
" Masa sih ? " Tanya Ruby tidak percaya saat mendengarkan cerita Ken dari A sampai B karena kalau sampai harus Z kejauhan.
Ken, Ruby juga Rai sedang berkumpul di ruang keluarga untuk mendengarkan keluh kesah Ken terhadap sikap aneh Kiran.
" Hei kau tidak lihat tampang ku yang sudah kusut begini ? " Ken menunjuk wajahnya sendiri, meskipun dia tidak bisa melihatnya tapi dia yakin wajahnya pasti sudah kusut seperti uang seribuan yang terlupakan yang ada di pojokan laci.
" Kalau melihat dari wajah mu sih sepertinya cerita mu sungguh-sungguh " Ruby mengangguk-anggukkan kepalanya percaya, lalu beralih menatap Rai yang sedari tadi hanya diam memainkan rambut Ruby.
" Kalau menurutmu Kiran kenapa ? " Tanya Ruby meminta pendapat.
" Ck " Decak Rai meremehkan sembari menyusupkan rambut Ruby ke balik telinganya, dia lalu merangkulkan tangannya ke pundak Ruby dan menariknya mendekat ke dadanya.
" Masa begitu saja kalian tidak tau " Cibirnya mengejek.
" Memangnya kau tau ? " Tanya Ruby terkejut. Dia yang menjadi sahabatnya cukup lama saja masih tidak bisa mengerti ada apa dengan Kiran, bagaimana bisa Rai yang tidak peduli dengan siapapun itu tau.
" Dia kenapa ? " Ken langsung mencondongkan tubuhnya maju ke depan, dengan serius menatap wajah Rai.
" Kalian ini bagaimana sih, sudah jelas sekali jawabannya kalau Kiran itu sedang cemburu karena kau mengobrol dengan pramusaji itu, kau ini memang tidak peka sama sekali " Jawabnya pongah merasa benar seratus persen.
" Aish " Ken dan Ruby yang tadinya menyimak dengan serius dan tegang langsung memasang wajah malas dengan pundak yang merosot begitu mendengar hipotesa Rai.
" Salah ku yang terlalu menganggapmu serius " Cibir Ken malas lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
" Memangnya Kiran itu kau yang cemburu buta tidak pada tempatnya " Ruby ikut mencibir kesal.
" Hei benar kan ? Kau mengobrol lama sekali dengan pramusaji itu dan kemudian Kiran marah, apalagi kalau bukan karena dia cemburu " Sanggah Rai masih merasa pendapatnya benar.
" Sudahlah biarkan saja dia " Ucap Ken pada Ruby yang sedang mendelik kesal pada Rai.
" Jadi kalian tidak percaya padaku ? " Tanya Rai dengan menantang.
Ken dan Ruby kompak menjawabnya dengan helaan napas malas dan bola mata yang memutar ke atas.
" Tidak " Jawab mereka bersamaan.
" Taruhan apa kalau dia memang marah karena cemburu ? " Tantang Rai kesal merasa di remehkan.
" Pesawat jet " Jawab Ken asal menerima tantangan Rai.
" Ok deal " Jawab Rai bersemangat, dia sangat yakin jika dirinya akan menang taruhan. Kalaupun kalah dia akan membuatnya menjadi menang.
" Kalian ini bicara apa sih ? " Tanya Ruby bingung.
" Kau mau taruhan apa sayang ? " Tanya Rai dengan tersenyum licik.
" Taruhan apa ? Aku tidak mengerti " Jawab Ruby semakin bingung.
" Ok deal, 5 ronde ya " Rai langsung menyalami tangan Ruby meski dia tidak menyambut tantangan Rai.
" Hei " Teriaknya terkejut mengerti arti kata 5 ronde yang di maksudkan Rai.
" Kapan aku menerima taruhan mu, aku tidak ikut, tidak mau ikut " Tolak Ruby dengan keras.
" Tidak boleh, kau harus ikut " Perintah Rai tegas. Bisa di lihat oleh Ruby senyum licik yang tersungging dari bibir Rai yang berarti pertanda buruk.
" Iya iya aku ikut " Jawab Ruby malas dan mengalah.
Setelah deal perihal masalah taruhan, Rai melihat Dylan yang baru saja pulang sekolah sedang melintas di depan ruang keluarga. Dia yang berniat menghancurkan Dylan tiba-tiba saja menemukan cara untuk mewujudkannya.
