
DISCLAIMER !!!
**Mungkin konten di bawah ini agak kurang nyaman bagi sebagian orang, di harapkan kebijakannya saat membaca.
Terima kasih ❤️❤️❤️**
____________________________________________
" Sudah sana masuk " Perintah Dylan untuk yang kesekian kalinya kepada Blair, namun Blair tetap saja bergeming di tempat duduknya di dalam taksi.
Dylan melihat lagi jam di tangannya, pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Yang artinya sudah lebih dari tiga puluh menit mereka berada di dalam taksi dan Blair masih saja enggan berpisah dengan Dylan.
" Tidak mau " Untuk yang kesekian kalinya juga Blair menolak perintah Dylan, dengan menggelengkan kepala kuat-kuat juga wajah yang keras kepala.
" Ini sudah lebih dari jam sepuluh, kau harus cepat masuk " Perintah Dylan dengan sabar.
" Kenapa memangnya, biasanya aku juga pulang lewat tengah malam " Sanggah Blair acuh, tatapan matanya terus tertuju pada wajah Dylan yang sudah mulai gelisah dan tak nyaman.
" Tapi tidak saat bersama ku, kau harus pulang paling lambat jam sepuluh malam " Jawab Dylan mulai kesal, sesekali dia melirik sopir taksi yang sedang menunggu di luar sembari merokok.
Pikiran Dylan berkelana macam-macam, menebak-nebak bagaimana persepsi sang sopir taksi pada mereka berdua. Sepasang remaja yang sedang di mabuk cinta dan hanya berdua saja di dalam mobil yang tertutup rapat.
Dylan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, dia harus bisa menjaga nama baik keluarganya dan juga nama baik Blair.
" Ayolah Dasya cepat masuk " Perintah Dylan mulai tak sabaran, tapi bukan Blair namanya jika langsung menurut, alih-alih melepaskan genggaman tangannya pada tangan Dylan dia malah memeluk pinggang Dylan erat-erat.
" Tidak mau " Jawabnya kesal lalu membenamkan wajahnya di dada Dylan.
" Hei hei jangan begini " Dengan panik Dylan berusaha melepaskan pelukan Blair.
" Lihat kan ! " Sungut Blair melepaskan pelukannya dan memasang wajah cemberut.
" Inilah alasannya kenapa aku tidak mau pulang " Rengeknya ketus.
" Kenapa lagi ? " Tanya Dylan sabar.
" Kau itu punya kepribadian ganda ya ? Sebentar-sebentar perhatian, sebentar-sebentar dingin, sebentar-sebentar ketus, kalau kau begini terus bisa-bisa sebentar lagi aku yang gila " Omel Blair panjang lebar.
Dylan menghela napas panjang, tidak menyangka Blair bisa menjadi sangat manja seperti itu.
" Dasya sayang " Dylan menatap wajah Blair dengan lembut.
" Kau harus cepat masuk karena aku tidak ingin merusak nama baik mu, mungkin sopir itu tidak tau kalau perempuan yang duduk bersama ku saat ini adalah Blair, model yang sedang naik daun, tapi kita juga tidak boleh ceroboh " Jelas Dylan dengan sabar lalu mengusap pelan rambut Blair.
" Tapi aku takut kalau semua ini hanya mimpi, aku takut kalau aku pulang ke rumah dan hari esok datang ternyata ini cuma dejavu atau aku sedang mabuk, atau halusinasi " Jawab Blair dengan suara memelas dan menundukkan wajahnya lesu.
Dylan tersenyum lucu mendengar penjelasan Blair. Gadis onengnya itu selalu bisa membuatnya gemas dengan tingkah polosnya.
Dengan lembut Dylan mengangkat dagu Blair dan pandangan mata mereka pun bertemu.
" Aku janjikan padamu ini bukan mimpi atau dejavu, atau halusinasi, ini nyata " Bisiknya lembut menenangkan.
" Buktinya ? " Jawab Blair masih belum percaya.
Namun bukannya memberikan penjelasan atau sederet kalimat berisi rayuan, Dylan malah langsung mencium bibir Blair dengan lembut,setiap lumatannya sangat hati-hati.
" Percaya pada ku " Bisik Dylan lagi setelah melepaskan ciumannya.
Blair yang masih syok dengan tindakan Dylan hanya bisa mengangguk dengan patuh, kesadarannya seperti ikut tersedot oleh ******* lembut yang di berikan oleh Dylan.
" Nah sekarang pulanglah, sampai ketemu besok di sekolah " Perintah Dylan sembari mengusap pipi Blair yang masih diam mematung.
