
"Lo setuju nggak sih kalau princess pacaran sama Richard?" tanya Falen, dia dan Hendra sedang menuju ke rumah Seno.
"Dari awal gue nggak suka sama Richard, tapi untuk melarang Aish pacaran sama dia kan juga bukan hak kita. Biarlah dia merasa bahagia, sebelum dia tahu masalah besar yang akan menimpanya" kata Hendra.
"Maksud lo, tentang mayat itu? Lo yakin banget kalau dia itu kakaknya Aish ya?" tanya Falen.
"Dari gambaran yang gue dapat sih begitu. Semoga saja salah" jawab Hendra.
"Pokoknya hari ini juga kita harus dapat sample dari Aish untuk bisa dicocokkan dengan mayat itu. Bagaimanapun caranya" kata Falen.
"Iya, kalau darah kan nggak mungkin, lo tahu sendiri kan kalau Aish itu takut sama darah. Jadi, setidaknya kita harus dapatkan rambut atau kukunya" kata Hendra.
"Iya, lo benar. Kita coba sama-sama ya nanti" kata Falen.
Setelah cukup lama berkendara, dan mereka sudah berhasil membawa Seno dan mommynya. Kini giliran Aish yang harus mereka jemput.
"Jadi, Aish nungguin di dapan gangnya ya?" tanya mommy Seno.
"Iya, mom. Tadi sudah mengabari begitu" kata Seno.
"Itu dia tuh" kata Mommy. Mobil Seno menepi untuk menjemput Aish.
"Assalamualaikum mom" kata Aish menyalimi mommy Seno dan duduk di sebelahnya. Hendra dan Falen duduk di belakang, sedangkan Seno duduk disamping lainnya dari sang momny.
"Sudah lama nunggunya?" tanya mommy.
"Enggak kok, baru saja Aish sampai di gang terus kalian datang" kata Aish.
"Mommy dengar, kamu sudah punya pacar ya princess?" tanya mommy sambil mencubit hidung Aish.
"Aduh, sakit mom" kata Aish memegangi hidungnya yang sedikit memerah.
"Pasti Seno nih yang ngadu ya?" tanya Aish sambil mencubit paha Seno.
"Aduh, sakit princess. Maaf ya, gue nggak bisa kalau nggak cerita tentang apapun sama Mommy" kata Seno sambil mengangkat dua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah untuk menawarkan perdamaian.
Aish menampilkan cengir kudanya di hadapan mommy Seno. Sungguh wanita ini sangat dekat dengan semua sahabat Seno. Mereka biasa berbagi cerita bersama.
"Meskipun kamu sudah pacaran, yang penting kamu harus tetap utamakan belajar kamu ya sayang. Kamu harus ingat kalau kamu harus tetap mengejar beasiswa kamu. Buktikan kalau kamu bisa membagi waktu dengan baik. Jangan mikirin pacar melulu" kata mommy menasehati Aish.
"Iya, mom. Makasih ya sudah mau menasehati Aish. Pokoknya Aish janji akan tetap mengutamakan belajar" kata Aish mantap.
"Iya, memang seharusnya begitu" kata mommy Seno mengusap sayang kepala Aishyah.
"Oh iya, kemarin waktu di atas panggung, lo bisik-bisik apa sih sama Richard?" tanya Falen dari belakang.
"Itu rahasia dong bule. Malu gue kalau harus bilang-bilang" kata Aish.
"Cg, lo mah gitu princess. Males lah gue" kata Falen sok ngambek.
"Ini mau jalan kemana mom?" tanya Aish, berharap mereka tidak membahas lagi tentang masalah pacarnya.
"Kita mau ke puncak, makanya harus jalan pagi-pagi. Soalnya kalau agak siangan pasti macet" kata mommy.
"Lo istirahat saja kalau capek, nanti kalau sudah sampai kan dibangunin" kata Seno.
Aish mengangguk, dia menoleh ke jok belakang. Tempat dimana Falen dan Hendra duduk. Mereka berdua sudah tertidur rupanya.
"Yah, malah mereka yang tidur duluan" kata Aish.
