
Hari liburan telah berakhir, Rai dan Ruby keluar rumah sakit dalam kondisi sehat dan sempurna. Selama di rumah sakit Ruby terkadang tidur di ruangan ayahnya. Rai membiarkannya, melihat istrinya begitu berbakti dia sangat bangga. Dan berpesan kepada pihak rumah sakit agar menjaga ayah Ruby dengan baik sebelum meninggalkan rumah sakit. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menuju mansion.
Mobil memasuki gerbang dan berhenti di depan pintu, pak Handoko dan beberapa pelayan sudah menunggu mereka.
“ selamat siang Tuan dan Nyonya, senang melihat anda sudah sehat kembali, rumah sangat sepi tanpa kalian “ Pak Handoko berbasa basi.
“ Hahaha... Pak Handoko bagaimana kalau anda jadi pelawak saja, bukankah kita bertemu sehari 3 kali meskipun aku berada di rumah sakit, sudah seperti minum obat saja “ Ruby menepuk lengan pak Handoko dengan tersenyum di paksakan.
“ Terima kasih nyonya atas pujiannya “ Pak Handoko tersenyum dan menundukkan kepalanya.
“ aku lelah, ayo istirahat “ Rai menarik tangan Ruby.
Pak Handoko mengikuti mereka sampai di kamar.
“ Apa anda membutuhkan sesuatu tuan ? “ Tanyanya kemudian.
“ Hei kau ingin makan apa ? “ Tanya Rai kepada Ruby yang sedang merapikan tasnya di atas kasur.
“ Aku tidak ingin apa-apa “ Ruby menjawab dengan tersenyum kepada pak Handoko.
“ Siapkan saja seperti biasa “ Perintah Rai.
“ Baik Tuan. Nyonya selamat atas kehamilan anda, kami semua ikut berbahagia dan tidak sabar menantikan kehadiran Loyard Junior “ Pak Handoko mengucapkan selamat kepada Ruby.
“ Terima kasih “ Ruby menjawab sopan.
" Apa ada sesuatu yang ingin anda makan nyonya, barangkali buah asam ? Kami memiliki banyak stok di dapur " Pak Handoko menawarkan.
" Tidak terima kasih, suruh saja dia memakannya " Ruby menunjuk Rai yang duduk di sofa dengan wajahnya.
Pak Handoko tersenyum dan berpamitan kepada mereka berdua.
" Istirahatlah, nanti malam aku ingin mengajakmu pergi " Rai memberitahukan kepada Ruby.
" Mau kemana ? " Ruby bertanya penasaran.
" Sudahlah nanti saja " Rai menjawab santai. Dia kemudian merebahkan dirinya di atas kasur, dan tertidur.
💐💐💐💐💐
Matahari sudah tenggelam dan langit berubah gelap. Rai dan Ruby sedang bersiap-siap di ruang ganti. Ruby membantunya memilihkan pakaian.
" Kita mau kemana ? " Ruby bertanya karena Rai masih saja merahasiakannya.
" Kita akan berkencan " Rai menjawab lirih dan memeluk pinggang Ruby. Dia mencium bibir Ruby. Semakin lama semakin dalam. Ruby mendorong pelan tubuh Rai.
" Kita akan kencan disini atau di luar ? " Ruby bertanya.
__ADS_1
Rai tersenyum dengan ucapan Ruby.
" Baiklah ayo berangkat " Rai melepaskan pelukannya.
Mereka bersiap-siap dan turun ke lantai bawah, mobil sudah terparkir di depan pintu utama. Kali ini Rai yang menyetir sendiri, dia ingin menghabiskan waktunya berdua bersama Ruby.
Mobil melaju meninggalkan mansion, menuju jalanan yang lumayan ramai. Berbelok masuk ke sebuah pusat perbelanjaan, berhenti di depan pintu masuk. Petugas membukakan pintu untuk Rai dan Ruby. Rai melemparkan kunci mobil kepada petugas penjaga pintu masuk, petugas menangkapnya dengan sigap dan berjalan memasuki mobil, dan melajukannya menuju tempat parkir.
Rai menggandeng tangan Ruby memasuki pusat perbelanjaan.
" Kita mau apa kesini ? " Tanya Ruby tersenyum girang.
" Apa ini akan seperti di drama-drama itu, kau membelikanku seisi toko ? " Ruby menutup wajahnya malu.
" Tidak siapa bilang kita disini untuk berbelanja untukmu, kita disini untuk membeli keperluan Junior. Sebentar lagi aku akan punya bayi, dan dia belum punya satu pakaian pun " Rai menjawab santai.
" Cih " Ruby mencibir kesal kepada Rai.
Rai menuju salah satu toko perlengkapan bayi, dia memasukinya dengan menggandeng Ruby.
" Kirim semua isi toko ini ke rumah " Pesannya kepada manager toko yang disambut anggukan.
" Tidak, jangan " Ruby menyela.