Dengan perlahan Dylan memasangkan masker Blair, memakaikannya kacamata hitam dan kemudian turun untuk membukakan pintu untuk Blair. Sementara Blair bergerak sangat kikuk melihat sikap Dylan yang benar-benar baru untuknya, lain daripada yang selama ini dia lihat.
" Selamat malam, semoga mimpi indah " Pungkas Dylan begitu Blair telah keluar dari dalam mobil dan berdiri di sebelahnya.
" Se-selamat malam " Jawab Blair kikuk.
Bisa dia rasakan wajahnya memanas di balik masker dan kacamata hitamnya. Dengan canggung dia melambaikan tangan pada Dylan dan berjalan menjauh menuju gerbang rumahnya.
Padahal aku tidak minta di cium, tapi kenapa dia mencium ku ? Ya ampun !! Aku sudah berciuman berapa kali ? Satu, dua, tiga... tidak !! Aku dan dia baru berpacaran beberapa jam yang lalu, tapi kami sudah berciuman 3 kali, tidak, tidak, tidak !!! Ini tidak baik !! Blair jangan nakal !!!
Sisi malaikat dalam diri Blair berontak, menimbulkan pergulatan di dalam batinnya.
Dia sampai tidak berani menoleh ke belakang saking malunya pada malaikat yang seolah sedang mengomeli dirinya.
Begitu pintu gerbang di buka, Blair langsung masuk dengan cepat ke dalam dan kemudian bersandar pada sisi gerbang yang lain.
__ADS_1
" Nona baik-baik saja ? " Tanya satpam penjaga rumahnya sembari menatap Blair dengan khawatir.
" Tidak, aku tidak baik-baik saja, aku mulai nakal " Ocehnya meracau sembari berjalan sempoyongan menyeberangi halaman menuju rumahnya.
Dia sadar betul dirinya tidak sedang mabuk, tapi entah kenapa kepalanya terasa berputar-putar dan kakinya mendadak lemas.
Dengan tangan gemetaran dia menekan bel yang ada di samping pintu rumahnya. Bisa dia rasakan detak jantungnya yang tidak berirama seakan bisa melompat keluar dari dadanya.
" Nona sudah pulang ? " Tanya seorang pelayan begitu membukakan pintu untuknya.
" Ya " Jawab Blair lemas, dengan langkah yang masih sempoyongan dia berjalan masuk ke dalam rumah.
" Nona sedang mabuk ? " Tanya pelayan itu dan berdiri siaga di samping Blair.
" Mabuk ? " Tanya Blair linglung.
" Iya, apa nona mabuk ? Nona seperti orang yang mabuk " Ulang pelayan tersebut sekali lagi.
" Mungkin " Jawab Blair asal lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Dengan sekuat tenaga dia memaksakan kakinya untuk melangkah menaiki anak tangga itu satu persatu, tangannya mengcengkeram erat besi pegangan sepanjang tangga. Menjaga tubuhnya agar tidak merosot dan jatuh.
Blair nakal, bukan anak baik-baik, kenapa kau seperti tidak punya harga diri ? Kau kan artis tapi bisa-bisanya di cium 3 kali hanya dalam waktu 2 hari ? Ah bahkan kau di cium saat belum resmi menjadi kekasihnya, sadarkan dirimu Blair....
Kata-kata rutukan dari malaikat di dalam dirinya serasa terus bergemas keras di telinganya.
Tapi siapa yang bisa menolak Dylan, dia sangat lembut dan perhatian, dan dia selalu membuatku mati gaya.
Dengan sekuat tenaga juga batin Blair menyangkalnya.
Kau benar juga sih, dia memang berbeda dari kebanyakan anak laki-laki yang kau kenal, dia manis, lembut, perhatian, sopan, santun, pintar, tidak sombong, rajin, dan lagi ternyata dia adalah keluarga Klan Loyard jadi sepertinya ciuman 3 kali masih bisa di toleransi.
Pada akhirnya malaikat dalam dirinya pun setuju dengan isi hati Blair. Tidak bisa menyangkal kalau Dylan benar-benar sosok yang sempurna untuknya.
Tapi....
Sekali lagi malaikat itu sepertinya masih punya seribu alasan untuk menggoyahkan hati Blair.
Kenapa anak sesempurna dia bisa menyukai mu ? Jangan-jangan kau memang sedang mabuk !! Tidak !! Atau tadi yang kita lihat bukan Dylan, tapi laki-laki lain yang terlihat seperti Dylan !!
