Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Ku Menangis.....


__ADS_3

“ Ayo naik “ Dylan meraih tangan Blair dan menariknya masuk ke dalam begitu bus telah berhenti sempurna di depan mereka.


Dengan hati-hati Dylan menuntun Blair berjalan di dalam bus yang penuh sesak oleh murid-murid yang juga akan pulang sekolah itu. Dia celingukan mencari tempat duduk yang kosong. Dapat, baris kedua dari belakang.


Setelah berhasil mencapai tempat duduk yang kosong tersebut, Dylan mempersilahkan Blair duduk dan dia berdiri di sampingnya.


Bus pun berjalan, pelan lalu semakin cepat dan semakin cepat. Semua penumpang yang berdiri pun ikut bergoyang-goyang saat bus melaju di jalanan yang bergelombang.


" Aah... " Terdengar pekik ketakutan dari para penumpang saat bus mengerem mendadak, semua penumpang pun terdorong maju ke depan. Begitu juga Blair yang baru pertama kalinya naik bus dan tidak memiliki pengalaman bagaimana lika liku menaiki bus dengan sopir yang sedikit menguji nyali itu. Dia terdorong maju ke depan hampir menabrak bangku di depannya, namun dengan sigap Dylan menahan kening Blair dengan satu tangannya yang bebas.


" Ck " Terdengar decakan kesal Dylan menatap sopir bus tersebut.


" Kau tidak apa-apa ? " tanyanya khawatir Blair akan terluka.


" Ya tidak apa " Jawab Blair gugup, Dylan selalu saja mampu membuat jantungnya berdebar dengan cara sederhana. Mungkinkah dia sudah jatuh hati padanya ? Blair menggelengkan kepalanya, tidak mungkin secepat itu, pikirnya.


Belum juga reda detak jantung Blair yang berpacu karena ngeri dengan laju bus yang di tumpanginya dan juga sikap Dylan yang ambigu, sesuatu menyentuh tangannya, dia menunduk untuk melihat, ternyata itu tangan Dylan yang memegangnya lalu membawanya ke arah pinggangnya.


" Pegangan yang erat, kalau tidak nanti kau jatuh " Ucap Dylan tegas masih kesal karena ulah sopir yang sembrono mengemudikan bus. Benar saja, belum lagi Dylan menutup mulutnya, suara rem kembali berdecit dan penumpang pun terhuyung-huyung di dalam bus. Blair ? Tanpa sadar dia memeluk pinggang Dylan erat-erat dan membenamkan wajahnya di perut Dylan, berlindung dari guncangan bus.


" Hati-hati dong "


" Aish sembrono sekali sih " Terdengar umpatan-umpatan kesal dari para penumpang, namun sopir seakan tidak peduli. Dia kembali memacu mobilnya dengan kencang.


Setelah perjalanan mendebarkan penuh ketegangan itu pun akhirnya Dylan dan Blair sampai di halte dekat pusat perbelanjaan milik klan Loyard yang berada agak jauh dari sekolah mereka.


Sengaja memiliki lokasi yang sedikit jauh agar mereka lebih santai saja dan tidak perlu takut terlihat oleh teman sekolah mereka saat berjalan bersama.


Mereka berdua kemudian berjalan beberapa meter sebelum benar-benar sampai ke pusat perbelanjaan. Sebelum masuk ke dalam mall mereka melewati alat pendeteksi logam terlebih dahulu. Protokol keamanan yang mencegah pengunjungnya membawa senjata tajam.


" Kau mau kemana dulu ? Makan atau bermain ? " tawar Dylan.


" Umm... kemana ya ? " Gumam Blair bingung, menimbang apa yang ingin di lakukannya.


" Bagaimana kalau kita bermain di game zone saja ? " Ajaknya kemudian.


" Ok " Jawab Dylan setuju lalu mereka berdua berjalan ke arah lift menuju lantai tempat area game zone berada.


" Aku mau main sampai puas kali ini " Pekik Blair girang begitu mereka keluar dari lift dan di sambut dengan berbagai macam permainan yang ada di seluruh lantai tersebut.


" Aku mau itu, itu " Tunjuknya berjingkrak-jingkrak girang melihat danz base. Permainan dance dengan layar monitor besar sebagai pemandunya. Blair lalu menggandeng Dylan dan menyeretnya mendekati permainan itu, selagi sedang kosong.


