Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Destinasi


__ADS_3

Apa yang paling tak terasa?


Apa yang paling tak bisa di pegang?


Apa yang paling tidak bisa di hentikan?


Ya, jawabannya adalah waktu.


Seakan hanyalah kenangan, Aish sudah ada di tingkat tertinggi pada pendidikan dasarnya. Dia sudah kelas dua belas.


"Ayo semangat yok" teriak Reno pada rekan-rekan kerjanya.


Besok adalah grand opening 'Destinasi' cafe and music studio.


Hobi yang dituangkan dalam bentuk usaha nyata oleh Richard, Yopi dan Reno.


Jangan lupakan gadis cantik yang kini sudah kembali bekerja, Aishyah. Bersama Ilham dan semuanya, dia juga sedang beres-beres tempat kerjanya untuk persiapan acara esok hari.


Di sela waktu luangnya, Aish menyempatkan diri untuk mengobrol dengan punggawanya di grup chatt khususnya. Yang hanya beranggotakan Princess Aishyah, Senopati, Mahendra dan juga Falentino


Melihat Aish senyum-senyum sendiri, Richard mendekat. Duduk di sisi kekasihnya.


"Lagi ngapain sih?" tanya Richard sedikit mengintip layar ponsel Aish.


"Ngasih tau teman-teman, besok gue suruh hadir disini. Terutama si Seno, dia kan lagi naik daun nih sekarang, jadi sekalian gue suruh promosikan di akun sosmednya gitu" Aish menjelaskan.


"Boleh kan mereka datang?" Aish sampai menatap intens pada Richard untuk menanyakannya, takutnya Richard melarang mereka hadir.


"Boleh dong, teman lo kan juga teman gue. Lo bebas ngundang siapapun" Richard tersenyum saat mengatakannya, tangannya terulur untuk menghapus keringat yang menetes di kening Aish.


"Lo jangan kecapekan dong, Ra. Kan ada lainnya juga yang bantuin. Lo nyantai saja bisa kan?" tanya Richard, dia kasihan melihat Aish yang terlalu semangat.


"Mana bisa begitu, dalam satu tim itu harus ada kerjasama yang baik dong. Kalau satu capek, ya semuanya harus capek juga" kata Aish, tangannya masih fokus berbalas pesan dengan punggawanya.


"Dek, ada papa tuh. Samperin yuk" Willy memisahkan dua sejoli itu.


"Hah? Ada orang tua lo tuh Richard. Ya ampun, penampilan gue kayak gini" Aish khawatir melihat tampilan dirinya sendiri.


"Nggak apa-apa, masih cantik kok. Yuk kesana" kata Richard.


"Bentar gue bikinin minum dulu ya. Lo temuin dulu saja, ehm... Gue bikinin minum apa?" tanya Aish, mendadak gugup.


"Bikinin kopi aja deh, sama teh hangat. Nggak usah grogi, Ra" senyum Richard berusaha menenangkan Aish yang terlihat agak gugup.


Richard beranjak ke tempat papa dan mamanya duduk, sementara Aish membuatkan mereka minum.


"Papa, mama. Tumben kesini?" tanya Richard.


"Mau lihat perkembangan cafe kamu, sekalian numpang minum" kata Papanya.


"Mana Aishyah?" mama Richard sampai celingukan mencari sosok yang sedang anaknya sayangi.


"Malam om, tante" Aish baru saja datang membawa senampan minuman dan kue favorit di cafe itu.


Setelah menata minuman di atas meja, Aish mengulurkan tangannya. Sepeti biasa, dia akan mencium punggung tangan orang yang lebih tua darinya.


"Kamu yang bantu Richard merintis usahanya ya, Will?" tanya papanya.


"Iya pa, aku cuma nggak mau kalau sampai dia ditipu saat mengawali usahanya" kata Willy sambil menyesap kopi yang Aish bawakan.


"Ayo duduk disini dong, Aishyah. Tante kan juga ingin ngobrol sama kamu" kata mama Richard.


"Oh, iya Tante" sedikit canggung, tapi Aish menuruti kemauan orang tua Richard.


