Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
hal bodoh


__ADS_3

"Kalau kalian nggak mau berhenti, gue nekat nih" ancam Aish yang bersiap untuk menggoreskan pecahan beling ke pergelangan tangannya.


Falen dan Richard yang sudah sedikit lebam saling pandang sejenak.


Keduanya berpikir jika Aish tak akan mungkin melakukan itu semua karena Aish yang pobhia dengan darah.


Richard dan Falen tetap melanjutkan duelnya. Tak memperdulikan ancaman Aish yang tak masuk akal.


Aish yang sebal melempar pecahan beling itu dan sebuah ide yang lebih gila terfikir olehnya.


"Richard ada?" tanya Seno yang baru saja memasuki kawasan cafe. Dia sedikit tergesa karena sejak tadi perasaannya sudah tidak enak saja.


Apalagi dia teringat jika Aish akan datang hari ini bersama Falen. Entahlah! Mungkin ikatan persahabatan yang sangat kuat membuat Seno merasakan kekhawatiran yang sedang Aish rasakan.


"Di atas kak, tadi berantem sama temannya Aishyah" kata waiters yang memang mengenal teman-teman Aish.


Segera saja Seno mengunjungi roof top cafe, tempat favorit Richard dan teman-temannya.


"Oh ****!! Princess, turun. Ngapain lo naik kesitu? Bahaya princess, please turun ya" teriak Seno yang tak memperdulikan duel antara Richard dan Falen.


Pandangannya terfokus pada Aish yang sudah menaiki pagar pembatas rooftop. Aish sudah berdiri di pagar dengan ketinggian lima lantai.


"Nggak Sen, mereka nggak mau dengerin gue. Kalau semuanya sudah jadi egois cuma gara-gara gue, mendingan gue pergi aja sekalian nyusul ayah sama bunda" kata Aish dengan berair mata.


"Gue sudah nggak ada nilainya buat mereka, Seno. Mungkin mereka pikir ancaman gue tadi cuma main-main" kata Aish sambil mengusap linangan air matanya.


"Oke. Sekarang gue buktiin kalau apa yang keluar dari mulut gue nggak ada yang main-main" ancam Aish lagi.


Richard dan Falen menghentikan aksi duel mereka saat mendengar teriakan Seno.


Keduanya sama-sama memandang ke arah yang sama dengan Seno.


Dan Keduanya sama-sama terkejut karena tak menyangka jika Aish berhasil menaiki pagar setinggi itu.


"Jangan Ra, please lo turun ya. Oke, gue salah. Gue minta maaf sama lo, tapi please lo turun ya. Bahaya, Ra" kata Richard yang tak menyangka jika Aish terlalu nekat belakangan ini.


"Nggak, kalian terusin saja duel sampai mati. Gue juga mau loncat dari sini, nanti kita mati sama-sama ya" Aish tertawa saat mengatakannya.


Keadaan jiwanya sedang tidak baik, Aish hanyalah seseorang yang sedang putus asa.


"Nanti gue percayakan pemakaman gue sama lo ya, Senopati" kata Aish yang kembali berlinang air mata.


Berkali-kali merasakan sakitnya kehilangan tentu membuat banyak orang tidak kuat menahan beban hidupnya.


Apalagi Aish hanyalah seorang gadis belia yang belum bisa melihat kehidupan dari sisi lain yang mungkin masih ada sedikit kebahagiaan di balik segala masalah hidupnya.


Sekali lagi, Aish hanyalah gadis biasa yang selama ini berusaha kuat karena ada harapan untuk masa depannya.


Kesalahan yang Aish lakukan adalah terlalu berharap jika masa depannya akan baik-baik saja bersama Richard yang sangat mencintainya. Bersama para punggawanya yang sangat tulus menyayanginya.


Dan disaat harapan satu-satunya hilang, ditambah lagi satu per satu temannya juga akan pergi meninggalkannya, dia kembali menjadi gadis yang tak tahu arah.


Dia merasa kesepian, merindukan belaian kasih sayang keluarga terdekatnya yang semuanya sudah pergi mendahuluinya.


