Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Karena Aku Bisa Cemburu


__ADS_3

" Hm...hm...hm.... " Blair meronta-ronta agar bisa terbebas dari bekapan tangan seseorang yang ada di belakangnya. Namun sia-sia saja, tangan itu cukup kuat.


Hingga mereka tiba di atap gedung barulah orang misterius itu melepaskannya. Dengan cepat Blair membalikkan badannya menghadap orang tersebut.


" Sia.. " Teriak Blair akan memaki, tapi dia segera menutup mulutnya sendiri saat melihat Dylan sedang berdiri di hadapannya.


" Sst... " Dylan menempelkan telunjuknya di bibir lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Blair.


" Hei kau jahat sekali " Blair langsung kesal begitu melihat wajah Dylan. Dia menyilangkan kedua tangannya di dada dan memalingkan wajahnya.


Berusaha menyembunyikan rona malu bercampur bahagianya di balik bibir cemberutnya.


Blair merasa sekarang tubuhnya telah berubah menjadi taman bunga hingga membuatnya serasa di kelitiki seribu kupu-kupu yang hinggap. Melambung tinggi sekaligus sesak secara bersamaan.


Inikah rasanya jatuh cinta ? Aku bisa gila !!!


Histerisnya di dalam hati.


" Kau masih marah ? " Tanya Dylan lembut.


" Hm " Blair hanya meliriknya sinis sebagai jawaban. Dia tidak ingin lagi terlihat gampangan. Meski hal itu harus membuatnya berusaha sangat keras.


Blair seorang model yang pandai berpose tapi tidak dengan berakting. Maka dari itu dia terus memikirkan hal lain yang bisa membuatnya tetap sadar. Karena berada berdua sedekat ini dengan orang yang di sukai, siapa yang masih bisa waras ?


Begitu juga dengan Blair, kaki dan tangannya saat ini seperti sudah berubah jadi jelly dan dia ingin langsung menghambur memeluk Dylan sebagai penahannya agar tidak mencair ke lantai.


" Kenapa kau marah ? " Tanya Dylan lagi, kali ini sambil mencondongkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Blair dari dekat.


" Siapa yang marah " Jawab Blair berusaha seketus mungkin, tanpa sadar dia juga mendorong mundur wajahnya menghindari tatapan Dylan.


Panas, panas !!!


Blair bisa merasakan wajahnya memanas, bukan karena paparan sinar matahari tapi karena sesuatu dalam dirinya yang tiba-tiba seperti terbakar.


" Kenapa wajah mu merah ? Kau demam ? " Tanya Dylan lagi mengulurkan tangannya menyentuh kening Blair.


Sentuhan Dylan seperti teraliri dengan arus listrik, sampai-sampai Blair berjengit karena ini baru pertama kalinya dia merasakan yang namanya tersetrum.


" Ti-tidak " Jawab Blair singkat, masih berusaha mempertahankan ekspresi cemberutnya.


" Ooh " Dylan menegakkan kembali tubuhnya dan hanya mengangguk-angguk.


Fiuh !!! Kenapa aku kepanasan begini.


Batin Blair semakin merasa gerah. Dia menegadahkan wajahnya menatap langit. Memang mataharinya cukup terik tapi tidak seharusnya membuatnya kepanasan sampai seperti ini.


" Ehem... " Blair berdehem untuk menghilangkan gugupnya sebelum bicara pada Dylan.


" Kenapa kau menarik ku kesini ? " Tanyanya sinis.


" Aku ingin minta maaf padamu karena tadinya ku kira kau marah, tapi ternyata tidak " Jawab Dylan santai.


Mendengar itu Blair langsung mengerutkan keningnya dan menatap Dylan dengan tajam.


Bagaimana bisa laki-laki di hadapannya itu berbicara begitu ?


Blair tidak habis pikir, memangnya raut wajah juga sikapnya saat ini masih belum menunjukkan kalau dia sedang marah ?


" Lalu kau tidak jadi minta maaf kalau aku tidak marah ? " Tanya Blair sedikit menaikkan nada suaranya. Begitu cepatnya emosinya tersulut.