Aish memakai seragam waiters, dengan jilbab bergo maryam berwarna khaki. Karena malam ini cafe sedang tutup, semua sedang mempersiapkan untuk acara besok. Jadi, Aish memakai hijab biasa, sesantai mungkin.


Mama Richard mengamati penampilannya, memandang sedikit kasihan sebenarnya. Dalam hati mamanya bersyukur karena Richard tidak salah pilih kali ini.


Meski jalannya nanti akan sedikit sulit, karena masalah keyakinan.


"Richard nyuruh kamu kerja keras ya? Sampai keringetan begitu?" tanya mama Richard.


"Nggak lah ma, dianya tuh yang nggak bisa diam. Daritadi sudah Richard suruh istirahat tapi nggak mau" kata Richard membela diri.


Selama ada waktu luang, papa dan mama Richard banyak menghabiskan waktu untuk melihat perkembangan anak-anaknya.


Bahkan, mereka berdua sempat mengajak Aish untuk berbincang-bincang tanpa sepengetahuan Richard.


Mereka hanya ingin tahu kepribadian Aish, yang ternyata disukai juga oleh kedua orang tua Richard.


Dibalik sikap kerasnya sang papa, ada mamanya yang selalu bisa mengendalikan. Persis seperti Richard dan Aish, si batu dan si air.


"Besok acaranya mulai jam berapa?" tanya papanya.


"Dari siang sih pa, jam makan siang gitu. Mumpung sekolah lagi libur. Jadi, ya agak panjang acaranya" kata Richard.


"Ada penggalangan dana juga lho, om. Bisa tuh besok sekalian om berpartisipasi di acara amalnya" kata Aish.

__ADS_1


"Oh, bagus itu. Besok saya suruh anak buah om untuk kesini ya di jam makan siang" kata papa Richard yang sedang mencicipi kue buatan chef cafe.


"Enak ini, rasa apa sih sebenarnya?" komentarnya.


"Itu base cakenya sih keju om, cuma krimnya ada rasa tiramisu gitu, nggak kemanisan kan om?" tanya Aish.


"Enggak sih, soalnya om suka manis. Nggak tahu kalau menurut mama, gimana?" tanya papa Richard, melirik istrinya yang juga sedang mencoba kue yang sama.


"Agak manis kalau kata mama sih, ada variasi rasa lainnya kan?" tanya mamanya.


"Ada kok tante, ada rasa stroberi, vanilla dan yang nggak suka manis ada rasa pandan. Kirimnya sesuai selera, tante" kata Aish menjelaskan.


Sebenarnya, dari pembicaraan itu kedua orang tua Richard juga sedikit ingin tahu seberapa besar pengetahuan Aish tentang menunya.


"Ada live music juga kan besok, Richard?" tanya papanya lagi.


"Ada pa, kita ngundang satu band terkenal kok buat launching" kata Richard.


Cafe ini cukup unik, tata letaknya tidak biasa.


Dari pintu masuk, si sebelah kanan ada panggung dengan alat musik yang lengkap. Posisinya agak tinggi, niatnya agar siapapun yang akan tampil akan bisa terlihat dari lantai dua.


Tapi tidak terlalu tinggi juga, karena di lantai dua sudah disediakan layar besar yang bisa melihat tampilan panggung.


Dan di sebelah kiri, ada lorong yang tembus ke studio musik. Lorong itu juga menyediakan spot foto yang keren, untuk pengunjung yang suka berfoto.


Di lantai dua dikhususkan untuk mereka yang ingin suasana lebih tenang, sekelas VIP lah. Beberapa tempat ada yang dipisahkan dengan kubikel.


Sedangkan di lantai tiga, dikhususkan untuk mereka yang ingin menyewa tempat khusus meeting.


Dan rooftop khusus Richard dan kawan-kawannya saja. Tidak untuk umum.


Kantornya ada di gedung sebelah, di lantai tiga bangunan studio musik. Karyawan cafe dan studio jadi satu disana.


Para pekerjanya secara khusus diinterview langsung oleh Willy.


"Oke, semoga acaranya lancar. Besok papa suruh karyawan papa kesini di jam makan siang" kata papa Richard.


"Dan ini sudah cukup malam, Richard. Segera selesaikan. beres-beresnya, dan suruh semuanya pulang, mereka juga butuh istirahat" kata mama Richard.


