Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
kejadian sebelum ujian


__ADS_3

Dua bulan mendekati ujian nasional, para murid SMAN 72 disibukkan dengan banyak sekali ujian sekolah. Baik itu ujian tulis maupun ujian praktek.


Hari ini, setelah try out Aish dan kawan-kawannya masih harus berlatih di laboratorium untuk kebutuhan ujian praktek Minggu depan.


"Pengumuman untuk kelas IPA, bahwa besok hari Rabu akan diadakan ujian praktek di lapangan sekolah. Diharapkan semua murid sudah siap dengan baju olahraga"


Sebuah pengumuman terdengar dari pengeras suara di setiap penjuru kelas. Tentunya membuat murid angkatan 12 sedikit gelisah karena mendengar kata 'ujian'.


"Besok ya, Aish. Kita harus ujian praktek" kata Nindi dengan wajah gelisahnya.


"Iya, lo kenapa? Suram banget mukanya? Lagi nggak enak badan? Apa perlu gue izinin ke gurunya biar lo dapat dispensasi?" tanya Aish yang ikutan khawatir karena wajah Nindi yang tiba-tiba berubah.


"Ndak apa-apa kok, cuma aku ndak begitu suka pelajaran olahraga" sangkal Nindi.


"Masak sih? Biasanya lo paling semangat kan kalau olahraga?" tanya Aish.


"Ndak tahu nih, Aish. Aku tuh akhir-akhir ini bawaannya males banget. Kayak badanku itu berat banget rasanya" keluh Nindi.


"Masuk angin mungkin, nanti pulang sekolah lo langsung istirahat ya, Nin. Minum obat aja, biar besok lo bisa fit saat ujian praktek olahraga " saran Aish, memang wajah Nindi terlihat sedikit pucat.


"Iya, nanti aku minum obat" kata Nindi.


Mereka hanya bisa pasrah dan melanjutkan acara praktikum.


Dengan mobil baru Yopi, kini setiap pagi cowok itu selalu siap sedia membawa Aish ke sekolah. Dan juga menghampiri Nindi karena memang jalur mereka yang searah.


Begitupun saat pulang sekolah, Yopi selalu bersama Aish dan Nindi. Setelah menurunkan Nindi di depan rumahnya, Yopi dan Aish melanjutkan sampai ke rumah masing-masing.


Rabu pagi ini, Yopi dan Aish sudah siap dan menghampiri Nindi di depan rumahnya. Baju olahraga sudah terpakai sempurna di badan mereka masing-masing.


"Lo masih kelihatan pucat, Nin. Yakin masih mau ikut ujian praktek? Atau lo izin saja deh, biar ikut ujian barengan kelas lainnya aja, gimana?" tanya Aish yang khawatir melihat Nindi yang masih pucat.


Yopi melirik dari kaca spion, memang terlihat wajah pucat Nindi. Dia jadi ikut kepikiran.


"Ndak apa-apa, aku ujian sekarang saja. Nanti siang pasti sudah baikan kok. Aku merem aja deh sekarang, semalam aku tuh muntah-muntah terus. Jadi ndak bisa tidur" keluh Nindi yang masih merasa sedikit pening.


"Iya deh, lo tiduran aja" kata Aish.


"Kasihan banget sih, mau ujian juga, malah sakit" gumam Aish.


Sampai di sekolah, Nindi menguatkan dirinya demi untuk bisa ikut ujian praktek hari ini.


Langkah gontai dari ketiga murid itu mantap menuju ruang kelas. Dan suasana riuh terdengar dari dalam ruangan.


Saat bel berdenting, dan pak guru sudah memasuki ruang kelas, segera pak guru menggiring para murid menuju lapangan.


"Sebelum memulai ujian, kita lakukan pemanasan dulu. Ujian pertama adalah memasukkan bola basket sebanyak mungkin ke dalam ring. Selanjutnya, pertandingan basket beregu. Dan yang terakhir lari maraton".


"Senam kesehatan jasmani yang akan dipimpin ketua kelas kalian. Yopi, silahkan maju ke depan dan pimpin senamnya" perintah pak guru.


Yopi menurut, memimpin senam dengan sangat baik.


