Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
pak bos


__ADS_3

"Excuse me, bisa saya bertemu dengan bos kamu?" tanya seorang wanita cantik dengan pakaian seksi, mengagetkan Aish yang sedang membaca buku di pos satpam.


"Bos saya sudah pulang kalau jam segini, bu" jawab Aish sopan.


"Wait, kamu panggil saya apa? Bu?" tanya wanita itu.


"Iya, saya salah ya? Baiklah saya minta maaf. Jadi, bos saya sudah pulang kalau jam segini kak" kata Aish mengalah.


"That's sounds better. Tapi saya yakin kalau bos kamu masih ada dikantornya" kata wanita itu.


"Kak, bos saya itu pulang setiap pukul dua siang. Jadi, saya bisa pastikan kalau beliau sudah dirumahnya sekarang dan sedang bercanda tawa dengan keluarganya" kata Aish ngotot.


"But I'm sure that he still in here right now. And I will go inside to check it" kata wanita bule itu tak kalah ngotot.


Wanita itu segera berjalan ke arah pintu masuk saat mengetahui jika satpamnya tidak memberi izin padanya untuk masuk.


Dengan cepat Aish mengejar wanita itu. Setahunya, si bos memang sudah pulang setiap jam dua siang. Jadi, pasti wanita ini berniat jahat dengan alasan mencari bosnya hanya untuk melakukan kejahatan pada perusahaan tempat Aish bekerja sekarang.


"Tunggu kak, kan saya sudah bilang kalau bos saya itu sudah pulang. Kakak jangan ngotot deh" kata Aish mencegah wanita itu masuk.


"Tapi saya yakin dia ada di dalam. Saya ingin bertemu dengannya, karena saya sudah dari apartemennya dan dia masih belum pulang" kata wanita itu menepis tangan Aish yang mencengkeram lengannya.


"Begini saja kak, saya catat nama kakak di buku tamu, sekalian keperluan kakak apa. Nanti kalau memang bos saya masih didalam, akan saya sampaikan pada beliau kalau kakak datang saat beliau keluar kantor ya" kata Aish.


"Tapi, saya yakin kalau beliau sudah pulang saat ini" lanjutnya.


"Oke, baiklah. Saya setuju" kata wanita itu mengikuti Aish ke pos satpam.


Aish mengambil buku besar dan sebuah bolpoin. Dia akan mencatat tamu pertama yang datang di saat dia bertugas.


"Nama kakak siapa?" tanya Aish.


"Hana, from Turkey" kata wanita itu.


"Ok, Hana dari Turki. Keperluan kakak apa ya?" tanya Aish lagi.


Wanita itu berpikir sejenak, berusaha mencari kata yang tepat untuk menjelaskan maksud kedatangannya.


"Aku rindu bosmu" kata Hana yang membuat Aish tertawa.


"Mana ada keperluan seperti itu kak" kata Aish.

__ADS_1


Tiba-tiba Hana berlari menuju pintu utama. Tapi karena dia memakai hak tinggi, membuat pergerakannya menjadi sulit. Aish berhasil menangkapnya tepat didepan lift.


Karena Aish menarik rok belakang wanita itu dengan terlalu kencang, membuat wanita itu terjatuh dan mengerang kesakitan.


"Ouch, aauuw. Ini sakit sekali, berani sekali kamu melakukan ini padaku. Kamu belum tahu siapa saya rupanya ya?" bentak Hana.


"Saya tahunya kakak bernama Hana, dan memaksa masuk tanpa ijin. Jadi, sudah tugas saya untuk mengamankan tempat ini" kata Aish tak mau kalah.


"Awas saja kamu ya, kalau bos kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan sama aku, pasti kamu akan dipecat" Hana mengancam Aish bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.


Mereka berdua sama-sama menoleh ke arah lift yang terbuka. Posisi Aish sedang berdiri mengulurkan tangan pada Hana, sepertinya akan membantunya berdiri. Sedangkan Hana masih terduduk di lantai karena tadi terjatuh.


Hana tersenyum sejuta watt mendapati seseorang yang melihat ke arah mereka berdua. Sedangkan Aish malah melepas tangan Hana yang sudah setengah jalan untuk ditolong, membuatnya jatuh terduduk lagi.


"Ouch, Can you see it honey? This girl is very dangerous. Kenapa bisa kamu jadikan security?" kata Hana mengeluh.


Aish mendekat pada si pria yang berdiri di depan lift, lalu mengguncang lengannya. "Hei, bang dokter ngapain disini? Habis darimana kok bisa keluar dari lift ini? Hayoo, bang dokter mau apa?" tanya Aish, ternyata Siras yang baru keluar dari dalam lift.