"Iya, ma" singkat saja jawaban Richard.


★★★★★


Meski di specialkan, Aish tak pernah malas untuk melakukan tugasnya.


Para undangan, rekan bisnis Willy dan papanya, juga beberapa undangan dari panti asuhan yang diundang untuk acara amal nanti juga datang.


"Sini, duduk dulu princess. Lo sibuk banget sih" Falen menarik tangan Aish yang kebetulan melewati meja mereka.


"Maaf ya teman-teman, daritadi belum bisa nemenin kalian" kata Aish yang masih membawa nampan di tangannya.


"Lo duduk dulu, istirahat ya. Banyak yang bantuin kok. Kita pulang saja kalau lo nggak ikut duduk disini" ancam Hendra yang hanya disambut saat datang, dan ditinggalkan hingga hampir satu jam, padahal sudah duduk ditempatnya.


"Iya, iya. Gue duduk" akhirnya Aish mengalah, sebenarnya dia capek juga.


"Nggak kerasa sudah kelas dua belas, ya. Gue pingin sekolah kayak dulu deh, waktu kita sama-sama" Seno berangan-angan, rindu dengan princessnya.


"Nanti kalau sudah lulus, kita kuliah sama-sama ya princess" kata Seno lagi.


"Bener tuh, lo mau ambil jurusan apa princess?" tanya Falen.


"Management Bisnis kayaknya, lebih banyak dibutuhkan sih menurut gue. Kalian gimana?" tanya Aish.


"Gue juga mau ambil jurusan itu, mama yang nyuruh" kata Hendra.


"Pokoknya gue ikut sama lo" kata Seno.


"Gue sendiri masih belum tahu, lihat nanti saja" komentar Falen.


Sebenarnya dalam hati, Falen ingin sekali menjadi pengacara. Dia ingin kuliah hukum.


Alunan musik masih terdengar, band terkenal sedang tampil diatas panggung.


"Hai, thank's ya sudah mau datang" Richard berkata dari belakang Aish, merangkul pacarnya dengan posesif.


Aish mendongak, melihat Richard yang menampilkan senyum. Dia jadi ikut tersenyum, bahagia karena Richard akhirnya mau berdamai dengan punggawanya.


"Kalau bukan princess yang undang sih, gue nggak mau datang" kata Seno, sudah berani sekarang dia pada Richard.


"Seno cuma bercanda kan, lo bisa saja deh" senyum canggung Aish mendengar ucapan Seno yang mengandung dendam.


Richard hanya mendecak, bukan saatnya untuk berperilaku buruk. Imagenya harus benar-benar bagus hari ini. Apalagi Seno adalah artis terkenal.


"Eh, boleh kan nanti Seno tampil?" tanya Aish.


"Boleh, nanti ada waktunya buat siapapun yang mau tampil" kata Richard.

__ADS_1


"Oke, sip. Nanti lo harus naik ke atas panggung ya, Seno. Permintaan khusus dari gue ini" kata Aish, masih dengan senyumnya yang selalu Seno rindukan.


"Buat lo, apapun gue lakukan princess" kata Seno, mulai berpikir akan menampilkan lagu apa.


"Gue kesana dulu ya, Ra. Lo disini saja sama teman-teman lo. Biar yang lainnya saja yang urus pesanan" kata Richard, Aish hanya mengangguk.


Sedangkan teman-temannya senang, karena bisa sedikit lebih lama dengan princessnya.


"Kita nanti nyanyi lagu apa ya?" tanya Seno sepeninggal Richard.


"Kok kita sih, kan cuma lo doang yang disuruh tampil, Senopati" kata Hendra sedikit tidak terima.


"Pokoknya gue maunya tampil sama kalian, nggak mau sendiri" kembali tampilan Seno seperti anak kecil kalau ada princessnya.


Aish selalu tertawa dengan tingkah Seno, paling kekanak-kanakan. Sangat berbeda jauh dengan tampilannya di TV.


"Mbak, meja disebelah sana tolong dibersihkan ya. Ada yang numpahin minuman, malah mbaknya enak-enakan disini" sebuah suara dari belakang Seno membuat keempat sekawan itu terdiam.