" Hei rangers pink " Panggilnya lantang. Ken dan Ruby pun ikut menoleh ke arah luar ruang keluarga.
Dylan sebenarnya juga tidak ingin berhenti saat mendengar dirinya di panggil begitu, tapi entah kenapa dia seperti sudah menyatu dengan julukan rangers pink, dan tanpa sadar dia membalikkan badannya menghadap mereka bertiga kemudian bersandar di pintu dengan satu kaki tersilang ke depan kaki yang lainnya.
" Mau ikut taruhan ? " Tanya Rai tanpa basa basi.
" Tidak terima kasih, dosa " Jawab Dylan acuh, dia tidak ingin terlibat dengan apapun yang berhubungan dengan the amburadul family nya karena dia tau ujung-ujungnya pasti dia yang akan kena sial. Dia pun kembali membalikkan badan dan akan meneruskan langkahnya lagi.
" Ah sayang sekali, padahal kalau kau mau ikut aku akan menurunkan foto terlaknat itu dari sana " Tawar Rai sembari menunjuk foto terfenomenal itu dengan dagunya. Dia sengaja mengeraskan suaranya agar Dylan bisa mendengarnya dengan jelas.
Mendengar kata foto terlaknat itu langsung membuat Dylan memutar haluan dengan cepat, dia buru-buru berjalan masuk ke dalam ruang keluarga dan menghampiri Rai yang sedang duduk bersandar dengan menyilangkan kakinya. Berdiri tepat di hadapannya.
" Jangan tarik ucapan mu ya " Ucap Dylan memastikan dengan wajah sumringah.
" Cih aku tidak pernah mengingkari ucapan ku karena aku laki-laki sejati " Jawab Rai pongah.
" Ok aku ikut taruhan, apa taruhannya ? " Tanya Dylan antusias.
" Kami semua disini sedang berduka untuk Ken karena Kiran mendadak bersikap aneh, menurut Rai penyebab sikap anehnya adalah karena dia sedang cemburu, kalau menurutmu karena apa ? " Jelas Ruby singkat.
" Jadi taruhannya adalah apakah benar Kiran cemburu atau tidak " Saut Rai melanjutkan.
" Cuma itu ? " Tanya Dylan menyelidik.
" Iya cuma itu " Jawab Rai santai.
" Mudah kan ? " Lanjutnya dengan nada meremehkan.
" Mudah sekali, baiklah aku berani bertaruh dia marah bukan karena cemburu " Jawab Dylan mantap. Dia memang belum pernah melihat Kiran cemburu sebelumnya tapi dia sangat yakin Kiran bukan tipe orang yang seperti itu. Yang dia tau Kiran itu perempuan yang sabar dan kalem, kalaupun cemburu dia tidak akan sampai bersikap sangat menyebalkan sampai segitunya.
" Ok karena semua sudah deal jadi kita perjelas lagi, Ken kau bertaruh jet ya " Rai menunjuk Ken yang masih menyandarkan punggungnya dengan kepala yang mendongak menatap langit-langit.
" Siap, jet yang di pesan khusus sesuai keinginan mu " Jawab Ken malas.
" Ok sip, beberapa hari ini aku memang selalu berpikir ingin pergi kerja naik jet pribadi saja " Ucap Rai santai.
" Lalu sayang kau bertaruh... " Ucapnya ganti menunjuk wajah Ruby yang sedang mendelik padanya lalu melirik ke arah Dylan.
" Iya iya aku tau ada anak yang masih di bawah umur " Lanjutnya santai mengedikkan bahunya.
" Aku tidak pernah bertaruh dengan mu " Gumam Ruby malas.
" Dan kau adik kecil, kau bertaruh kalau aku kalah aku akan menurunkan foto itu, benar begitu kan ? " Tunjukkanya ke arah Dylan yang sedang tersenyum yakin dan penuh percaya diri.
" Jangan ingkari ucapanmu ya " Ancam Dylan sekali lagi.
" Tenang saja " Balas Rai santai.
" Nah sekarang saatnya membuktikan apakah teori kalian atau terori ku yang benar " Lanjutnya kemudian berdiri.
" Mau kemana kau ? " Tanya Ruby bingung.
__ADS_1
" Ya membuktikannya, bagaimana kita bisa tau kalau kita tidak bertanya pada yang bersangkutan " Jawab Rai santai.
