
Selepas isyak, Aish berjalan kaki menyusuri trotoar untuk mengantarkan baju milik teman bundanya yang telah selesai dijahit.
Masih jam setengah sembilan malam, belum terlalu malam saat dia sudah selesai dengan transaksinya.
Ada taman di dekat gapura dimana Aish telah keluar dari sana. Taman kecil dengan tempat duduk menghadap jalan raya, ada beberapa penjual jajanan disana.
Aish membeli beberapa telur gulung dan es dua ribuan. Setelahnya, dia duduk di salah satu kursi sambil menikmati makanannya.
Akhirnya dia melakukan panggilan video bersama ketiga temannya. Mereka asyik mengobrol tentang latihan tadi sore. Sebenarnya, lebih mendengarkan Seno yang mengeluh capek, badannya sakit semua.
"Lo lagi dimana princess?" tanya Falen.
"Di taman, sambil makan telur gulung nih. Kalau dibawa pulang nanti bunda marah, makanya gue makan disini, hehehe" kata Aish.
"Gue suka tuh telur gulung, tapi biasanya dibikinin sama koki dirumah. Mommy ngelarang jajan diluar" kata Seno.
"Lo dengar nggak ada yang bertengkar?" tanya Aish sambil menoleh ke kanan dan kiri, tapi sepertinya keadaannya sudah tak seramai tadi, mungkin dia terlalu lama melakukan panggilan video dengan ketiga temannya hingga tak menyadari jika sudah malam.
"Lo lihat ada yang aneh nggak Hen? berasa merinding gue" kata Aish.
"Nggak ada kok, aman" jawab Hendra.
Bluk!!! tiba-tiba ada kaleng bekas minuman bersoda terlempar ke kepala Aish.
"Aduh!!! resek banget sih. Siapa coba buang sampah sembarangan gini" teriak Aish yang terkena lemparan sampah.
"Hahahaha. sial banget sih lo princess... Dikira tong sampah kali" tawa Falen hingga membuat gambarnya tidak fokus.
"Sialan banget sih, bentar ya, gue mau bikin perhitungan sama yang buang sampah sembarangan" kata Aish membawa sampah minuman itu, mencari sumber penyebabnya tanpa mematikan sambungan video dengan teman-temannya.
"Aku sudah bilang dari dulu, tidak pernah ada kata toleransi untuk para pengkhianat" bentak seorang pria pada wanita di depannya yang tengah menangis.
Aish mendengarnya, pertengkaran dua orang dewasa yang telah menyebabkan kepalanya menjadi korban sampah melayang. Gadis itu mengamati di jarak aman sambil bersembunyi di balik tanaman penghias taman.
"Kamu yang nggak pernah ngertiin aku, kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan kamu" kata si cewek sambil terus menangis.
"Uwaahh, jadi seperti ini kalau orang pacaran sedang marahan yaa?" tanya Aish dengan pelan pada temannya yang masih dalam panggilan video.
"Kampungan banget sih, masak mereka bertengkar di tempat umum. Pasti wajah mereka pas-pasan, sampai bikin ribut gitu. Terus berharap ada yang videoin, terus di viralin. Hadeeeehhh, basi" kata Falen.
__ADS_1
"Bentar gue lihat dulu" kata Aish melihat mereka lagi.
"Eh, enggak Fal. Cowoknya cakep banget tau, ceweknya juga cantik. Ngapain ya ribut?" tanya Aish.
Sedangkan kedua sejoli itu masih saling menyalahkan satu sama lainnya. Tidak ada yang mau mengalah.
"Lo denger nggak princess, kenapa mereka ribut?" tanya Seno.
"Kayaknya si cowok nggak terima kalau ceweknya berkhianat, terus nyalahin ceweknya gitu. Tapi ceweknya juga nggak terima kalau disalahin terus, katanya cowoknya terlalu sibuk" kata Aish menjelaskan masih dengan suara yang dipelankan.
"Aku jagain kamu dengan sepenuh hati, nggak pernah aku lakuin hal yang kelewat batas sama kamu. Karena apa? Karena aku serius cinta sama kamu. Aku ingin semua kita lakukan saat kita menjadi pasangan yang halal. Tapi kamu khianatin aku, siapa orang yang sudah melakukan itu sama kamu sampai kamu hamil?" kata si cowok dengan bentakan pada si cewek yang terus menangis tersedu-sedu, Aish mendengarkan semuanya dengan sangat jelas.
"Memangnya cewek itu melakukan hal sampai sangat jauh seperti itu ya teman-teman? Kan dia jadi hamil" tanya Aish pada temannya.
"Enggak princess, ceweknya cuma main hide and seek. Terus ketahuan sembunyi ditempat gelap sama cowoknya, jadi cowoknya marah karena si cewek main nggak ajak-ajak" kata Falen gemas.
"Hahahaha... Ada ya orang kayak gitu?" tawa Aish pecah hanya dengan gurauan receh dari Falen, menyebabkan kedua sejoli yang sedang bertengkar itu mendatangi tempat Aish bersembunyi.
