Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
masa lalu Nindi


__ADS_3

"Nindi, nduk... Kamu ndak apa-apa kan? Kenapa mendadak pulang ndak pamitan sama keluarga disini nduk?" tanya ibu Nindi melalui ponselnya sore ini, sejak semalam mereka tidak bisa menghubungi anak yang dianggapnya perawan itu.


"Maafin aku buk, ada ujian. Aku lupa kalau ujiannya ndak bisa ditinggal, sebenarnya besok sih ujiannya. Cuma hari ini juga aku sidah janji sama temanku bu, penting banget. Maafin Nindi ya, bu. Sampaikan maafku sama mbak Lita, maaf ndak bisa lihat pernikahannya" kata Nindi yang tak kuasa untuk tetap berada di Solo setelah kejadian Fahri.


"Oh iya nduk, tadi pagi-pagi sekali kamu dicariin sama Fahri. Dia bilang kemarin kalian sempat bertemu, ya?" tanya ibu Nindi.


"Ngapain kak Fahri nyariin aku, bu?" tanya Nindi.


"Ndak bilang sih mau ngapain, tadi dia sekalian nganterin ibunya ke rumah pak lekmu. Kalian ada masalah? Kok sepertinya Fahri kepikiran begitu?" tanya Ibu Nindi curiga.


"Ndak ada apa-apa kok bu, memang kemarin sempat ketemu sebentar. Makanya aku jadi ingat sama teman aku yang sudah janjian, bu. Terus buru-buru pulang soalnya urgent banget" kata Nindi.


"Yasudah kalau kamu pulang dengan selamat, ibu tuh kepikiran loh nduk dari semalam. Hape kamu ndak aktif lagi, kan ibu semakin khawatir" kata ibu Nindi.


"Iya, maafin Nindi ya bu. Ibu lagi apa sekarang?" tanya Nindi, matanya jadi berkaca-kaca lagi mengingat kejadian kemarin.


"Ibu masih rewang, nduk" jawab ibunya.


"Yasudah, ibu lanjutin rewangnya, ya. Salam buat semuanya disana" kata Nindi menyembunyikan kesedihannya dari sang ibu.


"Iya ,nduk. Kamu hati-hati disana ya. Jaga diri kamu, nanti ibu bawain oleh-oleh yang banyak buat kamu" kata ibu Nindi.


"Iya bu, Assalamualaikum" Nindi berucap salam sebelum menutup panggilannya.


"Waalaikum salam" kata ibu Nindi.


Kembali Nindi terisak, teringat Fahri yang telah mengkhianatinya. Sesakit ini ternyata rasanya patah hati.


Ditambah lagi semalam Yopi sudah berbuat terlalu jauh padanya, tidak! Bukan hanya Yopi yang salah, diapun juga salah karena tak bisa menahan diri.


"Ya Allah, masih pantaskah aku menjadi hambamu?" tangis Nindi tak terbendung lagi.


Dia sedang patah hati, dia terlalu meninggikan seseorang di hatinya melebihi Tuhannya. Dan kini, apa yang telah dia dapatkan?


Hanya pengkhianatan yang meninggalkan luka yang mendalam. Dia hanya bisa menangisi kebodohannya di masa lalu.


"Yopi kemana ya?" kata Nindi disela tangisannya. Disaat seperti ini, sosok Yopi menjadi pelipur lara bagi Nindi yang sedang dilanda patah hati.


Nindi mencoba untuk menghubungi Yopi, tapi tak bisa. Nomornya aktif, tapi tidak diangkatnya.


"Apa mungkin Yopi juga ndak mau berteman sama aku lagi ya gara-gara kejadian semalam?" tanya Nindi pada dirinya sendiri.


"Aku memang bodoh, aku memang murahan, aku memang wanita yang ndak bisa menjaga kehormatanku sendiri" Nindi menangisi semua kejadian yang menimpanya.


"Mungkin aku memang pantas mendapatkan ini semua. Aku murahan, tak berharga" lirih Nindi yang masih sesenggukan.


Nindi menghabiskan sisa waktunya di hari ini hanya dengan menangis, menghabiskan sisa air mata yang terus saja dikeluarkannya sejak kemarin.


Padahal di tempatnya, Yopi sedang menangani setumpuk berkas yang harus diselesaikan.


Dia sedang menggarap surat perijinan dan surat-surat penting lainnya untuk keperluan cafe dan studio.


Jadi, untuk beberapa hari ke depan, Yopi akan disibukkan dengan mondar-mandir ke kantor pemerintahan yang bersangkutan.


★★★★★


Yopi pulang cukup larut malam ini, ternyata mengurus semua surat penting seperti ini membutuhkan waktu, kesabaran dan ketelitian.


"Loh, banyak banget telpon masuk dari Nindi. Kira-kira kenapa ya?" Yopi tengah berusaha menelpon balik pada Nindi.


