Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
End


__ADS_3

"Pakai jaket, Aish" perintah Nindi.


"Jangan lupa masker sama topinya" tambahnya.


"Mana bisa gue pakai topi, Nindi. Kan harus pakai helm juga. Kita mau naik motor, Nin. Bukannya naik angkot" keluh Aish yang daritadi selalu mendapatkan komentar tentang fashionnya.


"Yasudah, ndak usah cemberut. Nanti cantiknya ilang. Topinya ditaruh dalam tas aja ya. Nanti kalau sudah sampai kampus baru dipakai" kata Nindi.


"Iya, Bawel. Sarapan yuk. Keburu siang nanti kalau lo komentar mulu" keluh Aish.


"Ish, iya. Lagian kamu itu kok rajin banget sih. Pagi-pagi sudah bangun, terus solat, terus bangunin aku, terus bikin sarapan. Memang calon istri idaman kamu ini" kata Nindi.


"Ternyata lo lebih bawel daripada gue, Nin" kata Aish.


Sarapan pagi ini Aish hanya membuat nasi goreng, mie instan goreng pedas, dan ceplok telor. Tapi Nindi terlihat lahap.


Pukul tujuh lebih tiga puluh menit, keduanya bersiap berangkat ke kampus untuk memastikan jadwal mereka masuk kuliah nanti.


Mereka berdua sama-sama mengambil jurusan bisnis management, sedangkan Ilham mengambil jurusan Akuntansi.


"Ilhaaaaaaammmm" teriak Nindi saat baru saja menapakkan roda motor di parkiran.


Tentu saja ulahnya membuat sebagian orang yang ada disana jadi menoleh.


"Diem, Nin. Lo tuh malu-maluin banget sih" komentar Aish setelah memarkirkan motornya.


"Ilham ndak malu kok. Yuk ke sana" ajak Nindi.


"Hai, Ilham. Baru sampai?" tanya Nindi.


"Iya, kalian juga?" tanya Ilham setelah sedikit merapikan penampilannya.


"Iya, bareng yuk ke dalam" ajak Nindi.


"Lo lagi nggak enak badan beneran, Sya? Segala pakai jaket, masker dan apalagi itu? Topi lo keren juga" kata Ilham.


"Lo ngejek gue ya? Ini kan gara-gara si Nindi kocak ini, Ham" keluh Aish.


"Tapi kan kamu kelihatan lebih keren, Aish. Iya kan, Ham?" tanya Nindi.


"Iya sih, kayak artis Instagram gitu. Hehe" kata Ilham.


"Hai, sya" sebuah suara terdengar dari belakang tubuhnya.


Mereka bertiga menoleh juga, terdengar familiar.


"Mike? Lo disini juga?" tanya Aish sedikit terkejut.


"Iya, gue ngikutin jalan ninja lo" kata Mike sembari terkekeh.


"Lo ada-ada saja. Yasudah, barengan yuk ke dalan" ajak Aish.


Mereka bertiga datang ke kampus kali ini adalah untuk menyelesaikan administrasi bagi Ilham, Nindi dan Mike. Karena untuk Aishyah memang mendapatkan beasiswa full.


Dan juga untuk mengambil beberapa perlengkapan kuliahnya seperti jas almamater.


Dan kegiatan mereka telah selesai saat tengah hari, sekitar jam satu siang.


"Ke kantin yuk. Penasaran aku sama kantinnya mahasiswa, kira-kira sama apa nggak ya sama di sekolah kita dulu" ajak Nindi, yang mendapat persetujuan dari semuanya.


Aish duduk bersebelahan dengan Mike. Sialan Nindi memang, dia sengaja menghindar tadi agar bisa memberi ruang bagi Aish dan Mike agar duduk bersama. Sedangkan Nindi sendiri duduk dengan Ilham.


"Solat dulu yuk, Nin. Nanti kita balik lagi kesini" ajak Aish.


"Ehm, kamu duluan deh, Aish. Hehehe. Nanti aku nyusul" tolak Nindi.


"Cg, elo mah" kata Aish.


"Sama gue yuk, Sya. Gue juga mau solat" kata Ilham.


"Yuk" kata Aish dan Ilham yang beranjak dari mejanya setelah berpamitan pada kedua temannya.


