Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Pembalasan Dendam Suketi


__ADS_3

Di mohon kebijakan pembaca dalam memahami isi cerita ini.


Adegan di dalamnya tidak patut di contoh dan hanya sebuah kisah fiktif belaka guna memenuhi intrik sebuah cerita.


Terima kasih...


______________________________


" Kau tidak turun ? " Suara Manager Yo mengejutkan Blair yang sedang berpikir di sepanjang perjalanannya menuju sekolah tadi. Dia terhenyak dan menatap berkeliling. Mereka telah sampai di pelataran area sekolah, dan di susul bunyi klakson yang menuntut dari arah belakang.


" Sudah sampai ? " Tanyanya gelagapan bingung.


" Sudah sekitar 5 menit yang lalu " Jawab Manager Yo juga ikut bingung melihat Blair yang gelagapan sendiri.


" Oh tumben cepat sekali " Jawabnya kikuk lalu buru-buru keluar dari mobil bahkan tanpa menunggu Manager Yo membukakan pintu untuknya.


" Tu... " Manager Yo yang ingin mencegah Blair membuka pintu mobil itu pun terlambat. Blair sudah keluar. Dia semakin bertambah bingung melihat sikap Blair yang tidak seperti biasanya.


" Daah " Blair melambaikan tangannya kikuk dan canggung kepada Managernya, lalu segera pergi.


" Ada yang aneh dengannya, tidak mungkin kan dia melambaikan tangan padaku dan bilang daah. Biasanya dia akan mengomel terus karena aku selalu berpihak pada ayahnya " Gumamnya semakin bingung melihat Blair yang seperti orang linglung.


Baru saja dia akan memutuskan untuk mengejar Blair dan melihat keadaannya, memastikan kalau dia baik-baik saja, suara klakson di belakangnya sudah menuntut agar mobil yang di tumpanginya segera menyingkir.


" Iya iya " Sautnya ketus meski mobil dibelakangnya sudah pasti tidak bisa mendengarnya.


Blair belum menemukan cara apapun untuk membuatnya berhasil nonton dengan Dylan. Apa dia benar-benar harus nonton di kamar kost kak Sofia saja ? Begitu pikirnya. Tapi dia langsung menggeleng mengusir opsi pilihan itu karena Dylan sendiri dengan tegas menolak idenya untuk alasan yang dia tidak tahu.


Blair menghela napas panjang, menyerah. Otaknya tidak bisa mencari jalan keluar yang terbaik. Suasana paginya yang beberapa menit yang lalu masih indah penuh cinta kini rusak karena penjelasan Manager Yo.


Tapi Blair tetap bersemangat, karena dia tau dengan sikap pengertian serta kesabaran dan kecerdasan Dylan pasti mereka akan menemukan cara untuk tetap menonton film bersama meski Blair harus melakukan pemotretan sampai malam.


Blair berhasil mengembalikan moodnya yang sedikit terganggu tadi. Dia sudah kembali ceria bersinar saat tersenyum membalas sapaan dari para penggemarnya.


Satu belokan dan satu lorong panjang lagi yang tersisa baru setelahnya dia akan bertemu dengan Dylannya yang manis. Hatinya berdebar-debar tak sabar menerima segudang perhatian penuh keromantisan dari Dylan.


Keberuntungan berpihak padanya, suasana kelasnya sepi dari para antrean penggemarnya. Mungkin mereka sudah bosan berbaris berderet-deret untuk menyapa Blair di pagi hari, entahlah, hal itu tidak menjadi persoalan lagi untuknya. Sekarang yang terpenting baginya adalah Dylan, Dylan dan hanya Dylan.


Itu dia !


Batin Blair girang melihat Dylan sudah duduk manis di bangkunya, seperti biasa sedang membaca buku pelajarannya. Dulu Blair menganggap orang yang selalu membaca buku pelajaran adalah kutu buku yang tidak keren sama sekali, tapi hari ini dia akan menarik semua kata-katanya itu. Karena Dylan terlihat seperti seorang model dari majalah bobo yang menjadi duta membaca, terlihat menawan dan sekaligus pintar.


Blair berjalan semakin mendekat, jantungnya juga semakin berdebar-debar. Dia menarik kursinya dengan agak keras agar menimbulkan bunyi berisik yang bisa memberitahukan kedatangannya pada Dylan. Namun Dylan tidak bergeming sedikit pun, dia acuh dan tetap serius membaca bukunya.


Dengan bingung Blair mendudukkan dirinya sambil terus menatap Dylan. Tidak mungkin Dylan tidak dengar suara berisik yang di buat oleh Blair.


