Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
ternyata, oh ternyata


__ADS_3

"Assalamualaikum bunda" kata Aish saat memasuki teras rumahnya.


"Yasudah deh, berhubung gue sudah nyampek rumah, gue tutup ya panggilannya?" tanya Aish pada ketiga temannya.


"Hape lo sudah lowbat ya?" tanya Seno mengejek.


"Iya anak sultan, hape kentang hamba memerlukan istirahat" jawab Aish.


Sudah biasa dalam pertemanan anak muda untuk saling mengejek, saling memuji, saling merangkul, saling menguatkan satu sama lainnya.


"Okelah, nanti kita telpon lagi ya" kata Hendra.


"Belum apa-apa lo sudah kangen ya sama gue?" tanya Aish diiringi tawa sumbangnya.


"Terserah lo princess" jawab Hendra.


"Oke deh, sampai nanti teman-teman. Makasih sudah menemani sampai tiba di rumah ya" kata Aish lagi dengan senyum lebar yang selalu tersungging saat bersama dengan teman-teman terdekatnya seperti ini.


"Assalamualaikum, dadadada" akhirnya sambungan video itu terhenti setelah daritadi on terus, dan benar saja, batrai handphone nya benar-benar sekarat. Butuh tambahan daya secepatnya.


"Bunda, bunda dimana sih?" tanya Aish mencari keberadaan bundanya, berjalan memasuki rumah setelah menutup pintu terlebih dahulu.


Rupanya sang bunda sedang beristirahat di kamarnya. Beliau terpejam meski tidak tertidur.


"Bunda sakit ya?" tanya Aish.


"Eh, sudah pulang kamu? darimana saja sih? sudah setengah sepuluh gini baru sampai rumah. Kayaknya rumah bu Joni itu nggak terlalu jauh" kata bunda.


"Tadi Aish jajan dulu bun, hehe"jawab Aish.


"Bunda lagi nggak enak badan ya?" kata Aish mengulangi pertanyaannya.


"Enggak kok, cuma capek saja. Pengen istirahat" jawab bundanya.


"oh iya bun, suratnya sudah ditandatangani kan? Mau segera Aish kumpulkan" tanya Aish.


"Sudah kok, tuh ada di atas nakas" jawab bunda. Aish segera mengambil surat itu dan melihat ada noda merah.


"Ini noda apaan bun?" tanyanya.


"Bukan apa-apa, cuma bekas kapur jahit saja" jawab bunda berbohong.


"oh, yasudah kalau begitu. Aish ke kamar ya bun" katanya lagi.


"Jangan lupa kunci pintunya Is, lampu dimatikan ya" kata bunda setengah berteriak.


"Siap bunda cantik" kata Aish melaksanakan perintah bundanya sebelum masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


**************


Akhirnya kegiatan yang ditunggu-tunggu tiba juga. Kegiatan ekskul yang akan dilakukan di rumah sakit Persada.


Acara pembukaan adalah brifing di aula rumah sakit bersama beberapa dokter jaga dan dokter UGD.


Special perform kali ini adalah adanya dokter muda yang baru saja praktek di rumah sakit Persada ini.


Seperti sebelum-sebelumnya, kegiatan turun langsung ke rumah sakit seperti ini memang sudah dari dulu dilakukan di PMR SMA Mahardika, apalagi sekolah yang masih satu yayasan dengan rumah sakit ini memudahkan pengurus ekskul untuk terus melakukan kegiatan selama ekskul itu masih ada.


Aish dan teman-teman junior sudah berkumpul bersama di aula, begitupun Hendra. Semua sudah siap dengan pembekalan singkat yang diberikan untuk memperdalam ilmu para peserta.


Sedangkan untuk seniornya, hanya beberapa yang turut serta karena telah memahami tugasnya. Dan mereka disini untuk mendampingi juniornya, sementara yang lain tetap stay di sekolah untuk mempersiapkan agenda kegiatan selanjutnya.


Entah karena ac yang terlalu dingin, atau terlalu banyak minum, Aish merasa harus ke toilet segera.


Dengan ragu-ragu, gadis itu mengangkat tangan untuk meminta ijin.


"Iya, ada yang mau ditanyakan?" tanya suster yang merangkap pembawa acara.


"Maaf suster, saya ingin ke toilet" kata Aish ragu.


"Oh tentu boleh, silahkan" kata suster itu ramah.


"Terimakasih suster" kata Aish beranjak keluar.


"Nggak usah, gue bisa sendiri" kata Aish keluar ruangan.


Setelah selesai dengan hajatnya, Aish bersiap untuk kembali masuk ke aula. Karena memang kegiatan masih berlangsung disana.


Aula berada di lantai tujuh di rumah sakit itu, satu lantai dengan ruangan dokter dan beberapa staf rumah sakit.


