
Sore yang hangat, Ruby sedang duduk di bangku taman depan air mancur. Dia menikmati sore yang sepi dan berusaha menilai sikap Rai kepadanya, kadang dia seperti anak kecil, tapi terkadang dia bisa sekejam pembunuh berdarah dingin.
Rai sedang berada di ruang pribadinya, setelah makan siang dia tidak kembali bekerja dan menyelesaikannya dari rumah.
“ Kakak ipar “ Sapa Ken mengagetkan Ruby.
Ruby tersenyum kepadanya, sepertinya Ken baru saja pulang bekerja, tapi dia tidak mengenakan setelan jas seperti ayah dan kakaknya, dia lebih suka memakai pakaian kasual.
“ Melamun apa? “ tanya nya setelah duduk di sebelah Ruby.
“ Hmmm... “ Ruby bingung ingin menjelaskan bagaimana.
“ Apa masalah kakak ? “ tebak Ken tepat sasaran.
Melihat wajah Ruby yang seperti berkata bagaimana kau tau, Ken pun mulai bercerita.
“ Kakak dulu lahir dengan kelainan jantung, jadi waktu kecil hidupnya dia habiskan di rumah sakit, bukan kenangan yang indah. Setiap hari harus minum obat, menjalani pemeriksaan, sampai suatu saat ibu mengalami kecelakaan dan meninggal. Sebelum meninggal ibu sempat berpesan kalau dia akan mendonorkan jantungnya untuk kakak. Kakak mengira itu semua salahnya, dia menyalahkan diri sendiri dan berubah jadi seperti sekarang. Kakak ku sebenarnya orang yang sangat manja dengan ibu, dan anak yang baik, tapi setelah ibu meninggal dia berubah jadi orang yang dingin dan kejam, kau mungkin mendengar rumor, setiap hari kakak berganti wanita untuk jadi kencan semalamnya tapi itu tidak sepenuhnya benar, dia hanya berusaha mencari sosok ibu dari setiap wanita yang menemaninya, untuk menghapus rasa bersalahnya. Dan akhirnya kau datang. Mungkin dia sangat dingin diluar, tapi sebenarnya dia sangat kesepian. Aku mohon bersabarlah menghadapinya, dia hanya seseorang yang butuh kasih sayang ibu “ cerita Ken panjang lebar.
Sekarang Ruby mengerti alasan kenapa sikapnya aneh, yang terkadang bisa seperti anak kecil, dan alasan kenapa dia menikahinya. Ternyata hanya “ibu” pengganti.
Pak Handoko datang untuk memberitahu bahwa sudah hampir waktunya makan malam dan meminta Ruby memasak telur gulung, Ruby seperti hafal dengan itu. Setelah Ruby mengiyakan pak Handoko meninggalkan mereka.
“ Semangatlah... Dimana wanita kuat yang aku temui di balkon itu “ Ken menepuk pundaknya memberi semangat.
“ Ah ya aku ingin tanya, apa makanan kesukaannya itu telur gulung ? “ Tanya Ruby penasaran karena dia sekarang hanya memasak telur gulung.
“ Hahaha.... Kakak ku sangat pemilih dalam hal makanan, tidak mungkin itu makanan kesukaannya. Kurasa itu karena inisiatif kakak ipar yang memasak untuknya, jadi dia bersikap seperti itu. Baginya itu bentuk dari kasih sayang seorang ibu untuknya. Hati-hati dia sangat posesif terhadap miliknya “ Jelasnya.
Cih miliknya, aku sudah seperti barang saja, tentu saja dia mengajakku main rumah-rumahan dan menjadikan ku boneka yang bisa dia dandani sesuka hati, sangat luar biasa. Kata hati Ruby memaki.
__ADS_1
“ Dan satu lagi, kenapa dia selalu menyuruhku menggenggam tangannya saat dia akan tidur ? “ Tanya Ruby penasaran dengan kebiasaan – kebiasaan aneh Rai.
“ Entahlah, aku rasa dia hanya senang menemukan sosok ibu lagi, jadi dia tidak ingin kehilangan atau mungkin ingin menebus semua hal yang tidak pernah dia lakukan bersama ibu “
Ya aku rasa itu untuk menebus semua waktu yang terlewatkan tanpa ibunya, bagaimanapun jika aku jadi dia mungkin aku akan bersikap sama. Pikir Ruby mencoba memahami sikap Rai yang berubah-ubah.
