
"Bisa lepas gibsnya kapan, Dok?" tanya Richard saat menemani Aish kontrol dan terapi.
"Kalau dilihat dari perkembangannya, bagus. Mungkin dua minggu lagi sudah bisa lepas gibsnya. Tapi pasti masih belum bisa berjalan dengan normal. Masih perlu bantuan tongkat penyangga" kata Dokter Gunawan, dokter yang Siras rekomendasikan waktu itu.
"Mendingan pakai tongkat sih, dokter. Kalau pakai kursi roda sangat tidak bebas bergerak" kata Aish yang masih mendapatkan serangkaian pemeriksaan.
"Selama masih dalam kondisi seperti ini, lebih baik lo turuti dulu ya kata dokternya. Biar cepat sembuh, Ra" kata Richard.
Aish mengangguk, dia harus bersabar kali ini. Richard selalu setia menemani Aish.
Sudah selesai, pemeriksaan dokter kali ini tidak lebih dari satu jam. Kembali beberapa macam obat harus ditebus.
Richard mendorong Aish menuju apotik rumah sakit. Gesekan kursi roda terdengar nyaring di sepinya lorong.
Aish sampai mendongakkan kepalanya pada Richard, takut-takut kalau bunyi itu mengganggu.
"Kenapa?" tanya Richard heran.
"Nyaring banget bunyinya" kata Aish kembali menunduk.
"Nggak apa-apa, nggak ada orang lain juga. Makanya, lain kali tuh kalau dikasih tahu nurut. Lo nakal banget, sih" kata Richard.
Aish sedikit berpikir, memang akhir-akhir ini apa yang Richard larang untuknya, pasti akan berakibat buruk.
"Lo kalau ngomong yang baik-baik saja ya mulai saat ini" kata Aish.
"Maksudnya?" tanya Richard.
"Ya gue rasa, tiap lo ngelarang atau bilang sesuatu yang buruk, pasti kejadian lho, Richard. Gue pikir, kalau lo bilang yang bagus-bagus kan jatuhnya juga bagus" kata Aish.
"Misalnya?" tanya Richard lagi.
"Misalnya, gue bisa nemu uang semilyar. Hehehehe, siapa tahu beneran nemu" kata Aish berandai-andai.
"Kalau mau uang semilyar ya kerja, Ra. Nggak ada orang yang bawa uang segitu dalam bentuk cash. Lo ada-ada saja" kata Richard yang malah menanggapi dengan serius.
Sangat berbeda dengan Romeo, yang selalu santai dalam menyikapi banyak hal.
"Eh, kok gue jadi membandingkan mereka berdua, sih. Nggak boleh Aish, Richard tuh yang terbaik buat lo. Jadi, harus diterima segala kebaikan dan keburukannya" dalam hati Aish merutuki diri sendiri.
Aish memandangi Richard yang memang sifatnya sangat cuek dan irit bicara. Tapi dibalik itu semua, Aish juga menyadari jika rasa sayangnya juga sebesar rasa cueknya.
"Tunggu disini ya, gue tebus obatnya dulu. Ingat, jangan kemana-mana" kata Richard.
Aish tertawa, "Lo kira gue anak kecil, suka lari-lari kalau disuruh nunggu" katanya.
"Yakali, lo kan susah banget dikasih tahu" kata Richard meninggalkan Aish yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Richard, kamu ngapain disini?" terlihat seorang gadis mendatangi Richard dan langsung bergelayut manja dilengannya.
Mendengar seseorang memanggil nama Richard, pandangan Aish yang tadinya fokus pada ponsel, kini ikut mencari arah suara.
Terlihat jelas didepan matanya, seorang gadis cantik dengan rambut di curly di bagian bawahnya. Dengan pakaian kekinian yang terlihat sangat modis.
Gadis itu memegang lengan Richard dengan manjanya. Senyumannya terlihat bahagia.
"Lepasin, ngapain lo disini?" masih dengan gaya yang sok cool, Richard mengibaskan pegangan tangan gadis itu pada lengannya.
Aish masih mengamati kejadian itu.
"Aku kangen loh sama kamu. Maafin kejadian yang dulu ya, aku yakin kamu masih ada perasaan sama aku" kata gadis itu.
