"Oke, deal. Awas saja lo ya" kata Aish dengan nada mengancam.


"Sudah deh, gue mau pulang. Gue bareng Yopi saja ya, Richard. Biar lo nggak bolak-balik" kata Aish.


"Nggak, bareng gue aja" tolak Richard.


"Yasudah, gue balik duluan saja kalau gitu" kata Yopi.


"Hati-hati, Yop" kata Aish.


"Gue juga duluan, ya. Siap-siap besok lo, Sya. Julukan teman lo si Buluk bakalan bertambah" kata Reno mengancam, dengan tawa yang terdengar sangat bahagia.


"Nggak akan" jawab Aish dengan tatapan tajamnya.


Richard berjalan ke arah mobilnya, membukakan pintu untuk Aish dan segera masuk ke jok kemudi untuk bersiap pulang.


"Ngapain sih lo pakai taruhan segala sama Reno. Lagian mana ada hape mati bisa hidup lagi gara-gara ditaruh di dalam beras. Ngaco" kata Richard setelah menjalankan mobilnya menjauh dari cafe.


"Siapa tahu bisa, tapi kalau beneran nggak bisa bagaimana ya?" tanya Aish mulai pesimis.


"Yaudah lo coba aja dulu, besok kita lihat hasilnya" kata Richard.


"Iya" jawab Aish singkat.


Dan begitulah, sepeninggal Richard. Aish benar-benar memasukkan ponselnya pada tempat yang berisi beras dirumahnya.


Menenggelamkan ponsel sampai tak terlihat di dalam beras itu.


"Bismillah, semoga bisa" Aish berdoa setelah menutup tempat berasnya.


Selanjutnya, tinggal menunggu hasilnya besok. Sekarang Aish akan tidur, mengistirahatkan tubuh lelahnya. Bersiap menghadapi hari esok.


Sedangkan di benua lain, Emily jadi kelimpungan. Biasanya dia akan bertukar kabar dengan Aish. Tapi kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi? Dia jadi khawatir jika Yopi, Reno atau mungkin Richard sudah tahu hubungannya dengan Aish?


Dan mereka melarangnya juga?


Emily jadi gelisah sepanjang hari itu.


★★★★★


Keesokan paginya, Richard terlalu pagi untuk mengantarkan Aish ke sekolahnya. Masih setengah enam pagi, dia sudah nangkring di teras rumah Aish.


"Pagi banget?" tanya Aish yang masih memakai piyama tidur.


"Mau numpang sarapan. Lo belum mandi?" tanya Richard.


"Belum, hehe. Tadi habis solat subuh rebahan lagi, malah ketiduran" kata Aish dengan cengir kudanya.


"Lo mandi dulu sana, gue tungguin di sini aja. Mana hape lo? Sudah di cek lagi?" tanya Richard.


"Eh, belum. Bentar gue ambil" Aish segera masuk lagi ke dalam rumahnya, Richard mengekor.


Deg-degan juga mereka, karena taruhannya nama untuk Ilham yang akan Reno sematkan.


Dan, nyala. Ponsel Aish bisa menyala kembali. Tentu Aish sangat senang karenanya.


"Yeay, nyala kan. Bisa kan" katanya senang.


Richard hanya melihatnya dengan senyum yang tertular dari Aish.


Tapi tak lama, ponsel itu mati lagi. Dan tak bisa dinyalakan kembali.


"Loh .. Loh .. kok mati lagi sih" kata Aish bingung.


"Kita bawa ke tukang service aja sekarang. Nanti pulang sekolah diambil" kata Richard, tak tega melihat wajah sedih Aish.


"Benar ya? Tapi lo jangan bilang sama Reno kalau dibawa ke tukang service" kata Aish memelas.

__ADS_1


Richard mengangguk, "Tapi ada syaratnya" kata Richard.


"Ish, Richard. Lo nggak ikhlas ya nolongin gue?" tanya Aish yang sudah memanyunkan bibirnya.


