
"Uuugh!"
Lamunan Mike terhenti, cowok yang sedang menatap ke dalam bara api itu terkejut mendengar rintihan yang keluar dari mulut Aish.
Mike menatap Aish, gadis itu sedang tertidur dengan posisi meringkuk. Tangannya bersedekap untuk mengurangi rasa dingin yang menjalar hingga terasa ke setiap ruas tulangnya
Bibirnya gemetar, tapi keringat dingin bercucuran dari pelipisnya. Gumaman tidak jelas keluar, sepertinya dia sedang mengigau.
Mike mendekat pada Aish, dirabanya kening gadis cantik itu.
"Panas banget" gumam Mike.
"Apa gara-gara masih tersisa bisa ular yang tadi ya?" tanya Mike pada diri sendiri.
Mike bingung harus bagaimana. Pertolongan semacam apa yang bisa dia lakukan untuk Aish?
Diluar gua, hujan turun dengan derasnya. Ditambah kencangnya angin, sepertinya banyak pohon tumbang yang terdengar di telinganya.
Mike teringat ibunya, pernah satu kali dia tidak sengaja memasuki kamar ibunya saat sang adik sakit.
Ibunya memeluk adik perempuannya tanpa mengenakan pakaian apapun di bagian atasnya.
"Ibu ngapain?" tanya Mike yang saat itu masih SMP.
Ibunya terkejut, segera beliau duduk membelakangi Mike yang berdiri di ambang pintu.
"Ibu sedang menolong adik yang sedang demam, Mike. Ini namanya metode skin to skin. Agar panas di badan adikmu bisa hilang karena terkena kulit ibu".
"Kamu keluar dulu ya, ibu nggak nyaman kalau kamu lihatin ibu yang sedang begini" kata ibunya mengusir Mike yang masih kebingungan.
Tersadar dengan situasi sekarang, Mike bimbang. Bisakah melakukan metode itu pada Aish?
Terlalu tidak sopan kalau harus memeluk wanita bukan muhrim. Biarpun Mike sangat nakal, tapi dulu dia juga pernah mengaji saat masih SD.
Tapi kan ini kondisinya beda, Aish sedang dalam keadaan darurat. Dulu waktu Mike tenggelam, Aish mau-mau saja memberinya nafas buatan.
Sekarang, bolehlah Mike sekedar memeluk Aish karena kondisi Aish yang sedang demam tinggi.
"Sya, lo denger ucapan gue?" tanya Mike berhati-hati, dia menepuk ringan pipi Aish untuk memastikan bahwa Aish masih tertidur.
Tidak ada tanggapan darinya, tapi rupanya Aish masih juga menggigil dan mengigau.
Dengan hati-hati, Mike memposisikan duduknya di belakang Aish. Biarlah dia menjadi bantal bagi Aish.
Dia sendiri menyender pada dinding gua yang dingin, kedua kakinya diselonjorkan agar tidak kesemutan nantinya.
Hanya memeluk dari belakang, itupun tidak ada acara membuka baju. Karena Mike terlalu takut untuk melakukannya.
Hanya Mike yang memang sudah melepas kaos olahraga miliknya, dan meninggalkan kaos itu diluar gua agar nanti saat ada yang mencari mereka, kaos itu bisa dijadikan tanda kalau mereka ada disekitar tempat itu.
Mike membiarkan dadanya menjadi sandaran nyaman bagi Aish. Dia sendiri melingkarkan tangannya di perut Aish.
"Richard, maafin gue" begitulah kira-kira gumaman Aish dengan mata terpejam yang terdengar jelas di telinga Mike.
"Lo sayang banget ya sama cowok lo? Masih ada nggak kesempatan buat gue nikung lo, Sya? Hehehe" kata Mike lirih, tawanya terdengar menyedihkan.
Rupanya Mike sudah memiliki rasa lain pada gadis cantik nan baik hati yang sedang sakit itu.
Cukup lama Mike berusaha memposisikan dirinya sebagai bantal ternyaman untuk Aish. Hingga tak sadar, diapun ikut tertidur.
Namanya juga tidur, Mike tidak bisa mengontrol gerakan tubuhnya. Tak sengaja Mike menindihkan kaki kanannya diatas kaki Aish yang terluka karena tertancap ranting.