" Tidak, buat apa aku minta maaf kalau kau tidak marah " Jawab Dylan masih dengan santainya.


" Apa ? " Blair membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Benarkah dia laki-laki yang bersikap manis padanya kemarin ? Laki-laki yang menciumnya dengan lembut ?


Blair menggelengkan kepalanya saat suara-suara Merry bergema di kepalanya.


Dia penggoda, cuma main-main.


" Kau... " Blair hampir kehilangan kesabarannya, dia benar-benar di buat kesal setengah mati.


Harusnya Blair marah dan memakinya dengan berbagai umpatan, tapi meski seluruh kata umpatan di dunia ini dia keluarkan, rasanya itu masih belum cukup untuk menggambarkan bagaimana perasaannya yang sedang tercabik-cabik saat ini.


Dylan di hadapannya masih diam dengan raut wajah santainya. Polos tanpa merasa bersalah.


" Ku lihat kau tadi tidak makan siang ? " Tanya Dylan kemudian.


" Kenapa memangnya, mau aku makan atau tidak apa peduli mu " Jawab Blair sinis. Kali ini bukan pura-pura, tapi benar-benar sinis.


Dylan menghela napas panjang melihat gadis onengnya.


Dia benar-benar lemot.


Batin Dylan pasrah.


" Nih " Dylan mengulurkan kantong plastik berisi snack yang dia beli pada Blair.


" Apa ? " Blair melirik sinis ke arah kantong plastik yang terulur padanya.


" Makanan ringan " Jawab Dylan tersenyum. Bukannya melunak, kekesalan Blair semakin menjadi-jadi.


" Tidak mau " Jawabnya sinis lalu memalingkan wajahnya.


Seenaknya saja mempermainkan hati orang lain, memangnya aku lucu bagimu. Oneng ? Aku tidak seoneng itu.


" Haaah... " Dylan kembali menghela napas jengah. Mereka bukan anak TK yang harus saling bersitegang untuk masalah sepele seperti ini bukan ?


" Yakin kau tidak mau ? Kau bisa pingsan seperti waktu itu kalau tidak makan siang " Ucap Dylan dengan tangan yang masih menggantung di udara.


" Mau pingsan kek, mau mati kek, apa peduli mu " Gumam Blair ketus.


Dylan merasa percakapan mereka akan sia-sia, sampai jam istirahat berakhir pun mereka tetap tidak akan nyambung.


Dylan mengeluarkan sebungkus snack keripik lalu memberikannya langsung ke tangan Blair.


" Hei " Pekik Blair ingin marah.


" Sstt... " Dylan berdesis menyuruh Blair untuk diam. Lalu dia kembali mengambil snack dari dalam kantong dan memberikannya ke tangan Blair yang satunya.


" Ku bilang aku tidak mau " Ucap Blair dengan suara tinggi.


" Pegang itu ! Jangan sampai kau membuangnya atau menjatuhkannya atau aku yang akan marah " Ancam Dylan mendelik ke wajah Blair.


Cinta memang aneh. Nyatanya Blair yang kesal kepada Dylan itu pun mau dan menurut saja dengan ucapannya.


Dylan kembali mengambil sesuatu dari dalam kantongnya.


" Ku bilang aku tidak mau " Jawab Blair.


" Aku minta tolong pegangkan sebentar, aku haus, aku ingin minum " Jawab Dylan sembari mengacungkan botol air mineral ke hadapan Blair.


Dasar oneng, Blair pun tidak bisa menyangkal perkataan Dylan. Dan dia tetap memegang kedua snack itu dengan erat.


Dylan yang melihat hal itu pun tersenyum lucu, begitu mudahnya untuk menggoda gadis onengnya. Menyenangkan sekaligus menggemaskan. Dia pasti betah meski seharian hanya menggoda Blair.


" Aah segarnya " Ucap Dylan sengaja dengan keras setelah meneguk air minumnya. Blair pun meliriknya tajam.


Dasar tidak peka, tidak berperasaan !!!


Rutuknya dalam hati, kembali memalingkan wajahnya.

__ADS_1


" Dasya " Panggil Dylan pelan.