"Halo Nin, lo telpon gue ada apa?"


tanya Yopi setelah panggilannya tersambung.


"Ehmnh.... iya, ndak ada apa-apa sih. Cuma tadi aku tuh lagi butuh teman aja. Lagi galau, hehehe" kata Nindi yang diakhiri tawa menyedihkan.


"Maafin gue ya, Nin. Richard ngasih gue tugas banyak banget, kayaknya sampai lama kita bakalan susah ketemunya" kata Yopi merasa bersalah, jadi serba salah.


Gimana ya, momentnya seperti pas banget. Setelah Yopi bisa menjamah Nindi, disitu pula Yopi mendapat banyak tugas.

__ADS_1


Apa cuma perasaan Nindi saja kalau Yopi menghindar?


"Aku ngerti kok, kamu lagi sibuk banget ya" kata Nindi .


"Lo jangan berfikir kalau gue sengaja menghindar dari lo ya, Nin" tebakan jitu Yopi mengena di hati Nindi.


Nindi terdiam, entah harus percaya atau tidak.


"Ndak kok Yop, aku ndak berfikir seperti itu" bohong Nindi untuk menutupi rasa malunya.


"Oke deh, lo istirahat ya. Sudah malam, nggak baik begadang. Besok kalau ada waktu gue sempatin mampir ke rumah lo" kata Yopi berpamitan.


Diapun cukup letih hari ini, dan ingin segera mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


"Iya, kamu juga" kata Nindi, dan beberapa saat kemudian Yopi benar-benar sudah tertidur lelap.


Nindi tak benar-benar bisa tidur setelah menerima telepon dari Yopi. Pikirannya menerawang jauh, mengingat betapa rusaknya dia sekarang.


Wanita murahan.


Hanya itu yang terngiang di telinganya, yang membuat entah darimana air mata itu terus turun tanpa henti.


Kejadian Nindi yang kehilangan keperawanannya dulu itu memang ulah Fahri.


Di hari kelulusannya dulu, Fahri mengajak Nindi untuk menjadi pasangannya di malam prom night.


Fahri yang saat itu adalah ketua OSIS dan Nindi yang memang cantik, terpilih sebagai pasangan terpopuler.


Pulang dari acara sekolah, Fahri masih harus mampir ke tempat temannya.


"Nanti kita ke tempat temanku dulu ya, Nin" Fahri menahan Nindi yang sudah lelah untuk pulang.


"Aku capek kak, besok saja ya ke tempat temannya kak Fahri" ucap Nindi yang sudah menempel di punggung Fahri, diatas motor malam itu.


"Sebentar saja kok, cuma ambil kunci brankas ruang OSIS terus pulang" kata Fahri.


Tak ada prasangka buruk dari keduanya saat pergi ke tempat kawan Fahri malam itu.Tanpa mereka berdua ketahui bahwa teman-teman Fahri yang merupakan sesama anak rantau sedang pesta miras untuk merayakan kelulusannya.


"Nggak ngapa-ngapain bro, cuma party kecil" kata seorang temannya.


Ada beberapa pasang remaja di dalam rumah kontrakan itu. Memang kompleks kontrakan disana terbilang cukup bebas.


Kehidupan ibu kota yang tak menghiraukan lagi norma-norma kebaikan. Hanya uang dan uang yang diharapkan.


Memang tak semuanya seperti itu, tapi ada beberapa tempat di sudut kota yang menyajikan kehidupan sebebas itu pada penduduknya yang kebanyakan adalah warga dari segala penjuru negri yang terkumpul dalam satu tempat.


"Kunci brankas di bawa sama Eko, mana tuh anak" kata Fahri setelah sampai di rumah temannya.


Fahri terus menggandeng tangan Nindi dengan posesif, takut jika dia diambil temannya.


"Ada didalam, lo masuk saja" kata mereka.


Fahri mengajak Nindi masuk ke kontrakan temannya, dia khawatir kalau meninggalkan Nindi sendirian.


"Kunci brankas mana, Ko. Buruan, gue mau nganterin Nindi pulang" kata Fahri.


"Santai lah sedikit kawan, coba dulu nih, baru gue kasih kuncinya" kata teman Fahri.


Fahri dan Nindi dicekoki minuman keras oleh kawan-kawan Fahri malam itu. Dan entah bagaimana ceritanya, pagi harinya mereka berdua mendapati diri dalam keadaan polos di dalam sebuah kamar di rumah kontrakan itu.


Nindi menangis sejadi-jadinya saat tersadar dengan apa yang telah dia alami.


"Aku minta maaf ya, Nin. Kita berdua sama-sama nggak sadar semalam. Maaf karena aku telah mengajakmu ke tempat ini" kata Fahri dengan linangan air mata penyesalan


Dia tak menyangka akan bertindak sejauh itu dengan Nindi dibawah pengaruh minuman keras.


