Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
janjian


__ADS_3

"Kamu terlihat sangat tidak bersemangat" kata dokter Siras yang melihat Aish sedang memainkan bolpoin di atas kertas.


"Iya nih bang dokter" jawab Aish.


"Karena Hendra yang izin tidak bertugas ya?" tanya Siras menebak.


"Ish, bukan. Karena saya dapat tugas kesenian dari sekolah" kata Aish.


"Memangnya kenapa? Ada yang salah sama seni?" tanya Siras.


"Kesenian itu tidak bermasalah, saya yang bermasalah. Karena saya benar-benar buta dengan yang namanya seni" jawab Aish dengan mengangkat kedua tangannya seolah membentuk tanda kutip.


"Nyanyi saja, suara kamu kan bagus" kata Siras.


"Jangan meledek saya bang dokter. Bahkan berbicarapun suara saya terdengar sumbang" kata Aish.


"Lalu apa rencana kamu?" tanya Siras.


"Masih belum tahu, bahkan teman-teman saya semuanya tidak ada yang bisa mengajari karena ada urusan masing-masing. Sedih saya bang" kata Aish.


Ponsel Aish bergetar dari dalam saku celananya. Dia segera meminta izin pada dokter pembimbingnya itu untuk mengangkat telpon masuk.


"Sebentar ya bang dokter, saya izin mengangkat telpon" kata Aish.


Karena memang suasana sedang kondusif, dokter itu mengizinkan Aish mengangkat panggilan.


Rupanya Richard yang menelpon Aishyah. Gadis itu sedikit penasaran, apa keperluan Richard hingga dia menelpon.


..."Iya halo"...


..."Halo Aishyah, kamu hari ini sedang jaga atau tidak?"...


..."Iya, ini masih di rumah sakit. Kenapa Richard?"...


..."Hendra sudah bisa masuk atau masih izin?"...


..."Hendra izin sampai akhir tugas nanti, ada keperluan penting katanya"...


..."Oke, kalau begitu mulai malam ini setiap lo pulang jaga, gue yang akan anter lo pulang"...


..."Eh, nggak usah repot-repot Richard. Gue bisa pulang sendiri"...


..."Atau lo berharap dokter itu ya nganterin lo pulang?"...


..." ya nggak gitu juga. Gue nggak enak sama lo, apalagi kalau sampai si Emily tahu, dia kan pacar lo Richard"...


..."Lo tenang saja. Gue pastikan kalau semuanya aman"...


..."Gue cuma nggak mau kejadian kayak kak Dewi dulu terulang lagi. Lo masih ingat kan kondisi gue waktu itu yang sampai drop banget"...

__ADS_1


..."Oke, terserah lo. Nanti malam gue pastikan kalau gue bakalan anterin lo pulang"...


..."Tapi kan......


Belum sempat Aish menjawab, Richard sudah menutup panggilannya. Mau tidak mau, Aish akan tetap diantarkan oleh Richard sepulang dari rumah sakit.


"Huft, Richard ini memang benar-benar ya" kata Aish.


"Ada masalah Aishyah?" tanya Siras yang masih betah di posisinya.


"Nggak ada bang. Ini saya harus ngapain sekarang bang?" tanya Aishyah.


"Ikut saya observasi pasien, mau?" tanya Siras.


"Boleh banget bang, ayo kita lakukan sekarang" kata Aish bersemangat.


**********


Malam ini seperti janji mereka, Hendra, Fian dan Rian kembali bertemu di pantai itu. Mereka akan saling menunggu di bangku yang sebenarnya adalah sebuah batang kayu.


Kali ini Hendra pergi bersama Falen, sahabatnya itu ngotot ingin ikut melakukan penggalian karena penasaran juga. Selain itu, Hendra agak sedikit canggung jika menjadi yang termuda diantara orang-orang berpengaruh seperti Rian dan Fian.


Dia masih bisa melihat sosok wanita itu tetap berdiri di tempatnya. Tapi kini dia sedang menangis. Tapi Hendra sudah tidak takut lagi seandainya sosok itu akan kembali berubah. Karena sudah ada pengalaman, jadi kini dia semakin percaya diri.


"Lo kenapa sih sebenarnya? Ditanya nggak pernah jawab, malah sekarang hobi lo nangis kayaknya ya?" tanya Hendra pada sosok wanita itu. Tapi tetap saja, sosok itu hanya berdiri sambil menangis.


"Lo itu maunya apa sih? Gue risih banget sebenarnya kalau lo terus-terusan ngikutin gue. Awas saja kalau sampai gue sudah bisa pecahin misteri tentang siapa sebenarnya lo. Gue nggak bakalan ngizinin buat lo selalu ngintilin gue" kata Hendra mengeluarkan unek-uneknya pada makhluk itu.


"Kalau lo takut mendingan pulang saja bule" usir Hendra, tapi hanya bercanda tentunya.


"Gue usahain supaya terbiasa dengan perilaku lo yang kayak gini" kata Falen.


