Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
The Last Samurai : Killing the Cow


__ADS_3

" Mooooooo " Lengkingan suara binatang itu seperti menyapa setiap orang yang hadir untuk menyambut kedatangannya.


2 Ekor sapi sengaja Regis datangkan langsung dari peternakan terbaik yang ada di negeri ini, lokasinya yang jauh membuat Regis memerintahkan anak buahnya agar mengangkutnya dengan helikopter pribadi. Dia beralasan tidak baik menunda ngidam putri kesayangannya.


Mereka bertiga berjalan mendekat ke arah Regis yang tersenyum puas melihat sapi berukuran jumbo nan montok tersebut.


" Selamat pagi sayang " Sapa Regis yang melihat Ruby terdiam dengan mulut menganga.


" Ayah kenapa harus 2 ? " Ken bertanya heran.


" Kau ini tidak tau apa-apa, diam saja. Saat seorang wanita hamil dia akan makan 2 kali lebih banyak dari orang normal, jadi aku membelikannya 2 ekor sapi. Apa ini kurang ? " Tanya Regis tersenyum menoleh ke arah Ruby, bertanya dengan percaya diri.


Ruby berusaha memaksakan senyum secerah mentarinya agar tidak mengecewakan perasaan ayah mertuanya.


" Ini lebih dari cukup ayah " Ucapnya kemudian setelah berhasil mengatasi rasa terkejutnya.


Aku hanya ngidam, belum terkena busung lapar sampai sanggup menghabiskan 2 ekor sapi.


Batin Ruby dalam hati dan bergidik membayangkan akan sebesar apa perutnya nanti saat hanya di isi dengan daging.


" Kau bilang akan mengadakan pesta barbeque, ayah takut kau merasa kurang, kalau memang benar ayah akan menyuruh mereka mengambil satu ekor sapi lagi " Regis menawarkan dengan lembut.


" Tidak ayah, ini sudah cukup. Lebih " Ruby menjawab kaku.


" Baiklah kalau begitu kalian bertiga bersiap-siaplah. Kita akan sarapan dan segera menyembelih sapi-sapi itu " Regis melanjutkan.


" Tunggu ayah, apa maksud ayah dengan kita ? " Tanya Ken curiga.


" Aku, kau, dan dia " Regis menunjuk dirinya sendiri, kemudian Ken lalu Rai dengan berurutan.


" Aku tidak ikutan " Rai menolak. Dia sudah cukup gila mengoperasi ayam yang kecil itu, apalagi bila harus menyembelih sendiri sapi yang beratnya mungkin 10 kali dari berat badannya.


" Lalu anak mu akan lahir tanpa ayah " Regis mengancam telak Rai, membuatnya tidak bisa berkutik.


Dia kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga dengan di ikuti pak Handoko.


" Kau bilang akan menyelamatkan kami, lihat sekarang aku benar-benar akan bertanding gulat dengan sapi-sapi itu " Ken mengucapkan dengan nada memelas.


" Aku kemarin hanya asal bicara saja, tidak menyangka akan seperti ini " Ruby juga ikut memelas.


" Sekarang kau sudah tau kalau bapak Regis yang terhormat itu bukan orang biasa ? Jadi jangan asal bicara dengannya " Rai menjawab ketus.


" Cih " Ruby mencibir kesal dan menoleh bergantian ke arah Ken dan Rai.


" Kalian hanya tau menyalahkan saja. Baiklah karena kita sudah basah, sekalian saja berenang dan tenggelam. Tapi aku tidak berniat mati bersama kalian " Ucapnya mengancam dengan perumpamaan.


" Apa maksud mu ? " Tanya Rai heran dengan apa yang di ucapkan Ruby.


Ruby tidak menjawab hanya memasang wajah sombong dan berbalik pergi akan masuk kedalam rumah. Meninggalkan kedua kakak beradik itu yang masih berusaha mengartikan kata-kata Ruby.


" Ayaaaah... sepertinya mereka sudah siap bertanding gulat dan samurai " Teriak Ruby dengan suara di buat-buat.


Rai dan Ken yang mendengar itu terlonjak dan berlari menghampiri Ruby.


" Dasar marimar keterlaluan " Seru Rai.

__ADS_1


" Dasar Kakak ipar durjana " Seru Ken.