Saat berjalan menuju ke mushola kampus, tiba-tiba Ilham menyapa seseorang.


"Bos, ngapain kemari?" tanya Ilham, sedangkan Aish tidak begitu fokus daritadi karena sedang memandang ke sekelilingnya.


Richard menoleh, padahal diapun sedang memakai masker dan juga topi. Tapi Ilham hafal dengan postur tubuh atasannya itu.


Masker dan topi yang mereka gunakan berwarna sama, tidak sengaja memang. Tapi Richard senang masih ada kemistri diantara mereka berdua.


Jantung Aish masih berdegup kencang saat netranya bertabrakan dengan netra coklat pekat milik Richard.


Pandangan mata Richard seakan mengunci mata Aish yang seperti tak bisa memandang ke arah lain.


"Aku masih harus ngambil almamater, anterin ya Richard" terdengar suara manja dari seorang gadis yang berada di samping Richard.


Hati Aish serasa jatuh hingga ke perutnya, badannya terasa lemas. Apa dia cemburu.


Aish berusaha tak mengedipkan matanya, karena pasti akan keluar air mata jika satu kali saja dia berkedip.


Beruntung dia harus mendongak saat bertatapan dengan Richard, jadi air matanya tak bisa lolos begitu saja.


"Oh, bos lagi sama mbak Helen ya" kata Ilham yang ternyata sudah mengenal gadis itu.

__ADS_1


"Apa Richard sudah punya pengganti gue" kata Aish dalam hatinya.


Dan rasanya itu sangat sakit. Bahkan sudah selama itu, mata Aish masih tak juga mau berkedip.


Richard masih memandangnya, sebenarnya perasaannyapun masih sama. Dan melihat Aish yang seperti itu, membuatnya mengutuk diri sendiri.


Karena telah meyakini lagi hati Aish yang masih sangat dicintainya.


Melihat kecanggungan itu, Ilham mengerti jika dia telah melakukan kesalahan.


"Sorry kalau kita gangguin lo ya bos. Kita duluan ya" pamit Ilham.


Mendengar perkataan Ilham, Aish berani menunduk kali ini.


Dan benar saja, air matanya sudah lolos beberapa butir saat dia menunduk.


Tanpa banyak kata, Aish melangkah tanpa menyapa Richard maupun Helen.


Secepat kilat dia mengusap matanya, malu jika Ilham sampai melihatnya menangis.


Tapi Richard tahu apa yang sedang Aish lakukan. Hal itu membuatnya sangat kecewa.


Tadi, niatnya kesini bersama Helen adalah mencari keberadaan Aish dan berusaha berbicara lagi.


Tapi Richard tak memikirkan kemungkinan untuk bertemu secara mendadak seperti itu. Dia jadi tak bisa berkata apa-apa untuk meyakinkan Aish kali ini.


Dan melihat Aish pergi dengan air mata, hatinya jadi sakit.


"Lo mau solat jamaah bareng gue, Sya?" tanya Ilham memecah keheningan sejak meninggalkan Richard tadi.


"Boleh, nanti kita ketemu di dalam masjid ya" kata Aish sambil melepaskan sepatunya di teras masjid.


Sesuai rencana, Aish dan Ilham melaksanakan solat berjamaah di dalam masjid kampus.


Setelahnya, merekapun masih betah untuk berdzikir dan berdoa.


"Lo duluan saja ke kantin ya, Ham. Gue masih mau disini" kata Aish.


Sejak bertemu dengan Richard tadi, hatinya tiba-tiba bersedih.


"Iya" kata Ilham, dia mengerti perasaan temannya ini.


Dan diapun yakin jika Richard merasakan kesedihan yang sama. Ilham Sebenarnya juga menyayangkan sikap Aish yang tiba-tiba menjauh dari Richard.


Aish masih menenangkan hatinya, merasa sangat bersalah karena harus mencintai seorang hamba ciptaan Tuhannya dengan sedalam ini.


Dia merasa malu karena bersedih dengan sangat saat dijauhkan darinya.


Ya, Aish kini tahu jika dia terlalu mencintai Richard.


Aish masih betah untuk melaksanakan solat ashar berjamaah di dalam masjid di kampus barunya ini.