Panik malaikat itu yang membuat Blair semakin pusing.
" Aaaaahhh.... aku bisa gila !!!! " Teriakan Blair melengking tinggi membuat pelayan yang baru saja mengantarkannya ke dalam kamar terlonjak kaget.
" Sepertinya dia memang sudah gila beneran " Gumam pelayan itu dan kemudian pergi menjauh dari kamar Blair.
Sementara itu Dylan yang telah masuk ke dalam halaman rumahnya di sambut oleh pak Handoko yang sudah berdiri di depan pintu utama. Sesuai permintaan Ruby yang memintanya untuk segera memberitahunya kalau Dylan sudah pulang.
Tuan Dylan sudah datang.
Begitulah pesan singkat yang di kirimkan pak Handoko kepada Ruby.
" Kenapa Pak Handoko masih disini ? " Tanya Dylan bingung, tidak biasanya Pak Handoko menyambutnya.
" Hanya menjalankan perintah tuan " Jawab Pak Handoko santai.
" Perintah ? " Ulang Dylan mengernyitkan keningnya bingung. Hatinya langsung mencelos khawatir, apa ayahnya yang menyuruh Pak Handoko untuk menunggunya karena dia pulang sangat terlambat hari ini.
Dengan cepat dia melihat jam tangannya, pukul sebelas lewat sepuluh menit. Seketika itu juga wajahnya berubah pias, pertama kali dalam hidupnya dia pulang selarut ini, dan itu tidak baik, tidak bertanggung jawab baginya.
" Maaf Pak Handoko telah membuat anda menunggu " Ucap Dylan dengan sungkan.
" Tidak masalah tuan " Jawab Pak Handoko santai dan kemudian menutup pintu utama kemudian menguncinya.
Perasaan Dylan semakin di gayuti rasa bersalah begitu melihat Pak Handoko mengunci pintu. Dia merasa dirinya adalah orang terakhir yang belum pulang ke rumah dan itu sangat-sangat tidak bertanggung jawab. Dia membuat orang lain menunggunya sementara seharusnya mereka semua bisa beristirahat.
Dengan ragu-ragu dia berjalan menyusuri lorong menuju kamarnya. Sibuk memikirkan alasan apa yang akan di berikan kepada ayahnya besok pagi. Dia sangat takut mengecewakan ayahnya.
Ruby yang telah membaca pesan yang di kirimkan Pak Handoko itu pun menatap pintu lekat-lekat, menanti sosok pemeran utamanya lewat.
" Mungkin dia akan tiba dalam hitungan ke sepuluh, kita lihat. Sepuluh, sembilan... " Ruby mulai berhitung mundur di temani oleh Kiran. Mata mereka awas dan indera pendengaran mereka menajam seribu persen untuk menangkap suara sekecil apapun.
Samar-samar terdengar suara langkah kaki yang semakin membuat Ruby dan Kiran berdebar-debar seperti menanti sebuah anti klimaks dari drama yang sering mereka tonton.
" .... enam, lima, ... " Hitungan mundur pun terus mereka gumamkan.
Rai yang benar-benar sudah kesal dengan tingkah Ruby itupun menggenggam erat tangannya. Dia sudah sangat ingin membopong Ruby di pundaknya dan membawanya kembali ke kamar mereka.
__ADS_1
" ... tiga ... " Suara langkah kaki itu semakin mendekat.
" .... dua ... " Ruby dan Kiran menahan napas, jika mereka melihat raut wajah bahagia Dylan mereka akan menariknya dan menginterogasinya, tapi jika mereka melihat raut wajah sedih mereka hanya akan menepuk pundaknya dan tidak akan membahas masalah ini sama sekali.
" ... satu !! " Pekik mereka berdua bersamaan saat melihat sosok yang mereka tunggu muncul di depan pintu.
" Hah !!! " Ruby dan Kiran kompak menutup mulutnya karena syok. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Sementara Rai yang sudah kehabisan kesabaran itupun langsung berdiri dan berkacak pinggang.
" Ini lah yang di namakan azab karena kau menunggu laki-laki lain selain aku " Ejek Rai penuh kemenangan karena melihat yang ternyata datang adalah Pak Handoko bukannya Dylan yang mereka tunggu-tunggu.
" Dylan mana ? Katanya sudah pulang ? " Kejar Kiran bingung.
" Tuan Dylan langsung menuju kamarnya, karena dia terlihat sangat... " Jawab Pak Handoko sungkan, memutuskan apakah sopan jika dia yang memberitahukan perihal urusan Dylan.