Setiap kalimat, "Gue ngerti perasaan lo" yang keluar dari setiap mulut orang yang mendengar kisah hidupnya hanyalah bulshit semata.


Tak ada yang tahu rasanya menjadi satu-satunya orang yang masih hidup disaat semua anggota keluarganya sudah meninggal.


Dan Aish merasakan itu di umurnya yang masih tujuh belas tahun waktu itu.


"No Princess, please jangan bodoh begini. Jangan tinggalin gue ya" kata Seno yang sudah menangis kali ini.


Aish masih bergeming, menatap Seno yang terlihat tulus padanya.


"Oke, kalau lo marah sama mereka berdua, lo jangan marah sama gue juga dong. Gue kan sayang sama lo. Nanti gue ajak lo ke tempat syuting deh kalau lo mau turun" bujuk Seno pada princessnya.


"Nanti kita ketemu sama artis-artis terkenal lainnya, ya? Atau lo mau ke Korea? Kita ketemu BTS? Atau nyariin member-membernya EXO? Atau lo mau ketemu Black pink?" masih berusaha membujuk Aish yang sebenarnya bukanlah pecinta artis-artis Korea.


"Gue ajak lo liburan kesana deh. Duit gue sudah banyak, princess. Atau kita umroh bersama? Terserah lo mau kemana, yang penting lo mau turun, ya?" kata Seno yang masih berusaha membujuk Aish.


Seno menangis kali ini, tak menyangka jika Aish serapuh itu. Dia tak menyadarinya, dia tak tahu jika perasaan Aish terluka sedalam itu.


Aish berjongkok, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia sudah lelah, terlalu lelah untuk selalu berusaha tegar, berusaha kuat.


Aish berjongkok dan menangis tersedu-sedu diatas pagar. Sebenarnya dalam hatinya dia juga takut mati, takut tidak berkumpul bersama keluarganya di surga jika dia mati konyol dengan melompat dari tempat setinggi ini.

__ADS_1


Richard dan Falen saling memberi kode.


Falen berjalan mengendap mendekati Aish. Dibawahnya, Richard bersiap menangkap Aish yang akan ditarik oleh Falen.


Mereka berdua kini bekerjasama untuk menurunkan Aish dari atas pagar. Untung saja tadi Aish memakai celana, tidak bergamis seperti biasanya.


Aish belum menyadari rencana ketiga cowok di bawahnya, dia sedang asyik menangis.


Menghitung mundur, 3, 2, 1. dengan isyarat tangan Seno, ketiganya memulai rencana dadakannya.


Falen langsung menarik Aish hingga terjatuh ke pelukan Richard.


"Aaahhhhh" teriak Aish yang sebenarnya merasa takut juga.


Dia tak menyangka jika Richard mendekapnya erat saat dia berhasil turun.


"Maafin gue, Ra. Jangan jadi bodoh lagi, ya" kata Richard yang semakin mengeratkan pelukannya.


Seno dan Falen ikut mengerubuti Aish dan saling berpelukan.


"Jangan tinggalin gue, princess" kata Seno tergugu dengan tangisannya.


"Gue sayang sama lo princess, maafin gue yang tadi nggak dengerin lo, ya" kata Falen yang ikut meneteskan air mata.


Sejenak mereka menumpahkan perasaannya, mendekap gadis yang selama ini mereka jaga dengan baik.


Tapi mereka lupa jika Aish hanyalah gadis biasa yang lebih suka menyembunyikan wajah sedihnya.


Aish mendongak, melihat wajah-wajah jangkung dari pria yang mengitarinya. Pria-pria yang selalu ada di dekatnya, dia malu pada dirinya sendiri kali ini.


"Maafkan hamba ya Allah, hamba telah lalai pada segala nikmatmu. Maafkan hambamu ini yang selalu merasa kurang dan tak pernah bersyukur" kata Aish dalam hatinya. Matanya masih saja mengeluarkan air mata.


"Kita pergi ya, lo mau kemana pasti gue anterin hari ini" kata Seno yang mengambil alih Aish sepenuhnya.


Sementara Richard dan Falen hanya bisa membiarkan kepergian Aish bersama Seno.