" Apa la... " Saat Blair menoleh untuk menjawabnya tiba-tiba saja sebuah kecupan mendarat di bibirnya.


Blush !!! Wajah Blair langsung memerah dan pikirannya mendadak kosong.


Marah, kesal, atau apapun yang ada di pikirannya sekarang sudah hilang. Hanya seperti ruang hampa udara.


" Maaf ya kalau aku membuatmu marah, aku tidak bermaksud begitu " Ucap Dylan lembut saat bibirnya lepas dari bibir Blair.


" A..o...i-itu " Tidak siap dengan serangan Dylan yang mendadak itu membuat Blair gelagapan. Jangankan untuk menjawab Dylan, untuk bernapas saja dia sangat kesulitan.


" Aku bukan mentertawakan mu seperti yang kau sangkakan, aku hanya tertawa melihatmu yang oneng, pertama kau mendukung temanmu yang lain, lalu detik berikutnya kau mendukung yang lain. Kau sangat plin plan " Jelas Dylan lembut.


Blair mengernyitkan keningnya. Dia bingung mendengar penjelasan Dylan. Otaknya yang normal saja perlu waktu untuk mencerna apalagi dengan situasinya yang saat ini kacau setelah mendapat ciuman dari Dylan.


" Sudah jangan terlalu di pikirkan, jangan buat otak oneng mu ini berpikir terlalu keras " Ucap Dylan sembari mengelus-elus kepala Blair.


" Ck " Decak Blair kembali kesal lalu memutar matanya.


Oneng, oneng, oneng terus. Memangnya tidak bisa ya memanggil dengan yang lain.


Batinnya kesal.


" Hm ? " Dylan yang masih mengusap kepala Blair itu pun mengernyit bingung.


" Apalagi itu ? " Tanyanya.


" Kenapa sih kau selalu memanggil ku oneng, oneng, oneng terus. Aku kan punya nama, 2 malahan. Kau kan bisa memanggil salah satunya " Jawab Blair ketus.


" Kenapa ? Kau tidak suka ku panggil oneng ? " Tanya Dylan tersenyum geli melihat sikap Blair.


" Bu-bukan begitu " Jawab Blair gelagapan panik, dia bukannya tidak suka di panggil begitu oleh Dylan. Kalau boleh jujur, dia bahkan mungkin akan tetap girang meski Dylan memanggilnya dengan sebutan lain yang lebih jelek. Apapun itu tidak masalah asal Dylan.


Dylan, Dylan, Dylan, pikiran Blair hanya terisi oleh Dylan.


Bisa gila aku lama-lama !!


Teriak batinnya putus asa.


" Lalu kau mau ku panggil apa ? Sayang ? " Tanya Dylan menggoda.


Ambyar sudah !! Hati Blair pecah menjadi kepingan-kepingan kecil tapi kali ini bukan karena patah hati, tapi karena tidak kuat lagi mendengar kata-kata menggoda yang di lontarkan Dylan. Hatinya mengembang terlalu besar.


" Sa-sayang ap-apa " Jawab Blair terbata-bata, dia mengalihkan pandangan matanya ke segala arah, kemanapun asal jangan ke wajah Dylan atau hal itu akan membuat otaknya semakin oneng karena kosong.


" Oh jadi kau tidak mau di panggil sayang, baiklah kalau begitu kita cari panggilan lain saja " Jawab Dylan sambil menggosok-gosok dagunya. Berpura-pura berpikir.


" Apa ? " Tanya Blair tapi nyatanya dia cuma bergumam pelan. Seluruh tenaganya sekarang terpusat di otaknya, menjaganya agar tetap sadar dan tidak pingsan.


" Beb... " Gumam Dylan.


Seperti sihir, kata-kata Dylan benar-benar membuat Blair seperti pergi ke dunia lain.


Hentikan !! Aku tidak kuat lagi, mataku sudah mulai berkunang-kunang.


Teriak batin Blair.


" Tapi aku tidak terlalu suka panggilan itu " Lanjut Dylan, masih sibuk berpikir tanpa menghiraukan reaksinya pada Blair yang sudah megap-megap kehabisan napas.