" Dia terlihat bagaimana ? Wajahnya kenapa ? Sedih, senang, atau bagaimana ? " Kejar Ruby cemas.
" Entahlah nyonya tapi dia seperti pucat pasi atau sedih " Jawab Pak Handoko sungkan.
Ruby dan Kiran langsung lemas mendengar hal itu dari Pak Handoko, pantas saja dia langsung menuju kamarnya, mungkin dia tidak ingin membagi kesedihannya dengan kakak-kakaknya, begitu kiranya pikiran Ruby dan Kiran.
" Baiklah kita urus itu besok " Pungkas Rai tegas.
" Sekarang yang perlu di urus adalah kau " Lanjutnya menunjuk Ruby yang masih bingung mengira-ngira kenapa kencan Dylan tak berjalan lancar.
" Ayo cepat bangun " Dengan sigap Rai menarik tangan Ruby agar berdiri dari duduknya, dan dalam satu raupan dia menggendong Ruby di pundaknya.
" Hei hei tu-tunggu dulu, turunkan aku " Ruby meronta-ronta di gendongan Rai.
" Tidak bisa, kau harus mendapatkan hukuman " Jawab Rai ketus.
" Selamat malam " Pamitnya kemudian kepada semua orang yang ada di ruangan itu dan langsung membawa Ruby pergi.
" Semoga selamat " Kiran melambaikan tangannya dengan sungkan melihat Ruby yang sebentar lagi akan mendapatkan hukuman dari Rai.
" Tu-tunggu dulu sebentar " Teriakan Ruby menghilang di balik pintu, meninggalkan ketiga orang lainnya yang masih bingung dengan keadaan itu.
Dengan cepat Rai membawa Ruby menaiki tangga menuju kamar mereka, membuka pintu kamar dengan perlahan agar Raline tidak terbangun.
" Rai... sayang, turunkan aku ya " Bisik Ruby begitu mereka berada di dalam kamar.
Namun Rai mengabaikannya dan langsung membawa Ruby menuju ranjang mereka, menurunkannya pelan-pelan.
" Malam ini kau harus mendapat hukuman " Bisik Rai di telinga Ruby.
" Iya maaf, ta-tapi kita ganti baju dulu " Jawab Ruby gelagapan.
" Untuk apa ganti baju kalau toh akhirnya kita tidak akan memakai apapun " Balas Rai dengan senyum jahilnya. Lalu tanpa membuang-buang waktu Rai pun menghujani wajah Ruby dengan ciuman sembari tangannya bergerak lincah melepaskan kancing baju Ruby.
Napas mereka saling memburu, perasaan panas langsung menjalari tubuh mereka berdua. ******* demi *******, kecupan demi kecupan pun silih berganti.
" Bersama mu aku seperti tidak pernah kehabisan hasrat, malah semakin hari semakin besar " Gumam Rai penuh desahan di telinga Ruby.
Wajah Ruby merona malu mendengar penuturan Rai, sudah satu tahun lebih mereka menikah, namun Ruby selalu saja masih malu-malu dengan Rai jika berhubungan dengan hal-hal intim semacam ini.
" Kau siap ? " Tanya Rai dengan lembut sembari mengecupi leher istrinya.
" Ya " Jawab Ruby malu-malu.
Rai pun bergerak naik ke atas tubuh Ruby, menahan tubuhnya dengan kedua lututnya.
" Aaa.... huweee... huweee... " Tangisan Raline yang tiba-tiba membuat Rai jatuh berguling kesamping dan meraih selimut di bawah kakinya kemudian dengan cepat menyelimuti tubuh mereka berdua.
" Aish bikin kaget saja " Gerutu Rai panik.
" Hehehe... sebentar ya " Ruby pun ikut terkekeh, dia kemudian mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan mengenakannya kembali, lalu berjalan menuju boks tidur Raline untuk menggendongnya.
Dengan kesal Rai menatap Ruby juga Raline.
" Dia benar-benar tau waktu yang tepat untuk menganggu " Gumamnya kesal.
" Mirip siapa sih dia ? " Rai pun menarik selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya dan meringkuk.
Ruby yang melihat hal itu pun hanya bisa tertawa. Antara kasihan dan juga lucu karena sekarang mereka berdua sudah seperti pencuri saja jika ingin berduaan di malam hari, harus mengendap-endap agar tidak berisik dan malah membangunkan Raline.
Di tinggal pas sayang-sayangnya tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan di tinggal pas lagi tinggi-tingginya.
__ADS_1
Jerit batin Rai penuh kekesalan.