"Eh Sen, lo ngerasa nggak sih kalau akhir-akhir ini tuh Falen sama Hendra sering jalan berdua doang" kata Aish.
"Sepertinya begitu. Mungkin mereka lagi ngincer cewek, siapa tahu" jawab Seno sambil mengendikkan bahu.
"Mungkin juga" kata Aish berusaha berpikir positif. Seno sedang asyik menghafalkan scriptnya, mommy terlihat sibuk dengan tabnya, mungkin sedang menyusun jadwal Seno.
Aish memilih memandang keluar jendela, dia sedang mengingat-ingat momen kebersamaannya dengan Richard selama ini. Cowok itu selalu datang tepat waktu disaat dia dalam masalah.
Seingatnya, Richard yang menolongnya saat dibully kak Dewi, dia juga yang menolong saat dipalak. Lalu dia juga yang mengganti ponselnya dulu, meskipun itu memang kesalahan dari Richard sendiri.
Lelah dengan pikirannya, Aishpun tertidur. Menyusul kedua temannya menuju ke alam mimpi.
"Aish, bangun" terdengar suara mommy yang menggoyangkan bahu Aish perlahan.
Aish membuka mata, pandangannya menelisik sekitar. Dia masih didalam mobil Seno.
"Oh, sudah sampai ya mom?" tanya Aish berusaha membuka matanya dengan sempurna.
"Iya sayang, ayo kita turun" kata mommy.
Rombongan Seno yang baru datang disambut dengan sangat baik oleh semua kru. Mereka sangat welcome pada semua orang.
Seno sedang bersiap-siap, dia sedikit di make over agar ketampanannya makin terlihat. Mommy sedang berbicara serius dengan seseorang.
Aish, Falen dan Hendra telah dipersilahkan duduk di tempat yang disediakan. Dari tempatnya duduk, nantinya mereka bisa melihat Seno yang akan beradu akting dengan lawan mainnya.
__ADS_1
"Gimana kabar lo sama pacar baru lo?" tanya Hendra setelah meminum air yang disediakan.
"Richard maksud lo? Baik kok, kita baik-baik saja" jawab Aish, dia sedang memainkan ponsel barunya. Mencoba fitur-fitur baru disana.
"Uwah, hape lo baru ya princess?" tanya Falen merebut ponsel Aish.
"Ih, Falen main rebut. Balikin sini" kata Aish yang hapenya sedang disidak oleh Falen.
"Pinjam sebentar" kata Falen. Aish membiarkan Falen mengutak-atik ponselnya.
"Mau lihat apaan sih?" tanya Aish.
"Kali aja ada foto lo lagi berduaan sama Richard" kata Falen.
"Nggak ada kok. Bahkan gue belum ketemu dari kemarin setelah pulang sekolah, cuma telpon doang sebentar" kata Aish.
"Nggak seru banget. Nih gue balikin" kata Falen memberikan ponsel pada Aish.
"Ya ampun princess. Kuku lo panjang banget sih. Jijik gue lihatnya" kata Falen.
"Iya, seminggu belum gue potong. Rencananya nanti pulang dari sini mau gue potongin kukunya. Yang penting kan bersih meskipun panjang" kata Aish manyun.
"Mana siniin, gue potongin kuku lo" kata Hendra yang telah membawa pemotong kuku, rupanya dia telah menyiapkannya.
"Nggak usah, apaan sih kalian ini. Tapi boleh deh gue pinjam, biar gue potong sendiri" kata Aish.
"Biar gue potongin. Lo kan princess kesayangan kita. Karena lo baru punya pacar, biar hari ini kita layani lo bagaikan putri raja" kata Falen yang telah berlutut dihadapan Aish dan memegang tangannya. Dia sudah bersiap memotong kuku Aish.
"Lebay banget sih kalian ini. Sini deh pemotong kukunya, gue bisa sendiri. Gue malu dilihatin sama orang, bule" kata Aish yang masih berusaha merebut pemotong kuku dari tangan Falen.
"Sudah lo diam saja deh, bisa-bisa gue salah motong jari lo" kata Falen memulai memotong satu per satu kuku Aish dengan hati-hati.
