Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
gara-gara topeng


__ADS_3

"Gue sudah serem apa belum, Mike?" tanya Adit setelah memakai topengnya.


"Lo mau ngapain? Nakut-nakutin yang lain?" tanya Mike tidak suka.


"Yoi, ngeprank Mike. Biar seru" kata Adit sambil mencoba topeng mainannya.


"Nggak lucu, Dit. Ini hutan, bahaya kalau sampai ada yang kecelakaan" kata Mike menasehati Adit.


"Lo nggak asik banget sih? Lagian cuma mainan doang" kata Adit.


"Jangan deh, Dit. Bahaya, nanti kalau sampai ada yang terluka, lo bisa kena hukuman" kata Mike.


"Lo tinggal tutup mulut kayak biasanya, pasti semua aman. Lagian ini kan sudah pagi, Mike. Pasti nggak akan ada yang ketakutan" kata Adit ngeyel.


"Gue bilang nggak, ya artinya enggak, Dit. Lain kali aja ngeprank nya kalau sudah di sekolah, ini kita lagi ada di alam bebas. Bahaya" kata Mike mengingatkan Adit.


"Ah, lo sejak kapan sih jadi nggak asik gini. Males gue sama lo" kata Adit mendahului Mike yang sedang memunguti ranting pohon yang terjatuh.


"Awas kalau sampai lo ngelakuin hal yang aneh-aneh, Dit" kata Mike sedikit berteriak.


Adit berhenti saat langkahnya sudah agak jauh dari Mike berada.


Dia mengamati topengnya, sebuah topeng yang mirip dengan salah satu karakter di game SCP. Topeng dari bahan karet yang lentur, bisa dilipat dan Adit selipkan didalam bajunya.


Lebih tepatnya SCP 049 yang biasanya dikenal dengan sebutan dokter Plague. Model topengnya semacam masker yang mulutnya berbentuk seperti paruh burung gagak.


Berwarna hitam dengan dua lubang di bagian matanya.


"Cukup nyeremin juga sih kalau lagi sendirian begini" gumam Adit, kepalanya tergerak mengamati sekelilingnya. Tiba-tiba tengkuknya terasa dingin.


"Takut gue lama-lama mandang lo" kata Adit pada topeng maskernya.


Di jarak 20 meter dari tempatnya berdiri, samar-samar Adit mendengar percakapan dua orang.


"Kamu bawa apa sih itu?" tanya Nindi yang merebut sesuatu mirip suntikan sapi yang besar dari tangan Aish.


"Ini alat penyedot bisa ular" kata Aish mengambil kembali alat emergency miliknya.


"Hehehe, buat apa coba?" tanya Nindi.


"Buat jaga-jaga doang, Nin. Nggak ada salahnya kan? Gue beli di toko perlengkapan camping lho. Gue yakin lo nggak bakalan kepikiran buat nyiapin ini" kata Aish yang menyimpan alatnya di dalam saku celananya.


"Iya, terserah kamu. Aku mau nyari kayu di sebelah sana ya, kamu disini. Nanti kita ketemu di tengah, hehehe" kata Nindi berjalan menjauhi Aish.


Saat terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya, secepatnya Adit bersembunyi. Dia melihat siapa yang datang dari semak penghalang yang menutupinya.


Seorang gadis cantik berambut panjang, berjalan sendirian mencari kayu bakar. Rambutnya terurai dan menjuntai saat dia berjongkok untuk memunguti ranting pohon.


Segera Adit memakai topengnya, menunggu saat yang pas untuk mengagetkan si gadis cantik.


Nindi, si calon target dari keisengan Adit sudah semakin mendekat. Adit bersiap memakai topengnya.


"1,2,3" Adit menghitung dalam hati.


Saat Nindi mendekat, Adit berdiri berteriak pada Nindi.


"Duar!" teriak Adit yang spontan berdiri di semak belukar.


"Aaaaaaaaa" teriak Nindi berlari ketakutan menjauhi Adit.


Adit tertawa senang melihat Nindi yang lari tunggang langgang. Sementara Nindi yang dasarnya memang penakut, mengira jika Adit adalah hantu.


Nindi berlari kencang, berteriak mengagetkan yang lain.


Mendengar ada teriakan, Mike segera mencari sumber suara.