Hana melotot pada Aish yang sok dekat pada Siras. "Hei, Are you crazy girl? He is your bos. Anak buah macam apa kamu itu sampai tidak tahu dengan bosnya sendiri?" kata Hana, setahunya Siras ini kan pembawaannya tegas. Kenapa sekarang malah diam saja?


"Hah? Beneran bang dokter itu bos disini?" tanya Aish.


"Bang dokter nggak bohong? Jadi, benar bang dokter atasan saya disini?" tanya Aish masih belum percaya.


"Kan saya sudah bilang sama kamu girl, He is the bos" kata Hana mendekati Siras dan menautkan tangannya pada lengan Siras.


"Don't do it, and don't touch me" kata Siras yang lengannya digamit Hana, membuat wanita itu memanyunkan bibirnya dan Aish menertawakannya.


"Uwah, Aish nggak menyangka sama sekali. Abang dokter bisa jadi bosnya Aish" kata Aish tersenyum.


Siras memandangi Aish dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Seulas senyum terukir di bibirnya, karena beberapa hari ini dia sulit sekali menghubungi gadis kecil yang sekarang ada dihadapannya. Ternyata alasannya sibuk bekerja saat dihubungi, karena memang dia sedang bekerja di perusahaannya sendiri? Siras tidak percaya jika Aish menjadi security di kantornya.


"Sejak kapan kamu kerja disini Aishyah?" tanya Siras yang malah menginterogasi Aish, dan melupakan keberadaan Hana.


"Dari Senin kemarin bang, jadi abang kalau pagi disini terus kalau sore ke rumah sakit ya?" tanya Aish.


"Iya, saya tidak menyangka kamu jadi anak buah saya disini" kata Siras.


"Honey, kenapa kamu cuekin aku?" tanya Hana merajuk.


"Cg, don't call me honey, I'm not your boyfriend. Why are you coming?" tanya Siras sedikit membentak pada Hana.

__ADS_1


Hana takut jika Siras sudah membentaknya, tapi dia benar-benar merindukan pria itu. "I'm really miss you, I'm in here because I want to meet you" jawab Hana lirih.


"Huft, baiklah. Kita selesaikan urusan kita dulu. Aishyah, saya tinggal dulu ya. Besok kita ketemu lagi" kata Siras beranjak dari kantornya diikuti Hana yang sempat meledek Aish saat mengikuti Siras dari belakang.


"Dasar tante girang" gerutu Aish.


Dia kembali ke pos satpam, duduk disana dan menulis di buku bahwa bosnya barus saja pergi dengan seorang tante girang. Aish benar-benar menuliskan laporan seperti itu. Dasar remaja, masih belum bisa profesional saat bekerja.


Semua kejadian itu terlihat oleh Richard, sejak dia tahu tempat kerja Aishyah, dia selalu menguntitnya. Dan mengawasi Aish dari jauh, dia masih sangat mencintai gadis itu. Tapi dia masih belum berani untuk menemuinya dan meluruskan masalahnya. Dia masih menunggu waktu yang tepat. Tapi melihat Siras yang menjadi atasan Aish, sedikit rasa was-was menghampiri hatinya.


Dia tahu jika Siras memiliki rasa lain pada gadisnya, padangan matanya terlihat jelas menyiratkan isi hatinya saat melihat pada Aishyah. Seperti ingin memakannya hidup-hidup.


Richard harus segera mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada Aishyah.


★★★★★


Pagi hari, Siras melihat laporan security di hari kemarin. Pria itu sempat tertawa melihat laporan yang Aish catat disana.


Sebenarnya bang Tomi sudah sangat takut saat membaca laporan yang Aish buat. Apalagi pak Kamil semalam tidak memeriksa laporan kerja yang Aish buat sebelum membuat laporannya sendiri.


Tomi merasa heran saat mendapati Siras yang malah tertawa dengan laporan yang Aishyah buat. Sebenarnya dia juga merasa lega karena bosnya tidak marah, meskipun dia juga penasaran.


'Jam tujuh malam bos besar diajak keluar kantor sama tante girang yang menor' laporan Aish kemarin malam yang membuat Siras gemas sendiri.


"Nanti kalau Aishyah datang, suruh dia menemui saya diruangan saya ya" kata Siras.


"Siap pak bos. Tapi mohon dimaklumi kalau si Aishyah nulis laporannya belum benar ya pak bos, namanya juga abg, masih baru pula. Belum seminggu dia kerja disini pak bos" kata Tomi membela Aish.


"Ya, suruh saja dia ke ruangan saya nanti" kata Siras lagi.


"Siap pak bos" kata Tomi bersikap hormat bendera pada Siras.


Setelahnya, Siras menuju ke ruangannya dengan senyum yang masih terukir. Bahkan Tomipun sudah berani membela kesalahan Aish. "Memang Aishyah adalah gadis yang unik" batin Siras masih mengagumi sosok kecil yang akhir-akhir ini sangat sulit dihubungi itu.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2