Dylan yang memang bukan anak mall itu terlihat asing dengan setiap permainan yang ada di sana, selama ini yang dia tau game hanya berupa aplikasi di komputer atau play station.


Blair lalu mengambil kartu dari dalam tasnya dan menggesekkannya ke alat yang tersedia. Langsung saja monitor tersebut menampilkan sederetan menu yang ada di fiturnya. Blair terlihat telah terbiasa bermain permainan itu sementara Dylan hanya mengawasinya dari samping, menjaga tas Blair.


Karena danz base adalah game arcade musik online, jadi danz base ini dapat dimainkan oleh 1 atau 2 player, pemain bisa melakukan live battle dengan player lainnya dari game centre luar kota maupun luar negeri. Begitu Blair menyelesaikan pilihannya terlihat wajah seorang laki-laki di ujung monitor berukuran 55 inch tersebut.


Dylan membelalak kaget melihat lawan main Blair. Lalu beralih menatap Blair dengan cepat kemudian menghela napas lega saat menatap wajah Blair yang masih tersembunyi di balik masker dan kacamata hitamnya. Tidak bisa dia bayangkan bagaimana jika laki-laki di ujung monitor itu jatuh cinta pada Blair pada pandangan pertama.


Suara musik pun terdengar berdentum keras dari alat permainan tersebut, dan layar monitor mulai menunjukkan gambaran 3 dimensi yang akan memandu gerakan dance.


Blair memulai gerakannya dengan mengangkat tangan, lalu kaki yang menghentak-hentak pelan, kemudian berubah menjadi satu gerakan yang seirama dengan musik. Semakin lama semakin beragam gerak tariannya.


Dengan lincahnya Blair menirukan setiap gerakan yang di contohkan oleh animasi 3 dimensi tersebut, bergoyang ke kanan ke kiri, mulai dari kepala, tangan, pinggul dan juga kaki. Dalam sekejap saja Blair yang lihai itu pun menarik banyak perhatian para pengunjung yang lain, terutama para kaum adam. Mereka terlihat sangat menikmati gerakan Blair yang menurut Dylan sedikit sensual, atau memang hanya dia yang ketinggalan jaman saat melihat gerakan dance dari negeri penghasil idol yang memiliki kulit berkilau seperti bohlam itu.


Satu buah lagu yang terasa begitu lama bagi Dylan, terlebih lagi dia harus melihat para laki-laki itu seperti serigala kelaparan saat melihat Blair yang asik bergoyang kesana kemari itu. Dia memalingkan wajahnya, kesal dan tidak suka. Jika saja memungkinkan, dia ingin menyeret Blair dari sana.


" Dylan " Teriak Blair memanggil Dylan yang tidak menatapnya dengan tetap asyik berdance ria. Namun Dylan masih saja acuh. Blair mengernyitkan keningnya bingung melihat sikap Dylan yang tiba-tiba berubah. Apa karena dia tidak mengajaknya bermain bersama ? Begitu pikir Blair. Dia lalu berhenti dari permainannya dan melog out id nya kemudian menghampiri Dylan.


Terdengar lenguhan panjang penuh kecewa dari para pengunjung yang menikmati acara dance gratis itu.


" Kau kenapa ? " Tanya Blair heran setelah mendekat ke arah Dylan.


" Sudah selesai ? " tanya Dylan ketus.


" Ya sudah " Jawabnya terbata, merasa sungkan sudah asyik bermain sendiri.

__ADS_1


Tanpa mengajak Blair Dylan pergi berlalu begitu saja, Blair yang terkejut mengambil tasnya lalu berlari menyusul Dylan.


" Tunggu dulu " Teriaknya.


" Tunggu dulu " Ulangnya begitu sudah berada di samping Dylan.


" Kau kenapa ? "


" Tidak " Jawab Dylan ketus.


" Tidak kok marah-marah " Kejar Blair tidak percaya. Namun Dylan masih saja acuh dan terus saja berjalan keluar area permainan. Blair hanya mengikutinya dengan terseok-seok karena perbedaan lebar langkah kaki mereka.


" Jangan cepat-cepat " Rengek Blair. Karena terlalu cepat berjalan, dia tersandung kakinya sendiri dan jatuh.


" Aduh... " rintihnya memelas.


Dylan yang masih kesal itu pun tidak tega dan menghentikan langkahnya. Menghela napas panjang sebelum berbalik badan.


" Ck " Decaknya malas lalu berjalan menghampiri Blair yang masih duduk di lantai.