"Lepas, jijik gue sama lo" kata Richard yang sudah mendapatkan obat Aish. Lalu meninggalkan gadis itu dan menghampiri Aish.
"Oh, jadi sekarang selera kamu gadis cacat kayak gini? Nggak ada apa-apanya kali dia dibandingkan sama aku" kata gadis itu dengan sengaja meledek Aish.
Aish hanya bisa menghela napas, "pasti hanya bagian dari masa lalu Richard" kata Aish dalam hati. Tanpa mau menanggapi ucapannya. Memang Aish kalah modis dan seksi dibandingkan gadis itu.
Richard kembali mendorong kursi roda tanpa memperdulikan gadis itu. Tapi malah dicegahnya.
"Perasaan aku masih tetap sama kamu, Richard. Maafin aku kalau sikapku dulu bikin kamu marah. Tapi semua itu aku lakukan karena perasaan aku memang cuma buat kamu saja. Tolong ngertiin aku, Richard. Hiks... Hiks..." gadis itu malah menangis didepan banyak orang.
"Dia nangis, Richard" kata Aish terbengong dengan kelakuan mantan Richard yang frontal itu.
"Biarin" masih dengan cueknya, Richard tetap mendorong Aish, ingin pergi.
"Huuu... huuu ...huuu..." Tangisan gadis itu semakin keras.
Seorang perawat dan seorang ibu-ibu datang menghampirinya, Aish memilih berhenti sebentar untuk melihat kejadian itu.
"Kenapa nak, kenapa kamu malah menangis disini?" tanya ibu itu menenangkan anaknya.
"Ayo saya bantu kembali ke kamar mbak Franda, ya" kata perawat.
Aish menoleh ke arah Richard saat mendengar perawat menyebutkan nama gadis itu.
Richard hanya terdiam, dia tahu Aish ingin mendengar penjelasan darinya.
"Nak Richard, ternyata memang ada kamu disini" kata ibu dari gadis yang sedang menangis itu.
Ibu itu menghampiri Richard, "Ibu mohon nak, maafkanlah Franda. Kamu lihat keadaannya sekarang? Kejiwaannya terganggu saat kamu meninggalkannya" ibu itu ikut menangis.
"Bukan urusan saya, bu" kata Richard dengan teganya. Meninggalkan ibu dan anak yang sama-sama menangisinya.
__ADS_1
Aish hanya bisa diam, tak berani berbuat apapun. Takut Richard marah.
Sampai di dalam mobilnya, Richard masih saja terdiam. Aish memandangnya dengan intens. Berharap Richard mau sedikit bercerita.
"Kenapa sih?" tanya Richard yang terus dilihat oleh Aish, dia merasa terganggu.
"Nggak mau gitu cerita tentang gadis yang barusan?" tanya Aish.
"Anggap saja Fans gue" kata Richard, rupanya dia tak mau membagi kisah tentang Franda pada Aish. Takut salah paham.
"Huft, terserah lo deh" pasrah Aish. Awas saja kalau ada kesempatan, dia akan mencari tahu sendiri.
Keduanya terdiam, Aish ngambek. Sementara Richard memang dasarnya lebih suka diam.
Suasana hening masih tercipta sampai mobil sudah memasuki pelataran rumah Richard.
Mendengat siara mobil memasuki halaman, Romeo segera keluar rumah untuk menyambut kedua adiknya yang baru tiba.
"Hai, cantik. Apa kabar lo hari ini?" tanya Romeo membuka pintu mobil. Sementara Richard masih akan mematikan mesinnya.
Aish tersenyum, "Gue selalu baik-baik saja, kak" kata Aish.
Richard tidak suka melihat kedekatan Romeo dan Aish.
Keluar dari mobilnya, Richard mengambil kursi roda di kok belakang. Dan meletakkan di belakang Romeo.
"Minggir, lo" kata Richard dengan sengaja menarik tangan Romeo.
"Tenang dong, pasti minggir kok gue" kata Romeo dengan tampang masam.
Richard menurunkan Aish, setelah memastikan dia duduk dengan nyaman. Dia mendorong kursi roda memasuki ruang tamu.
"Bik, bantu Aish bersih-bersih ya" perintah Richard pada Widya.
"Iya, den" kata Widya.
