
Bel pergantian jam pelajaran menjadi pemisah genggaman tangan Dylan pada Blair, karena Dylan harus membereskan buku-bukunya dan memasukkannya kedalam tas lalu mengeluarkan buku pelajaran berikutnya.
Dengan wajah yang sedikit kecewa Blair mengikhlaskan genggaman tangan Dylan yang terlepas. Keadaan sedang sedikit ramai, karena murid-murid sibuk merenggangkan punggung mereka. Dan itu kesempatan baginya untuk bertanya kenapa Dylan marah padanya, dan ada apa dengan penampilannya saat ini.
Blair berpura-pura ikut merenggangkan punggungnya, dan di akhiri dengan mendarat kan sikunya kanannya di atas meja.
" Dylan... " Panggilnya pelan, memiringkan badannya ke kiri dan menyangga pelipisnya dengan tangan.
" Kau kenapa ? " Tanyanya tanpa basa-basi.
" Tidak kenapa-kenapa " Jawab Dylan santai, masih membereskan buku-bukunya.
Iiihh !! Dia ini sudah seperti kipas angin saja, berubah-ubah moodnya. Sebentar manis sebentar dingin.
Sungut Blair memutar bola matanya kesal dan mencebikkan bibirnya.
" Kau marah padaku ? " Tanya Blair dengan nada sedikit ketus.
" Mungkin " Jawab Dylan jahil, sejujurnya dia kesal tapi bukan pada Blair lebih kepada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa kesal pada makhluk seoneng Blair yang tidak ada duanya itu.
" Uugh ! " Erang Blair memberengut lalu kembali menghadap ke depan, mengalihkan pandangannya dari wajah Dylan yang sudah dalam mode menyebalkan.
Seulas senyum tipis kembali terukir di bibir Dylan, sikap Blair yang oneng polos itu benar-benar sudah menyedot seluruh perhatiannya.
" Selamat pagi anak-anak " Sapa guru bahasa yang masuk ke dalam kelas. Dan semua murid sudah menegakkan punggungnya menyambut pelajaran berikutnya.
" Selamat pagi " Jawab mereka semua dengan kompak.
" Ok hari ini bapak tidak akan memberikan pelajaran terlalu banyak... " Terang Pak Dony dengan lantang.
" Yes !! "
" Yaey... "
" Waah " Berbagai seruan kebahagiaan langsung meramaikan suasana kelas yang semula suntuk.
" ... Tapi dengarkan dulu " Lanjut pak Dony menginterupsi, menenangkan sekaligus mematahkan kebahagiaan semua murid.
" Kalian akan mendapatkan tugas kelompok " Terangnya setelah suasana mulai tenang.
" Yaaaahh... " Kali ini semua kompak melenguh panjang.
" Sstt... sstt... " Pak Dony menempelkan jari telunjuk ke bibirnya, menyuruh murid-muridnya mendengarkan sampai selesai lebih dulu.
" Tugas kelompok kalian adalah bedah film " Teriaknya menggebu-gebu.
Wajah murid-murid yang tadinya suntuk kini kembali sumringah begitu mendengar kata film yang artinya bioskop, nonton, dan jalan-jalan.
" Tugas kalian adalah meresensi sebuah film dengan tema tempo dulu, jadi kalian harus mencari film yang berlatar belakang di era tahun 80-90an " Terang Pak Dony.
Dan sekali lagi, Pak Dony memang masternya pembuat patah hati, bayangan indah anak-anak tentang film di bioskop itu pun buyar. Mana ada bioskop yang menayangkan film lawas.
" Yaaahh... "
" Itu sih bukan nonton namanya, tapi dongeng pengantar tidur "
" Kalau begitu sama saja bohong pak " Gerutuan demi gerutuan mulai terdengar bersahut-sahutan.
" Hei, hei tenang dulu " Pak Dony mengangkat tangannya kembali menginterupsi.
" Kalian kan bisa menonton film yang juga kekinian dengan tema tahun 80 sampai 90an " Jelasnya lagi.
__ADS_1
" Tapi kan filmnya tidak tayang di bioskop pak " Protes ketua kelas, yang di setujui oleh yang lainnya.