" Jadi aku akan tetap memanggilmu oneng " Lanjutnya kemudian menatap kembali ke arah Blair.


" Cih " Hanya itu jawaban Blair. Dan mereka berdua pun tersenyum bersama.


" Sekarang ceritakan pada ku kenapa kau marah ? " Tanya Dylan setelah merasa suasana hati Blair sudah membaik.


" Tidak mau " Jawab Blair kembali berpura-pura ketus.


" Kenapa ? " Tanya Dylan bingung.


" Aku bertanya karena aku benar-benar tidak tau, jadi ceritakan pada ku " Ucap Dylan.


" Kau benar-benar tidak tau ? " Tanya Blair serius.


Dylan hanya menggeleng sebagai jawabannya.


" Sungguh tidak tau ? " Ulang Blair lagi.


Dylan pun mengedikkan bahunya dan memiringkan kepalanya.


Blair menghela napas panjang, kembali kesal. Tidak mungkin kan Dylan seorang siswa terpintar di sekolah tidak tau alasan Blair marah, begitu pikirnya.


" Tidak peka " Jawab Blair sinis.


" Peka ? " Ulang Dylan semakin bingung.


" Peka masalah apa ? " Tanyanya lagi.


" Hei kau kan murid terpintar di sekolah, masa kau tidak tau kenapa aku marah ? " Tanya Blair ketus.


" Aku memang murid terpintar, tapi maaf aku belum jadi dukun yang mampu membaca isi pikiran mu " Jawab Dylan santai.


Blair ingin sekali berteriak dan memukul lengan Dylan dengan keras, kalau bukan karena snack yang dia pegang saat ini.


" Memangnya kau tidak dengar pembicaraan Merry dan Bella tadi ? " Tanya Blair kesal, gengsi bila harus langsung menjelaskan alasannya kenapa dia marah. Di cium sebelum di tembak.


" Dengar " Angguk Dylan tapi masih belum bisa menemukan korelasi antara percakapan mereka dengan kemarahan Blair.


" Itu tentang apa ? " Tanya Blair lagi.


" Tentang ciuman Bella kan ? " Jawab Dylan ragu-ragu sembari mengingat-ingat barangkali ada yang dia lewatkan.


" Menurutmu apa yang salah dari situasi yang di alami Bella ? " Tanya Blair lagi, sedikit lagi dia akan sampai pada intinya.


" Tidak ada " Jawab Dylan cepat tanpa berpikir.


" Tidak ada ?!? " Suara Blair naik 1 oktaf lebih tinggi.


" Menurutmu tidak masalah kalau seseorang di cium tanpa status begitu ?!? " Tanyanya di liputi kemarahan lagi.


" Tanpa status ? " Tanya Dylan bingung.


Blair menghela napas panjang, menahan emosinya.


" Memangnya kau tidak dengar kalau Bella dan cowok itu belum berpacaran, dan cowok itu mencium Bella, tidak kah menurutmu Bella akan terkesan seperti cewek gampangan ?!? " Jelas Blair penuh emosi.


" Hm bisa jadi " Jawab Dylan mengangguk setuju.


" Bisa jadi ?!? " Jawaban dari Dylan semakin membuat emosi Blair memuncak.


" Kalau begitu menurutmu aku juga cewek gampangan ?!? " Kilatan penuh kemarahan terpancar dari tatapan mata Blair.


Dylan yang langsung paham maksud Blair itu pun menghela napas panjang.


" Tapi aku tidak menganggap mu begitu " Jawab Dylan.


" Itu karena kau yang mencium " Sengit Blair.


" Kau salah " Sanggah Dylan sembari melipat tangannya di dada. Masih terlihat santai dan tenang.


" Bisa saja cowok itu malah menganggap itu sebuah lampu hijau dari Bella " Lanjutnya.

__ADS_1


" Lampu hijau ? " Tanya Blair bingung.


" Hm " angguk Dylan.


