
Siang itu selepas bel sekolah berdenting, para murid di SMA Mahardika berhamburan keluar dari ruang kelas mereka.
Minggu ini adalah Minggu terakhir untuk para anggota PMR dari sekolah itu untuk melakukan tugas mulia mereka.Membantu para dokter sekaligus mempraktekkan ilmu teori yang telah mereka dapat di program ekskul mereka.
Tiga hari ke depan adalah hari-hari terakhir untuk Aishyah berjaga di rumah sakit Persada. Rumah sakit terbesar di kota itu.
Para siswi terlihat heboh karena adanya seorang cowok ganteng berkacamata hitam yang sedang senderan di depan badan mobilnya sambil memainkan ponsel. Cowok cool itu sangat rupawan di mata mereka.
"*Ya ampun.... keturunan Adam dari bagian bumi yang mana ini? Gantengnya kebangetan"
"Boleh nggak sih minta satu yang kayak gini?"
"Mas... Mas... culik adek dong*"
Kata hati para siswi yang melihat ketampanan yang paripurna dari seseorang yang ada disana.
"*Sialan, siapa sih tuh orang. Ganggu pemandangan saja"
"Ngapain sih tuh orang nyasar kemari?"
"Dasar sok kecakepan, kenapa nggak pergi-pergi juga sih*?"
Suara hati para siswa yang merasa tersaingi oleh kedatangan tamu tak diundang.
Aish, Hendra, Falen dan Seno jadi penasaran juga. Kenapa sih teman-teman mereka sampai heboh seperti itu?
Aish, Hendra dan Falen jadi mengantar Seno yang sedang dijemput mommynya di luar gerbang. Sebenarnya mereka juga sedikit penasaran karena teman-temannya yang terdengar heboh.
"Kenapa sih mereka?" tanya Seno yang berjalan sejajar dengan Hendra di depan Aish dan Falen.
"Nggak tahu juga gue. Kita lihat juga yuk" ajak Hendra.
"Boleh, sekalian nganterin gue ke mobil ya, hehe" kata Seno menuju mobilnya.
"Loh... itu kan?" kata Aish melihat ke arah pandang teman-temannya.
Mendengar ada suara yang dikenalnya, orang itu menoleh dan mencari sumber suara yang ternyata ada di belakangnya.
Empat remaja sedang memperhatikannya, di belakang mobilnya juga terdapat mobil jemputan yang sedang menunggu seseorang yang nantinya akan keluar dari gerbang yang sama seperti yang sedang dia tunggu.
"Hai Aishyah" sapa orang itu yang ternyata adalah dokter Siras, rupanya teman-temannya histeris melihat penampilan dokter Siras yang berbeda dari biasanya.
Dokter itu mengenakan celana jeans biru tua dan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Berkacamata hitam sambil memainkan ponsel di depan badan mobilnya. Badan atletisnya yang hampir sempurna membuat para wanita klepek-klepek.
"Gue ambil mobil gue dulu ya princess" kata Falen terburu-buru, sebenarnya dia sedang tidak mau bertemu dengan kakaknya.
"Oke, hati-hati ya Falen" kata Aish, sementara Falen hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu segera meninggalkan teman-temannya sebelum sang kakak menghampiri.
__ADS_1
"Gue masuk dulu deh princess, sudah ditungguin sama mommy" kata Seno yang mommynya sudah menunggu di dalam mobilnya. Bahkan sekarang sang mommy terlihat melongokkan kepalanya untuk melihat ke arah anaknya yang sedang bersama temannya.
"Mommy, apa kabar?" tanya Aish sambil mencium punggung tangan mommy Seno.
"Baik dong sayang, kalian semua sehat?" tanya mommy Seno.
"Alhamdulillah sehat mom" kata Aish.
"Sepertinya Aish sudah ditunggu sama cowok ganteng yang itu ya? Sudah sana cepetan, nanti lain kali cerita-cerita sama mommy ya!" kata mommy Seno sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Apaan sih mom, dia dokter pembimbing Aish di rumah sakit kok" kata Aish.
"Iya, yasudah. Yuk Seno, kita segera meluncur" kata mommynya.
"Oke mom. Gue duluan ya Hendra, princess. Dah, sampai ketemu besok" kata Seno memasuki mobilnya.
Aish menghampiri dokter Siras yang entah ada keperluan apa sampai ke sekolahnya hari ini, Hendra masih setia mendampingi princessnya.
