Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Bertemu bang Rian


__ADS_3

Malam hari sebelum tidur, Aish masih membaca buku pelajarannya sambil tiduran. Sebuah notif terdengar dari ponselnya. "Nomor siapa ya?" batin Aish karena pesan wa yang belum ada nama kontaknya.


......"*Sudah tidur?"......


..."Ini siapa?"...


......" Richard, lo belum save nomor gue?"......


......"iya, maaf"......


......"It's ok. Gue juga mau minta maaf sama lo, sepeda lo nggak berhasil ditemuin"......


......"Yaaahhh.... sayang banget kan?T.T"......


......"Gue aja yang gantiin gimana?"......


..."Ehhhh.... jangan. Biar gue nabung aja, biar bisa beli lagi. Lo jangan coba-coba gantiin sepeda gue ya, atau gue nggak mau temenan sama lo lagi kalau sampek lo lakuin itu"...


......"Iya bawel. Panjang banget. Untung cuma chatting"......


......"Hehe... awas aja lo ya"......


..."Iya... yaudah lo tidur, masih sakit nggak?"...


......"Sudah enakan... Makasih ya. Lo juga tidur"......


..."Ok. nice dream"...


..."Eh.... iya*"...


Richard senyum-senyum sendiri setelah berbalas pesan dengan Aisyah, bahkan isi dari pesannya dia baca berulang-ulang.


Entahlah, ada kebahagiaan tersendiri dengan membaca isi pesannya dengan Aish tadi. Hingga tak sadar dia sudah masuk ke alam mimpi.


************


Keesokan paginya, Aish dikejutkan dengan Richard yang sudah berdiri di balik pintu. Sepagi itu dia datang untuk menjemputnya?.


"Kepagian pak..." kata Aish setelah membukakan pintu, Richard hanya terkekeh. Bahkan Aish baru selesai mandi dan ganti baju.


"Gue ketagihan nasi gorengnya bunda nih" kata Richard.


"Bilang aja mau numpang sarapan" ejek Aish sambil menjemur handuknya.


"Lo tau aja" jawab Richard.


"Tapi kayaknya bunda nggak bikin nasi goreng sih sekarang, yasudah ayo ke meja makan saja" kata Aish, Richard mengekor saja.


"Eh, ada nak Richard ya. Ayo sarapan, bunda bikin sambal goreng kentang pakai ati ampela. Semoga suka ya" kata Bunda ramah.


"Loh, bunda nggak sekalian makan?" tanya Aish.

__ADS_1


"Sudah tadi, laper sih jadi makan duluan" kata bunda.


"Emh ... Sebenarnya nggak usah jemput nggak apa-apa sih Richard. Kan gue juga sudah baikan, gue nggak enak kalau dilihatin sama anak-anak lain. Kesannya kayak gimana gitu" kata Aish di sela-sela makannya.


Richard sedikit bingung untuk menjawab, benar juga sih. Mereka bukan teman akrab sebelumnya, bahkan dengan sahabatnyapun Aish sangat jarang terlihat bersama dalam satu kendaraan.


"Nggak usah didengerin, biarin aja. Masakan bunda lo enak ya" kata Richard mengalihkan topik.


"Iya, enak. Tapi beneran Richard. Lo jangan paksain buat capek-capek jemput gue, lagian kan lo punya pacar nih ya, gue nggak mau kejadian kayak kak Dewi lagi. Nggak enak tahu kalau jadi pelampiasan rasa cemburu gitu. Sampek sakit gue waktu itu. Lo ingat juga kan?" kata Aish panjang lebar, susah juga mengalihkan topik dari cewek bawel itu.


"Lo tuh bawel banget ya. Sakit kuping gue" kata Richard.


"Ish... Lo tuh ya, gue serius tau. Awas aja kalau sampek pacar lo ngamuk ke gue ya" kata Aish.


"Iya bawel. Udah lo makan aja, abis itu dandan yang cantik, terus kita berangkat sekolah" kata Richard.


"Lo tuh ya" kata Aish sebal.


******


Pulang sekolah, Aish berhasil kabur dari Richard yang masih saja ingin mengantarnya pulang. Bahkan alasan untuk bareng Hendra sudah tidak mampan. Akhirnya, gadis itu langsung bergegas pergi setelah bel berbunyi, segera saja naik angkot 07 meski berdesakan, yang penting bebas dari Richard.


Turun dari angkot, Aish dihadang lagi oleh dua orang berbadan tambun bertato seperti naga di lengannya.


"Eh neng, lo yang dua malam kemarin dipalak preman ya?" tanya seorang dari mereka.


