Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
keadaan berbahaya


__ADS_3

Richard setiap hari selalu mengamati Aishyah tanpa berani menyapanya. Entah sampai kapan, pasti suatu saat dia akan membicarakan tentang hubungan mereka.


Begitupun Aishyah, sebenarnya ada getaran rindu dihatinya untuk Richard. Tapi sejak melihat Richard berpelukan dengan Emily, membuat rasa percaya dihatinya runtuh. Kepercayaannya untuk Richard hilang, dia sangat kecewa.


Menjelang isyak, telpon di pos berbunyi. Sungguh tidak biasa, Aish tak menyadari jika abang dokternya masih berada dikantornya.


..."Assalamualaikum, ada apa bang dokter?"...


......"Waalaikumsalam, bisa ke ruangan saya sebentar?"......


..."Saya pakai sepatu dulu ya bang, sebentar"...


..."Nggak usah, pakai sendal saja tidak apa-apa"...


......"Eh, iya deh. Penting banget ya bang?"......


..."Iya, makanya cepetan sini"...


......"Iya, iya. Yasudah saya otw kesana, Assalamualaikum"......


..."Waalaikumsalam"...


"Tumben banget sih, ada apa ya?" tanya Aish penasaran. Dia segera menuju ke lantai empat, tempat sang bos bersemayam.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk" teriak Siras. Aish melangkahkan kakinya ke dalam ruangan yang agak temaram karena tidak semua lampunya dinyalakan.


"Ada apa bang?" tanya Aish yang melihat Siras duduk membelakanginya di kursi kerjanya.


Siras memutar kursinya, membiarkan Aish berdiri mematung. Dia memindai penampilan Aish dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.


Sebenarnya Aish merasa risih dengan pandangan atasannya itu. Tapi dia berusaha berpikiran positif, mungkin ada yang salah dengan penampilannya.


Siras tampak sedikit tersenyum, dia melihat Aish yang memakai hijab instan berwarna hitam dan dimasukkan ke dalam kemeja kerjanya. Kemeja putihnya sedikit longgar, lengannya digulung sebatas siku. Celananya dari bahan kain yang sedikit mengkilap, sepertinya Aish sudah merenovasi celana itu hingga terlihat pas dibadannya.


Sebelumnya Siras telah mengamati seluruh penjuru kantornya melewati cctv. Tidak lupa melihat tampilan jalan di seberang pagar kantornya juga. Tempat biasanya Richard berdiam diri mengamati Aish yang sedang bekerja.


Dia merasa senang saat tak mendapati mobil Richard terparkir disana. Dia merasa jika Richard takut dengan ancamannya kemarin bahwa akan melaporkannya ke polisi jika masih berada disana.


"Memang hanya bocah ingusan" batin Siras merasa senang.


Sedangkan Richard datang saat adzan isyak berkumandang. Setelah dia memastikan mobilnya terparkir aman dari pandangan Aish dan dia juga bisa leluasa melihat ke arah kekasihnya, Richard duduk terdiam di dalam mobilnya, seperti biasa. Dia hanya duduk menghabiskan waktu, dia sampai hafal kegiatan Aish.


Seharusnya sebentar lagi dia akan keluar dan melaksanakan solat Isyak. Tapi Richard tak menemukan Aish di dalam pos jaga. Dia mengamati kantor itu. Terlihat lampu di salah satu ruangan di lantai empat ada yang menyala walaupun terlihat sedikit remang.


Richard meyakini jika bukan hanya Aish yang ada didalam sana. Pikiran Richard mulai tidak karuan. Tapi dia masih menunggu, sampai jam delapan dimana Aish harus berkeliling. Jika di waktu itu Richard tak mendapati kekasihnya, maka dia akan menerobos masuk.


Siras masih mengamati lekuk tubuh Aish, pikiran jahatnya sedang mendominasi kali ini. Takut pada penolakan jika seandainya Aish mengetahui perasaannya, membuatnya gelap mata. Apalagi mengetahui jika Aish telah memilih Richard, membuat darahnya berdesir. Terasa panas menggerogoti pikiran warasnya.

__ADS_1


"Ada yang salah sama saya, bang?" tanya Aish yang ikut melihat bajunya.


"No, you are so perfect. Silahkan duduk, ada yang mau saya bicarakan" kata Siras berdiri dari kursi kebesarannya, berjalan perlahan ke arah Aishyah yang merasa tidak nyaman.


Siras memastikan pintu sudah tertutup, meskipun tidak harus dikunci. Karena pasti akan menimbulkan ketakutan pada Aish jika melihatnya mengunci pintu. Jadi, dia membiarkan saja pintu itu.


Tanpa pikiran buruk, Aish duduk di sofa. Siras memposisikan dirinya duduk di samping Aishyah. Membuat Aish bergeser karena merasa terlalu dekat dengannya. Siras tersenyum dengan perlakuan Aish.


"Well, saya cuma mau bicara santai sama kamu. Sudah lama juga kita tidak bertemu kan Aishyah. Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Siras dengan kerlingan nakalnya.


Aish bergidik ngeri dengan ekspresi Siras yang seperti itu. Sungguh tidak seperti biasanya.


"Abang baik-baik saja kan?" tanya Aish dengan polosnya.


"Hahahaha, tentu saya baik-baik saja selama berada didekatmu" jawab Siras.


"Abang salah obat ya?" tanya Aish lagi.


"Kamu sangat lucu sayang" kata Siras yang semakin membuat Aish menyadari jika bosnya sedang sedikit oleng.


Siras sadar jika Aish takut, dia mulai bersikap wajar kali ini. "Well, saya hanya bercanda. Kamu jangan tegang seperti itu" kata Siras menertawakan ekspresi Aish.