"By the way, gue penasaran banget deh sama apa yang lo bisikin ke Richard kemarin. Kasih tahu gue dong princess" kata Falen memelas, dia lagi kepo banget.
"Ada deh, lo tuh mau tahu aja" kata Aish.
"Ayo dong kasih tahu kita princess" kata Falen, sementara Aish malah diam saja.
"Princess, ayo dong kasih tahu. Princess" kata Falen.
"Hmmmm" kata Aish masih enggan bicara
"Princess, ayo dong kasih tahu gue" kata Falen.
"Hmmm" Aish masih berdehem saja.
"Hahahaha, kok jadi Annisa sih" kata Aish.
"Makanya kasih tahu gue" kata Falen.
"Tapi lo jangan tertawa ya, janji loh" kata Aish.
"Iya, buruan" kata Falen.
"Gue bilang sama Richard, jangan nyoba adegan dewasa ya kalau sama gue. Sudah, gitu doang kok" Aish memberitahukan pada Falen.
"Hahahahaha" Falen dan Hendra malah tertawa keras, hingga orang disekitarnya melihat ke arah mereka.
"Gue kan sudah bilang jangan tertawa bule. Males gue sama lo, sini gue potong kuku sendiri" kata Aish berusaha mengambil pemotong kuku dari tangan Falen.
"Iya, sorry. Gue lanjutin deh" kata Falen kembali memotong kuku Aish.
Dia memotong kuku Aish dengan hati-hati, sementara Hendra memunguti potongan kuku Aish dan memasukkan ke dalam plastik kecil. Hendra beralasan agar lebih mudah membersihkannya.
Untung saja Aish percaya pada kelakuan absurd sahabatnya hari ini. Jadi, Hendra dan Falen bisa melakukan misinya dengan mudah. Mereka sudah mendapatkan sample kuku Aish.
★★★★★
"Ini sample kuku Aish bang" kata Hendra menyerahkan potongan kuku Aish pada Fian.
Sepulang dari acaranya dengan Seno hari ini, mereka berdua langsung ke kantor polisi untuk menyerahkan sample kuku Aish pada Fian.
"Kerja yang bagus. Nanti segera akan saya serahkan pada Retno. Setelah hasilnya keluar, kalian akan langsung kami kabari" kata Fian.
"Terimakasih bang. Abang bisa mengabari kami bulan depan saja, karena bulan ini kami akan ujian semester. Jadi kami masih mau fokus ke pelajaran sekolah" kata Falen.
"Ok, kalian fokus dulu ke ujian kalian ya. Biar semua ini akan saya selidiki. Bulan depan jika hasil tes dna itu sudah keluar, pasti akan langsung saya kabarkan" kata Fian.
"Terimakasih bang, kalau begitu kami permisi dulu" kata Hendra.
"Iya, kalian hati-hati ya" kata Fian membiarkan kedua anak itu pergi.
★★★★★
Tin... Tin...
__ADS_1
Suara klakson dari sebuah mobil membuat beberapa orang yang sedang menunggu angkot menoleh ke arahnya. "Ayo masuk" rupanya Richard yang menyuruh Aish yang sedang menunggu angkot untuk segera masuk ke mobilnya.
"Tumben" kata Aish setelah duduk dengan tenang.
"Gue mau jemput pacar gue dong" kata Richard yang sukses membuat Aish malu.
"Nggak usah sok imut mukanya" kata Aish tersenyum.
"Lo sudah sarapan?" tanya Aish, Richard hanya mengangguk.
"Minggu depan ujian semester, lo sudah siap-siap buat belajar kan?" tanya Aish.
"Nggak sempat gue buat belajar" kata Richard.
"Nggak naik baru tahu rasa. Lo jadi adik kelas gue kalau nggak naik. Memalukan" kata Aish.
"Jadi lo malu pacaran sama gue?" tanya Richard dengan pandangan fokus ke depan.
"Jelas malu lah gue kalau lo jadi adik kelas gue" kata Aish.
"Makanya, lo ajarin gue ya" kata Richard.