" Dylan " Panggilnya pelan. Dan sekali lagi, tidak ada jawaban atau pun respon dari Dylan. Dia tetap saja fokus dengan buku yang ada di hadapannya.


Blair mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kelas, murid yang lain tidak sedang membaca buku yang artinya tidak mungkin ada ujian di jam pertama. Dia kembali menatap Dylan.


Dia tidak mendengar atau...


Batin Blair bertanya-tanya sendiri. Dia kemudian menunduk ke bawah meja, barangkali tangan Dylan terulur untuk menggenggam tangannya secara sembunyi-sembunyi seperti kemarin. Nihil, kedua tangan Dylan masuk ke dalam saku celananya.


Blair menegakkan tubuhnya dan menatap Dylan lagi, mengamati makhluk manis di depannya dengan bingung.


Ada apa sih sebenarnya ?


Dia menatap kedua tangannya sendiri, seragamnya, lalu meraba-raba wajahnya mencari-cari apa ada yang salah dengan penampilannya karena Dylan tetap saja acuh padanya. Blair masih seperti biasanya, tidak ada yang aneh sedikitpun.


" Bella ?" Panggil Blair pelan pada Bella yang ada di bangku depannya.


" Hm ? " Jawab Bella langsung membalikkan badan dengan cepat.


" Aku masih terlihat kan ? " Tanya Blair berbisik.


" Iya " Angguk Bella bingung.


" Kenapa memangnya ? " Tanyanya.


" Tidak, tidak apa-apa " Geleng Blair sungkan. Syukurlah, dia mengira dirinya sudah menjadi seorang yang tembus pandang hingga Dylan tidak bisa melihatnya.


" Oh ya " Panggilnya lagi saat Bella akan membalikkan badan.


" Apa aku tidak cantik hari ini ? " Tanyanya lagi. Rasa percaya dirinya merosot jatuh karena di abaikan Dylan sampai sebegitunya.


" Kau cantik seperti biasanya kok, kenapa sih ? " tanya Bella penasaran karena sedari tadi di berikan pertanyaan aneh terus oleh Blair.


" Tidak apa-apa, maaf ya " Blair meringis sungkan dan mempersilahkan Bella untuk melanjutkan lagi kegiatan menggosipnya bersama Merry.


Dia kembali menoleh ke arah Dylan dan mengamatinya, tidak ada yang berbeda juga dengan Dylan. Penampilannya, raut wajahnya bahkan tingkahnya juga masih tetap sama, tapi kenapa tiba-tiba Dylan mengabaikannya.


Blair memberanikan diri untuk menyentuh tangan Dylan.


" Dylan " Panggilnya lagi, sedikit lebih keras.


Hasilnya masih tetap sama, Dylan tidak merespon. Dia malah menarik keluar tangannya dari saku celana dan menumpukannya ke atas meja, yang otomatis membuat tangan Blair tertepis dengan sendirinya.


Apa ada yang salah dengan ku, kenapa sikapnya berubah kembali dingin ?


Batin Blair sedih, pelupuk matanya langsung di genangi air mata yang siap untuk menetes.


Hatinya terasa nyeri, seribu kali lebih nyeri di banding saat ayahnya mengatur-atur hidupnya dan dengan asal menjodohkannya dengan laki-laki yang berubah-ubah setiap bulannya.


" Dy... " Blair memanggilnya lagi berbarengan dengan masuknya guru dan membuat murid-murid yang lain kompak menyampaikan salam mereka.


Blair tidak punya pilihan lain selain ikut menatap ke depan kelas, menyimak pelajaran dan sedikit mengesampingkan sikap aneh Dylan.


Mungkin dia sedang ada masalah dan ingin sendiri dulu.


Batinnya menenangkan diri sendiri dan mencoba berpikir positif.


🍁🍁🍁🍁🍁


Tiga jam pelajaran sudah berlalu dan Dylan masih tetap diam membisu, bahkan rasanya Blair tidak mendengar hembusan napas Dylan. Dia seperti berada jauh dari Blair, ada di dunia yang berbeda.


Masih tersisa lima menit lagi sebelum bel istirahat berbunyi, dan Blair tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia akan menanyai Dylan lagi.


" Dylan " Blair langsung menggenggam tangan Dylan yang ada di atas meja, tidak peduli meski nanti ada yang melihatnya. Baginya yang terpenting sekarang adalah memperoleh jawaban dari segudang pertanyaan yang menuntut dari benaknya.

