
Matahari sudah agak condong ke atas dan sinarnya yang semula hangat kini mulai berganti sedikit menyengat.
Ruby yang sedang asik berjemur di halaman bersama Raline lantas berteduh di bawah pohon mahoni besar. Dengan di temani Adelia dan 2 pengasuhnya mereka menjaga Raline yang sedang asik tiduran di atas matras piknik yang di siapkan Pak Handoko.
" Nona Raline sangat menggemaskan sekali ya " Pekik Lusi gemas melihat Raline yang sedang asik bergulat dengan mainannya.
" Benar, lihat badannya yang bulat ini, uuh gemas sekali sih " Saut Sinta seraya menggenggam tangan cilik Raline.
" Ooooo... " Hanya itu suara yang bisa di keluarkan Raline lewat bibir mungilnya.
Adelia dan Ruby tertawa melihat kedua pengasuh Raline yang memekik girang setiap melihat tingkah laku Raline.
" Katanya tuan Regis akan menggelar acara perayaan 3 bulannya Raline ya ? " Tanya Adelia.
" Iya, padahal aku sudah bilang pada ayah jangan mengadakan acara apapun tapi ayah bersikeras " Jawab Ruby dengan senyum sungkan.
" Memangnya akan mengadakan acara besar-besaran ? " Tanya Adelia.
" Rencananya begitu, kabarnya ayah akan mengundang rekan bisnisnya dan beberapa media, tapi aku menolak. Buang-buang uang, dan lagi aku tidak ingin media tau tentang Raline " Jelas Ruby pasrah.
" Kau benar juga, jika sedari kecil Raline terlalu mendapat banyak sorotan media nanti masa bermainnya bisa hilang " Adelia juga setuju dengan pendapat Ruby.
" Iya sekarang saja tiap Rai mengajak ku dan Raline pergi ke mall kami harus berusaha keras menutupi wajah Raline agar tidak terpotret oleh kamera paparazi yang mencoba mengambil foto Raline diam-diam " Ruby menghela napas panjang, lalu menatap nanar ke arah Raline yang sedang asyik tengkurap.
" Kemarin Lusi sempat menerima pesan dari teman sekolahnya, dia mengirimkan foto seorang bayi dan bertanya apa benar itu foto Raline " Dengan suara yang bergetar menahan tangis Ruby menunduk, menyembunyikan wajahnya.
" Kenapa memangnya ? " Tanya Adelia penasaran.
" Tidak, hanya saja mungkin ibu belum tau kalau ada beberapa wanita di luaran sana yang membuat club pembenci ku karena telah menikah dengan Rai, jadi mereka menguliti semua masa lalu ku, bahkan mengedit foto-foto ku dan menjadikannya bahan olok-olokan " Cerita Ruby dengan senyum yang di paksakan.
" Itu tidak masalah buatku, aku tidak tersinggung. Tapi yang lebih menyakitkan ada foto seorang bayi yang di duga Raline, dan mereka juga mengeluarkan komentar-komentar jahat tentangnya " Lanjutnya.
" Tapi itu benar foto Raline ? " Pekik Adelia syok mendengar cerita Ruby.
" Untung saja bukan bu " Saut Lusi menggebu-gebu.
" Itu foto bayi lain dan mereka mengira itu nona Raline " Ceritanya dengan suara menggeram marah.
" Teman ku mengirimkan semua artikel dan juga gambar bayi yang telah di edit itu dengan hidung binatang lah, mulut binatang lah, pokoknya dengan sangat buruk "
" Sungguh ? Mengerikan sekali " Mata Adelia berkaca-kaca saat mendengarkan cerita yang tidak pernah dia dengar sebelumnya itu.
" Itu belum seberapa bu " Kini ganti Santi yang menyahut, dia mengambil Raline dan memangkunya.
" Aku pernah pergi ke mall untuk berbelanja keperluan nona Raline, aku mendengar selentingan pegawai mall yang sedang membicarakan nyonya Ruby dan nona Raline, mereka bilang mereka menemukan aplikasi santet online, dan mereka berniat mengirimkan foto nyonya Ruby serta nona Raline untuk di celakai " Ceritanya berapi-api.
" Kejam sekali " Adelia tidak sanggup lagi menahan air matanya, dia menatap Ruby yang justru tersenyum melihatnya sedang menangis.
" Kenapa kau tidak bilang pada ibu, setidaknya ceritakan, berbagi kesedihanmu " Adelia memukul lengan Ruby yang masih saja tersenyum-senyum sendiri.