"Ehm.... Boleh deh, tiap pulang sekolah ya. Karena jam ujian cuma sebentar, jadi kita bisa belajar dulu. Hari Minggu kita mulai belajar ya, kan ujiannya baru dimulai hari Senin" kata Aish.
"Iya, gue setuju" kata Richard.
"Oh iya, hubungan lo sama Yopi bagaimana? Apa masih berantem?" tanya Aish.
"Enggak, mereka berdua bahkan sudah jadian juga. Dan gue biasa saja" jawab Richard.
Aish hanya manggut-manggut, sekarang dia lebih fokus melihat keluar jendela. Menikmati pemandangan lalu lintas pagi ini.
Seiring berjalannya waktu, tak terasa pergantian hari telah mencapai di ujung minggu. Setiap hari Richard mengantar jemput Aish saat ke sekolah.
Kecuali di hari Sabtu, keduanya memiliki kesibukan yang berbeda. Richard hanya bisa mengantar Aish untuk ekskul, dan pulangnya bersama Hendra. Richard harus latihan musik dan basket. Dia sangat hobi pada dua hal itu.
Aish sedang mencuci baju di Minggu pagi ini, rutinitas mingguan yang harus dilakukan.
"Is, ada Richard di depan" kata bunda. Masih jam delapan pagi saat Richard datang ke rumahnya, membuat Aish menghentikan sejenak kegiatannya untuk menemui tamu istimewanya itu.
"Pagi banget?" tanya Aish saat mendapati Richard sudah duduk di ruang tamu.
"Lo lupa kalau kita mau belajar bareng?" tanya Richard.
"Oh, iya. Gue lupa, sebentar gue nyuci dulu ya, abis itu mandi. Sebentar doang kok, lo tunggu disini nggak apa-apa ya?" tanya Aish, dia benar-benar melupakannya.
"Iya" jawab Richard singkat. Dia sudah menduganya saat melihat Aish datang dengan pakaian sedikit basah.
Secepat kilat Aish menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera menepati janjinya pada Richard.
"Buru-buru banget mau kemana is?" tanya bunda saat melihat Aish sudah rapi.
"Mau belajar bareng bun, besok kan ujian semester" kata Aish.
"Oh iya, besok ya. Yasudah, kamu belajar yang benar ya. Jangan kecewain bunda pokoknya" kata bunda yang kini tengah membuat pola baju.
"Insyaallah Bun, doakan Aish bisa tetap mendapatkan beasiswanya ya bun" kata Aish.
"Pasti bunda doakan yang terbaik buat kamu is. Memangnya kamu mau belajar dimana?" tanya bunda.
"Di rumah teman bun. Aish sama Richard langsung berangkat ya bun" kata Aish.
"Iya, hati-hati. Salam buat Richard ya, bilang bunda lagi sibuk" kata bunda.
"Bunda mah sok sibuk" kata Aish menggoda sang bunda sebelum berangkat, tapi tetap dia menyalimi sang bunda.
"Ayo berangkat" kata Aish yang sudah mempersiapkan buku-bukunya di dalam tas ransel yang kini dia kenakan.
"Ayo, bunda lo mana?" tanya Richard setelah mengamati penampilan sederhana Aishyah. Gamis berwarna soft blue membuatnya nampak anggun meskipun tanpa polesan make up.
"Bunda lagi sibuk, tadi nitip salam buat lo" kata Aish.
"Oh, ok. Kita ke rumah gue ya sekarang" kata Richard yang mendapat anggukan dari Aish.
Mereka berjalan bersama menuju mobil untuk berkendara beberapa saat agar bisa sampai dirumah Richard.
"Orang tua lo ngijinin gue ke rumah lo?" tanya Aish.
"Waktu gue bangun sih mereka nggak kelihatan. Gue juga nggak tahu mereka dirumah atau enggak. Diijinin atau enggakpun gue tetap mau lo yang nemenin gue belajar" kata Richard.
Aish terdiam setelah mendengar ucapan Richard. Diperjalanan, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Hingga Richard membelokkan setirnya menuju ke suatu rumah mewah, Aish kagum melihat bangunan yang tinggi menjulang di hadapannya.
.
__ADS_1
.
.