Mendengar hal itu Ken langsung terhenyak dan menatap Rai dengan tajam.
" Kau gila ya ? Nanti kalau salah bicara dia akan semakin marah pada ku, bisa-bisa aku harus tidur di kamar lain selama satu minggu bahkan lebih " Serunya tidak setuju dengan ide Rai.
" Kalian ini memang benar-benar tidak cerdas ya, aku akan menanyainya tanpa membuatnya tersinggung. Percaya pada ku " Jawabnya sombong lalu mengulurkan tangannya mengajak Ruby pergi.
" Kenapa mengajak ku ? " Tanya Ruby semakin bingung. Dia sebenarnya tau jika sesuatu yang tidak beres akan terjadi jika Rai ikut campur, tapi dia masih belum mengerti tentang ide yang di maksudkan Rai. Dia tidak bisa membaca pergerakan Rai selanjutnya.
" Aku mengajak kalian semua, ayo cepat. Lebih cepat lebih baik " Ucapnya kemudian menggeret Ruby keluar dari sana di ikuti oleh Ken dan juga Dylan.
" Kau lihat dimana Kiran ? " Tanya Rai pada pelayan yang berpapasan dengan mereka.
" Saya melihatnya berjalan ke arah ruang makan tuan " Jawabnya sopan menundukkan kepala.
" Ok baiklah " Balas Rai kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang makan.
Ketiga orang di belakangnya hanya mengikutinya dengan patuh dan bertanya-tanya sendiri. Apa yang akan di lakukan oleh Rai kali ini.
" Berhenti " Perintah Rai tepat di depan pintu masuk ke ruang makan. Mereka bertiga langsung kompak berhenti di belakang punggung Rai.
"Itu dia target kita " Tunjuknya ke arah meja makan.
Ruby, Ken, dan Dylan langsung mendongak untuk mengintip.
Kiran sedang duduk di kursi meja makan berbicara dengan pak Handoko yang berdiri di hadapannya. Terlihat Pak Handoko yang mengangguk-anggukan kepala saat mendengar arahan yang Kiran berikan.
" Dia terlihat baik-baik saja " Ucap Ruby kemudian menoleh ke arah Ken yang juga sedang ikut mengintip di bawahnya.
" Mungkin mode gaharnya sudah off " Jawab Ken asal, dia sendiri juga belum mengerti kenapa tingkah Kiran bisa tiba-tiba berubah-ubah dengan cepat.
" Mungkin kau saja yang terlalu baper, aku tadi bertemu dengannya dua kali di sekolah dan dia tidak terlihat sedang marah, dia malah memberiku jus makan siangnya " Dylan juga ikut menimpali.
" Ah ya " Seru Ken tiba-tiba saat melihat Dylan menatapnya.
" Ini pasti gara-gara teman tapi mesra mu itu " Lanjutnya dengan kesal.
" Hm ? " Dylan mengerutkan keningnya bingung apa yang di maksudkan Ken, begitu juga Ruby.
" Memangnya kenapa ? " Tanya Ruby penasaran.
" Tadi sewaktu istirahat Kiran bercerita kalau dia bertemu dengan teman tapi mesra mu, dan dia bilang kalau ada seorang murid yang cemburu padanya karena dia terlalu dekat dengan mu " Jelas Ken mencoba menyambungkan kejadian demi kejadian.
" Teman tapi mesra ? " Gumam Dylan bingung. Dia tidak merasa memiliki teman tapi mesra menurutnya.
" Kau ini bicara apa sih ? Aku tidak mengerti. Teman tapi mesra apa maksudmu ? " Tanya Dylan.
" Aish sudah diam " Potong Rai menghentikan perdebatan ketiga pengintip lainnya.
" Kalau kalian berisik begini nanti kita ketahuan " Desis Rai sedikit kesal.
Posisi mereka semua saat ini seperti anak tangga, Rai di bagian atas sendiri, Ruby di bawahnya, kemudian di susul Ken yang membungkuk di bawahnya dan di urutan terakhir ada Dylan yang berjongkok.
" Memangnya kenapa sih kita mengintip begini ? Katanya ingin bertanya langsung pada sumbernya ? " Tanya Ruby yang semakin bingung melihat tingkah mereka sendiri, mengintip Kiran yang sedang mengobrol dengan pak Handoko. Memangnya dengan begitu mereka bisa tau apa penyebab sikap Kiran yang mendadak aneh.