Rembesan darah dari luka itu semakin mengalir, tidak banyak memang, tapi rembesannya sudah sampai membuat aliran di lantai batu.
Kesadaran Aish semakin menurun, Mike tidak menyadari itu semua.
★★★★★
Situasi di atas berbeda, guyuran hujan membuyarkan semua orang yang sedang bergerombol ditepi jurang.
Richard, Falen, Hendra dan yang lainnya berlari ke arah tenda didirikan.
Mereka berkumpul dalam satu tenda besar yang memang didirikan untuk posko darurat semacam ini.
"Sial!! Kenapa malah hujan sih, kondisi lo di bawah sana bagaimana, Ra" kata Richard yang sudah sangat frustasi memikirkan nasib pacarnya.
Richard menghubungi kakaknya, satu-satunya orang yang terpikir olehnya agar bisa membantu keadaan darurat seperti ini.
"Kak, lo lagi sibuk apa enggak?"
tanya Richard.
"Nggak juga sih, ini kan week end Richard. Kakak lagi sama Livy sekarang"
Jawab Willy dari seberang sana.
"Kak, Aish jatuh ke jurang. Bantuan yang kami panggil masih belum sampai juga, padahal sudah lebih dari satu jam kami tunggu disini".
"Disini hujannya lagi deras banget kak, gue khawatir banget sama kondisi Aish dibawah sana. Lo bisa bantuin gue nggak ,kak?"
__ADS_1
tanya Richard, pertama kali baginya mengeluh manja pada kakaknya.
"Kok bisa sih, Richard? Kemana gurunya? Bagaimana bisa sampai Aish jatuh begitu?"
tanya Willy panik, saat dia senang karena adiknya mengadu padanya. Willy merasa menjadi seorang kakak yang baik, malah mendapat berita buruk dari Richard.
Berita mengenai Aish, adik dari almarhum istrinya.
"Bukan waktunya mencari siapa yang salah, kak. Sekarang Aishyah lagi butuh bantuan"
kata Richard sebal, kakaknya malah membahas yang lain.
"Oke, kakak akan mencari bantuan pada anggota tentara saja ya. Biar mereka membawa heli kesana, dan juga drone agar mempercepat proses pencarian"
kata Willy yang memang mempunyai relasi yang luas.
"Iya, cepat ya kak. Gue takut terjadi sesuatu pada Aishyah"
kata Richard.
"Iya, langsung kakak hubungi mereka sekarang juga"
Richard segera menutup panggilan itu, berharap bantuan dari Willy segera sampai.
Dia masih belum juga bisa tenang, daritadi Richard mondar-mandir di hadapan yang lainnya.
"Duduk, Ri. Capek gue lihat lo" kata Reno menatap malas pada Richard.
"Diam lo, boncel. Lo nggak tahu kalau gue lagi khawatir banget?" kata Richard menatap tajam pada Reno.
Reno memberi isyarat menutup mulut dan menguncinya, berharap bisa mengurangi rasa paniknya.
"Tim SAR lagi kejebak macet, ada kecelakaan di jalur menuju kemari" kata Hendra memberi informasi.
Mereka hanya bisa menunggu, setidaknya hingga hujannya sedikit mereda.
Tiga puluh menit berlalu, terdengar suara helikopter dari kejauhan.
Richard segera berdiri, tak perduli hujan yang deras membasahinya. Dia mendekat pada helikopter milik anggota Tentara.
"Kamu ngapain hujan-hujanan, Richard?" tanya Willy yang baru saja turun dari heli dengan masih mengenakan jas hujan.
"Gue nungguin lo, kak" kata Richard mendekat pada Willy.
Kedua kakak beradik itu berpelukan singkat, lalu berjalan menuju tenda besar untuk mencari keberadaan Aish melalui drone yang sudah disiapkan tim yang Willy bawa.
"Pak, kenalkan ini kak Willy, kakaknya Richard. Dia membawa bantuan untuk kita mencari keberadaan Mike dan Aish" kata Yopi memperkenalkan Willy pada pak Bagyo, pembimbing pramuka mereka.
"Sama-sama pak, Aish itu adik saya. Sudah sewajarnya kalau saya ikut mencarinya" kata Willy yang menyambut uluran tangan pak Bagyo.