"Ra, gue langsung ke cafe ya. Sudah ditungguin sama kak Willy. Lo kalau makan, minta diantar ke kamar lo saja ya" kata Richard yang sebenarnya tidak suka meninggalkan Aish dengan Romeo saja.
"Iya" kata Aish yang sudah dibantu Widya menuju lantai dua.
Romeo masih diam ditempatnya, membiarkan Richard pergi dulu. Baru nanti dia akan menghampiri adik iparnya saat Richard sudah pergi.
"Awas lo macem-macem sama pacar gue" ancam Richard pada kakaknya.
Romeo bertampang sok takut, membiarkan Richard pergi.
Sudah setengah tujuh malam, Romeo belum juga melihat Aish keluar kamarnya. Sementara Widya sudah pergi daritadi.
Romeo mengetuk pintu kamar Aish, akan menyambangi sang adik.
"Lo nggak bosen dirumah terus?" tanya Romeo.
"Ehm, bosan sih. Tapi Richard kan lagi diluar kak, keadaan gue sendiri kayak gini. Nggak bisa kemana-mana gue" kata Aish menyesali keadaannya.
"Pergi sama gue yuk. Mau nggak? Kita cari makan diluar?" ajak Romeo.
Senyum Aish mengembang, "Gue izin sama Richard dulu ya, kak" kata Aish.
"Jangan, pasti tuh bongkahan es batu nggak bakalan ngijinin lo keluar. Apalagi sama gue. Sudah, lo tinggalin saja hape lo di kamar. Kita jalan sekarang, ya?" ajak Romeo.
"Boleh deh. Tapi masih ada tugas di hape gue kak. Gua bawa saja deh hapenya" kata Aish.
"Terserah. Mau ganti baju dulu nih?" tanya Romeo.
Aish mengamati penampilannya, cukup sopan. Lagi nggak pakai piyama tidur juga.
"Gini saja deh. Yuk berangkat" kata Aish keluar dari kamarnya.
Romeo dengan senang hati mendorong kursi roda Aish. Dia akan mengajak Aish makan di mall. Sambil cuci mata, sudah lama juga dia tidak jalan-jalan di kota ini. Rindu juga mengenang masa lalunya.
★★★★★
"Apaan nih Yop?" tanya Reno yang menemukan bungkusan berisi benda aneh di dalam tas Yopi.
"Lancang banget sih lo. Ngapain buka tas gue. Resek banget" kata Yopi yang masih fokus dengan pekerjaan rumahnya.
"Gue nyari harta karun. Nemu benda aneh kayak gini" Reno memandang jijik pada bungkusan kresek yang dikeluarkannya dari dalam tas Yopi.
"Itu kedelai rebus. Enak itu, coba deh lo makan" kata Yopi setelah melirik sekilas pada Reno.
"Masak sih? Cara makannya gimana?" tanya Reno.
Yopi mengambil kresek itu, memetik satu buah kedelai utuh. Bentuknya seperti asam jawa yang belum dibuka, tapi ukurannya lebih kecil dan berbulu halus.
Setelah membukanya, Yopi mengambil biji didalamnya dam mulai mengunyah. Rasanya seperti saat memakan tempe mentah. Tapi ada sensasi berbeda.
"Kok gue jijik sih, Yop" kata Reno.
"Coba dulu, baru komentar. Tadinya gue juga ngerasa gitu. Tapi ternyata enak ini. Ketagihan lo nanti" kata Yopi yang mulai mengupas lagi, dan lagi.
Reno mengikuti Yopi, merasakan biji kedelai rebus memasuki mulutnya.
"Enak juga, rasanya aneh" kata Reno, tapi dengan mulut yang masih mengunyah.
__ADS_1
Richard datang dengan tampang masam, langsung saja duduk diantara kedua sahabatnya.
"Berantem pasti nih orang" kata Reno.
"Atau malah sudah cerai sebelum nikah" kata Yopi.
"Hahahaha .... duda tapi perjaka. Atau perjaka yang sudah menduda" kata Reno menertawakan Richard.
"Sialan".
"Tadi gue ketemu Franda" kata Richard.
"Uwah, masih berani tuh anak nongol di depan muka lo?" tanya Reno, mulai merasa kepo.
"Dia stress, sakit jiwa" kata Richard berbicara jujur.
"Memang dari dulu kan dia sakit jiwa karena lo, ganteng" kata Reno.