"Jadi, kamu sudah pacaran sama Richard ya?" tanya Siras berusaha sebiasa mungkin.


"Darimana abang tahu?" tanya Aish heran.


"Engmh... sebenarnya ini kan urusan pribadi saya bang" kata Aish masih tidak mau menjawab.


"Oh come on Aishyah, Saya hanya ingin tahu saja. Tidak ada niatan lebih dari itu" kata Siras.


"Huft, baiklah. Iya, Richard pacar saya bang. Tapi lagi ada sedikit masalah" kata Aish ingin bercerita pada orang yang salah.


"Ada apa? Tentu masalah kalian sebatas masalah remaja pada umunya kan?" tanya Siras yang kini mengambil air dari galon yang ada di dekat sofa, hatinya terasa panas mendengar penuturan Aish yang membenarkan hubungannya dengan Richard. Dia butuh guyuran air dingin untuk memadamkan api di hatinya.


Aish melihat segala tingkah laku aneh bosnya itu dengan mata awas. "Masalah sepele saja. Tapi sepertinya saya sudah terlalu lama disini bang, sudah hampir setengah jam bang dokter membiarkan saya berdiri saja tadi" kata Aish.


"Saya masih mau ngobrol sama kamu" kata Siras.


"Jadi, apa yang membuat kamu memilih dia?" tanya Siras.


"Aish juga nggak tahu bang, tapi dia selalu datang saat Aish butuh pertolongan. Entah sengaja atau tidak, dia selalu ada untuk Aish" jawab Aish.


"Cg, alasan yang konyol. Saya juga selalu ada saat kamu butuhkan. Bahkan sejak dulu, saat kamu dirawat di rumah sakit. Saya yang membayar semua tagihan rumah sakit kamu" kata Siras.


Aish sedikit terkejut mendengarnya, pantas saja semua temannya tidak tahu siapa yang membayar biaya rumah sakitnya waktu itu. Ternyata bosnya sendiri.


"Abang jangan main-main" kata Aish mulai tidak tenang.


Siras mengambil sesuatu dari map di atas meja kerjanya. Sebuah struk pembayaran, dan memperlihatkan pada Aishyah.

__ADS_1


"Ini buktinya" kata Siras.


Benar saja, biaya yang lumayan mahal itu sudah dilunasi oleh orang dihadapannya ini.


"Apa maksud abang memberitahu saya semuanya sekarang?" tanya Aish.


"Saya hanya ingin kamu tahu kalau saya juga ada di setiap kamu membutuhkan" ucap Siras dengan pandangan sayu.


"Terimakasih kalau abang dengan ikhlas membantu saya. Tapi kalau abang menginginkan saya membayarnya, saya akan berusaha membayar semuanya bang. Tapi beri saya waktu" kata Aish berusaha tegas kali ini.


"No, Aishyah. Saya hanya berharap kamu melihat keberadaan saya sebagai seorang lelaki yang ingin membahagiakan kamu" kata Siras.


"Abang jangan pakai bahasa diluar kendali saya. Dan saya minta maaf sama bang dokter" kata Aish tidak melanjutkan kalimatnya, dia takut melukai hati bosnya.


"Saya sudah terlalu lama disini bang, sudah hampir satu jam. Boleh kan saya kembali bekerja?" tanya Aish ingin kabur dari situasi aneh itu, lagipula sudah jam tujuh lebih lima puluh menit sekarang.


Aish berdiri tanpa persetujuan Siras, dia berjalan perlahan menuju pintu yang berada dibelakang Siras, dengan mata siaga Aish berusaha memegang handle pintu.


Siras berdiri dengan cepat, memegang tangan Aish yang berusaha membuka pintu. Menarik tubuh Aish hingga jatuh ke dalam pelukannya.


Aish kaget bukan main pada perlakuan Siras yang tiba-tiba seperti itu. Jantungnya bekerja tidak normal, dia meronta dalam dekapan Siras.


"Abang apa-apaan sih, lepasin bang. Aish mohon jangan seperti ini" kata Aish berusaha mendorong dada Siras.


"Tolong biarkan seperti ini sebentar saja Aishyah. Saya mohon" kata Siras lirih.


Aish mulai terdiam, dia berencana akan lari saat dekapan Siras melemah nanti. Tapi Siras masih mendekap Aish dengan kuat.


"Bang, saya nggak bisa nafas kalau abang peluknya kekencengan" kata Aish.


Siras yang mendengarnya tersenyum, melonggarkan sedikit dekapannya. Tapi Aish malah mendorongnya dengan kuat hingga dia jatuh terduduk di senderan sofa.


Aish kembali berusaha menggapai handle pintu, dia sudah merasa dalam situasi yang berbahaya kali ini.


Menyadari Aish yang akan lari darinya, dengan gerakan cepat Siraspun menarik tangan Aish yang sudah kurang sedikit lagi berhasil memegang handle pintu.


Siras menarik tangan Aish terlalu kuat, hingga membuat Aish terpental ke atas sofa. Beruntung dia tidak terjatuh ke lantai. Tapi sekarang dia merasa sedikit keliyengan karena terlempar.


Siras menghampiri Aish yang duduk, menarik hijab Aish dan membuangnya sembarangan. Aish geram pada tingkah bosnya ini, sudah kelewatan sekali. Bahkan gulungan rambutnya yang tadinya rapi kini menjadi berantakan.


"Maksud abang apa sih? Jangan kelewatan ya!" bentak Aish yang kali ini sudah tidak sabar lagi.


"I want you" kata Siras dengan senyuman.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2