
~~ Ruby ~~
Semua orang berkumpul di halaman mansion yang megah itu, disana telah berdiri tenda dan sebuah altar pernikahan. Desain yang sederhana terlihat jelas pada altarnya.
Di kamar Ruby tengah bersiap-siap, dia terduduk di depan sebuah cermin besar dengan beberapa orang yang membantunya bersiap.
Pikirannya sedang tidak berada di tempatnya.
[ Flasback On ]
Setelah semua orang terkejut dengan pernyataan Rai, ayahnya meninggalkan ruang keluarga tersebut.
Setelah sebelumnya mengucapkan selamat telah bergabung dalam Klan kepada Ruby. Dia memeluknya dan mengucapkan terima kasih.
Ruby hanya bisa ber ah – oh saja karena pikirannya tidak menemukan kata yang tepat untuk membalas ucapan selamat itu.
Yang saat ini dia inginkan hanya penjelasan tentang semuanya. Dia berpikir sangat keras, apa ada kata-kata Rai yang dia lewatkan sampai keadaan berubah jadi kacau seperti ini.
“ Kak kau serius ? “ Tanya Ken memulai pembicaraan dan membuyarkan lamunan Ruby.
Objek yang menjadi pusat semua masalah hanya diam menatap Ruby yang sedang kebingungan.
“ Bukankah kau sendiri yang menggoda ku, mengatakan kalau aku akan pulang saat sudah menikah “ jawabnya kemudian menjelaskan.
“ Hahaha... Hei apa kau marah dengan candaan ku? “ Ken balik bertanya dengan tertawa, tidak menyangka candaannya di jadikan sebuah kenyataan oleh kakaknya.
“ Rai kenapa ? “ Penyihir Vi tiba – tiba menimpali.
“ Bukankah kita sudah bicara, bukankah kita sudah sepakat, tapi kenapa jadi begini ? “ lanjutnya mencecar pertanyaan.
“ Aku berubah pikiran “ Jawab Rai singkat.
“ Tidak, kau tidak bisa begini, bagaimana mungkin kau menikah dengan dia, pelayan rendahan yang bahkan tidak jelas status dan asal usulnya “ nada suara penyihir Vi mulai terlihat kesal.
“ Jaga ucapanmu, jangan lupa juga tentang asal usulmu “ Jawab Rai dengan nada tegas dan pandangan tajam.
Ok baiklah aku mulai tidak paham kemana arah pembicaraan ini, apa ini nyata ? Atau mereka sedang berlatih adegan drama ? Ah aku pusing aku ingin istirahat tapi juga ingin penjelasan, pikir Ruby sambil memijat antara tulang hidung dan matanya.
Melihat Ruby yang sepertinya kebingungan dan kelelahan, Rai memanggil pelayan dan menyuruhnya mengantar Ruby ke kamar untuk beristirahat.
Ruby pun meninggalkan ruangan itu setelah sebelumnya berpamitan kepada Ken dan mendapat tatapan membunuh dari penyihir Vi.
[ Flashback Off ]
~~ Rai ~~
Dia berada di depan cermin sedang menilai penampilannya sendiri ditemani dengan sekertaris Yuri dan pak Handoko kepala pelayan di Mansion ini.
Mengenakan setelan tuxedo hitam yang terlihat pas ditubuhnya.
__ADS_1
“ Anda terlihat tampan tuan muda “ Puji pak Handoko kepada Rai.
Rai hanya tersenyum melihat dirinya sendiri, dia tidak menyangka akan menikah. Rasa bahagia tidak bisa dia sembunyikan.
Aku tidak peduli bagaimana gadis itu, aku akan membuatnya menjadi duplikat ibu, dia harus seperti ibu, pikir Rai.
“ Yuri apa sudah kau urus semuanya ? “ tanya nya kepada Yuri.
“ Sudah Tuan muda, sebelum acara dimulai nanti nona Ruby akan menerima panggilan telfon itu “ jawabnya memberi penjelasan akan tugas yang dia terima.
“ Bagus, ikat dia sekuat mungkin, jangan pernah membiarkannya lepas “ Lanjut Rai memberi perintah selanjutnya.
“ Baik Tuan “ jawab Yuri seraya menundukkan kepalanya.
[ Flashback On ]
Sesaat setelah Ruby pergi, sekertaris Yuri mendapat telfon, dia menjawab singkat kemudian berbicara kepada Rai bahwa Tuan Regis ingin menemuinya di Ruang kerja.
Rai berjalan meninggalkan ruangan itu, Vivianne dan Ken masih disana. Vivianne terlihat sangat marah dan kesal, dia menghentak – hentakkan kakinya dan mengepalkan tangannya menahan amarah.
Rai berjalan menyusuri lorong di ikuti sekertaris Yuri, berhenti didepan sebuah pintu kayu berukuran besar dengan ukiran naga dimasing-masing daun pintunya. Diatas pintu terukir tulisan “ Lord “ yang terbagi menjadi dua.
Sekertaris Yuri mengetuk pintu dan memberitahukan kedatangan Tuan Mudanya.
“ Masuk “ perintah suara dari dalam ruangan.
Sekertaris Yuri membukakan pintu dan mempersilahkan Rai masuk, kemudian dia menutupnya kembali dan berjaga-jaga didepan pintu.
Disebelah lemari itu terdapat sebuah kursi dan meja besar yang kokoh, terlihat jelas meja itu dibuat secara khusus untuk ruangan ini.
Di tembok ruangan itu tergantung puluhan foto seorang wanita, berbagai macam pose dan wajah yang berbeda dari waktu ke waktu.