" Sudah diam saja dan amati, nanti kita akan tau apakah Kiran marah karena cemburu atau tidak " Jawab Rai memutuskan.
Ketiga orang yang ada dibawahnya itu langsung terdiam dan mengikuti perintah Rai. Mereka terus mengamati Kiran dengan seksama.
Tanya Ken dalam hati. Jika dia mengamati lebih lanjut, Kiran nampaknya sudah dalam mode normal saat ini. Terlihat dari senyumnya yang terus terkembang saat bicara dengan pak Handoko.
Tak berapa lama Pak Handoko pergi menuju arah dapur, sedangkan Kiran terlihat menunggu sambil memainkan jari jemarinya. Mengetuk-ngetuk meja sambil bersenandung riang.
Mungkin memang hanya aku yang terlalu baper menghadapi Kiran. Aku rasa aku butuh liburan lagi, bulan madu ke pantai mungkin.
Batinnya sendiri merasa bersalah karena telah menuduh Kiran bersikap aneh.
Ruby yang mengamati Kiran itu pun perlahan-lahan seperti mengerti apa yang sedang terjadi padanya.
Aah sepertinya aku tau apa yang terjadi. Jika tebakan ku benar, aku pasti menang taruhan dari Rhoma, haaah untung saja, aku masih di selamatkan dari 5 ronde.
Batinnya mengelus dadanya dan bernapas lega, dia teringat terakhir kali harus menepati janjinya pada Rai 5 ronde+bunga 1 ronde, dia sampai tidak keluar dari kamar 2 hari 2 malam, dan jangan di tanya lagi bagaimana tubuhnya, rasanya nano-nano. Manis, asyem, asyin.
Sementara Dylan yang masih belum paham apa yang terjadi terus mengamati Kiran, jika di lihat sekilas tidak ada yang berbeda dengan Kiran, dia sangat santai bermain-main dengan jarinya dan tidak ada tanda-tanda kemarahan juga perasaan cemburu atau apapun itu.
Yes !!! Sepertinya dia memang tidak cemburu. Akhirnya aku bisa membuang foto terlaknat itu dari rumah ini. Kemenangan aku datang !!
Batinnya berjingkrak kegirangan membayangkan kemenangannya di depan mata. Dia menganalisa persentase peluangnya untuk menang taruhan adalah 99 persen.
Ketiga orang itu merasa lega dan yakin dengan tebakan mereka bahwa mereka akan menang dari Rai, sementara Rai sendiri terlihat tidak tergoyahkan. Santai seperti di pantai. Dengan bersandar di pintu dia begitu percaya diri pasti memenangkan pertaruhan ini.
Mereka semua kembali terkesiap begitu melihat Pak Handoko dan beberapa pelayan datang menemui Kiran.
" Ini nona pesanan anda " Ucap Pak Handoko sopan dan menyuruh pelayan untuk menghidangkan makanan yang telah di pesan Kiran tadi.
Sepiring jumbo mie instan lengkap dengan beberapa telur mata sapi yang bulat sempurna dan semangkuk cabai yang terpisah.
" Terima kasih Pak Handoko " Jawabnya tersenyum sopan.
" Kalau ada hal lain yang anda inginkan bilang saja nyonya, jangan mencoba memasaknya sendiri seperti tadi " Jawab Pak Handoko sungkan.
" Ei biasa saja Pak Handoko, aku hanya ingin makan mie instan dengan cabai, tidak perlu sampai merepotkan anda atau para koki " Jawab Kiran sungkan.
" Tetap saja nyonya jika tuan Regis sampai tau, saya akan merasa tidak enak " Balas Pak Handoko.
" Iya maafkan aku ya, lain kali aku akan meminta izin dulu kalau akan membuat mie " Jawab Kiran meringis sungkan.
" Tidak masalah nyonya hanya saja saya takut akan keselamatan nyonya. Baiklah silahkan makan " Ucap Pak Handoko menundukkan kepala lalu pergi bersama pelayan yang lainnya meninggalkan Kiran sendirian.
" Wuah pesta pora " Gumamnya berbinar melihat tumpukan cabai di dalam mangkok. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan menonton drama korea secara streaming lalu memakan mie instannya dengan gigitan cabai sebagai pelengkapnya. Satu suapan satu batang cabai.