Ruby menoleh untuk melihat ke arah belakang, namun tak di sangka mereka berdua sudah berlari mengejarnya, membuat Ruby terkejut dan juga berlari untuk menghindar. Pada akhirnya mereka saling mengejar dan bercanda di bawah sinar matahari pagi, seperti sekumpulan anak-anak TK yang sedang bermain kejar-kejaran.


Mereka semua sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan, tadi pasangan mesum dan adik buronan itu sudah mendiskusikan perihal menyembelih sendiri sapi-sapi tersebut.


Mereka akan melakukan berbagai macam cara agar rencana menyembelih sapi itu batal.


" Ayah " Ken yang akan berada di garis depan untuk merayu Regis, sesuai rencana yang di sepakati.


Meskipun Ken hanya anak angkat, tapi Regis lebih tidak bisa menolak permintaan Ken daripada Rai.


" Hmm ? " Jawab ayahnya dengan deheman tegas dan tajam.


" Makan yang banyak " Ken mengambilkan lauk untuk ayahnya, niatnya untuk merayu ayahnya urung karena melihat ekspresi tegas tak terbantahkan tersebut.


Ruby dan Rai melotot ke arah Ken yang tiba-tiba membelokkan pembicaraan.


Apa yang kau lakukan, cepat rayu ayah !!


Rai menggunakan bahasa bibirnya tanpa suara ke arah Ken.


Kalau kau berani, lakukan sendiri, aku hanya punya satu nyawa untuk di selamatkan.


Balas Ken juga dengan bahasa bibir tanpa suara.


Kau tenang saja, aku akan selalu ada di belakangmu.


Rai mencoba meyakinkan Ken.


Kenapa tidak kau duluan saja yang mulai ?


Ruby hanya tertegun menoleh bergantian ke arah Ken dan Rai yang saling bercakap-cakap tanpa suara. Dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Habis sudah kesabarannya melihat mereka berdua.


" Aish !! " Tanpa sadar dia mengumpat kesal.


Semua orang terkejut mendengar Ruby dan menolehnya dengan serempak.


" Ayah aku mohon maafkan aku, aku sangat bersalah, tapi aku tidak bisa membiarkan Rai dan juga Ken yang menyembelih sapi-sapi itu " Ruby memohon dengan suara memelas.


" Baiklah putri ku, tidak perlu tegang begitu, kalau mereka tidak mau aku yang akan melakukannya sendiri " Regis menjawab santai.


Mereka bertiga tersenyum lega mendengar pernyataan ayahnya. Terlebih lagi Ruby, dulu saat dia meminta Rai memasak sendiri ayam untuknya, dia mengubah dapur menjadi ruang operasi dan medan perang, bagaimana dengan seekor sapi, entah peran apa lagi yang akan mereka main kan.


Mereka semua telah selesai sarapan dan Regis memerintahkan mereka menunggu di halaman belakang untuk segera menyembelih sapi-sapi itu. Sementara dia sendiri akan bersiap-siap dahulu.


Trio biang kerok itu telah berdiri menunggu di pinggir halaman belakang, cukup lama hingga membuat mereka cemberut.


" Mari bertaruh, apa ayah mampu menyembelih sapi-sapi itu ? " Ken memulai ide gila nya.


" Entahlah, ayah benar-benar pandai bela diri, tentu nya menyembelih sapi bukan hal yang sulit untukknya " Rai menjawab yakin.


" Bela diri dan menyembelih hewan hal yang berbeda, aku yakin ayah tidak akan bisa, apalagi melihat sapi sebesar itu, beratnya mungkin 10 kali lipat dari berat ayah " Ken meragukan pendapat Rai.


" Baiklah aku terima tantangan mu, kalau kau kalah kau harus hidup tanpa kartu kredit dan mobil dalam waktu satu bulan " Rai mengoceh asal.

__ADS_1


" Ok siapa takut, hal itu juga berlaku untuk mu " Ken menyetujui peraturan yang di buat kakaknya.


" Berhenti bertaruh, kalian ini tidak tau malu sekali " Ruby melirik mereka kesal.


" Hei kakak ipar, baru kali ini aku melihat ayah menuruti permintaan seseorang sampai harus turun tangan sendiri, dulu saat aku minta sesuatu pada ayah, dia akan menyuruh orang lain untuk memenuhi nya " Ken menjelaskan bahwa posisi Ruby sangat penting untuk keluarga ini.