Saat berjalan dengan semangat tinggi, tiba-tiba sebuah pintu terbuka dan seseorang keluar dengan ponsel yang dijepit diantara bahu dan telinganya, hampir menabrak Aish. Mereka berdua sama-sama terkejut hingga menyebabkan ponsel orang itu terjatuh.


"Eh, maaf-maaf... Saya tidak sengaja" kata Aish mengambil ponsel orang itu.


"Ini ponselnya" lanjut Aish.


Orang itu mengamati Aish dari ujung kaki hingga ujung kepala. Yang diamati sampai terheran-heran sambil ikut memindai dirinya sendiri.


"Dia kan gadis yang malam itu. Kenapa bisa ada disini? Dan memakai seragam sekolah sepertinya" batin si pria.


"Eh bentar deh, kayaknya pernah ketemu sama abang yaa?" tanya Aish.


"Abang, abang. Kamu kira saya penjual sate" ketus si pria.


"Masak iya gue harus manggil nama lo sih bang? Abang kan lebih tua, sadar diri dong bang" kata Aish menyulut emosi si pria.

__ADS_1


"Kamu nggak tahu siapa saya?" tanya orang itu lagi.


"Seingat gue sih memang kita belum pernah kenalan bang. Abang mau kenalan sama gue?" tanya Aish membuat emosi pria itu semakin menjadi.


"Oh iya, gue inget bang. Dua malam lepas kite bertemu di taman dekat jalan raye ye?" celoteh Aish menirukan logat kartun kembar dari tanah seberang.


"Abang lagi konsultasi jiwa ya ke rumah sakit ini? Ya ampun bang, cewek nggak cuma satu, jadi kalau abang putus tuh, seharusnya abang cari yang lain saja. Abang juga masih muda, jadi jangan sia-siakan masa muda abang dengan cewek yang nggak bener" cerewet Aish sok menasehati pria di depannya.


Sementara si pria menatap cengo" gadis itu sangat cerewet. Tapi kenapa saya harus rela meluangkan waktu untuk menanggapi celotehannya juga sih?" batinnya.


"Heh anak kecil, kamu nggak ada sopan-sopannya sama yang lebih tua. Kamu ngapain keluyuran di ruang dokter seperti ini?" tanya pria itu menyadarkan tujuan Aish.


"Jangan panggil aku anak kecil paman" kata Aish hendak melanjutkan kata-katanya, tapi teringat sesuatu.


"Isshh!!! gara-gara abang nih, gue jadi lupa sama tujuan gue nih. Yasudahlah, gue duluan ya bang. Inget bang, cari cewek yang bener ya habis ini. hehehe" kata Aish masih sempatnya mencemooh, sambil melambaikan tangannya dan berlari ke aula kembali.


"Lo lama banget sih? nyasar ya?" bisik Hendra bertanya.


"Gue ketemu cowok yang malam itu berantem sama ceweknya Hen. Kasian dia kayaknya frustasi sampai harus ke rumah sakit segala" kata Aish masih berbisik. Hingga terdengar suara menegurnya dari depan.


"Hei yang disitu? kalau ada yang mau ditanyakan silahkan, jangan ribut sendiri".


Rupanya sudah terjadi pergantian narasumber di depan sana, karena keasyikan ngobrol dengan Hendra, Aish malah tidak fokus dan terkena teguran.


"Berdiri kamu" kata pembicara itu, rupanya adalah dokter muda yang katanya baru saja praktek di rumah sakit ini.


"Eh, iya bang?" kata Aish terkejut melihat seorang pria yang memakai jas putih khas seorang dokter sedang berdiri di depan kelasnya.


"Kamu panggil saya apa?" tanyanya lagi pelan namun terkesan angker.


"Abang, eh maksud saya pak? mas? eh dokter ya?" ucap Aish gugup.


"Gila sih, dia kan abang-abang yang tadi, ternyata dokter ya, pantesan ada di lantai tujuh sarang para dokter. Bodoh banget sih gue pakai ngatain dia segala" batin Aish tersenyum canggung.


"Kamu tidak menyimak pembicaraan saya dari tadi ya?" tanya dokter itu.


Seringai jahat muncul di bibirnya, "Awas ya kamu gadis kecil, beraninya dari kemarin kamu ngatain saya, sekarang rasakan pembalasanku" batin dokter itu penuh kemenangan dengan beberapa rencana buruk untuk membalas dendam pada gadis kecil yang sok tau ini.


Sementara Aish masih gelagapan untuk menjawab pertanyaan si dokter killer. Hendra dengan cekatan menulis sebuah nama di atas kertas dan segera melempar ke arah Aish yang berdiri di dekatnya.


Dengan gerakan rapi dan teratur ala murid yang mendapat contekan, Aish membuka lemparan kertas dari Hendra. Sebuah nama terukir diatasnya, dokter Siras Abdullah bin Walid?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2