Ruby yang melihat itu semakin yakin dengan firasatnya atas apa yang terjadi pada Kiran.
" Tuh kan lihat, tanda-tanda orang cemburu adalah begitu. Dia itu terlalu kalem jadi tidak tau bagaimana caranya melampiaskan rasa cemburunya dan akhirnya memilih makan cabai " Ucap Rai sok tau dengan gaya coolnya, masih tetap berkeyakinan bulat bahwa dia akan menang taruhan.
" Sok tau " Cibir Ruby meremehkan.
" Dia itu bukan sedang cemburu tapi sedang mengalami period " Lanjutnya menjelaskan.
" Period ? " Tanya Ken bingung.
__ADS_1
" Memangnya kau tidak tau apa itu period ? " Tanya Ruby melirik ke arah Ken yang ada di bawahnya.
" Ck begitu saja tidak tau " Cibir Dylan yang ikut menyimak penjelasan Ruby.
" Memangnya kau tau ? " Tanya Ken melirik Dylan kesal.
" Tentu saja aku tau " Jawab Dylan sombong.
" Hei !!! " Suara teriakan Kiran yang tiba-tiba menggelegar di ruang makan itu membuat mereka berempat berjengit kaget. Mereka semua langsung menoleh ke arah Kiran yang masih anteng di tempatnya.
" Dasar perempuan sialan, ayo dokter Ji jangan mau kalah, banting saja laki-laki seperti itu. Kalau aku jadi kau sudah ku patahkan tangan dan kaki perempuan ****** itu. Aish !! Bikin kesal saja " Teriaknya marah-marah saat menonton drama korea yang sedang booming di tanah air itu. Lalu terdengar denting garpu yang beradu dengan piring, dan terlihat Kiran menggulung mienya dengan ekspresi yang sangat menyeramkan. Memakannya dengan bar-bar di imbuhi beberapa potong cabai.
Sepertinya penyiksaan Ken masih panjang.
Batin Ruby saat melihat Kiran yang berapi-api mengomentari drama yang di tontonnya. Dia memang tidak sampai segitunya saat mengalami period, tapi Ruby sering sekali melihat banyak teman-temannya yang begitu tersiksa dengan period mereka. Suasana hati yang berubah-ubah dengan cepat, dan sekujur tubuhnya sakit juga selera makan yang meningkat tajam. Begitu rumitnya tubuh wanita bekerja, laki-laki mana pernah merasakannya.
" Sudah ayo pergi, aku sudah tau penyebab Kiran jadi aneh begitu " Ucap Ruby mengajak ketiga pengintip lainnya untuk pergi.
" Tapi aku masih belum mengerti " Jawab Ken frustasi.
" Kau tidak perlu terlalu mengerti, cukup pahami dan maklumi saja sikap Kiran. Kalau menurut pengamatanku ini masih akan berlangsung beberapa hari lagi " Jelas Ruby singkat.
" Hah ?!? " Pekik Ken mendelik syok.
" Ini masih akan berlangsung beberapa hari lagi ? " Tanyanya semakin frustasi. Sehari saja sudah bencana baginya, apalagi sampai beberapa hari ke depan.
" Iya, sudah terima saja. Ayo " Ajak Ruby pergi dan sudah berbalik badan.
" Tunggu " Cegat Rai dingin. Membuat ketiga pengintip itu menoleh ke arahnya dengan bingung.
" Kenapa kau bisa begitu yakin kalau itu bukan karena cemburu ? " Tanya Rai dengan tersenyum miring meremehkan.
" Ish kau ini, aku tau karena aku juga wanita " Jawab Ruby kesal mendengar Rai masih saja yakin dengan pendapatnya.
" Mmm... " Rai menggerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri menolak pendapat Ruby.
" Aku tetap yakin dia marah karena sedang cemburu " Lanjutnya.
" Tidak mungkin, akan ku tambah lagi bonus 2 ronde jika dia memang cemburu " Jawab Ruby asal.
" Ok deal, kalau kau ingkar lihat saja akibatnya " Saut Rai cepat.
Dia kemudian berjalan masuk ke dalam ruang makan, namun baru beberapa langkah dia menjauh Ruby sudah menarik tangannya.
" Mau apa kau ? " Tanyanya penasaran.
" Memastikan bonus 2 ronde itu akan jadi milik ku " Jawabnya santai dan kembali melanjutkan langkahnya.