Nindi terus menangis, tak tahu harus bagaimana. Saat itu usianya masih terlalu muda, baru akan memasuki kelas sebelas SMA.


"Kakak janji nggak akan pernah ninggalin kamu, Nin. Apapun yang terjadi, kakak pasti akan setia sama kamu. Nanti saat kita dewasa, kakak pastikan kalau kamu yang akan kakak jadikan pendamping hidup kakak" janji manis yang keluar dari Fahri remaja waktu itu sangat manis di telinga Nindi.

__ADS_1


Dalam keadaan kalut seperti itu, Nindi hanya bisa mengangguk. Siapa lagi yang akan mau padanya selain Fahri?


Itulah yang ada dalam pikiran Nindi sampai hari ini, sampai disaat Nindi tahu jika Fahri hanya membual. Fahri telah berkhianat. Entah bagaimana nanti nasib Nindi.


Sekarang Nindi tersadar jika Fahri bukanlah pria yang baik. Terbukti jika semua janjinya hanyalah bualan semata.


Dan disini, Nindilah orang yang paling dirugikan.


Sampai menjelang pagi, Nindi masih bernostalgia dengan masa lalu terpahitnya.


Masa lalu yang tak pernah dia bagi dengan siapapun.


Nindi yang malang.


★★★★★


"Selamat pagi bu Aish cantik" kata Nindi yang mendapati Aish sedang berjalan dengan Yopi.


"Pagi Bu Nindi. Wajahnya ceria sekali yang habis mudik" goda Aish yang melihat senyum Nindi pagi ini.


Yopi lega melihat Nindi yang kembali ceria. Dua hari kemarin, Yopi selalu menyempatkan diri untuk menemui Nindi meski hanya sebentar.


Dia tak mau dianggap sebagai lelaki pengecut yang hanya akan membuang Nindi setelah menikmatinya.


"Oleh-oleh dari Solo" kata Nindi yang menyerahkan sebuah kantong entah berisi apa saja untuk Aish dan Yopi.


"Uwah, gue juga kebagian nih" kata Yopi senang, seolah dia juga baru bertemu dengan Nindi.


"Kebagian dong" kata Nindi.


Aish membuka oleh-oleh yang Nindi bawa, dalam kantong itu berisi abon, bolu, dan kaos yang bertuliskan kota Solo.


"Makasih ya, Nindi cantik" kata Aish sambil menempelkan kaos itu di badannya. Kaos cantik berwarna biru, kesukaan Aish.


"Sama-sama" kata Nindi tersenyum.


Dia sudah lelah menangis, Nindi adalah wanita yang tegar.


"Seru banget pasti bisa mudik ya? Gue nggak punya kampung halaman, Nin" kata Aish.


"Seru dong, banyak ketemu sama saudara jauh. Lah orang tua kamu asli mana toh kok ndak punya kampung?" tanya Nindi penasaran, tak ada yang tahu memang tentang keluarga Aish.


"Dulu waktu kecil sih ayah gue pernah ngajak ke Malang, tapi gue lupa daerah mana. Sudah lama banget soalnya" kata Aish sedikit bercerita.


Yopi menajamkan telinganya, "Uwah, cuma gue nih yang tahu. Gue yakin Richard juga nggak bakalan tahu kalau Aishyah aslinya dari Malang" kata Yopi dalam hati.


"Beneran kamu asli Malang, uwaahh... Kamu harus mudik sih, Aish. Soalnya aku mau nitip tempe, hehehehe" kata Nindi bersemangat.


"Gue nggak kenal sama saudara gue disana, Nin. Ayah nggak sempat ngenalin gue sama mereka" kata Aish.


"Sayang banget ya. Terus yang bikin kamu ingat kalau pernah kesana itu apa?" tanya Nindi.


"Gue diajak ke pantai. Seingat gue dulu, ayah bilang pantainya ada di wilayah kabupaten Malang gitu. Tapi itu sudah lama banget Nin" kata Aish.


"Bahkan nama saudara gue disana saja gue nggak tahu" lanjutnya dengan tampang sendu.


Terlalu menyedihkan memang, saudara dari orang tuanya saja Aish tidak tahu.


"Loh kok kamu kadi sedih sih, Aish. Kenapa?" tanya Nindi, dia jadi merasa bersalah telah mempertanyakan itu padanya.


"Nggak apa-apa Nin. Seandainya hubungan keluarga gue masih terjalin kayak saudara lo, pasti gue senang banget. Nggak ngerasa sendirian gini" sedikit sesal dalam hatinya karena tak pernah menanyakan perihal keluarga pada orang tuanya semasa mereka masih ada.


"Ndak apa-apa, kan ada aku. Kita bisa kok jadi saudara, ya. Ndak usah sedih gitu" kata Nindi sambil memeluk Aish yang sedang bersedih.


"Iya, kita jadi saudara ya, Nin" senyum Aish kembali mengembang.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2