Hingga tiba ujian pertama, yaitu memasukkan bola ke dalam ring.


Semua murid sudah bersiap, berbaris rapi menurut nomer absensi mereka. Aish heran saat Nindi berbaris di dekatnya, dia baru tahu jika nama Nindi adalah Anindita.


Pantas saja nomor absennya ada di deretan awal.


"Mohon diperhatikan" kata pak guru, semua murid terdiam untuk mendengar penjelasan singkat dari gurunya.


"Tiap murid di berikan waktu selama lima menit untuk menembakkan bola sebanyak mungkin ke dalam ring. Saat waktu habis, silahkan menuju ke pinggir lapangan untuk memberikan kesempatan untuk teman yang lainnya, dan yang sudah menembakkan bola, boleh istirahat di pinggir lapangan" kata pak guru.


Semua berjalan dengan lancar, bahkan Aishpun tak mengalami banyak kendala. Dia sudah banyak berlatih sebelumnya.


Tiba giliran Nindi.


Dia sudah bersiap, tiga kali lemparan selalu gol, tepat sasaran. Dan di tembakan ke empat, saat seseorang melempar bola ke arahnya, Nindi tak berada dalam keadaan fokus.


Bola itu terlempar ke perutnya dengan cukup keras.


Dan entah kenapa, rasanya sangat sakit. Nindi hampir pingsan dibuatnya, dia menggeliat di atas tanah. Di tengah lapangan.


"Nin, lo kenapa?" tanya Aish khawatir, dia bahkan sudah memangku kepala Nindi yang terus saja meringis kesakitan.


"Perutku sakit banget, Aish. Aaargh" keluh Nindi meringis sambil memegang perutnya erat.


Ada yang mengalir di antara kaki Nindi, darah segar terlihat memerah mengenai kaos kakinya yang putih.

__ADS_1


Semua murid sudah mengerumuni Nindi, pak guru juga terlihat bingung.


Tanpa pikir panjang, Yopi menggendong Nindi, membawanya ke dalam mobil. Aish berlari di belakangnya, mengekor pada Yopi.


"Kita bawa ke rumah sakit terdekat saja" kata pak guru yang ternyata sudah duduk di samping Yopi, di sebelah kursi kemudi.


Aish menjadikan pahanya sebagai bantal untuk kepala Nindi yang sudah pingsan sejak berada dalam gendongan Yopi.


Tanpa banyak pertimbangan, Yopi melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat. Dan tak butuh waktu lama, mobilnya sudah berhenti di depan UGD.


Dua orang suster datang dengan brankar untuk membawa Nindi ke dalam. Aish dan Yopi ikut mendorong brankar itu dengan perasaan kalut. Nindi masih tak sadarkan diri.


"Tunggu disini ya, pasien akan segera ditangani oleh dokter" kata seorang suster yang menghadang langkah Aish dan Yopi.


Pak guru terlihat tengah menelpon, mungkin sedang memberi informasi ke pihak sekolah.


Yopi berdiri bersedekap, sedangkan Aish berjalan mondar-mandir dengan gelisah.


"Apa mungkin Nindi lagi datang bulan ya, Yop? Gue tadi lihat darah di kakinya" kata Aish dengan gelisah.


"Mungkin juga, gue nggak tahu, Sya" kata Yopi.


"Keluarga pasien atas nama Nindi" panggil suster.


Aish, Yopi dan pak guru mendekat. Ingin mendengar info dari suster itu.


"Bisa salah satu ikut saya? Dokter mau bicara" kata suster itu.


Saat pak guru akan masuk, ponselnya berbunyi. Ada panggilan masuk, "Tolong kamu masuk dulu ya, Aishyah. Bapak mau angkat telpon dari pak kepala sekolah dulu" kata pak guru.


"Iya pak" jawab Aish.


"Lo mau ikut masuk, Yop?" tanya Aish.


"Nggak, gue tunggu disini saja. Lo masuk sendirian nggak apa-apa kan?" tanya Yopi.


"Nggak apa-apa kok, yaudah gue saja yang masuk. Lo jangan kemana-mana ya" kata Aish sebelum mengekor pada suster.