" Kalau Bella tidak suka padanya, bisa saja kan dia menghindar saat cowok itu menunjukkan tanda-tanda akan menciumnya, dan dengan begitu cowok itu akan sadar kalau Bella mungkin tidak menyukainya. Tapi karena Bella menyukainya jadi dia pun seperti memberi lampu hijau untuk cowok itu " Jelas Dylan panjang lebar.


" Tapi setidaknya kan harus mengungkapkan dulu perasaannya, mana boleh langsung mencium begitu " Sanggah Blair.


" Tidak ada aturan harus mengungkapkan perasaan lebih dulu atau mencium lebih dulu, dalam sebuah hubungan semuanya mengalir begitu saja, selama mereka suka dan nyaman tidak masalah mana yang lebih dulu di lakukan " Jawab Dylan santai.


Blair pun terdiam, menurut hatinya apa yang di katakan Dylan benar, tapi akalnya menolak hal itu.


" Tidak boleh begitu, semua kan ada urutannya, mana boleh langsung melompati begitu " Jawab Blair lirih.


" Lalu ? " Tanya Dylan.


" Ya itu artinya kau harus mengutarakan perasaan mu lebih dulu baru boleh mencium " Jawab Blair lagi.


" Sekarang coba pikirkan sekali lagi " Sanggah Dylan.


" Kalau saja Bella tidak menyukainya, pasti dia akan menampar laki-laki itu karena sudah berani menciumnya sembarangan, dan tentu saja laki-laki itu akan tau kalau Bella tidak menyukainya, lalu menurutmu apa laki-laki itu masih mau mengungkapkan perasaannya kalau tau dia akan di tolak ? " Tanya Dylan.


" Ya itu... itu... " Kelemahan Blair adalah di otaknya, dan dia tidak akan menang mendebat Dylan bagaimanapun caranya.


" Apa kau mau bertaruh tanpa tau bakal menang atau kalah ? Siapapun pasti setidaknya punya satu keyakinan di hatinya yang berani membuatnya bertaruh. Begitu juga dengan laki-laki itu, mungkin saja dia sudah mencoba mendekati Bella dan Bella memberikan respon yang baik hingga pada akhirnya dia memutuskan mencoba mencari tau apakah Bella memang benar-benar suka padanya atau hanya bersikap baik antar sesama manusia. Dan aku rasa caranya adalah dengan coba menciumnya " Jelas Dylan lagi.


" Ta-tapi itu kan tidak jelas, mana mungkin mereka bersama tanpa ikatan begitu " Sanggah Blair lagi.


" Tanpa ikatan ? " Tanya Dylan bingung.


" Ya tanpa ikatan, kalau si cowok tidak menembak Bella itu artinya kan dia bisa saja berbuat begitu dengan perempuan lain " Jawab Blair lagi.


" Memangnya ada jaminan kalau cowok itu sudah menembak Bella lalu dia akan setia ? " Tanya Dylan santai.


" Apa ? " Blair bingung, otaknya tidak bisa mencerna kata-kata Dylan.


" Dasya... " Panggil Dylan lembut.


" Kalau cinta, meskipun tanpa mengatakannya mereka sudah tentu akan saling setia dan terus bersama meski tanpa melewati tahap tembak menembak, kalau hanya main-main, meski mereka saling mengatakan sayang setiap hari sebanyak seratus kali pun, hubungan mereka tetap tidak akan berhasil " Jelas Dylan sembari mengusap pipi Blair.


" Semua masalah cinta dan yakin, kata-kata hanya ungkapan semata, yang terpenting itu hati " Lanjutnya dengan lembut.


" I-itu... " Blair ingin menyangkalnya lagi, tapi hatinya tau kalau ucapan Dylan memang benar.


Tanpa cinta, sesering apapun kata sayang terlontar, itu hanya akan jadi sebuah kata-kata, ungkapan belaka. Tapi saat saling mencintai, meski tidak terucap, mereka akan selalu setia dan saling percaya bagaimanapun keadaannya.


" Sudah jangan di pikirkan lagi, untuk apa memikirkan masalah orang lain " Potong Dylan sembari mencubit kedua pipi Blair. Gemas dengan tingkah onengnya.