Fian datang bersama tiga orang polisi berpakaian preman. Dia baru saja selesai dengan tugas negaranya. Kini akan melanjutkan sisanya.


"Sudah lama kamu disini? Dia teman kamu?" tanya Fian.


"Belum lama kok bang" kata Hendra menyalami semua anggota kepolisian yang telah hadir.


"Ini bang Fian ya? Hendra sudah bercerita mengenai abang. Saya Falen, bang. Temannya Hendra dan bang Rian juga" kata Falen.


"Iya, saya Fian. Saudara kembarnya Rian, saya dari kepolisian" kata Fian memperkenalkan diri pada Falen.


"Dimana Rian? Saya pikir dia datang bersama kamu tadi" tanya Fian.


"Katanya sih masih di jalan bang. Saya datang sama Falen tadi" kata Hendra.


"Jadi, apakah kamu benar-benar yakin dengan penglihatan kamu Hendra?" tanya Fian mencari keyakinan.


"Sangat yakin bang, bahkan sosok itu masih berdiri tegap di dekat kita. Apa bang Fian nggak bisa ngerasain kehadirannya?" tanya Hendra.

__ADS_1


"Saya tidak berbakat dalam hal itu. Bagaimana sekarang, kita langsung lakukan penggalian atau mau menunggu Rian datang?" tanya Fian.


"Kita tunggu bang Rian saja bagaimana bang? Sekalian juga agar suasananya lebih sepi. Karena sampai jam segini masih banyak orang yang berada di tepi pantai kan bang, takutnya mereka datang sewaktu kita melakukan penggalian dan malah menarik perhatian lebih banyak orang" kata Falen memberikan usul.


"Iya, kamu benar juga. Kita tunggu sampai Rian datang. Sebentar saya akan telpon dia, kebiasaan memang orang ini selalu saja telat kalau janjian" kata Fian.


Fian tengah melakukan panggilannya saat terlihat Rian dan beberapa orangnya datang. Mereka agak terburu-buru.


"Sorry gue telat. Macet tadi di jalan" kata Rian saat baru sampai, dia menyalami kembarannya dan juga orang-orang yang datang bersamanya.


"Memang sudah menjadi kebiasaan kamu" kata Fian.


"Jadi bagaimana, kita lakukan sekarang?" kata Rian tak memperdulikan kembarannya yang sedang jengkel.


"Sebentar lagi, tunggu suasana lebih sepi" kata Fian.


"Jika memang terdapat mayat di dalam sini, rumah sakit mana yang akan bang Fian tunjuk untuk melakukan autopsi bang?" tanya Hendra.


"Rumah sakit Persada, rekan kepercayaan saya ada di rumah sakit itu" kata Fian.


"Bagus bang, itu rumah sakit milik keluarga saya. Jadi, nanti bisa dipastikan kerahasiaannya" kata Falen.


"Oh, kamu keluarga Usmany rupanya?" tanya Fian.


"Abang tahu keluarga saya?" tanya Falen.


"Iya, rumah sakit Persada sering menjadi tempat tujuan para polisi untuk kasus-kasus rahasia semacam ini" kata Fian.


"Saya baru tahu tentang hal itu bang" kata Falen.


Rumah sakit Persada adalah rumah sakit yang kepemilikan saham terbesarnya adalah milik keluarga Falen. Sekolah mereka juga sama, saham terbesar ada di tangan keluarga Falen.


Perusahaan kakek buyut Falen yang berskala Internasional, telah mendapatkan banyak keuntungan. Dari sini, sisi kemanusiaan dari kakek buyutnya diwujudkan dengan membangun sekolah elit dan juga rumah sakit.


Nama Usmany baru dipakai oleh papi Falen yang menjadi seorang mualaf. Keluarga besar dari Falen sebagian besar masih memeluk keyakinan mereka masing-masing. Meskipun ada juga beberapa yang juga menjadi mualaf karena pernikahan.


Suasana pantai kini cukup sepi, ada beberapa orang yang terlihat menginap, mereka mendirikan tenda di tempat yang jaraknya lumayan jauh dari keberadaan Hendra dan rombongan. Jadi, masih bisa dipastikan keamanan untuk melakukan pekerjaan mereka.


Proses penggalian dilakukan tepat pukul sebelas malam, dilakukan oleh tiga orang polisi yang diperintahkan oleh Fian, dan dibantu empat orang suruhan Rian.


Sementara sosok wanita itu tetap saja berdiri ditempatnya. Memandang nanar pada orang-orang yang sedang melakukan penggalian atas jasadnya.


Tubuh dan wajahnya tetap berwarna hitam seperti habis terbakar. Tapi gaunnya yang berwarna navy tetap utuh seolah gaun itu dipakaikan kembali saat jasadnya telah menjadi arang. Sungguh pemandangan yang mengerikan bagi mereka yang penakut.


.


.


.

__ADS_1


.


Tolong jangan lupa tekan like dan juga tinggalkan komen. Terimakasih...


__ADS_2