Aish tak menyadari sebelumnya, mungkin karena panik membuatnya tak memperhatikan sekitarnya.


"Oh, Aishyah. Kita bertemu lagi" kata dokter Siras setelah mempersilahkan suster untuk keluar dari ruangannya.


Sedikit canggung, tapi dia harus duduk dengan tenang didepan Siras.


"Ini kan di rumah sakit, nggak mungkin bang dokter berbuat macam-macam" katanya dalam hati.


"Saya tidak menyangka akan bertemu denganmu disini" Siras mengawali dengan perkataan yang tidak Aish sukai.


"Saya juga bang. Sebaiknya, bang dokter langsung saja katakan sama saya, bagaimana keadaan teman saya?" tanya Aish yang tak mau berbasa-basi lagi.


"Oke. Jadi, teman kamu yang bernama Anindita itu sedang mengalami pendarahan" kata Siras.


"Jadi benar kalau Nindi sedang menstruasi ya, bang?" tanya Aish.


"Bukan, bukan karena menstruasi dia jadi mengalami pendarahan. Tapi karena keguguran" kata Siras yang membuat Aish sangat terkejut.


"Abang jangan bercanda, nggak mungkin Nindi hamil, bang" kata Aish tak percaya.


"Saya sedang menjadi dokter profesional sekarang, jadi saya tidak sedang bercanda" kata Siras dengan wajah seriusnya.


Aish terdiam, bingung harus bersikap seperti apa.


"Jadi, sebaiknya pasien harus menjalani kuret agar rahimnya bisa bersih. Dan terutama, harus dengan izin orang tuanya" kata Siras.


"Bagaimana ini, sebentar lagi ujian nasional. Kalau sampai pihak sekolah tahu keadaan Nindi yang sebenarnya. Pasti dia dikeluarkan dari sekolah. Dan dia tidak bisa ikut ujian" Aish sedang berpikir dalam hatinya.


Melihat Aish yang terdiam, Siras tahu jika dia sedang memikirkan nasib temannya. Siras masih menyukai Aish yang sangat perduli pada teman-temannya.


Kekaguman Siras pada Aish memang tak salah.


"Apa yang harus saya lakukan, bang?" tanya Aish, dia tak bisa menatap lawan bicaranya.


"Seperti yang sudah saya sampaikan tadi, teman kamu harus di kuret agar rahimnya bersih" kata Siras, menatap penuh pada Aish yang masih belum bersuara.


"Saya bisa minta tolong sama abang?" tanya Aish dengan tatapan penuh permohonan pada Siras.


Ada pikiran licik dalam otak Siras, memanfaatkan keadaan yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Apapun akan saya lakukan untuk kamu, Aishyah" kata Siras masih dengan tatapan mendamba pada Aish.


"Bisa abang rahasiakan masalah Nindi? Perlakuan medis yang dibutuhkan, silahkan dilakukan. Tapi saya mohon sama abang, jangan beritahukan pada siapapun jika Nindi keguguran" kata Aish.


"Orang tuanya harus tahu, Aishyah" kata Siras.


"Tidak bang, jangan beritahukan orang tuanya juga. Bilang saja Nindi terkena lemparan bola dan harus ditangani lebih lanjut" kata Aish, masih ada cita-cita yang Nindi harus capai.


Dan Aish akan berusaha membantu Nindi dengan merahasiakan kecelakaan yang sedang Nindi alami.


"Tapi orang tuanya harus tahu. Akan sangat berbahaya jika terjadi sesuatu pada Nindi, tanpa sepengetahuan orang tuanya. Dan kami sebagai dokter yang akan mendapat sangsi karena keteledoran ini" kata Siras yang tidak mau ambil resiko.


"Saya mohon, bang. Tidak masalah kalau saya harus membantu menanggung biaya pengobatan Nindi, tapi abang harus janji sama saya untuk merahasiakan apa yang sedang Nindi alami".


"Nindi masih harus ujian nasional, bang. Dia juga masih ingin menjadi mahasiswi, cita-cita kami masih panjang. Saya mohon abang mau mempertimbangkan untuk tetap merahasiakan ini semua".