"Heh, bocah. Ngapain kamu disitu?" tanya si cowok.
"Uwah... Gue ketahuan kawan" kata Aish setengah berbisik pada temannya.
"Kalau nggak ngapa-ngapain, buat apa sembunyi?" bentak cowok itu lagi.
"Suka-suka gue dong abang, ini kan tempat umum. Yang aneh tuh kalian berdua. Nggak ada tempat lain buat bertengkar ya sampai harus ribut di taman kayak gini?" bentak Aish tak kalah keras.
"Suka-suka saya juga dong. Kamu anak kecil ngapain malam-malam begini keluyuran? ayah kamu ngebebasin kamu banget sih?" kata cowok itu lagi masih dengan nada tidak mengenakkan.
"Ya, ayah gue taunya cuma ngejaga gue dari tempatnya. Jadi abang nggak perlu repot-repot buat nyalahin ayah gue. Lagian abang sama tante ini ya, kalau mau ribut nggak usah main lempar sampah sembarangan dong. Tau nggak kalau sampah kalian tuh nyasar ke kepala orang lain. Ganggu banget kalian ini" cerewet Aish dengan satu tarikan napas.
"Siapa yang lo sebut tante hah?" kata si cewek marah dengan sisa air mata.
"Situ nggak nyadar?" kata Aish juga tak kalah nyolot.
"kurang ajar lo ya, awas lo ya" kata si cewek ingin menjambak hijab Aish, tapi sebelum itu terjadi, dengan gerakan cepat Aish membalik keadaan. Kaki kirinya dimajukan satu langkah dengan sangat cepat, hingga kaki si cewek yang memakai hak tinggi itu jadi tak seimbang dan terjerembab.
Saat akan mencari pegangan Aish cepat-cepat mundur beberapa langkah ke belakang. Membuat cewek itu jatuh telungkup seperti posisi yang bersujud pada Aish.
"Isshh.... Tante ini yah, nggak usah pakai sujud gitu dong kalau mau minta maaf sama gue. Cukup bilang maaf saja gue sudah senang kok, jadi nggak usah pakai acara sujud segala, hehehe" kata Aish menertawakan cewek itu, sementara cowoknya hanya diam memperhatikan tingkah Aish. Dengan kedua tangan yang dimasukkan pada saku celanya, dan sedikit senyum tersungging culas.
__ADS_1
"Kurang ajar ya lo bocah sialan. Sini lo kalau berani, gue cakar juga mulut lo" kata cewek itu.
"Gue daritadi juga sudah disini loh kalau tante lupa" jawab Aish.
"Lo tuh benar-benar kurang ajar ya, awas ya" kata cewek itu sambil berusaha bangkit.
"Sudah ah, gue mau pulang aja. Sudah malam, udara malam nggak baik buat anak perawan kayak gue" kata Aish berbalik ingin pergi, tapi sebelumnya dia mengambil tangan si cowok dari dalam saku celananya dan meletakkan sampah bekas minuman kaleng yang tadi menimpuk kepala Aish.
"Ini sampah abang yang tadi kena kepala gue ya, ingat bang, jangan suka buang sampah sembarangan" kata Aish sambil berlalu pergi.
Tapi beberapa langkah, Aish kembali mengamati cowok yang masih berdiri mematung menatap ceweknya yang masih duduk di atas tanah, tanpa berniat membantunya.
"Ada apa lagi?" tanya cowok itu pada Aish.
"Kayak pernah ketemu abang ini dimana yaa? Gue lupa" kata Aish berusaha mengingat sesuatu.
"Saya tahu saya tampan, tapi kamu nggak usah ngaku-ngaku merasa pernah bertemu dengan saya sebelumnya" kata cowok itu.
"Abang pede sekali, muka pasaran kayak abang sangat mudah dijumpai. Gue jadi ngerasa sering lihat muka pasarannya abang" kata Aish sambil berlalu pergi.
"Kurang ajar juga bocah kecil ini. Kalau ada kesempatan bertemu, awas kamu ya" batin cowok itu, kemudian berjalan berlawanan arah dengan Aish. Membiarkan ceweknya tetap di posisi terduduk di atas tanah.
"Sayang, tunggu... Kamu jangan tinggalin aku" rengek si cewek masih terdengar di telinga Aish yang sudah berjalan menjauh.
"Kalian dengar nggak sih tuh cewek masih saja ngejar-ngejar cowoknya, nggak punya harga diri banget sih" kata Aish bersungut-sungut, mengingat cewek itu yang tadi ingin menjambak hijabnya.
"Yasudahlah nggak usah diingat lagi princess. Kamu pulang gih sekarang" kata Falen seperti menyembunyikan sesuatu.
"Iya ini juga lagi jalan pulang. Kalian jangan ditutup ya sambungan videonya" kata Aish.
"Iya, sudah cepetan pulang. Sampah jajanan lo tadi sudah dibuang kan?" tanya Seno.
"Sudah dong, aman lah pokoknya" kata Aish.
Mereka tetap melakukan panggilan video hingga Aish benar-benar sampai di rumahnya.
.
.
__ADS_1
.