"Mau apa nggak?" tanya Richard singkat.


"Iya deh, iya. Apa syaratnya?" tanya Aish.


"Kasih tahu gue siapa orang yang akhir-akhir ini sering hubungi lo" kata Richard.


Aish sedikit terkejut, darimana Richard tahu?


"Nggak ada, palingan juga Nindi" sanggah Aish.


"Gue tahu, Ra. Lo mau jujur atau enggak? Nama Ilham taruhannya" kata Richard mengingatkan.


"Ehm... Nanti deh gue kasih tahu kalau hapenya sudah diservice" tawar Aish.


"Oke, gue pegang kata-kata lo" kata Richard.


"Sekarang lo buruan mandi, terus kita berangkat. Keburu macet soalnya. Terus kita cari sarapannya drive true saja" kata Richard.


Aish menurut, segera saja dia mandi dengan cepat. Demi mengembalikan nama baik Ilham.


Selama mandi, Aish tak bisa tenang. Apa yang akan dikatakannya pada Richard nanti? Karena Emily melarangnya mengatakan pada orang lain tentang kedekatan mereka berdua.


★★★★★


Singkat cerita, siang ini Richard kembali menjemput Aish di sekolahnya. Mengajaknya ke tempat service hape yang tadi pagi mereka kunjungi sebelum pergi ke Destinasi cafe.


"Bener ya Richard, lo jangan bilang sama Reno kalau hapenya di service. Kalau enggak, kan kasihan Ilham. Masak di panggilnya Buluk dekil, sih" kata Aish merengek pada Richard.


"Iya, Ra. Tapi lo juga harus kasih tahu gue orang yang sering hubungi lo" Richard mengingatkan perjanjiannya dengan Aish pagi tadi.


"Iya, janji" kata Aish dengan cengir kudanya.


Dan beruntung untuk Aish karena kali ini Richard mau diajak bekerja sama.


"Nih, Ren. Hapenya sudah nyala lagi" kata Aish senang, memamerkan hapenya yang memakai foto Aish dan Richard sebagai wallpaper.


"Pamer lo, mentang-mentang nggak jomblo pakai wallpaper fotonya bang Richard" Reno masih sempat mengejek.


"Suka-suka gue dong, hape juga hape gue. Pokoknya lo harus manggil Ilham dengan nama yang benar ya. Lo sudah janji sama gue" perintah Aish.


"Tuh, Ilham mau lewat. Coba lo panggil dia sama nama yang benar" kata Aish dengan tampang ketus, biar Reno takut dan mau mematuhinya.


"Cg, aneh banget pasti ini, tapi harus gue coba" gumam Reno.


Richard yang daritadi diam saja mulai terbit senyumnya melihat Reno yang tak berkutik di bawah perintah pacarnya.


Ilham celingukan mencari sumber suara, sangat aneh di telinganya karena Reno yang memanggilnya dengan sebutan yang tak biasa.


"Kenapa? Tumben banget lo nyebut nama gue. Aneh banget kedengerannya" kata Ilham yang telah mendekat.


"Tuh kan, Sya. Gue bilang juga apa, Memang lebih baik gue panggilnya buluk aja sih. Lebih nyambung, iya kan Ham?" tanya Reno mencari dukungan.


"Ya nggak gitu juga, Ren. Aneh memang, tapi kan lebih baik gitu" kata Ilham.


"Tuh kan, Ren. Gue bilang juga apa, pokoknya mulai sekarang lo harus manggil Ilham itu yang benar, jangan panggil buluk lagi, lho. Awas aja lo" Aish mengancam Reno.


"Setuju gue sama lo, Sya" kata Ilham.


"Sudah, lo balik kerja lagi deh, Ham" kata Richard.


"Siap, pak bos. Lo kok tumben belum siap-siap, Sya?" tanya Ilham.


"Iya, tadi dari tukang service dulu soalnya" kata Aish lupa jika masih ada Reno.