Setelah selesai dengan kewajibannya, Aish mengabari Nindi agar pulang bersama Ilham. Karena Aish masih ingin berkeliling dengan motornya.


Kebiasaannya saat merasa galau adalah berkendara dengan motornya, berkeliling tak tahu arah.


"Bang, beli telur gulungnya lima ribu ya. Bentar gue tinggal beli minuman disana" kata Aish pada pedagang telur gulung.


Jajanan favoritnya yang selalu dibeli saat ditemukan di pinggir jalan.


"Siap neng" kata penjual.


Aish meninggalkan motornya di dekat penjual telur gulung, dan sedikit berjalan ke arah penjual es yang tak jauh dari tempatnya.


Dia kembali dengan satu cup es cappucino cincau. Dan berniat mengambil telur gulungnya.


"Makasih, bang" kata Aish setelah mendapatkan jajanannya.


Setelahnya, Aish mencari tempat yang nyaman untuk menikmati kesendiriannya.


Duduk di bangku yang ada di tepi jalan dan memarkirkan motornya di sebelah bangku.


"Enak" kata Aish yang menggigit telur dari gulungannya, dan meminum esnya.


"Ternyata gue masih sayang sama lo, Richard. Tapi sepertinya lo sudah berusaha melupakan gue, ya. Secepat itu" gumam Aish seperti berbicara dengan telur gulung di tangannya.


"Gue nggak boleh nangis lagi dong, iya kan lur. Telur kayak lo saja nggak nangis meski harus di goreng, dicampur bihun, digulung-gulung. Tapi hasilnya jadi enak" kata Aish berusaha kuat, tapi menangis juga.


Inilah mengapa dia tak mau ada yang mendekatinya saat bersedih, karena sebenarnya Aish sangat mudah menangis. Dan dia tak mau orang lain melihatnya menangis.


Sedangkan Richard, setelah melihat keadaan Aish tadi. Kembali dia harus mencari waktu yang tepat untuk berbicara serius.


Diapun meninggalkan Helen dan menunggu Aish di dalam mobilnya. Richard masih bisa mengakses keberadaan Aish dimanapun melalui aplikasi dalam ponselnya.


Dan Aish tidak tahu akan hal itu.


"Pasti dia masih nangis" gumam Richard saat mendapati titik keberadaan Aish masih di dalam masjid dalam waktu yang lama.


Melihat pergerakan Aish, Richard masih membuntutinya.


"Kenapa selalu beli jajan yang nggak sehat sih" Richard kembali menggerutu saat melihat Aish membeli telur gulung dan es capcin.


Diapun terus mengamati perilaku Aish yang berbicara pada telur gulung dihadapannya sambil menangis.

__ADS_1


"Seandainya gue bisa bikin lo tersenyum lagi, Ra. Gue masih sayang banget sama lo" gumam Richard yang tak tega melihat Aish menangis.


Aish menghabiskan telur dan juga esnya. "Kenyang" katanya sambil mengusap perut.


Kembali memakai masker dan memasukkan topi ke dalam tasnya. Aish bersiap pergi setelah memakai helmnya dengan benar.


Richard masih membuntuti. Tempat tujuannya kali ini cukup jauh.


Aish berencana mengunjungi makam keluarganya. Tak perduli meski sudah cukup senja untuk berkunjung.


Sampai di parkiran makam, Aish turun untuk membeli bunga.


Dan berjalan memasuki area makam dengan beberapa kantong bunga dan juga air di tangannya.


Pertama, Aish selalu mengunjungi makam kakak dan bundanya.


Duduk berjongkok dan menabur bunga di atas kedua makam itu. Tak lupa menyiram air juga diatasnya.


Dan yang terpenting adalah, memanjatkan doa untuk kedua arwah di hadapannya ini agar mendapat tempat terindah di sisi Allah.


Aish khusyuk saat membaca yasin dan tahlil diatas makam kakak dan ibunya.


Setengah jam berlalu, Aish telah selesai dengan bunda dan kakaknya.


Kini, meski langit mulai kemerahan. Aish masih mantap untuk berkunjung ke makam sang ayah.


Dan tanpa sepengetahuannya, Richard masih mengamatinya dari jarak beberapa meter.