"Adit sialan, pasti ini ulahnya" kata Mike berlari mendekati sumber suara.


Suasana pagi yang dingin, dengan embun basah yang melingkupi seluruh permukaan bumi, menyulitkan langkah Mike untuk segera menemukan dari mana asal suara itu.


Nindi terus berlari ke arah dimana dia berpisah dengan Aish tadi.


Setelah berhasil menemukan Aish, tanpa aba-aba Nindi langsung saja menarik tangan Aish diiringi teriakan histeris.


"Ada apa, Nin?" teriak Aish yang ikut berlari dengan genggaman tangan Nindi.


"Ada hantu- dokter- Plague, gue- takut - banget Aish" kata Nindi terbata, masih memegang tangan Aish sambil berlari.


Mendengar kata 'dokter' disebutkan, entah mengapa ingatan Aish tertuju pada saat dokter Siras ingin berbuat jahat padanya.


Karena ikut merasa ketakutan, Aish juga berlari kencang. Semua ranting pohon yang telah mereka berdua kumpulkan terjatuh entah dimana.


Dalam pikirannya masing-masing, Aish dan Nindi berusaha menyelamatkan diri.


Mike melihat kedua gadis itu berlari berlawanan arah dari tempat mereka camping. Mereka berdua berlari semakin memasuki hutan.

__ADS_1


"Berhenti, kalian berdua berhenti" teriak Mike berusaha menghentikan langkah tergesa kedua anggota timnya.


Adit menghentikan tawanya saat mendengar teriakan Mike yang menyuruh Nindi berhenti. Dan sialnya, suara Mike terdengar semakin menjauh.


Merasa bersalah, Adit mencari keberadaan Mike. Dengan bantuan senter, beruntung dia bisa melihat arah gerak ketua timnya yang semakin memasuki hutan.


Nindi yang mendengar perintah untuk menghentikan langkahnya tidak menghiraukan, karena dalam pikirannya masih ada ancaman dari hantu berwujud dokter dengan paruh burung seperti di dalam game favoritnya.


Sedangkan Aish juga berlari karena takut mendengar Nindi menyebut kata 'dokter'.


Mike masih mengikuti langkah Aish dan Nindi. Dia tidak mau kalau sampai salah satu anggota timnya celaka.


Dapat, Mike menarik tangan Aish. Berharap Aish menoleh dan tidak takut lagi setelah melihatnya.


"Berhenti, Nindi. Ini gue, Mike" teriak Mike dengan napas tersengal setelah berhasil memegang tangan Nindi juga.


Untung saja Nindi mau menghentikan langkahnya dan menoleh.


Dia sangat senang melihat Mike berada di belakangnya, dengan kedua tangannya yang memegang tangan Aish dan tangannya sendiri.


"Mike" kata Nindi mulai meneteskan air mata.


Tapi sial, Aish terpeleset. Dia terjatuh ke dalam jurang dengan tangan yang masih menggenggam tangan Mike.


Mike melepas pegangannya pada Nindi, membiarkan tubuhnya terseret. Ikut masuk ke dalam jurang bersama Aish.


Nindi berhasil melepas pegangan tangannya, karena sedikit oleng, dia berusaha meraih sulur tanaman untuk menegakkan kembali tubuhnya.


"Aaaaahhhhhh..... Tolooonngg" teriak Mike dan Aish.


Adit mendengar itu semua, secepatnya dia mencari keberadaan Nindi.


Ternyata Nindi berada diatas jurang sambil menangis.


"Ada apa, Nin?" tanya Adit yang napasnya masih memburu, dia sangat lelah.


"Tolong Dit! Aish sama Mike jatuh ke jurang itu" kata Nindi menangis, menunjuk ke arah jurang yang ada didepannya.


Sinar pelit dari matahari tidak sepenuhnya memasuki jurang, karena terhalang rimbunnya tanaman dan tingginya pohon di sekitar mereka.


Dan juga, memang masih terlalu pagi untuk berharap matahari mau menampakkan sinarnya dengan sempurna.


Adit sangat terkejut, dia ketakutan. Karenanya sekarang sahabat baiknya jatuh ke dalam jurang.


"Jangan diam saja kamu, Dit. Cepat cari cara untuk menolong mereka" kata Nindi terisak, takut terjadi sesuatu pada Aish dan Mike.