" Ya kalau begitu cari film yang tayang di bioskop yang temanya seperti itu " Sanggah Pak Dony.
" Ah bapak tidak seru " Kembali mereka mendengungkan protes.
" Sudah sudah, meskipun tidak harus lihat di bioskop kan kalian bisa melihatnya dari laptop secara online, pasang saja pada proyektor, lalu matikan lampu, sama kan seperti di di bioskop. Kalau ingin lebih menjiwai lagi kalian bisa sekalian mengemil popcorn " Pak Dony punya seribu cara untuk menyanggah berbagai macam protes yang keluar.
" Dan untuk pembagian kelompok karena jumlah muridnya sudah genap maka kalian berpasangan dengan teman sebangku saja " Lanjutnya kemudian mengabaikan rengekan murid-muridnya yang meminta pembaruan tugas resensi film.
" Kalau begitu selama satu jam pelajaran ini kalian harus memikirkan film apa yang ingin kalian resensi dan serahkan pada Bapak, nanti bapak akan menyetujuinya atau menolaknya " Lanjut Pak Dony dan kemudian duduk di kursinya, membuka bukunya dan membiarkan anak-anak ramai dengan diskusi mereka masing-masing.
Yes !!
Pekik batin Blair dan Dylan bersamaan.
" Kau ingin nonton film apa ? " Tanya Blair tanpa basa-basi menghadap Dylan.
" Terserah kau saja " Jawab Dylan santai, namun matanya tak lepas dari buku yang ada di hadapannya.
" Iihh !! " Blair kembali memberengut kesal dan menyandarkan punggungnya di bangku.
" Ini tugas kelompok, aku tidak mau mengerjakannya sendirian. Awas saja kalau nilaiku nanti jelek karena kau yang tidak mau tau " Blair menyilangkan tangannya di dada, mengomel.
" Hei kau tidak salah ? " Tanya Dylan dengan nada mengejek.
" Harusnya aku yang bilang begitu, mengingat otakmu yang o... " Ucap Dylan, lalu sadar bahwa mungkin ucapannya akan meyakiti Blair dia pun meralatanya.
" Kau sendiri dapat nilai 25 saat ujian matematika " Ledeknya pelan.
Mendengar aibnya yang di ungkit ke permukaan membuat Blair terhenyak kaget dan reflek menutup mulut Dylan.
" Hiiiyy... " Blair langsung melepaskan tangannya yang membekap mulut Dylan begitu Dylan menjilatnya, lalu dengan kasar mengusapkannya pada celana Dylan.
" Kau ini hobby sekali sih menjilati tangan orang " Sungutnya semakin kesal.
" Kau sendiri hobby sekali membekap mulut orang lain " Jawab Dylan acuh, lalu mengambil tasnya dari samping meja dan merogohnya.
Dia mengeluarkan sebungkus tissu basah, membukanya, mengambilnya satu lembar dan kemudian meraih tangan Blair.
" Lain kali kalau ingin membekap mulutku jangan pakai tangan, lebif efektif lagi kalau... " Jelasnya lembut, dengan wajah menunduk seraya membersihkan tangan Blair dari bekas jilatannya.
" Kalau apa ? " Potong Blair ketus.
Dylan mendongakkan wajahnya, menatap Blair sesaat lalu tersenyum. Kemudian perlahan mencondongkan tubuhnya.
" Kalau pakai ciuman " Bisiknya jahil di telinga Blair.
Oh my god !!
Teriak Blair dalam hati.
Lalu saat Dylan sudah kembali ke posisinya semula, dia melihat senyum jahil menggoda tersungging di bibirnya.
" He-hei !! Kau bercanda ya ! " Jawabnya pura-pura ketus namun di dalam hatinya dia merasa sedikit kecewa karena itu hanya candaan dari Dylan.
" Tentu saja itu hanya bercanda, memangnya kau mau mencium ku ? " Jawab Dylan sembari terkekeh.
" Kalau kepepet " Kilah Blair asal.