" Sakit " Rengeknya dengan wajah memelas sekaligus menggemaskan saat menatap Dylan.


" Makanya kalau jalan hati-hati " Ketus Dylan mengulurkan tangannya, membantu Blair berdiri.


" Tidak mau " Blair memalingkan wajahnya kesal. Dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun tapi Dylan memperlakukannya dengan ketus.


" Ayo cepat bangun " Perintahnya semakin kesal.


" Tidak mau " Keras kepala Blair menolak.


Habis sudah kesabarannya, dia lalu membungkuk untuk menarik tangan Blair. Setelah dia berdiri, Dylan melepas jaketnya lalu mengikatkannya pada pinggang Blair.


" Kau berjingkrak-jingkrak seperti itu sampai rok mu terbuka dan jadi konsumsi orang banyak " Omelnya kesal.


" Begitu saja marah " Sungut Blair ketus.


Dylan sudah selesai mengikatkan jaketnya lalu menegakkan punggungnya menatap wajah Blair.


" Memangnya kau tidak malu ? Aku yang melihatmu saja malu " Lanjutnya mendelik marah lalu meraup Blair dalam gendongannya.


" Aaah... " Pekik Blair tidak siap dengan gendongan Dylan yang mendadak.


" A-aku masih bisa jalan kok " Blair tergagap karena saat ini semua orang sedang menatap mereka.


" Sudah jangan cerewet, aku tidak suka kau jalan dengan pincang-pincang, bikin lambat saja. Kita pergi makan lalu pulang saja " Jawab Dylan masih kesal dan kemudian membawa Blair masuk ke dalam salah satu restoran cepat saji.


Dylan baru menurunkan Blair saat mereka mengantre didepan counter pemesanan. Membuat semua orang berbisik-bisik ke arah mereka.


" Kau ingin apa ? " Tanya Dylan dingin.


" Semua yang ada di menu " Blair pun tak kalah ketusnya, tangannya bersedekap di dada lalu memalingkan wajahnya. " Huh ".


Antrean maju perlahan, hingga tiba giliran Dylan dan Blair.


" Selamat siang ingin pesan apa ? " Tanya pramusaji sopan.


" Semua yang ada di menu " Jawab Dylan sama persis dengan yang di ucapkan Blair.


Blair membelalakkan matanya dan menutup mulutnya yang pasti sudah melongo saat ini. Memesan seluruh makanan yang ada dimenu tentu tidak murah. Blair mendadak sungkan, dia menurunkan tangannya lalu melangkah lebar ke samping mendekati Dylan.


" Aku tadi cuma bercanda " Bisik Blair di telinga Dylan seraya menarik-narik ujung baju Dylan agar dia membatalkan pesanannya, sebelum terlambat.


" Dan aku tidak suka bercanda " Dylan menatap Blair dengan tatapan mata tajam, seakan mampu menelan Blair bulat-bulat. Di tatap begitu menyeramkan membuat Blair mengkerut takut di samping Dylan. Dia menutup mulutnya rapat-rapat tak ingin lagi semakin memperkeruh keadaan. Dylan seram kalau marah, begitu pikirnya.


Setelah sekali lagi memastikan pesanannya, pramusaji itu pun memberitahukan pada bagian yang lain dan mereka bergegas menyiapkannya.


Dylan dan Blair hanya terdiam saat menunggu makanan mereka datang, berdiri berdekatan tapi tak saling bicara bahkan menatap ke arah yang berlawanan. Setelah menunggu cukup lama, pesanan mereka pun datang. Butuh waktu cukup lama untuk menyiapkan semua menu sekaligus.

__ADS_1


" Sudah cukup kak ? " Tanya pramusaji itu.


" Ya " Jawab Dylan dingin.


" Baiklah " Pramusaji kemudian menekan tombol-tombol di mesin kasir.


" Totalnya 1.068.361 kak, mau di bayar cash atau pakai kartu kredit ? " Tanyanya kemudian.


Blair mendelik melihat total harga yang di informasikan kepada Dylan. Bagi Blair jumlah nominal itu tidak seberapa, tapi bagi Dylan yang setau Blair adalah anak sebatang kara, tentu saja itu adalah nominal yang sangat besar jika harus di keluarkan hanya untuk membeli ayam goreng.


" Bi-biar aku saja yang bayar " Seru Blair cepat lalu mengeluarkan dompet dari dalam tasnya.


" Ckssstt.... " Dylan berdesis sambil mendelik marah ke arah Blair.