Regis duduk di sofa tunggal yang ada di ruangan itu, menyilangkan kaki dan menengadahkan kepalanya bersandar pada sandaran sofa.
Rai mendekatinya dan duduk di sofa panjang yang berhadapan langsung dengan ayahnya.
“ Hentikan permainanmu, batalkan pernikahan ini “ ucapnya tanpa melihat kearah Rai.
“ Aku tau maksudmu memilih gadis itu, tapi ini semua tidak benar, kau hanya akan melukainya. Rai sadarlah, tidak akan ada yang bisa seperti ibu mu “ lanjutnya menjelaskan.
Seperti paham apa yang ada di kepala putranya, Regis tanpa basa basi memutuskan.
Bukannya dia tidak tau rumor diluar sana tentang anaknya yang berganti wanita setiap malamnya. Tapi Regis tau yang dia cari hanya sosok wanita yang seperti ibunya. Berharap menilai wanita semalaman dan menemukan sosok ibunya dalam salah satu wanita yang menemaninya.
Regis juga tau Rai tidak menyentuh wanita-wanita itu sama sekali, hanya meminta ditemani makan, minum dan menunggunya terlelap tidur.
Tapi semua sia-sia, saat Rai tidak menemukan sosok itu dia kehilangan kendali amarahnya dan menghajar wanita-wanita itu.
Dia begitu jijik melihat wanita-wanita itu menggodanya, memakai pakaian seksi terbuka seperti seorang pelacur, dan kata-kata seronok yang diucapkan seakan ingin menimbulkan hasrat bercinta.
__ADS_1
Dimatanya ibunya bukan perempuan rendahan seperti itu.
“ Kali ini aku menemukannya, setelah 10 tahun yang panjang akhirnya aku menemukannya, sekarang aku tidak akan melepaskannya lagi, tidak akan membiarkan dia meninggalkan ku sekali lagi “ jawab Rai dengan tegas.
“ Rai tidak ada wanita yang bisa seperti ibu mu, tidak juga dia. Semua orang diciptakan dengan berbeda, hal yang jahat kalau kau memaksanya menjadi seperti ibu mu “ Regis memberi pengertian.
“ Aku tidak akan menyerah kali ini, dulu aku tidak bisa mencegah ibu pergi karena keadaan ku, sekarang aku tidak akan melakukan itu, aku bisa mencegahnya, karena aku yang sekarang lebih baik “ Jawab Rai tetap pada pendiriannya.
“ Baiklah kalau itu sudah jadi keputusanmu, ayah percaya padamu. Tapi ingat jangan sakiti dia, itu sama saja seperti kau menyakiti ibu mu “ Regis mengakhiri pembicaraannya.
Rai berdiri dan menundukkan kepala kepada ayahnya, dan pergi meninggalkan ruangan itu.
“ Haah dasar anak kecil, bagaimana dia bisa memegang teguh janjinya 10 tahun yang lalu padamu “ ucap Regis menghela nafas panjang kepada sebuah foto kecil di meja .
[ Flasback Off ]
~~ Vivianne ~~
Duduk didepan meja riasnya, matanya merah dan basah oleh deraian air mata, giginya gemertak menahan amarah. Teringat pembicaraannya dengan Rai beberapa hari yang lalu. Seharusnya hari ini adalah hari nya.
[ Flasback On ]
“ Kita menikah saja “ ucap Rai tiba-tiba pada Vivianne sesaat setelah dia memasuki ruangan bernomor 999 dan duduk disofa sebelahnya.
“ Baiklah “ jawabnya dengan nada datar tapi dalam hatinya dia melonjak senang.
Vivianne adalah anak dari bibi Na, pengasuh Rai sejak bayi, mereka hanya terpaut 1 tahun dan tumbuh bersama.
Vivianne telah menyukai Rai bahkan sebelum tau apa arti suka itu. Setelah bibi Na meninggal, keluarga Rai tidak meninggalkan dia sendirian, dia tetap berada di mansion itu layaknya sebuah keluarga.
Merasa memahami Rai dan mengerti apa saja tentangnya, dia berusaha mati-matian berubah menjadi seperti nyonya Lorie agar Rai mau menyukainya.
Berubah menjadi wanita anggun yang mempesona layaknya ratu kerajaan.
Dan penantiannya selama ini tidak sia-sia, meskipun harus sakit hati setiap kali melihat Rai ditemani wanita lain, tapi Anne tau jelas bahwa yang dicari Rai adalah sosok Lorie.
Akhirnya hari itu datang, hari dimana Rai lelah mencari dan berpaling padanya, sosok yang paling mendekati kemiripan dengan nyonya Lorie.
Bagaimana tidak, dia tumbuh besar di mansion ini dan melihat nyonya Lorie setiap hari membuatnya mudah meniru apapun yang jadi kebiasaan nyonya besar itu, senjata ampuh yang akan membuat Rai berlari kepadanya.
[ Flashback Off ]
Seharusnya hari ini adalah hari pernikahannya, seharusnya hari ini adalah hari terbahagianya. Tapi semua berubah dalam sekejap saat gadis itu muncul dan menangis memohon untuk tidak memecatnya.
Gadis sialan, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, akan ku buat Rai benci kepadamu, akan ku buat hari-harimu bagai di neraka, hari inilah pemakamanmu, teriak hati Anne sambil melempar kaca rias didepannya dengan vas bunga yang terletak di sudut meja itu. Pecahan kaca berhamburan dilantai.
Dia berdiri berjalan keluar kamar dan meminta pelayan didepan kamarnya untuk membersihkan kekacauan yang dia buat.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Bersambung....