"Gue serius, bego. Tuh anak beneran sakit jiwa. Gue ketemu dia di rumah sakit waktu gue nganterin Aish kontrol tadi sore" kata Richard.
"Uwah, keren. Lo bikin anak orang sakit jiwa" kata Reno dengan mata berbinar.
Richard mengeplak kepala Reno, meski tidak keras, tapi pasti terasa sakit.
"Terus?" tanya Yopi, sementara Reno kesakitan.
"Gue tinggalin dirumah sakit lah, memangnya mau gimana lagi. Si Aish nanya terus, males banget gue kalau dia sudah kepo begitu. Ujung-ujungnya pasti berantem" keluh Richard.
"Ya kalau ditanya tuh dijawab, biar nggak tambah salah paham. Heran gue sama kalian berdua tuh, suka banget berantem" kata Yopi.
"Biarin saja, Yop. Bahagia gue kalau lihat mereka adu jotos. Baru kali ini kan lo lihat Richard kalah" kata Reno yang mendapat lirikan tajam dari Richard.
Willy datang disaat yang tepat, meleraikan perselisihan ketiga sahabat yang sedang menertawakan penderitaan adiknya.
"Hari ini harus sudah selesai ya rancangan untuk interiornya. Desainernya sudah angkat tangan sama kamu, Richard. Banyak sekali kamu itu maunya" baru datang, Willy sudah memulai perdebatan sengit dengan adiknya.
"Apaan sih kak? Wajar dong kalau gue mau yang terbaik" kata Richard yang sebenarnya tidak fokus dengan rapatnya kali ini.
Desainer interior itu sudah memunculkan ide ruangan yang Richard inginkan. Menampilkan ke layar proyektor agar bisa dilihat semua orang.
"Bagus sih menurut gue, perfect ini" komentar Reno.
"Iya, sudah bagus ini. Menurut lo gimana?" tanya Yopi.
"Iya, sudah bagus begitu. Setuju gue" kata Richard malas.
"Yakin kamu? Nanti minta dirombak lagi" Willy menegaskan.
"Iya yakin, begini sudah bagus" kata Richard yang berusaha fokus kali ini.
★★★★★
"Kok kita malah ke mall sih kak?" tanya Aish yang baru saja menuruni mobil.
Romeo sudah mendorong kursinya memasuki area mall.
"Kita makan di mall saja, dek. Sudah lama gue nggak main ke mall" kata Romeo yang masih semangat mendorong.
"Lo pengen beli apa? Sebagai kakak yang baik, gue bakalan turutin keinginan lo" kata Romeo.
"Gue nggak pingin apa-apa. Ehm, es krim boleh deh kak" kata Aish dengan senyuman.
"Boleh" Romeo semangat membawa Aish memasuki kedai es krim yang cukup terkenal di mall ini.
"Selamat datang, mau pesan apa kak?" tanya waitress yang datang menghampiri mereka.
"Saya mau es krim stroberi yang besar ya mbak, sama kue pie susu yang dikasih toping irisan stroberi juga" Aish memesan full stroberi. Sedang ingin sesuatu yang asem-asem manis.
"Gue es krim coklat deh mbak. Itu saja" kata Romeo.
"Baik, silahkan ditunggu" kata waitress itu meninggalkan meja Aish.
"Kak, boleh tanya sesuatu nggak?" kata Aish dengan tampang serius.
"Apaan sih dek? Serius banget mukanya?" tanya Romeo.
"Ehm... Kakak pernah tahu mantan pacarnya Richard yang namanya Franda?" tanya Aish. Rupanya dia masih penasaran dengan sosok itu.
"Franda? Ehm .. Bentar dek. Kayaknya pernah denger juga sih gue. Kenapa memangnya?" tanya Romeo.
"Nggak apa-apa sih kak. Penasaran aja" kata Aish.
"Gue sudah hampir dua tahun di Aussie, mantan-mantan gue sendiri saja gue banyak yang lupa, dek. Apalagi sama mantannya Richard" kata Romeo.
Aish memahami itu, memang hubungan keluarga mereka kan tidak begitu bagus sejak dulu.
"Eh, wait. I think, I remember about her" celetuk Romeo di keheningan mereka.
Aish segera mendongak, menatap Romeo dengan pandangan penuh tanya.
.
.
__ADS_1
.
.