__ADS_1


" Jaga tangan mu, banyak orang melihat " Kata-kata itu di ucapkan Dylan dengan dingin. Lalu dia menepis tangan Blair, pelan dan lembut. Tapi bagi Blair itu seperti sebuah tamparan keras yang langsung di arahkan ke pipinya dari jarak dekat. Kurang menyakitkan ? Dylan bahkan langsung membuang muka setelah menepis tangan Blair. Hal itu seperti sebuah peluru yang di tembakkan tepat ke kepala Blair. Head shot. Dan sukses membuat hati Blair remuk redam tidak bisa lagi di gambarkan dengan untaian kata. Hanya air mata yang menggenang di pelupuk matanya yang menjadi bukti bahwa perih hatinya sudah tak terkira lagi.


Bel istirahat berbunyi nyaring, semua murid menyambutnya dengan sorakan girang. Tapi bagi Blair itu seolah sirine yang memperbolehkannya menumpahkan air matanya sekarang.


Meluncur sudah, tak tertahan lagi. Banjir mengalir di pipinya yang putih mulus.


" Ka-kau kenapa ? " Tanyanya serak di tengah riuhan murid-murid yang lain.


Namun Dylan masih tetap abai. Dia menghela napas panjang lalu berdiri begitu saja tanpa menoleh ke arah Blair lagi dan pergi keluar tanpa pamit.


" Hiks... hiks... hiks... " Tangis Blair pecah, dia membenamkan wajahnya di meja.


Ada apa dengan Dylan ?


Teriaknya batinnya pilu.


Hanya dalam semalam saja Dylan berubah. Blair yang baru di angkat ke atas langit ke tujuh sekarang di hempaskan begitu saja sampai lapisan bumi yang terdalam.


Maafkan aku Dasya, ini juga demi kebaikan mu.


Batin Dylan juga sedih dan kecewa dengan dirinya sendiri. Dia memutuskan akan meninggalkan Blair demi kebaikan mereka bersama. Dylan tidak mungkin membiarkan Blair memilih antara dirinya dengan keluarganya, karena Dylan tau betapa berharganya sebuah keluarga.


🍁🍁🍁🍁🍁


Kiran yang sudah mengambil ancang-ancang akan membalas si mbok ja itu sedang berjalan berkeliling mencarinya. Dia menyusuri lorong-lorong kelas agar bisa bertemu dengan mbok ja tanpa sengaja, setidaknya begitulah alasan yang akan dia pakai nanti.


" Aish kemana si mbok ja itu ? " Gumam Kiran pelan sambil terus mencari-cari keberadaan Dera. Tapi setelah mengelilingi hampir separuh sekolah dia juga belum bertemu dengannya, bahkan kelas Dera pun telah kosong.


" Oh ? " Kiran mengernyitkan keningnya saat melihat Dylan yang sedang berdiri di balik pintu dengan bersandar dan mendongakkan kepalanya.


Dia berjalan mendekat perlahan-lahan untuk mengejutkan Dylan.


" Hayo sedang mengintip siapa ? " Seru Kiran menepuk lengan Dylan.


Dylan langsung terhenyak dan mendapati Kiran sudah berdiri di sampingnya dengan tawa terpingkal-pingkal.


" Ck si poo ini " Dylan langsung membekap mulut Kiran dan menyeretnya menjauh dari sana. Sebelum pergi menjauh dia sempat melirik ke dalam kelas dan Blair masih seperti semula, menangis di bangkunya.


" Hmmpp... " Kiran meronta-ronta berusaha melepaskan tangan Dylan dari mulutnya.


" Kau ini kenapa sih ? " Desis Dylan saat merasa jarak mereka cukup aman dari kelasnya.


" Kau ini yang kenapa " Balas Kiran ketus memukul lengan Dylan lalu meraba bibirnya.


" Belepotan tidak ? " Tanyanya pada Dylan menunjuk lipstiknya.


" Salah sendiri, siapa suruh mengejutkan ku seperti itu " Balas Dylan ketus lalu mengusap noda lipstik dari sudut bibir Kiran.


" Lagian kenapa kau berdiri di situ ? Memangnya mau mengintip siapa ? " Sungut Kiran.


" Tidak mengintip siapa-siapa " Balas Dylan malas mengalihkan pembicaraan.


" Kau masih sedih ? " Tanya Kiran pelan, dia mengamati wajah Dylan yang semakin terlihat kusut.


" Apa sih " Decak Dylan malas, tidak ingin kelihatan serapuh itu.


" Sudah mengaku saja " Kiran menyilangkan kedua tangannya.


" Sayang kalau kau rindu jangan menarik ku ke sini, kan tidak enak jika di lihat yang lain " Ucap Kiran tiba-tiba berubah sok manja dengan sedikit keras.


Berhasil !!