Aish melakukan hal yang sama pada ayahnya, adab ziarah kubur yang dulu ayahnya ajarkan, kini berlaku.


Doa anak soleh/soleha pasti dikabulkan. Niat Aish untuk sangat menjaga diri adalah agar bisa mendoakan sang ayah.


"Yah.. Aish datang lagi" kata Aish mengawali sesi curhatnya diatas batu nisan sang ayah.


"Sekarang aku sudah jadi mahasiswi, sudah bukan anak sekolahan lagi yah" kata Aish sambil mengelus tanah makam.


"Tadi aku lihat Richard sama cewek lain, yah. Kenapa aku sedih ya? Boleh nggak Aish minta ayah marahi saja si Richard itu karena sudah bikin hatiku sedih?" tanya Aish, audah tak bisa lagi menahan air matanya.


"Aku cuma bilang sama ayah doang sih, nggak berani bilang sama bunda dan kakak. Mereka kan sering ngetawain aku kan yah kalau lagi sedih" kata Aish berusaha tersenyum, dan kembali mengelus permukaan makam ayahnya.


"Aish sedih yah, kenapa harus ada penghalang setinggi itu diantara hubungan kami? Mungkin memang seharusnya dari dulu aku nggak maksain hubungan ini ya, yah?" kembali Aish meneteskan air matanya.


"Tapi langkah yang Aish ambil sudah benar kan yah? Bukankah ridho orang tua itu sangat penting?".


"Aish nggak mau kayak kakak, hidup berjauhan dengan keluarganya demi seorang pria. Dan sekarang, adik dari pria yang membawa lari kak Alif malah dicintai sama Aish, yah. Maafin aku ya, yah" Aish menjatuhkan kepalanya diatas nisan ayahnya.


Kini dia sudah menangis tersedu-sedu disana. Menumpahkan seluruh kesedihannya disana.


Berharap nanti setelah curhat pada ayahnya, kesedihannya akan berkurang. Bahkan siapa tahu, nanti dia akan lupa dengan semuanya


Dan menjadi Aish yang baru, yang bersiap menghadapi masa depannya.


Richard bisa mendengar semua perkataan Aish dari tempatnya berdiri. Suasana hening pemakaman membuatnya dengan mudah mendengar isi hati Aishyah.


Memahami segala isi hatinya dengan seksama. Dan kini dia sangat yakin jika orang tuanya akan berperan sangat penting untuk masa depannya kali ini.


Aish menyudahi tangisannya saat melihat senja sudah menghitam. Dia akan pulang.


"Richard? Sejak kapan disini?" tanya Aish yang terkejut melihat ada Richard disana.


"Please Ra. Balik sama gue. Gue pastiin kalau orang tua gue nggak akan menentang hubungan kita" kata Richard tanpa basa-basi.


"Nggak Richard, seperti yang sudah gue bilang. Restu dari orang tua itu sangat penting. Karena gue sudah melihat sendiri sebuah hubungan tanpa restu orang tua pasti hanya menyisakan duka" kata Aish.


"Pastiin lo tetap jaga hati buat gue saja sebelum restu itu kita dapatkan. Jangan pernah berpaling" ancam Richard.


Richard tiba-tiba mendekap Aish dengan eratnya.


"Jangan pernah lari dari gue" kata Richard.


"Gue rasa, elo yang sudah berniat ninggalin gue, Richard. Lo jangan pamer sama gue ya kalau sudah punya cewek baru" kata Aish mulai meneteskan air mata.


"Dia bukan siapa-siapa gue" kata Richard.


"Gue nggak perduli" kata Aish yang masih betah berada dalam dekapan Richard.


Cukup lama berlalu, saat terdengar sayup-sayup adzan Maghrib menjelang. Aish mengurai dekapan Richard.


"Gue pamit, ya Richard" kata Aish.


"Jangan pernah berusaha menghapus nama gue di hati lo" kata Richard.


"Datang lagi setelah lo dapat restu dari orang tua lo" kata Aish yang kini berjalan meninggalkan Richard.


Meski masih berair mata, Aish akan menunggu saat dimana Richard akan datang bersama restu dari kedua orang tuanya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2