" Ini kan bukan cuma masalah Bella " Gumam Blair ragu-ragu, beranikah dia mempertanyakan perasaan Dylan padanya. Dia takut mendengar jawaban Dylan jika tidak sesuai dengan yang dia harapkan.


Bisakah dia mempertaruhkan kebahagiannya saat ini hanya demi sebuah kata menuntut kejelasan hubungan ?


" Maksudnya ? " Tanya Dylan bingung.


" Ki-kita kan sama kondisinya dengan Bella " Gumam Blair lirih.


Dylan tersenyum, si cantik onengnya masih saja belum mengerti.


" Aku bukan tipe orang yang akan menjelaskan pada orang lain, kau tau itu kan ? " Tanya Dylan.


" Tidak tau " Jawab Blair lirih, dia memang tidak tau tipe seperti apa Dylan.


" Haaah... " Dylan menghela napas, akan sangat panjang kalau dia menjelaskannya satu-satu pada Blair.


" Baiklah kalau begitu, terus mau mu apa sekarang ? " Dylan balik bertanya.


" Ke-kenapa kau mencium ku ? " Tanya Blair memberanikan diri.


" Banyak pula " Lanjutnya bergumam.


" Ya karena sudah jelas aku menyukai mu " Jawab Dylan santai.


" Tapi kau kan tidak pernah bilang " Blair yang senang sekaligus terkejut itu pun hanya bisa menatap Dylan dengan matanya yang berkaca-kaca.


" Memangnya kau pernah lihat aku menjelaskan apapun padamu ? Aku menyukai mu, makanya aku dekat dengan mu, kalau aku tidak menyukai mu mana mungkin aku dekat-dekat dengan mu " Jawab Dylan santai.


" Ya tapi kan setidaknya kau harus bilang sesuatu, bisa saja kau dekat dengan ku karena ingin berteman saja " Jawab Blair ragu-ragu.


" Ei mana ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan " Cibir Dylan mengejek pendapat Blair.


" Tentu saja ada, kan banyak laki-laki dan perempuan yang bersahabat " Sanggah Blair yakin.


" Kau punya sahabat laki-laki ? " Dylan mengernyitkan keningnya saat menatap Blair.


" Ti-tidak juga sih " Jawab Blair bingung kenapa Dylan malah balik bertanya.


" Bagus karena aku melarang mu punya sahabat laki-laki " Jawab Dylan santai.


" Kenapa ? " Blair yang oneng itu benar-benar tidak paham semua tanda-tanda yang Dylan berikan.


Dylan mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Blair melewati bahunya.


" Karena aku bisa cemburu sayang " Bisik Dylan mesra di telinga Blair.


Bersambung....


.


.


.


.


.


.


.


Epilog


" Sayang, kau punya waktu tidak malam ini ? " Tanya Ruby saat dia sedang duduk berdua bersama Rai di ruang bermain Raline.


Mendengar kata malam, pikiran Rai langsung mengudara membayangkan hal-hal romantis yang akan mereka lakukan sebagai pasangan suami istri.


" Tentu saja punya, aku punya waktu sepanjang malam untuk mu " Jawabnya cepat bersemangat.


" Baguslah kalau begitu, aku ingin bertarung dengan mu " Jawab Ruby santai sembari tersenyum.


Bertarung ? Bertarung yang bagaimana ?


Rai menimbang kata-kata Ruby yang bermakna ambigu lalu kemudian melihat ke sekelilingnya. Raline dan kedua pengasuhnya sedang bermain-main di kolam berisi bola.


Ah tentu saja dia ingin bertarung yang itu, hanya dia tidak bisa mengatakannya dengan terang-terangan karena banyak orang. Manisnya istriku.


Rai hanya senyum-senyum sendiri dengan pikirannya.


" Ok setuju " Jawab Rai dengan cepat.


" Ok " Balas Ruby dengan tersenyum girang.

__ADS_1


Saatnya balas dendam, akan ku buat kau sendiri yang memakai pembalut sialan itu.


Setan jahat dalam diri Ruby tertawa puas dengan rencana pembalasan dendamnya yang epic.


__ADS_2