Kiran berhasil menarik perhatian Dera yang langsung berhenti begitu mendengar suaranya.


Bisa Kiran lihat Dera memincingkan matanya menatap Kiran sedang berduaan dengan Dylan di sudut lorong yang sepi.


" Apa lagi ini " Dylan menatap Kiran bingung, lalu menempelkan tangannya ke kening Kiran.


" Kau kumat lagi ? " Tanyanya kemudian.


" Aww... kau perhatian sekali sih " Kiran meraih tangan Dylan lalu menempelkannya di pipinya.


" Apa sih, lepaskan ! " Desis Dylan panik berusaha menarik tangannya, jika sampai Ken melihatnya dia takut kakaknya itu akan salah paham.


" Sst.. diam saja, di arah jam 1 ada mbok ja, aku ingin balas dendam padanya " Desis Kiran mendelik marah sambil menahan tangan Dylan sekuat tenaga.


" Mbok ja siapa ? " Tanya Dylan bingung dan akan menolehkan kepalanya ke arah yang di maksudkan Kiran.


" Ih tidak usah di lihat nanti kau mimpi buruk " Cegat Kiran memegang kedua pipi Dylan.


" Sudah ikuti saja drama ku " Delik Kiran mengancam.


" Terserah kau sajalah " Jawab Dylan malas, dirinya sedang tidak bersemangat untuk berdebat tentang apapun itu.


" Nanti malam kau ada acara tidak sayang ? " Tanya Kiran sambil mengelus-elus pipi Dylan.


" Tidak " Jawab Dylan singkat.


" Kalau begitu mau kan jalan-jalan dengan ku " Ajak Kiran dengan suara manja yang di buat-buat.


" Ya baiklah " Balas Dylan singkat dan datar.


" Aww... kau baik sekali sih sayang " Kiran menggenggam tangan Dylan dan mengayun-ayunkannya dengan girang.


" Wajahmu menyeramkan kalau di liputi dendam begitu " Bisik Dylan lirih.


" Sama aku juga sangat menyukai mu " Seru Kiran lalu menghambur memeluk Dylan.


" Haah... wanita " Gumam Dylan jengah, tidak punya pilihan lain selain menuruti saja permainan Kiran.


Kiran menyunggingkan senyum mengejeknya ke arah Dera dengan jelas. Dia menepuk-nepuk punggung Dylan pelan seolah semakin ingin memanas-manasi Dera yang sudah berotot tegang menahan rasa marahnya.


" Sialan juga wanita ular itu, bisa-bisanya dia semakin tidak tau malu begitu, di lingkungan sekolah begini seenaknya saja memeluk Dylan " Geram Dera mengepalkan tangannya erat-erat.


" Dera jaga sikap mu, ini sekolah dan dia guru, kau tidak boleh mencari gara-gara disini " Bisik Cissy yang sedari tadi ikut menyaksikan drama Kiran dan Dylan.


" Aku sudah tidak peduli lagi " Desis Dera penuh kemarahan yang meluap. Dia berjalan menuju arah Kiran dan Dylan.


" Dera jangan " Cegat Cissy meraih tangan Dera.

__ADS_1


" Lepaskan aku " Dera menyentakkan tangan Cissy yang menahannya lalu terus melangkah menghampiri mereka berdua.


" Ehem... " Dera berdehem dengan cukup keras saat berada di dekat Dylan dan Kiran.


" Oh ? " Kiran berpura-pura terkejut dan melepaskan Dylan dari pelukannya.


" De-dera " Puranya gelagapan.


" Aku tidak peduli hubungan kalian itu sebenarnya apa tapi tolong jaga sikap anda jika berada di area sekolah " Ucap Dera dengan sinis.


" Sikap ku yang bagaimana maksudnya ? " Kiran masih berpura-pura polos tidak mengerti.


" Cih " Cibir Dera menyunggingkan senyum miringnya.


" Memangnya anda tidak tau sikap anda yang begini bisa di kategorikan sebagai pelecehan seksual ? Dia itu masih di bawah umur " Jawab Dera dengan sinis.


" Apa ? " Geram Kiran mulai kesal mendengar kata-kata yang di lontarkan Dera.


" Pe-pelecehan seksual ? " Ulangnya tidak percaya mendengar tuduhan Dera.


" Kenapa ? " Dera menyilangkan kedua tangannya di dada dengan sombong.


" Hukum dasar begitu saja anda tidak tau ? Cih " Ejeknya pongah.


" Dia benar-benar kurang ajar, untung saja Dylan tidak menyukainya karena kalau sampai dia jadi adik ipar ku, pasti aku akan bertengkar dengannya setiap hari " Gumam Kiran menahan kekesalannya.


