Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
kangen


__ADS_3

Pukul setengah empat pagi, Aish terbangun karena dering ponselnya yang cukup keras. Cukup lama dia mengerjapkan mata untuk mengumpulkan nyawa.


"Jam setengah empat, siapa sih yang telpon?" gumamnya sambil menggeser icon hijau untuk menerima panggilan.


..."Assalamualaikum"...


Kata Aish dengan mata terpejam.


..."Waalaikumsalam... Jangan taruh hapenya di kuping, ini kan video call"...


kata Seseorang diseberang sana.


..."Oh, iya kah?"...


kata Aish sambil meletakkan ponselnya didepan wajah.


..."Hai"...


kata Richard menyapa pacarnya pagi ini.


Aish gelagapan, muka bantalnya terlihat full memenuhi layar ponselnya. "Aduuhh, malu banget" batin Aish yang menutupi wajah dengan salah satu tangannya.


Richard tertawa melihat reaksi Aish yang sangat lucu.


..."Kenapa ditutupi? gue sudah lihat kok"...


..." Malu gue, muka bantal gini malah divideo call"...


..."Lo masih cantik kok, paling cantik malah"...


kata Richard yang sukses membuat Aish semakin salah tingkah.


..."Ih, gue jadi malu. Tumben jam segini sudah bangun?"...


tanya Aish mengalihkan pembicaraan, dia sebenarnya sangat malu.


..."Disini sudah jam setengah enam"...


......"Memangnya lo dimana?"......


tanya Aish, rupanya nyawanya belum terkumpul sempurna.


..."Gue didepan rumah lo"...


kata Richard menggoda Aish, rupanya nyawa gadisnya itu masih tercecer dimana-mana.


......"Masak sih?" ......


tanya Aish yang ingin benar-benar keluar rumahnya saat ini.


..."Becanda, Ra. Gue kan lagi di Jepang"...


......"Oh, iya. Gue lupa. Lo kepagian sih telponnya"......


......"Gue kan kangen sama lo" ......


..."*Masih pagi sudah gombalin cewek, hehehe"...


..."Beneran, lo nggak kangen ya sama gue*?"...


......"Lo kapan pulang?"......


Tanya Aish random.


..."Lo sudah kangen banget ya? Baru gue tinggal sebentar sudah nyuruh pulang. Eh, bentar deh. Lo balik ke rumah? Sekarang lo lagi sendirian?"...

__ADS_1


Tanya Richard yang melihat background Aish adalah kamarnya sendiri.


..."*Iya, semalem Hendra nganterin gue ke rumah. Gue nggak betah dirumahnya Falen"...


..."Kenapa? Kan bahaya kalau lo sendirian dirumah, Ra"...


..."Bang Siras itu ternyata kakaknya Falen, gue baru tahu semalam*"...


Akhirnya Aish memberitahu Richard juga perihal Siras yang bersaudara dengan Falen.


..."Astaga, kenapa tuh bule bego nggak kasih tahu sama lo sih sebelumnya?"...


Kata Richard yang sekarang bingung harus bagaimana menjaga Aish, mereka terhalang jarak dan waktu kali ini.


..."Falen itu teman gue loh, jangan dikatain gitu dong"...


Aish sedikit tidak terima saat Richard mengejek Falen.


..."*Ya gue nggak tahu juga kenapa Falen nggak bilang kalau bang Siras itu kakaknya. Cuma dulu dia sempat ngelarang gue buat dekat-dekat sama bang Siras"...


..."Sekarang gue kan jadi khawatir sama lo*, Ra"...


......"*Lo tenang saja, gue kan disini ada Hendra, ada Falen, Seno, engkong---"......


..."Iya, nggak usah disebutin semua*"...


Kata Richard memutus perkataan Aish.


..."*Ish ... iya. Lo kapan pulangnya?"...


..."Kayaknya bakalan sedikit lama, soalnya hari ini rencananya masih mau ada prosesi kotsuage, terus besok ada pertemuan sama keluarga besar mama disini"...


..."Apa itu kotsuage*?...


tanya Aish yang tidak begitu paham budaya asing.


kata Richard menjelaskan.


..."Oh gitu ... Apa semua kakak lo juga ikut kesana?"...


..."*Iya, baru kali ini semua keluarga gue berkumpul dalam kesedihan"...


......"Sudah, lo nggak boleh gitu. Bersyukur masih bisa kumpul sama keluarga lo secara utuh. Gue yang sebatang kara saja berusaha bersyukur karena masih diberi nafas*"......


kata Aish mendesah, sesungguhnya dalam hatinya dia merasa iri karena dia jadi merindukan orang tuanya.


..."*Maafin gue ya, Ra. Gue janji bakalan selalu ada buat lo"...


..."Lo mah minta maaf melulu, belum lebaran Richard, hehehe"...


..."Gue kan minta lo panggil gue sayang"...


..."Nggak ah, malu gue"...


..."Cg, terserah lo deh"...


..."Eh, sudah adzan. Sudahan dulu ya, gue mau solat di mushola nih"...


..."Iya, lo hati-hati ya. Kabari gue kalau ada apa-apa"...


..."Iya, dah Richard*"...