" Anak nakal " Sungutnya menyeka air mata.
__ADS_1
" Aku sudah tidak punya ibu sejak kecil, sekarang bisa merasakan lagi kasih sayang seorang ibu, mana mungkin aku malah membebaninya dengan masalah-masalah ku " Jawab Ruby meringis mengelus-elus lengannya yang tidak sakit. Dia lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
" Anak nakal ! Memang begitulah gunanya ibu, tempat untuk menumpahkan segala kesedihan juga kebahagiaan anak-anaknya " Adelia menghambur ke pelukan Ruby dan menangis sesegukan.
" Jangan ulangi lagi ya, kalau kau memang tidak bisa cerita pada Kiran harusnya kau bisa cerita pada ibu, dengan begitu ibu merasa berguna ada disini " Isaknya.
" Ibu ada disini saja sudah sangat berguna kok " Jawab Ruby terkekeh, lalu melepaskan pelukan Adelia dan menatapnya.
" Sudah jangan menangis lagi, nanti cantiknya hilang loh " Goda Ruby menghapus air mata Adelia.
" Kau ini " Jawab Adelia malu-malu lalu ikut menyeka air matanya. Dia kembali menatap Santi yang tengah menggendong Raline.
" Lalu apa benar ada aplikasi santet online ? " Tanya Adelia masih penasaran dengan kelanjutan cerita Santi.
" Mungkin itu cuma penipuan bu, aku mencarinya di playstore, memang ada tapi sepertinya itu hanya main-main " Jelas Santi.
" Kalau ternyata sungguhan bagaimana ? Raline dan Ruby kan bisa celaka " Sanggahnya khawatir.
" Tidak ada bu, aku sudah meminta Ken untuk menyelidikinya, dan itu cuma aplikasi main-main " Kali ini Ruby yang menjelaskan dengan sabar, menenangkan Adelia yang panik.
" Kenapa tidak bilang pada Rai ? " Tanya Adelia masih khawatir.
" Ibu kan tau sendiri bagaimana sifat Rai " Jawab Ruby menghela napas jengah.
" Benar bu, berurusan dengan tuan Rai maka semuanya bisa... " Lusi membuat gerakan menyayat lehernya dengan wajah ketakutan.
" Ups maaf nyonya, keceplosan " Lalu menutup mulutnya begitu sadar dia sudah kelewataan.
" Benar bu, pegawai yang bergosip itu kabarnya di pecat bahkan ajaibnya dia dan keluarganya menghilang tiba-tiba " Saut Santi dengan nada rendah menyeramkan.
" Oh ya ? " Kali ini Ruby dan Adelia memekik bersamaan, tak percaya sekaligus ngeri.
" Oh saya belum cerita ya nyonya ? " Santi tiba-tiba teringat sesuatu.
Ruby mengernyitkan alisnya dan menelengkan kepalanya. Santi memang selalu menceritakan apapun padanya, bisa di bilang dia berada di satu tingkat di bawah Tina dalam hal mulut ember. Namun meski begitu Ruby tau dia orang yang penuh tanggung jawab pada pekerjaanya.
" Sewaktu saya mendengar itu, saya marah sekali, ingin rasanya menampar mulut pegawai itu, bisa-bisanya mereka berniat mencelakai nona Raline yang sangat lucu dan menggemaskan ini " Ceritanya berapi-api.
" Saya berniat melaporkannya pada Pak Handoko, tapi ternyata sewaktu saya pulang dan berada di mobil bersama Pak Bakti, dia sudah lebih dulu melapor pada Sekertaris Yuri, dan dari percakapan yang ku dengar mereka menyebut nama Huan atau Hian atau siapa ya ? " Lanjutnya berusaha mengingat-ingat.
Deg ! Mendengar nama Huan, ingatan Ruby langsung kembali pada masa lalu, saat seorang gadis bernama Cecil berkelahi dengannya dan harus mengalami babak belur di celakai oleh anak buah Rai yang bernama Huan.
Jika tebakannya benar, maka pegawai itu sudah bisa di pastikan tidak akan selamat. Karena yang Ruby tau sehari setelah kejadian itu Cecil dan keluarganya di beritakan melakukan bunuh diri bersama-sama dengan jalan melompat terjun ke air sungai yang deras, motifnya apa tidak ada yang tau. Ruby bergidik ngeri membayangkannya. Maka dari itu dia tidak pernah mengadukan hal apapun yang bisa menyulut kemarahan Rai, karena Rai bisa dengan entengnya membuat orang lain melakukan hal untuk mencelakai dirinya sendiri. Dan itu juga alasan yang mendasarinya tidak melaporkan kedua perawat yang bergosip tentangnya.