Hal itu malah membuat Ruby semakin memasang wajah sombong untuk mengerjai mereka berdua.


" Kalau begitu bersikap baiklah pada ku, mungkin aku bisa jadi ibu tiri yang baik hati, tidak seperti ibu tiri cinderella " Ruby memperingatkan Rai dan Ken.


" Ah bagaimana kalau aku juga ngidam kalian menjadi upik abu untuk sehari, melihat kalian dalam balutan seragam pelayan pasti sangat menggemaskan " Ruby terkekeh membayangkannya.


" Hei kakak ipar durjana " Ken memanggilnya dengan julukan yang dia berikan.


" Hentikan ngidam mu, itu menyiksa semua orang " Ken memohon dengan memelas.


Disaat mereka sibuk berdebat dengan ngidam Ruby yang selalu saja di luar hal wajar, tanpa sadar dua orang berjalan di kejauhan. Membuat Rai terkejut dan kehabisan kata-kata. Dia mencolek lengan Ken dan menunjuk arah kedatangan dua orang tersebut dengan wajahnya. Ken yang paham maksud kakaknya segera mengikuti arah yang di maksud.


" Daebak !! " Seru nya terkejut.


Ruby yang bingung juga ikut menoleh. Dia terkesiap dan tanpa sadar mulutnya menganga karena saking terkejutnya. Tidak habis pikir.


Aku curiga Ken bukan anak angkat.


Batin Ruby demi melihat ayahnya dan Pak Handoko yang sedang berjalan ke arah mereka.


Ibarat bermain dalam sebuah drama, kejadian datangnya Tuan Regis dan Pak Handoko akan di abadikan dalam gerakan slow motion dengan efek asap di sekitar mereka, dentuman musik setengah beat pun pasti akan menjadi latar belakang sound yang mengiringi setiap langkah pelan mereka.


Regis dan pak Handoko berpakaian kimono laki-laki ala jepang lengkap dengan pedang samurai panjang yang tergantung di sebelah kiri mereka, membuat mereka seolah-olah sedang syuting drama kolosal zaman kerajaan dinasti ming, cen, atau apalah. Dan juga tak lupa hachimaki nya.


Hachimaki adalah ikat kepala yang menjadi salah satu budaya orang Jepang, yang biasanya dibuat dari kain berwarna merah ataupun putih sebagai simbol semangat bangsa Jepang dalam bekerja serta menunjukkan ketekunan dan keseriusan pemakainya. Penggunaan hachimaki dipercaya dapat meningkatkan daya konsentrasi saat bekerja atau belajar.


Mereka bertiga hanya mampu diam membeku menyaksikan secuplik adegan film kolosal langsung di depan mereka.


" Apa kau sudah siap ? " Tanya Regis dalam bahasa jepang kepada pak Handoko di sebelahnya.


" Haik " Jawab pak Handoko mantap.


Mereka kemudian mendekati sapi-sapi yang telah di atur jaraknya satu sama lain cukup jauh, di ikat kuat di bagian kaki dan lehernya. Tapi masih tetap pada posisi berdiri.


Dengan gerakan cepat mereka mengeluarkan pedang dan menebas leher sapi-sapi itu secara bersamaan. Membuat darah sapi itu muncrat dan mengucur deras mengenai sebagian tubuh mereka, kemudian berbalik dengan gaya khas samurai dan memasukkan pedang mereka ke sarungnya dengan di iringi robohnya musuh di belakang yang besarnya 10 kali dari mereka.


Ketiga penonton gratisan itu pun hanya mampu menyaksikan semua adegan demi adegan tadi dengan mulut menganga lebar, tidak menyangka menyembeli sapi hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.


" Cepat bertepuk tangan dan bersorak, sebelum pedang itu beralih ke leher kita " Ken segera memberi aba-aba kepada kedua saudaranya setelah lepas dari keterkejutannya.


Prok, prok, prok !!! Mereka kompak memberikan tepuk tangan dan senyum secerah mentari yang di paksakan.


Aku tidak akan ngidam aneh-aneh lagi.


Ruby berjanji dalam hati.


Apa setelah ini ayah akan tetap mengajak ku bertanding samurai ? Aku tidak akan selamat dengan mudah.


Rai berdoa dalam hati.

__ADS_1


Sepertinya aku sedikit mewarisi kekonyolan ayah


Ken membenarkan dalam hati.


__ADS_2