"Ngapain?" tanya Ilham.


"Oh, enggak. Bukan gitu, ehm ... Maksudnya tadi itu macet kan ya, Richard?" tanya Aish dengan kode kedipan matanya, semoga Richard mau bekerjasama lagi.


Untung saja Richard menganggukkan kepalanya, Aish jadi lega meskipun Reno malah menatapnya dengan curiga.


"Ehm, gue ganti baju dulu ya. Dah, Richard" Aish segera melenggang pergi, menuju pantry untuk berganti pakaiannya.


Richard hanya bisa menahan tawanya.


"Huft, untung saja Reno nggak curiga" gumam Aish yang berada di bilik toilet, sedang berganti seragamnya.


Samar-samar terdengar obrolan dari luar bilik, tepatnya di depan kaca wastafel.


"Enak ya jadi Aish, meskipun terlambat nggak pernah kena marah. Coba saja kalau kita yang telat, ngomel pasti tuh kak Yopi" terdengar seorang yang menggerutu, sepertinya pada temannya.


"Ya kan memang dia pacarnya kak Richard, wajarlah kalau nggak kena marah" jawab orang yang satunya.


"Cuma lagi beruntung doang sih tuh anak, coba kalau jadi karyawan biasa kayak kita. Pasti sudah di pecat tuh anak nyebelin" orang yang tadi menggerutu masih tidak terima.


"Biarin aja sih, yang penting kita kerja dapat duit. Udah, beres. Nggak usah ngurusin orang lain, San" kata yang satunya.


Aish masih menajamkan pendengarannya dari dalam bilik toilet. Dia jadi sadar jika kelakuannya membuat orang lain tidak suka. Dan mulai sekarang, dia akan berusaha untuk tepat waktu.

__ADS_1


"Coba kalau gue yang jadi pacarnya kak Richard, nggak bakalan gue mau jadi waitress. Sekalian aja jadi sekretaris pribadinya, sekretaris plus-plus, hahahaha" kata Santi, orang yang sejak tadi menggerutu.


"Itu mah maunya elo, kak Richard nya yang nggak mau sama lo" kata Putri, penenang Santi yang terus menggerutu.


"Sialan lo. Tapi awas aja kalau nanti mereka putus, gue bakalan jadi orang pertama yang bakalan tepuk tangan" kata Santi.


"Kenapa lo suka banget ngurusin orang, sih? Doa itu yang baik-baik, jangan suka sirik ah. Nggak baik" kata Putri.


"Kenapa lo belain Aish terus sih? Lo ada di pihak dia ya?" geram Santi.


"Rumah gue sekampung sama dia, tapi beda gang. Nasib keluarganya tuh kasihan banget tau, San. Jadi menurut gue, sudah selayaknya dia bahagia sama kak Richard, soalnya dia itu sebatang kara" kata Putri.


"Oh, rupanya Putri sekampung sama gue, ya. Kenapa gue nggak pernah tau, ya?" gumam Aish yang masih mencuri dengar pembicaraan mereka berdua.


"Nggak nyangka gue kalau Santi sebenarnya nggak suka sama gue selama ini, padahal kalau kita ketemu, dia tuh baik banget" gumam Aish tak percaya ada orang seperti itu.


"Sudah, jangan gibahin orang mulu. Kerja yuk, nanti dicariin sama CC kita" ajak Putri.


Setelah kedua orang tadi keluar, barulah Aish keluar dari bilik toilet.


Sambil merapikan penampilannya di depan cermin, Aish merenungi kelakuannya selama bekerja disini. Memang kadang dia semaunya sendiri, tapi bukan maksudnya seperti itu.


Setiap dia terlambat atau tiba-tiba menghilang, itu semua karena Richard yang menyuruhnya.


Terkadang Richard minta ditemani membeli sesuatu, memintanya menemani Livy saat meeting bersama Willy. Atau kadang Richard juga menyuruhnya bolos kerja hanya untuk jalan-jalan saja.