Ken, Ruby dan Dylan hanya bisa mengikuti pergerakan punggung Rai yang semakin dekat ke arah meja makan. Mereka saling bertatapan heran apa yang akan di lakukan Rai pada Kiran. Tidak mungkin kan dia akan menanyainya secara langsung, begitu pikir mereka.
" Ehem... " Rai berdehem untuk memberitahukan keberadaannya.
Kiran yang sedang berkonsentrasi penuh menatap layar ponselnya itu pun menoleh ke samping dan langsung terhenyak begitu melihat Rai sudah berdiri di sana.
" Tu-tuan Rai " Jawabnya takut-takut karena Rai sedang menatapnya dengan tajam dan dingin.
" Aku ingin bertanya sesuatu padamu " Ucap Rai tanpa basa-basi, auranya begitu mengintimidasi Kiran hingga membuatnya mengkerut takut.
" A-apa ? " Tanyanya tergagap.
" Aku dengar dari Ken kalau kau bersikap aneh padanya " Tanya Rai dengan tajam dan dingin.
" Ma-maksudnya ? " Tanya Kiran semakin mengkerut takut. Meskipun dia dan Rai sudah menjadi saudara ipar dan tinggal serumah beberapa lama, tapi dia tetap tidak terbiasa dengan aura Rai yang terlalu menakutkan baginya.
" Cukup jawab saja pertanyaan ku, apa benar kau bersikap aneh padanya ? " Tanya Rai tanpa basa-basi.
" E-entahlah, ku-ku rasa begitu " Jawab Kiran semakin tergagap.
" Apa sikap mu itu karena cemburu ? " Tanyanya lagi.
" Hm ? " Kali ini Kiran mengernyitkan keningnya bingung. Tiba-tiba ketakutannya menguap hilang mendengar pertanyaan Rai.
" Cemburu apa ? " Kiran malah balik bertanya.
" Kau cemburu karena Ken mengobrol dengan pramusaji di cafe kan ? " Tanya Rai lagi.
" Ah itu... tidak aku tidak cemburu kalau masalah itu " Jawab Kiran tersenyum lucu mendengar Rai mengatakannya dengan wajah yang serius. Aku tidak segila kau tuan Rai.
" Nah kan " Pekik Ruby dari balik pintu dan langsung berjalan mendekat ke arah mereka.
" Apa ku bilang, dia tidak mungkin cemburu karena masalah sepele begitu " Jawab Ruby menggebu-gebu.
" Yes !!! Akhirnya " Teriak Dylan juga dari balik pintu dan ikut berjalan mendekat.
" Bye foto laknat " Serunya meninju udara dengan girangnya.
Ken yang tidak girang juga tidak sedih mendengar jawaban Kiran itu juga berjalan mendekat. Baginya bukan masalah menang taruhan atau tidak, tapi masalah sikap aneh Kiran yang belum menemukan titik terangnya.
" Oh tidak semudah itu marimar " Potong Rai menyunggingkan senyum liciknya.
" Hm ? " Ruby dan Dylan langsung terdiam dan menatap Rai dengan heran.
Dengan yakin Rai berbalik dan kembali menatap Kiran namun kali ini dengan ekspresi yang lebih mengintimadasi dan lebih menyeramkan dari sebelumnya.
" Aku tanya padamu sekali lagi, apa kau cemburu melihat Ken mengobrol dengan pramusaji itu ? " Tanyanya sekali lagi.
" Ti... " Dengan tergagap Kiran ingin menjawabnya namun saat dia melihat mata Rai yang mendelik bulat sempurna, dia langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
" Cksst... " Desis Rai dingin memotong jawaban Kiran.
" Curang !!! " Teriak Ruby dan Dylan bersamaan.
" I-iya aku cemburu " Jawab Kiran dengan cepat mengabaikan teriakan Ruby yang menggaungkan protesnya.
" Aku menang " Ucap Rai memamerkan tawa jahatnya sembari menatap Ruby dan Dylan yang sudah berteriak-teriak tidak terima.
Tujuh ronde... tujuh ronde...tujuh ronde...
Kata-kata itu terus saja berdenging di telinganya.
Sementara Dylan sudah jatuh bersimpuh kehilangan tenaganya.
__ADS_1
Dasar tingki wingki !!
Makinya sambil menangis di dalam hati.