Sambil menangis, Nindi mengamati posisi jurang di depannya itu.


Jurang yang cukup dalam, tapi tidak begitu curam. Pinggirannya landai dipenuhi bongkahan batu besar dan juga pohon yang tumbuhnya miring, mengikuti kemiringan tanahnya.


Tapi untuk ikut masuk ke dalamnya juga sangat berbahaya, karena terlihat licin terkena guyuran embun pagi.


Sementara dibawah sana, Aish masih saja tertarik semakin dalam di jurang itu. Sedangkan Mike, tadi dia sempat menarik batang pohon dan tersangkut diatasnya.


"Tolooonngg" teriak Aish disela luncurannya.


Kedua tangannya sesekali menutupi wajahnya saat melihat akan adanya bahaya yang akan menuju wajahnya. Jadilah punggung tangannya yang terkena goresan.


Aish terguling, terseret, terpelanting dan terjatuh semakin dalam ke dalam jurang. Badannya sudah sakit semua, benturan-benturan ringan hingga keras sudah mendarat di beberapa titik di tubuhnya.


Dia sudah tidak sanggup mengeluarkan suara, hanya rintihan kecil yang bisa keluar dari mulutnya.


Sedikit lebih keatas, Mike berusaha bangkit. Di tengah curamnya medan, dia berusaha menyeimbangkan tubuhnya untuk menuruni jurang. Berusaha menemukan keberadaan Aish yang masih meluncur.


Mengikuti jejak rusaknya tanaman yang terkena hempasan tubuh Aish, dengan hati-hati Mike berusaha menuruni tepian jurang.


Sekarang, hobinya memanjat dinding sekolah untuk membolos rupanya sangat membantu untuk mencari Aish.


Sekitar 15 meter dibawahnya, kaki Aish tersangkut dahan pohon. Sepatunya menjadi penolong karena terpasang kuat di kaki kanannya.


Kepalanya berada dibawah, dan kakinya berada di atas karena tersangkut.


"Tolong" Aish berusaha berteriak, tapi hanya rintihan yang keluar dari mulutnya.


Mike menuruni jurang landai itu dengan tergesa tapi juga berhati-hati. Kira-kira dua puluh meter lagi dia mencapai dasar jurang.


Dia melihat Aish yang tersangkut dengan posisi terbalik.


"Sebentar ya, gue turun ke tempat lo. Sekarang lo tenang, dan jangan banyak bergerak" kata Mike.


Aish menurut, dia diam. Bahkan tak berani mengeluarkan suara.


Mike berusaha menggapai tangan Aish dengan memanjat dahan pohon yang sama dengan tempat dimana kali Aish terjepit.


"Susah banget, Sya. Sekarang coba lo gerakin pelan-pelan tangan lo supaya bisa pegang tangan gue" kata Mike.

__ADS_1


Sedikit bergerak, Aish mencoba menggapai tangan Mike. Tapi lagi-lagi nasib sial menghampiri, dahan itu patah.


Aish dan Mike sama-sama terjatuh ke dalam semak-semak yang berada di dasar jurang.


Mike segera berdiri, berusaha sekuat tenaga untuk mencari keberadaan Aish di dalam semak belukar.


"Aahhh, sakit" kata Aish.


Mike segera menghampiri sumber suara, disana ada Aish yang tergeletak.


Sangat hati-hati, Mike mengeluarkan Aish dari dalam semak. Dia duduk, membiarkan kepala Aish berada di pangkuannya.


"Kaki gue sakit, Mike" kata Aish lirih, masih ada nasib baik karena Aish tidak pingsan meskipun terjatuh hingga sedalam ini.


Mike melihat ke arah kaki Aish, ternyata ada ular hijau yang melilit pergelangan kakinya. Ternyata giginya sudah menancap pada telapak kaki kiri Aish yang sepatunya sudah hilang entah kemana, meski masih ada kaos kaki yang melekat.


"Ada ular, lo diam ya. Gue usahain buat nyingkirin ularnya dulu" kata Mike.


Dengan sangat pelan dan hati-hati, Mike menaruh kepala Aish diatas permukaan tanah yang masih basah.