"Kenapa bang?" tanya Aish.


"Tapi saya nggak tahu apa-apa bang, semua yang urus teman saya, bukan saya" kata Aish.


Mereka terlibat adu mulut, rupanya engkong melihat kejadian itu. Dan mengenal mereka.


"Lo mau apa sama cucu gue?" tanya engkong.


"Eh... babe. Nggak apa-apa be, cuma ada urusan dikit" katanya sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Lo kayaknya nyolot banget, dia ini masih anak sekolahan, cewek lagi. Lo nggak malu sama otot lo? Suruh bos lo dateng ke rumah malam ini juga" kata engkong, Aish hanya menyimak dengan penasaran.


"Tapi be, sumpah ini nggak ada hubungannya sama bos kita be" kata pria bertato itu takut.


"Gue nggak mau tahu. Lagian juga sudah lama tuh bocah nggak silaturahmi sama gue. Pokoknya kalau sampai malam ini bos lo nggak dateng ke rumah gue, lo tahu sendiri akibatnya" kata engkong sambil mengajak Aish pulang.


"Ii..iiya be. Nanti saya sampein ke bos" kata pria itu lagi.


"Engkong kenal mereka?" tanya Aish.


"Sama bosnya juga kenal neng. Nanti malam kalau bosnya dateng, lo ke rumah engkong juga ya" kata engkong.


"Iya kong" kata Aish patuh.


******

__ADS_1


Malam hari sekitar pukul jam delapan, bang Johan mendatangi rumah Aish untuk mengajak ke kediaman engkong.


"Ayo Is, kita disuruh engkong buat ke rumahnya" kata bang Johan.


"Iya bang, tadi siang memang engkong ngajakin Aish ke rumahnya. Emang ada apaan ya bang?" tanya Aish.


"Abang juga kagak ngerti Is, udah kita kesana aja. Ada tamu juga rupanya" kata bang Johan.


"Bunda, Aish mau ke rumah engkong ya, disuruh ke sana sama engkong" kata Aish.


"Iya, pulangnya jangan malam-malam ya Is" kata bunda.


"Iya bun" kata Aish bersama bang Johan pergi ke rumah engkongnya.


Selepas kepergian Aish, bunda duduk sendirian di teras rumahnya. Sepi menyelimuti hatinya. Bagaimanapun, dia merasakan perihnya hati yang ditinggalkan anaknya sendiri. Bahkan single parent itu tidak tahu dimana putrinya sekarang.


Rasa rindu menggerogoti hati, bunda hanya bisa menangis dalam sujudnya. Orang tua itu harus menjaga perasaan anak perawannya yang sedang haus kasih sayang.


Bunda bersyukur ditempat barunya ini, mereka dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Engkong sudah seperti kakek Aish sendiri, dua orang tua itu sangat perhatian pada anak-anak muda di kompleknya.


Mengajar silat tanpa meminta imbalan, selalu berbagi tanpa pamrih. Bunda juga bersyukur karena Aish dikelilingi oleh teman yang baik dan mau menerima apa adanya.


Seketika kepala bunda berdenyut, rasa sakit menjalar hingga ke bagian terdalam di kepalanya. Bunda meringis menahan sakit, mungkin terlalu banyak beban yang disimpan sendiri membuatnya merasa stres hingga sakit kepala.


Bunda segera beranjak ke dalam untuk meminum obat pereda nyeri. Biasanya rasa sakit itu akan hilang setelah minum obat dan istirahat.


Aish merasa heran dengan beberapa mobil yang terparkir di halaman luas rumah engkong. Ada tiga mobil berjejer rapi disana. Bahkan ada beberapa orang bertubuh tinggi besar menjaga di teras rumah engkong.


"Ada apa bang? Aish jadi takut" kata Aish.


"Abang juga nggak tahu Is, dari tadi juga kayak gini. Terus engkong nyuruh abang buat jemput kamu" kata bang Johan.


"Assalamualaikum engkong" kata Aish sesopan mungkin, karena tahu engkong sedang tidak sendirian.


"Waalaikumsalam neng. Ayo masuk, sini duduk dekat engkong" kata orang tua itu. Aish menurut, duduk di dekat engkong dan bang Johan memilih untuk berdiri saja.


"Ini anak bandelnya engkong, namanya bang Rian. Neng Aish pasti belom pernah tahu ya" kata engkong.


"Oh, iya kong. Bang Rian, saya Aisyah" kata Aish sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Jadi ada masalah apa sih kong?" tanya Aish.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2