" Kau tau " Kiran mendekatkan dirinya ke arah Dera.


" Di luar negeri itu sapaan yang normal untuk seorang teman " Jawab Kiran masih berusaha menahan emosinya. Dia tidak mungkin menyumpal mulut sinis Dera di area sekolah ini.


" Teman ? " Dera terkekeh sinis.


" Kalian itu bukan teman, tapi guru dan murid, jadi jaga sikap anda " Balas Dera dengan sombongnya.


" Oh ya ? " Seru Kiran ikut menyilangkan kedua tangannya di dada.


" Ku beritahu ya, aku dan dia memang bukan teman tapi sepasang kekasih " Bisik Kiran dengan sangat meyakinkan.


" Kau pikir mbok ja seperti mu bisa merebut Dylan ku ? " Lanjutnya mengejek.


" Dalam mimpi pun tidak " Cibir Kiran kemudian.


Kiran melingkarkan tangannya di lengan Dylan yang sedari tadi hanya diam dengan jengah mengawasi mereka berdua.


" Ayo sayang " Ajaknya menarik tangan Dylan pergi, tak lupa dia mengibaskan rambutnya saat berjalan melewati Dera.


Melihat hal itu kemarahan Dera sudah tak tertahankan lagi, tak peduli guru atau pun bukan dia tidak akan bersabar lagi menghadapi Kiran.


" Tunggu " Cegat Dera dengan geraman yang tertahan. Dia membalikkan badannya, menatap Kiran dengan sorot mata yang sudah kalap.


" Dasar perempuan... " Tangannya melayangkan tamparan ke arah Kiran.


Kiran yang sudah berlatih bela diri itu pun bisa dengan mudah menangkap tangan Dera.


" Kau mau menamparku ? " Cibir Kiran dengan senyuman miring mengejek.


" Kau pasti akan menyesal jika tau yang sebenarnya " Lanjut Kiran.


Dia lalu memutar tangan Dera ke balik punggungnya.


" Aargh " Teriak Dera kesakitan sekaligus malu melihat Kiran bisa menangkal serangannya dan malah membalasnya.


Dengan tangannya yang lain Kiran menjewer telinga Dera dengan keras.


" Kau benar-benar menyedihkan " Bisik Kiran lirih di telinga Dera.


" Sampai mati pun Dylan tidak akan pernah melirikmu " Kiran mendorong tubuh Dera hingga membuatnya terhuyung dan hampir jatuh tersungkur.


" Ayo Dylan " Kiran menarik tangan Dylan pergi menjauh.


" Dera kau baik-baik saja ? " Cissy yang sedari tadi hanya diam saja melihat Kiran memiting tangan Dera itu langsung membantunya berdiri tegap setelah kepergian Kiran dan Dera.


" Aish sialan !!! " Teriak Dera dengan wajah merah padam menahan malu.


" Siapa sih dia itu ? Berani-beraninya mempermalukanku seperti ini " Makinya.


Dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Jefry kakak tertuanya.


" Kak... " Rengeknya begitu saluran teleponnya tersambung.


" Seseorang memiting tangan ku hingga memar " Lanjutnya dengan suara memelas.


Dera adalah adik perempuan satu-satunya dan Jefry sangat memanjakannya.


" Siapa yang berani-beraninya melakukan itu padamu ? " Pekiknya terkejut di ujung telepon sana.


" Dia adalah... " Dera menceritakan kejadian yang baru saja menimpanya dengan di imbuhi sedikit bumbu di sana sini.


" Tenang saja, kakak akan mengurusnya " Jawab Jefry.


" Terima kasih ya kak " Jawab Dera tersenyum puas lalu menutup teleponnya.


" Rasakan kau sekarang " Gumam Dera merasa menang.


*Kau b*ermain-main dengan orang yang salah.


Batin Dera tanpa tau bahwa sebenarnya sebentar lagi dia yang akan bertekuk lutut di kaki Kiran mengiba-iba memohon ampun.


🍁🍁🍁🍁🍁


" Kau ini kenapa meladeninya sih ? " Tanya Dylan malas setelah mereka pergi menjauh.


" Biarkan saja, dia belum tau berurusan dengan siapa " Jawab Kiran masih di liputi kekesalan.


" Klan Loyard ? " Tanya Dylan menebak.


" Bukan " Jawab Kiran ketus.


" Lalu ? " Kejar Dylan bingung.

__ADS_1


" Pembalasan dendam suketi " Desis Kiran dengan lirih dan menyeramkan.


" Pantas saja " Jawab Dylan acuh lalu pergi berlalu meninggalkan Kiran.


__ADS_2