Walau sebenarnya Ruby tidak tau bahwa kedua perawat itu telah di eksekusi oleh Rai dan anak buahnya. Mereka di paksa saling melukai satu sama lain hingga salah satu dari mereka meremukkan kepala temannya yang membuatnya berakhir di penjara dan memilih untuk mengakhiri hidup karena tidak tahan berada di bilik jeruji besi itu.
Sementara Dokter Noh dikabarkan menghilang bersama keluarganya ke tempat yang tidak di ketahui lagi oleh siapapun, kecuali Rai tentunya.
Itulah fakta kelam yang di sembunyikan Rai dari istrinya, dia rela menjadi tinky wingki di hadapan Ruby hanya agar Ruby tidak merasa terbebani karena menjadi istri seorang bos pemimpin klan.
" Lalu apa kau tau kejadian setelahnya ? " Kejar Ruby dengan ekspresi wajah ngeri, dalam hati berdoa semoga mereka semua baik-baik saja.
__ADS_1
" Tidak tau nyonya, hanya sebatas itu yang saya tau " Santi mengedikkan bahunya dengan santai, tidak memiliki bayangan apapun tentang betapa kejamnya Huan.
" Mulai sekarang kalau ada yang bergosip lagi tentang ku atau tentang Raline, jangan adukan pada siapapun kecuali padaku ya " Perintah Ruby berusaha terlihat senormal mungkin, padahal dia sedang mere*mas jari-jarinya untuk menyamarkan rasa gemetar yang sedang menggerayanginya. Dia tidak ingin melihat orang lain sampai kehilangan nyawa karena dirinya.
" Baik nyonya " Jawab Lusi dan Santi bersamaan.
" Permisi nyonya "
" Huuaa !! " Sapaan Pak Handoko sukses membuatnya berteriak kaget.
" Aish Pak Handoko munculnya tiba-tiba sekali sih, seperti hantu saja " Ruby mengelus-elus dadanya yang berdegub kencang.
" Maafkan saya nyonya jika mengagetkan anda " Jawab Pak Handoko sopan menundukkan kepalanya.
" Awas ya lain kali akan ku balas dengan kemunculan tiba-tiba agar Pak Handoko juga kaget " Ruby masih berusaha mengatur napasnya yang masih terkejut.
" Baik nyonya, saya tunggu kejutan dari anda " Balasnya dengan terkekeh.
" Ada apa ? " Tanya Ruby kemudian.
" Ini ada undangan yang dikirimkan untuk anda " Jawabnya seraya mengulurkan sebuah amplop berwarna putih.
" Undangan ? Untuk ku ? Bukan untuk Rai ? " Tanya Ruby bingung, tidak ada yang tau dia tinggal disini, dan lagi dia juga tidak punya teman. Ah mungkin dari teman-teman cleaning service ku dulu. Dia mengangguk-angguk sendiri.
" Mana ? " Dia mengulurkan tangannya penuh semangat.
" Dari baunya ini undangan pernikahan " Lanjutnya seraya tertawa.
Semua orang tegang menatap Ruby saat ini. Menunggu Ruby membukanya.
Dengan pikiran positif Ruby membuka perlahan amplop putih yang hanya tertulis nama Ruby di bagian depan dengan tinta berwarna emas, dia sudah tidak sabar menerima kabar bahagia jika memang benar salah satu temannya akan menikah.
Di dalamnya terdapat kartu undangan berwarna senada dengan amplopnya. Terlipat menjadi dua bagian. Ruby mengambilnya dan membukanya perlahan.
Wedding Invitation
VIVIANNE AND GERALD
Request the pleasure of your company at the celebration of our marriage.
Sunday, 14th June 2020 10:00AM
The Luxury King Lord Hotel
Dinner and dancing to follow
Ruby tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya melihat nama Vivianne tertulis dalam undangan yang kini di pegangnya tersebut. Sudah lebih dari satu tahun dia tidak mendengar kabarnya sama sekali dan tiba-tiba saja dia mengirimkan undangan pernikahan.
Entah harus bahagia atau malas menerima kabar tersebut, mengingat sampai akhir pertemuan mereka hubungannya dan Vivianne tidak pernah akur.
Apa dia sudah berubah ?
__ADS_1
Batin Ruby bertanya-tanya.