Karena tidak takut ular, Mike dengan mudahnya memegang pangkal tenggorokan ular itu, dicapitnya menggunakan jari jempol dan telunjuk dengan sangat kuat, hingga ular itu melepaskan gigitannya.


Lalu Mike menginjak kepala ular hijau itu diatas permukaan tanah hingga mati.


"Tolong hisapin bisa ularnya pakai ini ya, Mike" kata Aish mengeluarkan alat serupa suntikan besar dari saku celananya. Alat emergency sederhananya ternyata berguna untuknya sendiri.


Mike mengerti, dia segera melakukan perintah Aish dengan melepas kaos kaki yang masih melekat di kakinya.


Melalui lubang bekas gigitan ular itu, Mike menghisap darah dari kaki Aish menggunakan suntikan.


Mike melakukannya hingga beberapa kali, berharap bisa ular itu bisa keluar dari tubuh Aish agar tidak membahayakan nyawanya.


"Betis kanan gue rasanya perih, Mike" kata Aish.


Mike melihat betis kanan Aish, ada sebatang kecil ranting pohon tertancap ke dalamnya. Tidak besar memanh, tapi ada aliran darah keluar dari sela ranting yang mengenai kulit Aish.


"Tahan sedikit ya, Sya. Gue mau tarik rantingnya dari kaki lo" kata Mike.


Aish mengangguk, menutup matanya rapat-rapat untuk mengalihkan rasa sakit saat Mike menarik rantingnya.


"Aahhh" teriak Aish saat Mike menarik ranting itu dalam satu tarikan kuat.


Dengan menggunakan telapak tangannya, Mike berusaha menutupi luka di kaki Aish.


Mike membuka sepatunya, lalu melepas kedua kaos kakinya.


Setelah menggabungkan kedua kaos kakinya, Mike menekan luka Aish dengan itu. Dan mengikat menggunakan tali sepatunya. Berharap agar luka itu tidak semakin banyak mengeluarkan darah.


"Nggak ada sesuatu untuk mengikat pergelangan kaki kiri lo, Sya" kata Mike yang khawatir melihat kondisi kaki kiri Aish bekas tergigit ular tadi.


"Maafin gue, Sya. Ini darurat, gue harap lo nggak marah setelah gue lakuin ini" kata Mike yang melepas hijab Aish.


Tadi Aish memakai hijab segi empat yang dijepit dengan peniti di bagian dagunya. Sekarang Mike mengikat pergelangan kaki kiri Aish dengan hijabnya.


Mike mengikatnya kuat-kuat, agar bisa ular yang tertinggal tidak sampai masuk semakin dalam di aliran darah Aish.


"Lo bisa duduk?" tanya Mike.


"Gue nggak yakin" kata Aish berusaha tetap dalam keadaan sadar meski tubuhnya terasa sakit semua.


Mike membantu Aish duduk. Kepala Aish sudah berputar-putar, dia berusaha untuk tidak melihat ke arah kedua kakinya.


"Kenapa lo merem? Please, Sya. Jangan pingsan dalam keadaan seperti ini" kata Mike.


"Gue phobia darah, Mike. Gue bisa muntah, atau malah gue bisa pingsan kalau lihat darah di kaki gue" kata Aish yang membuat Mike semakin khawatir.


Mike melihat ke sekelilingnya, mereka berdua berada di ujung jurang dengan permukaan tanah licin karena masih pagi.


Terdengar ada gemericik air, mungkin ada aliran sungai di dekat mereka. Mike belum bisa memastikan itu.


Mendongak ke atas, banyak pohon besar tumbuh miring dengan hiasan bebatuan raksasa yang menancap di lereng jurang.


"Kita jatuh terlalu dalam, Sya. Tapi sepertinya masih ada lagi dasarnya dibawah sana. Ibaratnya sekarang kita tersangkut di dinding jurang" kata Mike menjelaskan posisi mereka karena Aish masih memejamkan matanya.


Perlahan Aish membuka matanya, sedikit demi sedikit membiarkan pendaran cahaya redup masuk ke dalamnya.


Dia juga mengamati sekelilingnya, tanpa mau melihat pada kondisi kakinya yang terluka.


Mike menyandarkan kepala Aish ke dalam dadanya. Tangannya diletakkan di belakang tubuhnya, dengan telapak yang memegang tanah. Untuk berusaha menopang berat badannya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2