Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Pembalasan Untuk Ken


__ADS_3

Ruby melihat Rai yang seperti sudah menyiapkan serangkaian kata-kata untuk memarahinya tanpa pikir panjang langsung mencium bibirnya, mencegahnya mengomel lebih lanjut.


Rai yang terkejut dengan tindakan spontan dari Ruby hanya bisa menikmatinya. Dia bisa melampiaskan kekesalannya nanti setelah mereka menyelesaikan pertandingan gulat 5 rondenya. Ruby menciumnya dalam dan agresif, membuat Rai tersenyum senang.


“ Apa pikiran mesum mu itu sudah mulai menguasaimu ? “ Seringai Rai melihat nafas Ruby yang terengah-engah.


“ Tentu saja “ jawab Ruby tanpa malu lagi, karena bagaimanapun tidak ada alasan lagi baginya untuk berkelit jadi nikmati saja 5 ronde mereka. Malam panjang dan erotis mereka segera di mulai.


Mereka terbaring dengan selimut yang menutupi tubuh mereka, Ruby berbaring di samping Rai yang menjadikan lengannya alas untuk kepala Ruby.


" Apa kau sengaja mengajak ku ke pesta untuk membuatku marah ? " Tanya Rai memulai percakapan.


" Tidak, aku bahkan tidak tau kau akan datang ke acara itu, kau seperti jelangkung saja, datang tak di undang pulang tak di antar " Ejek Ruby.


" Cih " Rai mencibir.


" Setidaknya jelangkung itu hantu yang berkelas, dia tidak merepotkan siapapun untuk mengantarnya pulang " Rai menjawab sinis.


" Sudahlah jangan membahas hal-hal aneh, aku lelah, aku akan tidur lebih dulu " Ruby mengakhiri perdebatannya dengan Rai, dia tau semakin lama mereka berdebat maka semakin melebar masalah yang akan di bahas.


" Hei jangan kabur, kau belum menjelaskan masalah Rhoma dan Ani " Rai memulai inti pembicaraan.


" Ah dingin sekali, aku kedingingan " Ruby pura-pura tidak mendengar ucapan Rai dan semakin meringkuk di dada Rai.


" Jangan menghindar " Rai berkata tajam.


" Aish tidak berhasil " Ruby bergumam sendiri.


" Apa ? Kau ingin aku menjelaskan apa ? " Ruby membalas ketus.


" Bagaimana bisa kau memberikan ku nama panggilan kesayangan dengan nama laki-laki lain ? " Tanya Ruby ketus.


" Itu hanya mirip mungkin, bukankah aku sudah bilang padamu bahwa Roma singkatan dari Rai Romantis, tidak seperti yang kau bayangkan tadi " Ruby berkelit.


" Hei hanya karena aku adalah laki-laki polos dan suci bukan berarti aku bodoh, aku bisa membedakan mana yang singkatan dan mana yang memang kau berikan sebagai julukan " Suara Rai meninggi, dia *** dada Ruby membuatnya meringis kesakitan.


" Cih suci jidatmu. Baiklah baiklah aku mengaku salah, aku minta maaf, aku hanya suka dengan film itu, dulu ibu dan ayah selalu mengajak ku menonton film itu sewaktu aku kecil " Ruby memberikan alasan.


" Jangan beralasan, memangnya kau lahir tahun berapa, bukankah kita hanya berselisih 3 tahun " Rai mematahkan argumen Ruby.


" Kau tau ibu ku dari desa terpencil, dan saat itu yang terkenal di desa adalah bintang film itu, jadi itu merubah pandangan ku, dulu menurutku dia sangat tampan asal kau tau " Ruby menjelaskan dengan malu.


" Cih " Rai mencibir kesal.


" Baiklah kali ini ku ampuni kau, tapi jangan memanggil ku seperti itu lagi, cari panggilan mesra untuk ku lainnya " Rai merapatkan pelukan di leher Ruby, membuatnya sedikit tercekik.


" Siap kapten ! " Seru Ruby seraya membuat gerakan hormat dengan tangannya.

__ADS_1


" Baiklah ayo tidur, aku sangat mengantuk " Ruby memeluk tubuh Rai yang ada di depannya, membenamkan wajahnya di dada Rai yang bidang.


" Ah dan ya satu lagi aku memutuskan menambah hukumanmu jadi 3 ronde setiap malamnya " Jawab Rai santai.


" Apa ?!? " Ruby yang sudah hampir terpejam melotot mendengar ucapan Rai


🍁🍁🍁🍁🍁


Bukan lagi dering alarm yang membangunkan Ruby melainkan bunyi ponsel barunya. Nada dering yang terasa tidak asing di telinganya. Lagu persembahan Ruby untuk Rai. Dia mengerjapkan matanya untuk mengumpulkan kesadarannya. Rai yang tertidur di atas dadanya membuatnya kesulitan bergerak. Dia menoleh ke arah jam dinding besar di atas tv. Mereka bangun terlambat.


Ruby menggoyangkan tubuh Rai agar dia juga bangun. Tapi bukannya bangun dia malah mengeratkan pelukannya.


Cih semalam aku yang bekerja tapi kau yang kelelahan.


Wajah Ruby merona mengingat kegiatan malam harinya bersama Rai semalam.


Suara ponsel terdengar lagi, dia melihat sekeliling untuk mencarinya. Ternyata ponselnya berada jauh di meja dekat sofa.


“ Rai bangunlah, aku ingin lihat siapa yang menelfon saat ini “ Ruby menggoyangkan lagi tubuh Rai.


Rai hanya menggeliat dan tetap tertidur. Ruby memindahkan kepala Rai dan melepaskan pelukannya, meraih kimono tidur yang di siapkan pihak hotel untuk mereka berdua. Dia berjalan ke arah sofa dan mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Ken. Ruby menghela nafas, dia masih belum menemukan cara terkejam untuk membalasnya.


