Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
masalah sepeda


__ADS_3

"Jadi ada masalah apa sih kong?" tanya Aish.


"Dua malam lepas, bener lo dipalak preman?" tanya engkong.


"Eh iya benar, engkong tau darimana?" tanya Aish.


"Premannya pakai tatto naga di lengannya?" tanya engkong lagi.


"Kayaknya iya kong, saya juga nggak begitu paham gambar apa. Saya ketakutan waktu itu, jadi nggak begitu perhatiin gambar tattonya kong. Emang kenapa kong?" tanya Aish.


"Mereka itu anggota dari Naga Kembang, bisa dilihat dari tattonya yang bergambar naga ngelilit bunga. Dan ketua preman-preman sialan itu anak engkong yang bandel ini" kata engkong meninju pelan lengan anaknya yang daritadi diam saja.


"Rian sudah bilang be, pasti bukan anggota Rian. Tidak ada kata memalak di dalam klan kami. Babe pasti salah orang" kata Rian.


"Salah orang pala lo. Pokoknya lo tanyain tuh preman kroco, awas aja kalau sampai benar anggota lo yang sudah malak cucu gue" kata engkong.


"Kayaknya sih preman yang malam itu sudah dipenjara kong, teman Aish yang ngurus semuanya, dia bilang preman itu sudah dipenjara meskipun sepeda Aish hilang" kata Aish.


"Ngomongin apa sih, serius banget kayaknya?" tanya enyak yang baru tiba membawa nampan berisi seteko teh panas dan sepiring pisang goreng.


"Noh, tanyain anak lo yang bandel banget ini" kata engkong emosi.


"Sudah napa bang, anak nggak pernah pulang juga, sekalinya mau pulang malah dimarahi. Emangnya ada apaan sih Rian?" tanya enyak.


"Babe nuduh anak buahnya Rian malak si Aishyah, nyak" kata Rian.


"Buset dah, kalau bener gitu ya emang keterlaluan yan. Kasian lo neng, lo nggak apa-apa?" tanya enyak malah membela Aish juga, Aish hanya menggeleng.


"Jadi mereka ngambil sepeda lo juga? Benar-benar memalukan" kata engkong.


"Lo denger tuh yan, bahkan sepeda goesnya Aish juga diambil, keterlaluan" kata engkong lagi.


"Nggak mungkin be, kalau memang kejadiannya seperti itu, pasti nanti Rian hukum orang yang udah nyerang Aish ini" kata Rian.

__ADS_1


Bang Rian ini sebenarnya baik, hanya tindik di telinga dan juga tatto dilengan membuatnya terlihat sangar. Pembawaannya tenang dan sorot matanya tajam. Tapi sangat patuh pada orang tuanya.


"Lo denger ya Rian, selama ini babe nggak pernah ngelarang lo lakuin apa yang lo mau, apa yang lo suka. Sampai akhirnya lo jadi kayak gini, babe sebenarnya sedih yan, babe ngerasa nggak becus jadi orang tua. Babe biarin lo punya klan apalah itu namanya, asalkan jangan gangguin orang, jangan nambah-nambah masalah orang. Lo tau nggak gimana sulitnya Aish ini ngelanjutin hidupnya? Terus lo biarin anak buah lo ngambil satu-satunya sepedanya? Kebangetan lo emang" kata babe memarahi anaknya.


"Abang minta maaf ya Aishyah, abang janji bakal nemuin orang yang ngaku-ngaku anak buah abang yang udah nyelakain lo sama teman lo" kata Rian.


"Lo jangan janji-janji doang. Buktiin omongan lo" bentak babe.


"Iya be, iya. Besok pasti Rian kabari. Rian pamit dulu ya be, sudah ditungguin orang, ada janji" kata bang Rian undur diri.


"Tapi bang, kata teman Aish, orang yang malak kita sudah ditangkap sama polisi. Tapi sepeda Aish sudah hilang. Nggak apa-apa deh bang, Aish ikhlasin aja sepedanya. Mungkin memang bukan rizkinya Aish" kata Aish.


"Lo emang beneran baik ya is. Tuh be, anaknya aja sudah ikhlasin, masak babe masih aja gondok?" tanya Rian.


"Gue kagak terima Rian, pokoknya lo cari tahu benar-benar kejadian ini. Jangan sampai ada korban dari anak buah lo atau yang ngaku-ngaku anak buah lo lagi ya. Malu gue sama orang-orang kalau sampai tahu anak babe yang jadi bosnya para preman kroco tukang palak nggak bermutu" kata engkong masih marah.