"Abang dokter ngapain kesini?" tanya Aish.
"Jemput kamu, hari ini kan ada jadwal jaga" kata Siras.
"Kenapa repot segala sih bang. Kan Aish bisa naik angkot" kata Aish.
"Hai Hendra, sudah selesai tugas sekolah kamu? Memangnya tugas apa sampai kamu ke ruang autopsi malam itu?" tanya Siras.
Hendra lupa tentang hal itu, dia belum siap jika ditanya hal itu dihadapan Aishyah. Dia jadi bingung harus menjawab apa kali ini.
Aish memegangi tas punggung Hendra, berharap sahabatnya itu tidak meninggalkannya berduaan dengan dokter ini.
"Kenapa buru-buru sekali Hendra?" tanya Siras yang merasa jika Aishyah masih belum mau ditinggalkan olehnya.
"Iya, motor saya masih ada di parkiran dokter" kata Hendra memberi alasan seadanya.
"Ya memang seharusnya seperti itu" kata Siras.
"Gue duluan ya princess, gue sudah ditungguin mama" kata Hendra berharap Aish melepaskan pegangan tangannya pada tas punggungnya.
Dengan berat hati Aish melepaskan tangannya, dia akan menghadapi abang dokternya sendiri.
"Iya deh, dah Hendra. Sampai ketemu besok" kata Aish melambaikan tangannya pada Hendra.
"Kamu terlihat takut sekali kalau ditinggal Hendra? Memangnya saya monster?" tanya Siras dengan tawa, menambah kesan tampan padanya.
"Bukannya begitu bang dokter, saya hanya merasa tidak enak saja, hehe" kata Aish.
"Baiklah, saya antar kamu ke rumah kamu dulu ya, setelah itu kita sama-sama ke rumah sakit" kata Siras.
__ADS_1
"Iya deh bang dokter, makasih ya" kata Aish. Sejujurnya dia masih merasa risih jika berduaan dengan abang dokternya, karena kejadian di ruangannya waktu itu. Aish merasa jika dokter itu sedikit berani.
"Saingan baru bro" kata Reno meledek Richard yang sedang mengamati Aishyah dan dokter Siras di depan gerbang sekolahnya.
"Diem mulut lo" kata Richard dengan tatapan tajam pada pasangan itu.
"Siapa dia?" tanya Yopi.
"Dokter pembimbing di rumah sakit Persada" jawab Richard.
"Lo kok bisa tahu sih?" tanya Reno.
"Lo sudah lupa kalau gue pernah dirawat disana kemarin?" tanya Richard.
"Oh iya, jadi dokter itu juga yang nanganin lo ya?" tanya Yopi. Richard hanya mengangguk sambil tetap memperhatikan Aishyah dan dokter Siras disana.
Aish masuk ke dalam mobil sang dokter, semua kejadian itu tak lepas dari pantauan Richard yang hatinya kini penuh gemuruh. Rasanya sesak, luka tapi tak berdarah.
Richard meninggalkan kedua temannya menuju ruang kesenian. Kalau sudah seperti ini, dia lebih suka meluapkan emosinya dengan alunan musik keras untuk mengurangi beban di hatinya.
Sementara Falen masih menunggu kedatangan Hendra.
"Aish sudah balik ya?" tanya Falen saat melihat kedatangan Hendra.
"Sudah, diantar sama kakak lo" kata Hendra.
"Ngapain sih tuh orang datang kesini. Untung saja tadi gue langsung kabur" kata Falen.
"Tadi dia nanyain waktu kita ke ruang autopsi waktu itu. Untung gue masih bisa ngeles, jadi Aish nggak curiga" kata Hendra.
"Terus kita ngapain nih? Kayaknya masih belum ada kabar dari dokter Retno, soalnya bang Fian juga masih belum kasih kabar" kata Falen.
"Iya juga. Gimana kalau kita ketemu bang Rian saja?" tanya Hendra.
"Mau ngapain?" tanya Falen.
"Nyari inspirasi, sudah ah cabut yuk" kata Hendra.
"Gue pulang dulu deh, ganti baju. Nanti kita saling kasih kabar saja ya" kata Falen.
"Oke deh" kata Hendra.
Mereka pulang ke rumah masing-masing, merencanakan hal apa yang akan diperbuat setelahnya.
.
.
__ADS_1
.
.