Mendengar jawaban Blair, jantung Dylan mendadak bertalu-talu. Dia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, jadi dia tidak yakin apakah debaran itu adalah reaksi hati yang sedang jatuh cinta atau hanya reaksi kimia dari tubuh manusia yang di sebabkan pembicaraan serius yang membuat tumbuhnya memproduksi adrenalin dan memyebabkan debaran jantungnya saat ini. Efek Dylan hanya berkutat dengan buku di perpustakaan, hingga debaran jantungnya saja di kaitkan dengan anatomi tubuh manusia.
__ADS_1
" Aku bilang padamu terserah karena aku ingin kau yang memilih film yang akan kita resensi, aku bukan anak gaul yang paham tentang perkembangan film " Jelasnya lembut sembari kembali membersihkan tangan Blair. Sebagai sentuhan terakhirnya dia menyemprotkan hand sanitaizer ke telapak tangan Blair.
" Nah sudah steril, bebas kuman dan bakteri serta virus " Lanjutnya tersenyum.
" Ah oh ya wow " Seru Blair gelagapan, tidak tau harus menjawab apa.
" Kau terlihat sangat bersihan sekali ya " Pujinya basa-basi, karena pikirannya saat ini sedang mengkhayalkan dirinya yang sedang pergi nonton bioskop berdua dengan Dylan, film romantis, suasana remang-remang yang mendukung, dan mereka ada di barisan paling belakang sendiri, bukankah itu momen yang sempurna untuk berciuman.
" Tentu saja, sejak ada Raline rasanya aku seperti sudah terdikte untuk selalu membawa tissu basah dan hand sanitizer kemana-mana " Jelas Dylan santai.
" Raline ? " Tanya Blair tanpa sadar.
" Ya aku tidak boleh menyentuh Raline kalau tanganku belum di bersihkan atau di sterilkan " Jawab Dylan.
Balon berbentuk love yang semula mengembang besar itu kini langsung menciut kehilangan massanya, yang membuat dada Blair tadinya penuh dengan udara-udara segar perasaan cinta sekarang kosong melompong seperti ruangan hampa udara.
Dia langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Dylan, dan kembali menghadap ke depan.
Kau kan sudah tau kalau dia sudah punya kekasih, tidak seharusnya hatimu sakit mendengar dia menyebut nama kekasihnya itu.
Blair tertunduk sedih, dia harus sadar diri, menjadi teman sebangku yang bisa menikmati perhatian Dylan saja harusnya sudah membuatnya cukup, tapi dia malah berpikir ingin lebih.
Jangan berbuat dosa Blair, menjadi perebut kekasih orang itu tidak baik, kau harus tahan dirimu, kau tidak boleh serakah seperti papamu.
Blair mencoba menenangkan hatinya sendiri.
" Jadi kau ingin nonton film apa ? " Tanya Dylan membuyarkan lamunan Blair.
" Film mu saja " Jawabnya malas.
" Hm ? " Alis Dylan berkerut dalam tidak mengerti dengan pembicaraan Blair.
" Dilan 1990 " Jelas Blair kemudian tanpa menoleh, menyembunyikan wajahnya yang sudah pasti menampilkan gurat kekecewaan.
" Ok baiklah " Dylan kemudian mengambil kertas dan menuliskan laporan tentang judul film yang akan mereka resensi.
Pasti film itu akan membuat ku menangis sedih, bukan karena ceritanya, tapi karena perbedaan nasibnya. Milea beruntung bisa jadian dengan Dilan, sedangkan aku...
Blair menghela napas panjang dan membenamkan wajahnya di atas meja.
Nasib, nasib !!
Rutuknya kesal bercampur sedih.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Selamat membaca ya gengs...
Dan sekali lagi Author minta kalian yang sabar ya menghadapi otak author yang berlama-lama membuat kisah Dylan dan Blair.
Kok gak ndang jadian seeh thor, selak jamuren...
Kalau kalian bertanya-bertanya begitu, author sekali lagi hanya bisa menjawab dengan pasrah. Sabar ya... sekarang biarkan mereka salah paham sedikit-sedikit dulu, biar nanti kalau pas sudah kebongkar semua jadi greget jadiannya.
Sabar ya teman-teman semua...
Semoga kalian sukak ya...
Fb : Rizca Yulianah
IG : Rizca Yulianah
__ADS_1