"Ini anggota Tentara yang akan membantu kita menerbangkan drone untuk mempercepat proses pencarian mereka" kata Willy memperkenalkan orang-orang yang dia bawa. Ada dua orang yang ikut Willy siang ini.
"Sudah ya, sekarang tolong cepat lakukan apa saja untuk segera menemukan Aishyah" kata Richard yang tidak suka Willy dan yang lainnya membuang-buang waktu.
"Baiklah, saya akan segera menerbangkan drone ini" kata tentara yang membawa drone di tangannya.
Dan satu orang lainnya menyiapkan tempat untuk meletakkan layar sebesar 14' yang akan memperlihatkan tampilan saat drone terbang.
Semua persiapan sudah dilakukan, drone sudah siap diterbangkan. Semua orang yang ada disana mendekat ke arah layar. Sementara satu orang tentara mengontrol jalannya drone dengan remote di tangannya.
Terlihat drone sudah melintas di atas hutan lindung yang berada di sekitar tenda.
"Aish jatuh dari sana" kata Nindi yang berdiri di belakang Richard.
Tentara itu menggerakkan drone agar menuruni jurang dari tempat yang ditunjukkan oleh Nindi.
Terlihat jelas disana, tanaman yang rusak karena tertimpa tubuh Aish dan Mike yang merosot dari atas.
Drone itu terus dijalankan mengikuti jejak yang tertinggal pada tanaman di lereng jurang.
Lime belas menit berlalu, drone masih mengintai hingga kedalaman hampir tujuh puluh meter.
"Kenapa belum ada jejak dari mereka sih?" keluh Richard dengan hati tak tenang.
"Sabar, perlu waktu" kata pemegang remote.
Sudah hampir sampai di dasar jurang, bahkan sungai tempat Mike mengambil air sudah terlihat.
Kini drone di gerakkan berputar mengelilingi sekitar sungai.
"Apa mungkin mereka berdua berteduh di suatu tempat, ya? Sekarang kan hujan" celetuk Falen, semua menoleh ke arahnya setelah dia bersuara.
"Kenapa?" tanya Falen.
"Lo benar bule" kata Hendra.
"Coba kita cari apakah ada tanah yang landai atau bahkan mungkin mereka berteduh di dalam gua atau semacamnya" kata pemegang remote.
Semua yang melihat ke arah layar menajamkan pandangan. Mencari apapun yang terlihat aneh, siapa tahu ada jejak dari mereka.
__ADS_1
"Sepertinya itu kaos olahraga kita deh, iya kan Yop?" tanya Nindi yang melihat sebuah kaos tergeletak di atas batu.
Yopi melihat ke arah kaos yang sedang dia kenakan. "Lo bener, Nin. Itu kaos olahraga kita" kata Yopi yakin.
"Pasti mereka ada di sekitar tempat itu. Sekarang kita cari apapun yang mencurigakan" kata Willy.
Kembali semua fokus, melihat apapun yang sekiranya bisa dijadikan tempat berteduh.
"Ada cahaya dari dalam batu itu" kata Nindi, matanya sangat awas melihat keseluruhan tempat itu.
"Coba dekatkan drone nya kesana, pak" kata Richard sudah tidak sabar lagi.
Tentara itu menggerakkan drone ke arah yang Nindi maksudkan. Pelan tapi pasti, drone memasuki sebuah gua kecil yang terlihat terang.
Ada api unggun kecil menerangi seluruh lubang kecil, tapi terasa cukup untuk tempat berteduh kalau hanya dua orang seperti Mike dan Aish.
Pandangan Richard membola, menyaksikan dua orang sedang tidur bersama. Richard yakin itu adalah Aish, kekasih yang sedang dia khawatirkan setengah mati.
"Sialan, mereka sedang apa? Kenapa Mike nggak pakai baju, dan kemana kerudung yang biasa Aish pakai?" kata Richard lirih, kemarahannya tertahan karena banyak orang di tempat itu.
"Lihat deh, kaki Aish diikat pakai kain" kata Nindi.
"Iya benar, apa mungkin princess terluka ya Fal?" tanya Hendra. Pandangan matanya bertemu dengan mata Falen yang menyiratkan rasa yang sama, mereka berdua sedang sangat khawatir.