Richard tahu jika perbuatannya tanpa disadari sudah menyakiti Aish.


Meski masih tergugu, Aish mau saja dibawa pergi oleh Seno kali ini.


Seno yang biasanya manja pada Aish, kini menjadi pria yang sudah bisa merangkulnya saat Aish bersedih. Sudah bisa memberikan bahunya saat Aish terluka.


Richard hanya mengangguk mendengar ucapan Falen. Dan menduduki sofa panjang tempat Favorit Aish dulu, saat Falen juga pergi meninggalkannya.


"Takdir macam apa ini tuhan. Dalam sekejap saja kau membalikkan keadaan. Semula semuanya terasa begitu membahagiakan, tapi dalam sekejap saja kau berikan kesedihan yang begitu mendalam" gumam Richard yang hanya bisa menyandarkan dirinya di atas sofa dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya untuk menyembunyikan air matanya.


Seno dan Aish berjalan dengan masih berair mata. Orang-orang melihat mereka dengan tatapan penuh tanya.


Aish membiarkan dirinya di dekap oleh Senopati, sahabat manjanya ini kini tumbuh sangat tinggi. Aish tak menyangka jika kini dia hanya sebatas dada Seno saat berdiri.


Dan Seno benar-benar mengajak Aish ke tempat syutingnya, meski tak ada jadwal untuknya. Seno akan mengenalkan Aish pada teman-teman Artisnya.


"Nih, rapiin muka lo pakai tissue basah ya. Biar cantik lagi" kata Seno.


Aish tersenyum dan menerima tissue dari tangan Seno. Sebenarnya dia sangat malu karena telah melakukan hal yang sekonyol tadi.


Awalnya dia tidak berniat bunuh diri, tapi memang bisikan setan itu sangat kuat. Tadi Aish membuktikannya sendiri.


Niatnya untuk melerai pertikaian Falen dan Richard malah membuatnya teringat akan semua kesedihan yang bertumpuk-tumpuk dalam hatinya.


"Kita ketemu sama banyak artis sebentar lagi, jadi lo harus kelihatan cantik kayak biasanya ya princess" kata Seno yang ikut merapikan penampilan Aish di dalam mobilnya.


Seno tahu Aish sedang terluka, jadi dia sama sekali tidak membahas kejadian yang baru saja mereka alami.


Sedangkan di rooftop cafe, Richard yang masih terlalu syok dengan perbuatan Aish jadi teringat orang tuanya.


Kalau tidak salah, hari ini kedua orang tuanya dijadwalkan pulang. Jadi dia segera menelpon mamanya.


"Hallo ma, mama dirumah?" tanya Richard melalui telepon.


"Iya, baru saja sampai rumah. Kenapa?" tanya mamanya.


"Richard mau ngomong penting banget sama mama. Richard pulang sekarang juga, mama jangan kemana-mana" kata Richard yang langsung mematikan sambungan ponselnya.


Dengan langkah tergesa, diapun pulang ke rumahnya. Ingin segera menyelesaikan masalahnya hari ini juga.

__ADS_1


"Ma... Mama" teriak Richard seperti anak kecil mencari keberadaan mamanya.


"Apa sih, Richard? Kamu kenapa sih teriak-teriak?" tanya mamanya.


"Mama pernah ngobrol sama Aishyah nggak beberapa hari yang lalu?" tanya Richard langsung pada pokoknya.


"Nggak tuh, Richard. Memang sebelum mama ke Kalimantan kemarin sudah berencana mau ngobrol sama Aishyah, tapi berhubung mama tungguin tapi nggak datang juga ya sudah mama tinggal deh" kata mamanya.


"Sebelum ke Kalimantan kan tiga hari yang lalu ya ma?" tanya Richard.


"Iya, memangnya kenapa sih?" tanya mamanya.


"Aishyah tiba-tiba mutusin Richard ma, dia bilang mama sama papa nggak setuju sama hubungan kita" kata Richard mengadu.


"Tapi mama nggak pernah ngobrol sama dia tuh, kok bisa sih kalian putus? Padahal mama sama papa baru saja berencana untuk memikirkan permintaan kamu buat meminang dia loh" kata mamanya sedikit menyesal.