"Mulai sekarang gue harus tegas sama Richard, harus profesional pokoknya" Aish bertekad dalam hatinya.


Sekarang, dengan semangat baru, Aish memulai pekerjaannya. Semoga tidak ada lagi Santi lainnya, yang merasa keberatan dengan perbuatan Aish.


Aish terlalu awam untuk bisa membaca situasi di sekitarnya. Apalagi banyak sekali orang-orang bertampang baik, tapi dibelakang kita malah menjadi orang yang paling menunggu saat kehancuran kita.


Di sisi lain, siang ini Yopi juga masih belum menampilkan batang hidungnya. Alasannya masih disuruh engkong membetulkan mesin air di rumahnya.


Padahal kegiatan itu sudah selesai daritadi, alasan Yopi saja untuk bisa kembali berkunjung ke rumah Nindi.


Menemani gadis itu berkemas untuk bersiap pergi ke Solo esok hari.


"Mau beli apalagi?" tanya Yopi yang mendorong troly belanjaan Nindi.


Troly yang yang lebih dominan berisi camilan untuk menemani perjalannya selama ke Solo besok.


"Sudah kayaknya, sudah banyak banget, Yop. Takut nggak bisa bawa" kata Nindi.


"Jadi naik travel?" tanya Yopi lagi.


"He em, sudah nyewa mobil ELF buat sekeluarga" Nindi selalu riang belakangan ini, dia sudah tidak sabar untuk menemui teman tapi mesra yang sedang berada di kota tujuannya nanti.


"Senang banget yang mau ketemu pacar" goda Yopi, membuat semburat merah terlihat di kedua pipi Nindy.


"Biasa aja kok. Oh, iya. Aku mau beli obat anti mabok, takut mabok kendaraan nih, hehehe" kata Nindi yang lupa jika dia kadang-kadang suka mabok perjalanan.


"Jiah, tukang mabok" goda Yopi.


Keduanya tertawa, dan segera menuju kasir untuk membayar sekalian membeli obat anti mabok. Karena letak obat itu ada di kasir.


Ponsel Yopi berdering saat antrian mereka sudah mendekati kasir. Sambil mendorong troly, Yopi mengangkat telepon.


"Hallo, iya kenapa Ren?" tanya Yopi, rupanya Reno yang memanggilnya.


Nindi hanya melirik saja setelah mendapat kode untuk diam dari Yopi.


(....)


"Iya, ini lagi dijalan. Sebentar lagi nyampek kok. Laporan harian tetap sama gue, lo tenang saja" kata Yopi.


"Mau sekalian beli pulsanya kak? Atau ada promo belanja lima puluh ribu dapat diskon 50% untuk beli snack ini" suara kasir itu terdengar sampai ke telinga Reno yang sangat peka.


(....)


"Enggak kok, eh... Maksud gue iya, gue lagi mampir ke Indoapril beli minuman, haus gue" elak Yopi.


"Sama obat anti mabok satu ya, mbak" kata Nindi yang kembali terdengar oleh telinga tajam Reno.


(....)


"Bukan, boncel. Itu suara orang lain yang juga lagi antri. Telinga lo tuh terlalu tajam ya, di korek pakai apa sih" kata Yopi sambil membayar belanjaannya.


Nindi hanya bisa senyum-senyum tak jelas mendengar keluhan Yopi.


"Iya, bentar lagi gue nyampek, lo rindu berat ya sama gue?" tanya Yopi yang satu tangannya menenteng kantong belanjaan.


Mereka sudah mau keluar dari minimarket.


(...)


"Ya makanya sudah ya, lo tutup deh teleponnya. Gue mau lanjut jalan, nih" kata Yopi yang langsung saja mematikan panggilan.


Reno disana hanya bisa heran menatap layar ponselnya. Sudah dua kali dalam sehari ini Reno dibohongi teman-temannya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2