Tidak salah sebenarnya, memang Aish sedang memakai seragam waiters. Malah nampan juga masih ada di pangkuannya sejak tadi.


"Oh, iya mbak. Biar saya bereskan" Aish sudah berdiri dari tempatnya, tapi tentu dicegah oleh Falen.


"Kan ada yang lainnya, princess. Lo disini saja pokoknya" kata Falen.


"Nggak bisa dong mas, kalau orang lagi kerja tuh jangan digangguin" mbaknya berkata sewot.


"Please mbak, boleh ya princess gue yang satu ini biar disini saja. Mbak cari waiters yang lainnya, ya" tangan Seno menangkup di dada saat mengatakannya.


Dia berdiri menghadap mbak itu, tentu mbaknya kaget. Dia sampai berteriak histeris.


"Aahhhh.... Senopati" teriak mbak itu, sudah memeluk Seno kali ini, lupa kalau tadi sedang marah.


"Iya, sudah ya mbak. Saya lagi mau bersantai kali ini" kata Seno melepaskan pelukan mbak itu.


"Foto dulu ya" kata mbak itu, sudah mengeluarkan ponselnya untuk berfoto dengan Seno.


Sedikit bergaya, sesi foto dadakan sudah selesai. Mbak itu senyum senang, lupa akan kemarahannya.


"Jangan bilang-bilang kalau ada saya disini ya, mbak" kata Seno, berharap mbak itu tidak ember. Dia sedang ingin menikmati suasana.


"Iya, makasih ya mas Seno. Dih, saya senang sekali" kata mbak itu lagi.


"Gue tinggal sebentar ya, nanti gue balik kesini lagi kok" kata Aish.


"Dimana meja yang kotor, mbak?" Aish mengajak mbak itu menjauh.


Hanya sepuluh menit, Aish sudah kembali ke meja teman-temannya. Kali ini dia memakai jaket. Dia juga ingin bersama ketiga kawannya.


"Nah, gitu dong princess. Pakai jaket, biar nggak ada yang ganggu lagi" kata Seno.


"Iya, nih gue bawain kue" kata Aish menata makanan diatas meja.


"Terimakasih buat semuanya yang sudah mau datang, silahkan buat Neo band untuk istirahat" terdengar suara Mc membawakan acara.


"Untuk selanjutnya, kita kedatangan tamu special juga. Seorang artis yang lagi ngehits belakangan ini" suara riuh para undangan hilang, mereka penasaran dengan ucapan mc.


Seno sudah mempersiapkan diri, pasti yang dimaksud Mc adalah dirinya. Dia tersenyum, memberi kode pada kedua temannya untuk bersiap juga.


"Dengan tepuk tangan yang meriah, mari kita sambut seorang artis multi talenta, Senopati OW" teriak Mc, dan seperti dihipnotis, semuanya bertepuk tangan.


"Senopati, I Love You" sebuah teriakan terdengar familiar di telinga Aish.


Gadis itu celingukan mencari sumber suara, dan ketemu. Dia melihat Nindi berdiri di dekat lorong, bersama Yopi?


"Kita ke atas dulu ya, princess. Lo jangan kemana-mana, pokoknya duduk disini" perintah Seno sesaat sebelum beranjak menuju panggung.


"Iya, gue tungguin kalian disini. Semangat ya" kata Aish, heran juga karena Falen dan Hendra yang ikut naik.


Sepertinya mereka bertiga sudah berembug tadi saat Aish meninggalkannya mengambil jaket


Aish juga menuju ke arah Nindi saat Seno naik ke panggung.


"Kesini nggak ngabarin gue sih?" tanya Aish yang berhasil mendekati Nindi dan Yopi.


"Hehehe, maafin deh. Barusan nyampek kok, tadi dijemput sama Yopi. Untung saja nggak ketinggalan penampilannya Seno" masih dengan pandangan berbinar, Nindi menatap Seno yang sudah berdiri diatas panggung.


"Kita duduk disana yuk, Nin" Aish menarik tangan Nindi, meninggalkan Yopi sendiri.


"Dasar, cewek kalau sudah ketemu cewek" gumam Yopi yang ditinggal sendirian.


Mau tak mau, diapun mencari keberadaan Richard dan Reno.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2