" Dia hanya bercanda, kami akan memilih sendiri " Ruby menginterupsi.
" Kenapa buang-buang waktu untuk memilih, akan lebih mudah kalau memindahkan semuanya ke rumah " Rai protes.
" Dia pasti laki-laki, dan akan seperti ku " Rai menjawab yakin.
" Sudahlah, itu bisa kita lakukan kalau dia sudah lahir nanti, sekarang ikut aku ke food court, aku mencium aroma makanan dan lapar sekali " Ruby merayu.
Rai terdengar malas dengan ide Ruby, dia tidak suka keramaian.
" Nanti aku akan mengajakmu makan di restoran bintang lima " Rai menolak.
" Aku ngidam dan kau harus menurutinya, atau anakmu akan lahir dalam kondisi air liurnya terus keluar, apa kau ingin Junior seperti itu ? " Ruby mengancam atas nama Junior.
" Mulutmu itu sangat berbisa " Rai menahan geram. Tapi Ruby tidak memperdulikannya, dia menyeret lengan Rai agar mengikutinya.
Mereka pergi kelantai khusus food court berada, aroma berbagai jenis makanan tercium.
" Aku ingin makan banyak malam ini " Ruby bergumam riang.
" Baiklah " Rai kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Tak lama seorang laki-laki paruh baya berlari tergopoh menuju mereka. Ruby melirik sekilas. Dia menundukkan kepalanya, memperkenalkan kepada Ruby bahwa dia lah manager utama pusat perbelanjaan itu. Ruby menghela nafas.
__ADS_1
Hanya ingin makan tenang saja sampai harus memanggil manager utama. Kau ini benar-benar manja sekali.
Rai memerintahkan manager itu untuk membeli masing-masing satu porsi semua makanan yang ada di food court itu.
" Tidak perlu, kami bisa melakukannya sendiri " Potong Ruby. Dia menatap Rai tajam.
" Junior ini anakmu atau anak tuan itu, kenapa harus dia yang menuruti keinginan Junior " Ruby berbisik lirih tajam ke arah Rai.
" Kau ini merepotkan sekali " Rai setengah berteriak, membuat semua orang yang sedari awal memperhatikan mereka jadi terkejut dan menarik lebih banyak lagi perhatian.
" Sudahlah kita antri saja seperti yang lain " Ruby membujuk Rai. Dia dengan cepat menarik tangan Rai agar mengikutinya berbaris mengantri seperti pembeli lainnya.
Mereka berdiri bersebelahan. Rai melingkarkan lengannya ke pundak Ruby.
" Ruby... " Panggil seseorang dari arah belakang.
Ruby menoleh untuk memeriksa siapa yang memanggilnya. Sedangkan Rai menerima panggilan ponselnya, dan langsung berjalan menjauh dari Ruby.
Ruby terkejut melihat Tina sedang berdiri di belakangnya, menggandeng seorang laki-laki dengan mesra.
" Tina ? " Suara Ruby sedikit meninggi.
" Ternyata benar kau, sedang apa disini ? " Tanya Tina antusias.
" Aku sedang... " Ruby mencari alasan.
" Apa kau kesini untuk berkencan ? " Tina menggoda.
" Lalu di mana paCARMU ? " Tina memekik kaget karena melihat Big Bos sudah berdiri disamping Ruby.
Ruby menoleh kesamping dan melihat Rai sudah kembali. Wajahnya pucat. Tina sudah pasti curiga.
" Ayo kita duduk sebentar " Ruby menyeret Tina duduk di kursi pengunjung, meninggalkan kekasihnya dan Rai yang hanya diam bingung keheranan.
" Aku bisa jelaskan ini " Ruby menjelaskan gugup.
" Ruby aku tidak menyangka " Tina menutup mulutnya.
" Ini tidak seperti yang kau bayangkan " Ruby berusaha menjelaskan.
" Aku tidak mengira Big Bos sekejam itu, di club dia sudah mengincarmu dan selalu menindasmu, sekarang dia bahkan menjadikanmu pelayannya di luar jam kerja ? " Tina menjawab Ruby dengan ekspresi sedih, menggenggam tangannya.
" Apa ? " Ruby bertanya heran.
" Lagipula ini salahmu, kenapa kau berteriak kurang ajar saat pertama bertemu dia, dia pasti dendam dan mengincarmu, dia akan menyiksamu habis-habisan. Aku melihat dia sangat tidak menyukaimu. Ruby bersabarlah. Aku akan bilang ini pada Daniel, supaya dia segera menembakmu, jadi kau akan punya kesatria pelindung " Tina menunjukkan simpatinya.
" Apa ?! " Ruby dan Rai kompak terkejut.
__ADS_1
Ruby menoleh kebelakang, dia melihat wajah Rai penuh dengan emosi. Tangannya mengepal menahan geram.
Aish sejak kapan dia berdiri di belakangku. Ruby menghela nafas putus asa.