Kata Aish menutup panggilannya. Dia bimbang kali ini, bagaimana nanti hatinya bisa menerima jika benar kakak Richard yang tega membunuh kakaknya?


★★★★★

__ADS_1


Menjelang pukul sembilan pagi, Falen dan Hendra sudah berkunjung ke rumah Aish. Gadis itu sedang menikmati sarapannya saat kedua temannya datang.


Tak butuh waktu lama, Aish sudah rapi, mereka berencana berkumpul kembali di rumah Rian untuk membicarakan masalah kematian Alif.


Teman-teman terdekat Aish sudah ada sana, menyisakan Seno yang masih sibuk dengan film barunya yang katanya sudah dalam proses pengeditan.


"Jadi, bagaimana bang? Atas dasar apa kalau gue mau melaporkan tentang kematian kak Alif ke polisi?" tanya Aish.


"Orang hilang saja gimana bang? Biar lebih rasional" kata Falen memberi ide.


"Iya, sepertinya lebih baik memang berita kehilangan saja. Nanti kita bisa lebih mudah untuk bertanya pada tetangga sekitarnya kalau sudah ada laporan masuk" kata Fian.


"Nanti biar gue temani lo ke kantor polisi ya princess" kata Falen.


"Gue nggak sabar kepingin tahu siapa pelakunya" kata Aish lirih.


"Sabar ya Aishyah, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengusut tuntas kasus ini" kata Fian.


★★★★★


Salju turun cukup lebat pagi ini, suasana kota terlihat ramai dan teratur saat Richard dan keluarganya beriringan dengan mobil jenazah menuju tempat krematorium.


Richard tengah duduk dalam satu mobil dengan Alando, kakak pertamanya, dan Romeo kakak ketiganya. Sementara Willy, kakak keduanya berada di mobil yang berbeda, Willy sedang bersama Helda dan kedua anak yang mereka bawa. Papa dan mama Richard sendiri mengendarai mobil yang lain.


Pemandangan diluar jendela terlihat menyenangkan, orang-orang berlalu lalang dengan tertib. Mereka memakai jaket tebal dan penutup telinga yang nyaman. Sepatu boot tinggi menghiasi derap langkah mereka yang terburu-buru.


Sebagian orang menaiki kereta, sebagian lainnya memakai sepeda ontel, dan banyak juga yang berjalan kaki. Semuanya sangat rapi.


"Gue dengar, cewek lo sudah ganti ya? Selera lo yang sekarang cewek pengisi syurga, benar begitu, my lil brother?" tanya Romeo, kakaknya ini hanya selisih tiga tahun dengan Richard.


Richard menoleh mendengar ucapan Romeo, sejenak dia tersenyum sinis sebelum menjawab pertanyaan mengejek dari kakaknya itu.


"I think, That's not your bussiness" kata Richard yang moodnya sedang tidak begitu bagus.


"Oh boy, gue cuma tanya" kata Romeo yang kini merangkul pundak Richard.


"Urus saja pacar lo sendiri" kata Richard.


"Lo tahu darimana?" tanya Richard, rupanya dia penasaran juga. Karena selama ini mereka bahkan tidak pernah bertukar kabar.


"Mama cerita sama gue kalau lo bawa cewek berhijab ke rumah" kata Romeo.


"Cg, kalian membicarakanku dibelakang rupanya" kata Richard.


Romeo sedikit terkekeh dengan tanggapan Richard, adiknya ini memang sangat dingin.


"Berhenti membicarakan hal yang tidak penting" kata Alando dari jok depan, dia duduk di sebelah supirnya.


"Hidup kakak terlalu datar, cobalah sekali-sekali mencari pacar. Nikmati hidup kakak selagi masih bisa, jangan hanya sibuk dengan tumpukan pekerjaan" kata Romeo. Dari ketiga kakaknya, Romeo memang paling banyak berbicara, dan Alando pemegang gelar gunung es terdingin.


"Tutup mulutmu itu, Romeo" kata Alando angkuh seperti biasanya.


Romeo terkekeh lagi, jika Alando dan Richard adalah gunung es, maka Romeo adalah lava yang bisa melelehkannya.


"Kau kalah dengan Richard, kak. Sekecil ini, dia sudah sering ganti pacar. Kakak betah sekali menjomblo, padahal Romeo lihat disini wanitanya cantik-cantik" kata Romeo.


"Kakak tidak berminat, kalian bocah kecil cuma tahu pacaran saja. Hentikan omong kosongmu itu Romeo. Ingat, kita sedang berduka" kata Alando yang sukses membuat Romeo terdiam.


Sebenarnya Richard suka dengan kondisinya sekarang, bisa duduk bersama dengan dua kakaknya dan ngobrol beberapa hal. Tapi dia terlalu kaku untuk menimpali perkataan yang Romeo berikan. Apalagi moodnya sedang tidak bagus setelah mengetahui jika Siras adalah kakak dari Falen.


Hingga sampai di tempat krematorium, mereka memilih diam dengan ponsel masing-masing. Romeo sudah tidak berminat mengganggu saudaranya lagi. Keduanya terlalu tidak asyik untuk Romeo yang humble.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2