Mereka pun kembali untuk makan malam.
Menu makan malam kali ini telur gulung yang dimasak Ruby juga beberapa masakan yang dimasak koki. Selesai memasaknya pelayan menyajikan di atas meja.
Tuan Regis dan sekertaris Yuri pergi ke luar negeri untuk beberapa waktu karena ada pekerjaan yang harus di tangani. Sedikit kebebasan untuknya karena dia tidak perlu berpura-pura pernikahan mereka bahagia.
Rai sudah duduk di meja makan dan Vivianne juga sudah duduk disampingnya. Saat tuan Regis tidak ada Vivianne lebih leluasa untuk dekat-dekat dengan Rai, Ruby lebih memilih duduk di kursi seberang berhadapan dengan Rai dan disamping Ken.
“ Kau tidak duduk disampingnya ? “ Tanya Ken lirih.
“ Tidak terima kasih, sudah ada yang menemaninya “ Ruby melirik Vivianne.
“ Apa aku mengatakan sesuatu ? Aku baik-baik saja, dan aku tidak masalah dengan itu “ Ruby menjawab malas.
Mereka mulai makan dalam diam, Vivianne terus saja berusaha menggoda Rai dengan sikap manjanya, menceritakan bagaimana mereka tumbuh bersama saat kecil.
Dia ingin menunjukkan pada Ruby seberapa dekat dia dengan Rai, dan posisi Ruby bukan apa-apa.
Ruby sama sekali tidak peduli dan tidak memperhatikan. Saat Ruby selesai makan dia melihat lagi-lagi Rai tidak menyentuh makanan yang di ambilkan Vivianne.
Seketika perasaan bersalah muncul dihatinya.
Baiklah baiklah aku akan menjalankan peran ku jadi istri yang baik. Pikir Ruby saat melihat Rai menatapnya terus menerus.
__ADS_1
Ruby berdiri dan berjalan memutari meja mendekat ke kursi Rai, dia akan mengambilkan telur gulung “ kesukaannya “ itu.
Tapi saat Ruby sudah berada disamping Rai, dia menarik tangan Ruby dan membuatnya jatuh terduduk dipangkuan Rai, mata mereka bertatapan.
Jantung Ruby berdegub kencang dan wajahnya memerah. Nasafnya tak beraturan.
“ Terima kasih istri ku “ ucapnya lembut membuat Ruby salah tingkah, dia segera berdiri.
“ Apa? “ Ruby terbata-bata, dia bingung harus berbuat apa.
Sementara itu Ken hanya tersenyum dan Vivianne mengepalkan tangannya menahan marah.
“ Ayo tidur, aku lelah “ Bangkitnya dan segera menarik tangan Ruby agar mengikutinya.
Wajah Ruby masih memerah saat mereka berada di ruang ganti, melakukan tugasnya sebagai babysitter yang memilihkan baju dan membantu menggantikannya.
Hei jantung berhenti memompa darah berlebihan, kau membuatku terlihat seperti kepiting rebus. Dia cuma butuh sosok ibu bukan istri tercinta. Pikir Ruby meyakinkan dirinya sendiri.
Rai sudah berbaring di atas kasur dan memakai selimut, menunggu Ruby yang masih berganti baju.
“ Kemarilah dan pegang tanganku “ perintah Rai saat melihat Ruby keluar dari kamar ganti.
Ruby duduk di kursi di samping tempat tidur dan memegang tangannya.
“ Ceritakan dongeng “ perintahnya lagi dengan mata terpejam.
Ruby menghela nafas panjang, tidak mengerti dengan jalan pikiran Rai, tapi dia tidak ingin memikirkannya, kemudian dia mulai menceritakan dongeng yang dia dengar dulu dari ibunya.
Suara nafas Rai semakin dalam sepertinya dia sudah tertidur. Ruby menatapnya, dia seperti anak kecil yang tenang dan manis. Mungkin benar dia butuh kasih sayang dari seorang ibu.
__ADS_1
“ Selamat malam Tuan Rai, bermimpilah hanya yang indah-indah saja “ ucap Ruby dan kemudian tertidur dengan bergandengan tangan.
Ibu aku juga sangat merindukanmu, mata Ruby meneteskan air mata.