“ Apa lagi ? “ tanya Ruby ketus saat telfonnya sudah tersambung.


“ Kau dimana ? Aku akan menemuimu “ Ken bertanya.


“ Baiklah aku kesana sekarang “ Ken kemudian menutup telfonnya.


Ruby melemparkan asal ponselnya ke sofa, dia berbalik akan membangunkan Rai untuk pergi bekerja, tapi Rai tidak juga bergerak. Menyerah membangunkannya Ruby memilih bergegas mandi.


Ruby sudah selesai mandi, dia melihat Rai yang masih juga belum bangun.


" Rai bangunlah, kau akan terlambat bekerja " Ruby menggoyangkan tubuh Rai.


Rai menggeliat dan memeluk Ruby yang membungkuk di depannya. Dia menarik Ruby dan membuatnya terjatuh di ke atas dadanya.


" Aku sudah memberimu STMJ dengan 3 telur, kenapa kau masih tidak berstamina ya ? " Suara serak khas bangun tidur Rai menggoda Ruby.


" Cih bukankah kau yang meminumnya ? " Ruby menjawab pertanyaan Rai sinis.


" Benarkah ? Tapi yang sepertinya terlihat bersemangat pagi ini malah kau ? " Rai masih tetap menggodanya, semakin mengeratkan pelukannya kepada Ruby yang ada di atasnya.


" Bangun lah, apa kau tidak pergi bekerja ? " Ruby bertanya lirih di depan wajah Rai.


" Berikan aku ciuman selamat pagi kalau ingin membangunkanku " Rai menjawabnya dengan mata yang masih tertutup.


Ruby kemudian menciumnya tanpa di minta 2 kali, semula dia berencana hanya memberikan kecupan ringan di bibirnya, tapi niatnya gagal karena Rai membalas kecupan ringannya dengan lumatan lembut di bibirnya. Semakin lama semakin dalam dan bernafsu.

__ADS_1


" Kau benar-benar membangunkan ku " Suara Rai terengah-engah dengan wajah merah menahan nafsu. Dia kemudian dengan cepat membalik tubuh Ruby, menguncinya dengan kedua kakinya yang bertumpu pada lututnya.


" Rai apa kau tidak lapar ? " Ruby berusaha mengalihkan perhatian Rai, menggeliat geli saat tangan Rai sudah merayap masuk kedalam bajunya.


" Tentu saja aku lapar, dan makanan lezat sedang tersedia di depanku sekarang " Rai menarik selimut yang ada di bawah kaki nya, menutupi tubuh mereka yang menyambut pagi dengan cara berbeda.


Ruby sudah berpakaian lengkap dan sedang duduk di sofa, Rai baru saja keluar kamar mandi dengan mengenakan jubah handuk. Melemparkan handuk kecil ke arah Ruby dan menyodorkan kepalanya. Meminta Ruby untuk mengeringkan rambutnya. Dia kemudian duduk di sebelah Ruby yang sudah bangkit berdiri menghadap Rai.


" Kenapa belum bersiap-siap, apa kau tidak bekerja ? " Ruby bertanya heran karena melihat Rai yang santai.


" Kita tidak akan bekerja hari ini, aku sudah menghubungi pihak HRD dan memintakan izin cutimu " Rai menjawab santai dan duduk di sofa.


" Kenapa begitu ? Aku tidak ingin cuti hari ini " Ruby protes.


" Kenapa apa kau ingin menemui bule itu ? Lagi pula ingat janji mu, semalam kau hanya mampu menyelesaikan 2 ronde, bukankah kau masih punya banyak hutang " Rai mengomeli Ruby.


" Cih " Ruby mencibir dan memalingkan wajahnya. Rai menarik tangan Ruby dan membuatnya jatuh ke atas pangkuan Rai.


Rai tidak peduli dengan jawaban Ruby, dia mulai menciumi leher Ruby yang meronta berusaha melepaskan diri.


" Ken dalam perjalanan kesini, aku akan menemuinya " Ruby berusaha mengalihkan perhatian Rai agar berhenti menciuminya. Dia melingkarkan tangannya ke leher Rai.


" Biarkan saja di kesini " Rai menjawab santai.


" Aku akan sarapan bersamanya di bawah " Ruby memberitahukan Rai.


" Kau bersiap-siaplah, kita sarapan bersama " Ajak Ruby.


" Kau pergilah dulu, aku harus menelfon seseorang, aku akan menyusulmu nanti " Rai menjelaskan.


" Baiklah aku pergi dulu " Ruby mengecup bibir Rai dan turun dari pangkuannya, pergi meninggalkan kamar.


Dia masuk ke lift dan menekan tombol menuju lantai 1, tempat loby sekaligus restoran berada.


Dia berjalan menuju restoran, mencari Ken yang ternyata belum datang, dia memilih meja di sudut ruangan untuk sarapan sambil menunggu Ken.


Aku harus membalas pengkhianat sepertinya, tapi bagaimana caranya ya ?


Ruby sibuk berfikir dan berkonsentrasi, memikirkan cara terbrutal untuk membalas adik iparnya tersebut.


Dia melihat ponselnya, membuka aplikasi Facebo*k dan mengunggah foto Ken yang terpajang sebagai profil aplikasi pesannya.



Waspada !!! Telah kabur buronan berbahaya, bagi siapapun yang melihatnya harap segera kabur, terutama wanita-wanita cantik, karena dia akan mengira kalian adalah kekasihnya yang sudah pergi mencampakkannya. Viralkan !!!


Klik. Ruby selesai memposting foto Ken dan tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2