"Tunggu, kaki Aish yang satunya juga berdarah" kata Nindi menambah kekhawatiran semua yang ada disana.
Rasa marah di hati Richard seketika hilang, terganti dengan rasa khawatir yang sudah sangat besar. Sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Gue harus segera kesana, kak. Ijinin gue untuk turun ke jurang itu, kak" kata Richard memohon.
"Bagaimana baiknya, kapten?" tanya Willy pada kedua tentara yang dia bawa.
"Boleh, kamu bisa ikut kami turun kesana dengan helikopter. Satu orang akan tetap diatas untuk memegang tali, nanti kamu boleh turun untuk menyelamatkan korban" kata salah seorang tentara.
"Sekarang cek medannya, bisakah heli kita tebang rendah di sana. Atau kalau bisa, cari tempat aman untuk mendaratkan helikopter-helikopternya" kata sang kapten.
"Siap" kata pemegang remote.
"Ada kapten, tapi letaknya cukup jauh dari keberadaan korban. Lebih baik, salah satu orang nanti bersedia turun dengan tali saja. Helikopter akan menunggu tanpa perlu melakukan pendaratan" kata tentara itu.
"Iya, begitu juga boleh. Ayo kita bersiap-siap sekarang juga" kata sang kapten.
Richard bersiap, dia memakai berbagai alat pengaman di tubuhnya. Karena dia sejak yadi ngotot untuk menjadi orang yang bersedia turun menjemput Aish.
Tak lupa peralatan dan perlengkapan medis juga dibawa.
Beberapa menit berlalu, semua persiapan sudah dilakukan. Drone masih diposisikan di area untuk memudahkan orang-orang melihat proses evakuasi.
Semua orang melepas kepergian Richard bersama kedua tentara dengan menggunakan helikopter. Perasaan mereka sama, khawatir pada keadaan kedua korban dibawah sana.
Semoga mereka berdua selamat dan proses evakuasi mendapat kemudahan.
★★★★★
Telinga Mike mendengar bunyi nyaring seperti pesawat, Mike pikir dia sedang bermimpi berada di bandara.
Tapi saat telinganya mendengar bunyi bising yang kuat, matanya mulai terbuka. Dia masih berada di dalam gua bersama Aish yang tertidur dalam pelukannya.
Sejenak bibirnya tersenyum, "Kapan lagi bisa berada dalam posisi sedekat ini sama lo, cewek nyebelin" gumam Mike.
Tapi rasa senangnya harus sirna saat melihat aliran darah dari kaki Aish yang tertindih oleh kakinya.
Mike segera bangun, dengan hati-hati dia membiarkan Aish tidur di permukaan batu.
Dia melihat keadaan luka Aish sejenak, sebenarnya lukanya tidak terlalu dalam. Tapi mengapa banyak darah yang keluar? Mike jadi bingung sendiri.
Lalu dia bangkit, rasa sakit mulai terasa lagi. Dia berjalan keluar gua, mencari sumber suara.
Betapa leganya Mike, saat melihat ada sebuah helikopter yang datang mendekat. Segera dia keluar meski hujan masih saja belum mau menghentikan tetesan airnya.
"Tolong, Tolong" teriak Mike sambil melambaikan tangannya.
Didalam heli, Richard segera bersiap-siap untuk turun menggunakan tali yang dililitkan di tubuhnya.
Pelan tapi pasti, Richard mulai turun. Secara perlahan, tali diulurkan menuruni helikopter menuju depan gua.
Richard juga melihat Mike yang sedang melambaikan tangannya. Sungguh saat ini Richard ingin mengumpat dan berkata kasar. Hanya saja dia harus tahan, biarlah saat ini dia mengumpat dalam hati
Nanti saat dia berhasil menuruni heli, bukan saja umpatan yang sudah Richard siapkan. Tangannya sudah terasa gatal untuk didaratkan di wajah Mike yang terlihat semakin brengsek di matanya.
"Awas lo, Mike sialan" umpat Richard dalam hati. Dia masih berusaha menggapai daratan.
.
.
.
.
__ADS_1
bonus visual Yopi yang kini menjadi orang yang Richard percaya.