"Coba deh mama ingat-ingat lagi, pernah nggak mama ngobrol sama Aish?" tanya Richard.


"Atau mama memang nggak setuju sama hubungan kami?" pertanyaan penuh selidik untuk mamanya.


"Ehm, maaf nyonya, maaf den Richard. Tiga hari yang lalu, sewaktu den Richard pulang sebentar mau ambil berkas yang ketinggalan, saya minta non Aish untuk menemui nyonya dan tuan di ruang kerja. Seperti yang nyonya pesan hari itu" kata bibik yang pagi itu menemui Aish.


"Terus bik?" tanya Richard lagi.


"Non Aish memang langsung menuju ruang kerja tuan, tapi bibik tidak tahu apa non Aish bertemu sama nyonya atau tidak" kata bibik.


"Oh, ****! Berarti benar Aishyah ke ruang kerja papa" Richard langsung lemas, seperti akar permasalahannya sudah ketemu.


"Ehm... Apa mungkin Aishyah mendengarkan pembicaraan mama dan papa pagi itu ya, Richard?" tanya mamanya.


"Memangnya mama ngobrolin apa sih?" tanya Richard, ingin marah tapi ini orang tuanya.


"Mama sama papa memang lagi bahas soal kalian, dan awalnya memang kami agak keberatan sama keputusan kamu. Tapi demi kebahagiaan kamu, akhirnya kami mengalah dan menerima semua keputusan kamu asalkan kamu mau bertanggung jawab" kata mamanya.


"Dan kami sudah menunggu Aishyah hari itu untuk menanyakan padanya secara langsung, sebelum kami datang ke rumahnya secara pribadi" kata mamanya.


"Kenapa sih, ma? Papa dengar kok ribut daritadi" tanya papa Richard yang baru saja datang.


"Aishyah tiba-tiba mutusin Richard, pa" kata mamanya.


"Kok bisa gitu?" tanya papanya heran.


"Katanya kita nggak setuju sama hubungan mereka" jawab mama Richard.


"Wah, sayang sekali kalau begitu. Padahal papa sudah mau berkunjung ke rumahnya lho" kata papanya yang memang sangat menyayangkan kejadian itu.


"Pantesan hari itu air dari dalam vas bunga bisa tumpah tanpa sebab ya, pa" kata mama Richard.


"Oh, yang waktu mama nuduh si Burhan yang numpahin itu ya?" tanya papanya lagi.


"Iya, yang mama hampir kepleset itu kan" kata mama Richard menimpali.


"Oh, pantesan waktu itu bajunya basah. Terus dia juga nangis, jadi karena dia salah paham, ma" kata Richard.


"Kalau dia nggak mau, cari cewek lainnya kan bisa, Richard. Kamu ini kayak nggak ada cewek lainnya saja. Dulu kamu kan banyak pacarnya tuh" kata papanya memberi saran.


"Nggak mau. Pokoknya papa sama mama harus ngomong langsung sama Aishyah, dan pastiin kalau dia mau balikan lagi sama Richard" rengek Richard seperti anak kecil.


"Cari yang lainnya kenapa sih, susah amat syarat dari kamu" kata papanya lagi.


"Pokoknya kalau nggak sama Aishyah, Richard nggak mau pa. Biarin saja Richard menjomblo selamanya, kayak Alando. Sekalian saja Richard ikut tinggal di Jepang sama dia" ancam Richard pada kedua orang tuanya.


Papa dan mamanya hanya bisa saling pandang, saat Richard mengancam seperti itu dan meninggalkan mereka berdua di ruang tamu


"Sudah memang kalau ngobrol sama orang yang lagi bucin" ejek papa Richard.


"Dia itu orangnya konsisten lho, pa. Jangan anggap remeh omongannya. Kalau dia benar-benar mau tinggal di Jepang, siapa yang mau meneruskan perusahaan papa? Romeo?" tanya mamanya


"Benar juga ya ma. Bisa hancur perusahaan kalau dipegang Romeo. Dia kan tahunya cuma foya-foya saja" kata papa Richard.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2