" Kan sudah ku bilang aku yang mentraktir mu " Geramnya.


" Ta-tapi itu... " Blair ingin membela dirinya namun dia urungkan niatnya saat melihat mata Dylan yang semakin membulat sempurna.


" Makanya kalau ingin bicara di pikir dulu " Sinis Dylan kesal. Dia lalu menyudahi pertengkarannya dan kembali menatap pramusaji yang sudah senyum-senyum sendiri melihat pertengkaran remaja berseragam di depannya.


Aah romansa cinta abu-abu, jadi ingat masa muda.


Batinnya gemas sendiri.


" Pakai kartu kredit " Jawab Dylan kepada pramusaji di depannya. Dia lalu mengeluarkan dompetnya dari dalam saku celana dan mengambil kartu kredit yang di berikan ayahnya untuk di berikan kepada pramusaji.


" Maaf kak, kartunya tidak bisa di gunakan, barangkali ada kartu lain ? " Setelah beberapa kali mencoba akhirnya pramusaji itu menyerah dan mengembalikan kartu Dylan.


" Tidak bisa ? " Tanya Dylan heran. Aku hanya menggunakannya sekali, tidak mungkin sudah overlimit. Dia tidak tahu bahwa kartunya sudah di blokir oleh Rai.


" Bayar cash saja kalau begitu " Ucap Dylan kemudian menerima kembali kartu kreditnya, menyimpannya dan memeriksa uang cash di dompetnya.


Merasa ada yang tidak beres Blair semakin gelisah, dia merasa sangat bersalah karena membuat Dylan dalam kesulitan.


1, 2, 3, 4, 5... hanya ada uang 500 ribu di dalam dompet Dylan, dan beberapa lembar uang puluhan.


Kurang...


Batinnya.


Ah ya kan ada uang dari kakak.


Serunya begitu teringat tumpukan uang yang di sedang di panggulnya di punggung.


Dia lalu memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku celana, lalu melepaskan satu tali tasnya dan mengarahkan tas ke depan dada. Blair yang semakin gelisah mendongakkan kepalanya mengintip apa yang akan di lakukan Dylan sekarang.


Melihat Blair yang mengintipnya, Dylan membuka tasnya tanpa melihat kedalamnya, merogohkan tangannya masuk ke dalam tas, membuka amplop coklat besar itu dan menghitung lembaran uang di dalamnya tanpa melihat. Kan tidak keren mengambil uang dari amplop, lagi pula pasti akan menimbulkan kehebohan kalau sampai orang lain tau anak berseragam abu-abu membawa uang dalam jumlah banyak begitu.


8, 9, 10, 11.... Dylan menghitung uang yang di rabanya, 11 lembar yang menurut pikirannya adalah 1.100.000, cukup untuk membayar makanan tersebut.


" Ini " Dylan langsung meletakkan uang yang di pegangnya ke atas meja kasir tanpa mengeceknya lagi.


Jreeeeeng !!! Pramusaji itu mendelik begitu tangan Dylan terangkat dari tumpukan uang tersebut.


" I-ini apa-apaan anak muda ? " Tanyanya terbata-bata menunjuk tumpukan uang yang di berikan Dylan.


Dylan dan Blair langsung menoleh ke arah uang tersebut karena melihat ekspresi tak biasa dari pramusaji itu.


" HAH ?!?! " Mereka berdua memekik dengan keras hingga memancing keributan.


Bukannya tumpukan uang berwarna pink segar yang ada di meja itu tapi malah tumpukan uang berwarna hijau lemon yang terasa asam di mata. Dylan mengerjapkan matanya berulang kali, memastikan penglihatannya. Sementara Blair langsung menatap Dylan dengan aneh.


Celengan siapa yang dia bobol.


Tanpa pikir panjang lagi Dylan mengeluarkan amplop coklat yang di berikan oleh Rai, dia membukanya di atas meja kasir. Mengeluarkan semua isinya.


Duuuarrr !! Seperti ada sebuah petir menggelegar di atas kepalanya, dia diam membeku melihat tumpukan uang bernominal 1000 itu.

__ADS_1


Ku menangis membayangkan, betapa kejamnya dirimu atas diriku....


Bersamaan dengan hati Dylan yang hancur, mall itu sedang memutarkan sebuah lagu dari salah satu diva pop tanah air yang lagunya hits menjadi soundtrack ftv azab.


__ADS_2