"Iya-iya be, sekarang Rian pamit dulu. Pasti bakalan Rian selidiki, secepatnya Rian kabari babe" kata Rian beranjak dari tempat duduknya setelah meminum segelas teh hangat buatan ibunya.


"Lo baik-baik ya Rian, enyak selalu berdoa buat kebaikan lo" kata enyak melepas kepergian anaknya.


Aish hanya mematung ditempatnya duduk, belum pernah selama ini mendengar engkong marah hingga membentak, kecuali saat latihan tentunya. Tapi mendengar babe yang tempramen seperti ini membuat Aish takut juga sebenarnya.


"Is, lo kenapa diem aja?" tanya engkong setelah melepas kepergian anaknya dan juga anak buahnya.


"Eh, nggak apa-apa kong" kata Aish cengengesan.


"Yaudah lo pulang aja, keburu malam. Biar Johan anterin lo pulang ya" kata engkong.


"Iya deh kong" kata Aish, memang kejadian pemalakan di malam hari itu masih membuatnya was-was untuk sekedar keluar rumah saat sudah larut.


"Ayo is, abang anterin lo balik" kata Johan, Aish mengangguk patuh.


"Aish pulang dulu kong, nyak. Assalamualaikum" kata Aish juga menyalimi punggung tangan kedua orang tua itu.

__ADS_1


"Iya hati-hati ya. Waalaikumsalam" kata engkong dan enyak.


*******


Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, semua sudah berjalan normal seperti sedia kala.


Aish berangkat dan pulang menggunakan angkot, dengan beribu alasan akhirnya Richard tidak lagi menjemput Aish. Emily adalah alasan terkuatnya. Meskipun begitu, cowok itu masih sering menghubungi Aish via wa.


Sementara di suatu siang, Alifah yang berjalan-jalan bersama anaknya yang masih balita sedang membeli es boba di dekat pengepul besi tua.


Saat sedang menunggu pesanannya dibuatkan, matanya melihat-lihat di sekitaran. Dia fokus pada sebuah sepeda goes berwarna ungu dengan keranjang putih yang tergeletak di dinding di dalam kios pengepul besi tua. Ada stiker salah satu anggota bts kesayangannya tertempel di keranjang sepeda itu. Itukan sepeda kesayangannya saat masih sekolahah SMP dulu?


Hatinya memanas, sebegitu inginnya keluarganya menghapus kenangan bersamanya. Hingga satu-satunya sepeda kesayangannya dulupun harus mereka jual ke pengepul seperti itu?


Sudut mata Alif mengair, matanya terasa panas, apalagi hatinya. Amarah dalam dadanya kembali meluap-luap. Dia mengira bahwa bunda dan adiknya benar-benar ingin menghapus tentangnya.


"Mama angis?" tanya gadis kecil Alifah.


"Nggak sayang, mama kelilipan, perih banget" ucapnya berbohong pada si kecil, anak itu manggut-manggut saja.


Hingga pesanan mereka selesai, Alifah masih memandangi sepeda ungunya dengan nanar. Sungguh sudah tidak ada lagi ruang di hatinya untuk memaafkan bunda dan adiknya yang telah membuang kenangan bersamanya.


Kesalahpahaman di hatinya sudah menggunung. Tidak ada lagi space untuk mendengar kata hati nurani. Kebenciannya pada keluarganya sendiri sudah memuncak.


Selama ini dia mengira bundanya masih menyimpan sayang padanya. Meskipun ayah mengusirnya waktu itu, dia melihat sang bunda yang menangis memanggil namanya agar tidak keluar dari rumah.


Kadang saat sendiri, Alif menyadari bahwa perbedaan keyakinan adalah hal yang paling dihindari. Tapi cintanya pada sang pacar membutakan logikanya. Hingga tujuan hidup bersama membuatnya melakukan kesalahan dengan menghadirkan anak gadis balitanya ini.


Tidak ada yang disesali dari hadirnya anak bagi seorang ibu, juga tidak ada anak haram yang selalu disematkan pada diri anak di luar nikah. Hanya saja cara seorang anak dilahirkan adalah perwujudan dari kesalahan kedua orang tuanya, yang harus dipikul seumur hidup oleh sang anak yang tidak tahu apa-apa.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2