"Saya mohon sama bang dokter, tolong rahasiakan semua ini ya, bang" kata Aish memelas, dia bahkan menangkupkan kedua tangannya di dada untuk memohon pada Siras.


Tentu Siras merasa kasihan pada Aish yang seperti ini, "Saya tidak salah untuk tetap menaruh hati padamu, Aishyah. Kamu gadis yang sangat baik dan perduli pada orang lain" gumam Siras dalam hatinya.


"Baiklah, saya akan rahasiakan semuanya. Nanti akan saya bicarakan lagi dengan dokter kandungannya. Tapi, ada satu permintaan dari saya" kata Siras.


Memang tak ada yang gratis di dunia ini, semuanya saling terkait dan perlu imbalan.


"Abang sedang memanfaatkan situasi" kata Aish yang harus mengikuti permainan Siras.


"Ya, bisa dibilang begitu, Aishyah. Dan saya tidak meminta sesuatu yang sulit darimu, demi keamanan rahasia teman kamu itu" kata Siras memberi pertimbangan pada Aish.


"Abang mau apa?" tanya Aish dengan berat hati.


"Hanya sebuah makan malam yang berkesan. Hanya saya dan kamu, kita akan melakukan candle light dinner yang romantis" kata Siras dengan senyum menyeringai.


Aish mendecak, pria di hadapannya ini memang tak tahu malu.


"Abang kekurangan stok wanita, ya? Pasti banyak wanita yang mau sama abang, yang selalu caper sama abang. Kenapa harus meminta hal seperti itu pada saya sih bang?" keluh Aish, ingin menolak tapi tak mungkin.


"Hanya satu kali saja, Aishyah. Dan setelah itu, saya tidak akan mengganggu kamu lagi" kata Siras.


Tapi hatinya tentu berkata lain, setelah permintaan itu, pasti akan ada lagi permintaan lainnya dari Siras jika ada kesempatan.


"Baiklah, tapi nanti. Setelah saya selesai dengan ujian saya ya, bang. Sekarang saya mohon abang mau menangani Nindi dengan baik, dan tetap menjaga rahasia ini. Saya hanya ingin teman saya bisa mencapai keinginannya" kata Aish.


"Tentu, keselamatan pasien adalah hal utama bagi kami. Kamu bisa lihat di visi misi rumah sakit ini. Tapi untuk kerahasiaannya, semua bergantung pada keseriusan kamu untuk memenuhi satu permintaan saya tadi" kata Siras dengan senyum kemenangan.


"Iya, saya pasti menepati janji saya. Asalkan abang juga menepati janji abang" kata Aish.


"Tentu, kita saling bekerjasama" senyum Siras terukir indah di wajahnya, dia sangat bahagia.


"Baiklah, kalau sudah tidak ada yang perlu dibicarakan. Saya mau keluar, bang. Boleh saya temui Nindi?" tanya Aish.


"Boleh saja, tapi dia masih didalam UGD. Tadi saya lihat dia sudah siuman" kata Siras yang sudah berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.


"Saya permisi bang, Assalamualaikum" kebiasaan Aish masih sama, dan Siras masih merindukannya.


"Waalaikumsalam" kata Siras yang mengamati punggung Aish yang berjalan keluar dari ruang dokter.


Langkah Aish menuju brankar Nindi ditempatkan, terlihat dari kejauhan Nindi menangis dengan tidur yang miring.


"Nindi" sapa Aish dengan lirih, biarkanlah dia tenang dulu.


"Aishyah" kata Nindi yang mengeraskan suara tangisannya.


Aish mendekat, membantu Nindi yang kesulitan ingin duduk. Dan setelah Nindi berhasil duduk, dia memeluk Aish dengan tangisan yang semakin keras.


"Sudah ya, Nindi. Lo jangan nangis lagi" kata Aish sambil menepuk pelan punggung Nindi yang sedang dipeluknya.


"Aku malu, Aish. Aku takut nanti dikeluarkan dari sekolah" suara lirih Nindi terhalang oleh tangisannya.


Sebenarnya Aish ingin sekali bertanya lebih lanjut, tapi ditahannya karena melihat kondisi Nindi yang memprihatinkan.


Aish masih membiarkan Nindi merasa lega dengan menangis di pelukannya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2