
Semua tersangka dari keributan di restoran tadi sedang berbaris rapi menghadap sosok yang duduk dengan tegap di sofa tunggal yang ada di ruang manager hotel. Termasuk juga Ken dan Ruby di dalamnya.
" Jelaskan padaku " Rai berkata tajam dan menyeramkan.
" Ah begini tuan, nona muda ini memancing keributan dengan tamu hotel lainnya " Pegawai restoran hotel itu berusaha menjelaskan, dia menunjuk Ruby.
Ruby membelalak terkejut mendengar penjelasannya.
" Hei apa aku tidak salah dengar ? Aku memulai keributan ? Dia dulu yang... " Ruby berusaha menjelaskan namun terhenti oleh gerakan tangan Rai.
" Benar Tuan Rai, dia menabrak ku, dan membuat dress mahal ku rusak " Suara wanita tersangka utama memelas yang di buat-buat.
" Apa benar begitu ? " Rai bertanya tajam pada semua orang. Yang di jawab anggukan kompak dari mereka.
" Nona muda ini bahkan memukul dan menendang para tamu tuan " Pegawai hotel itu semakin memprovokasi dan menyudutkan posisi Ruby.
" Apa ?!? Dia memukul dan menendang ?!? " Rai terlihat semakin marah.
" Rhoma ah bukan maksudku Rai, ini tidak seperti yang kau bayangkan " Ruby berusaha menghentikan interogasi Rai lebih lanjut.
Semua orang kompak menoleh dan melotot menatap Ruby yang dengan beraninya memanggil Rai dengan sebutan Rhoma.
Aish mulutku ini selalu saja.
Ruby memukul mukul mulutnya sendiri.
Ken yang mendengar Ruby selalu kelepasan bicara saat suasana genting, menahan tawanya.
" Lalu apa yang kalian lakukan melihat semua kejadian itu ?!? " Suara Rai mulai meninggi, dia menatap tajam ke arah Ken yang sekarang sudah kehilangan tawanya.
" Aku tadi akan menolongnya tapi... " Ken berusaha membela diri, tapi kalimatnya terputus karena tatapan tajam Rai yang membuatnya kehilangan keberanian.
" Tuan muda Ken sudah berusaha melerainya Tuan, tapi nona muda yang bar-bar ini tidak peduli dan tetap saja melukai tamu kita tuan " pegawai itu menjelaskan secara detail.
" Benar tuan Rai, wanita kampungan ini mengoceh tentang dia yang sudah berhasil menggaet tuan Rai " Wanita tersangka kedua memfitnah Ruby.
Ruby hanya menghela nafas menyerah dengan semua drama yang ada di depannya. Dia berbalik dan akan pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
" Tunggu dulu " Rai menghentikan langkah Ruby.
Dia berbalik lagi menghadap Rai yang sekarang sudah semakin marah.
" Kau nona muda " Rai menunjuk wanita tersangka utama dengan wajahnya.
" Siapa nama mu ? " Tanyanya tajam.
" Cecil Tuan Rai " Ucapnya seraya tersenyum menggoda, merasa berhasil mendapatkan perhatian dari Rai.
" Siapa nama keluarga mu " Tanyanya lagi.
" Himawan Tuan Rai, keluarga kami memiliki perusahaan yang bergerak di bidang percetakan " Jelasnya dengan nada sombong, berusaha membuatnya terlihat sepadan dengan Rai.
Ruby memutar bola matanya. Malas mendengar Rai yang berdialog dengannya, perasaan cemburunya sedikit muncul. Ekspresi wajah Ruby yang cemberut tidak luput dari perhatian Rai.
" Baiklah, aku sudah mendapatkan yang aku inginkan " Rai mengambil ponselnya dan menghubungi Sekertaris Yuri.
" Yuri cari tau tentang keluarga Himawan dan bisnis apa saja yang mereka miliki, aku tiba-tiba ingin bekerja sama dengan mereka " Rai berbicara di telfon dengan tegas.
Cecil tersenyum bahagia merasa bisa selangkah lebih dekat dengan Rai. Laki-laki yang selama ini selalu jadi idola para wanita, kandidat terbaik sebagai suami idaman, sekarang berada di depannya dan menanyakan namanya.
" Hahaha... " Tawa sinis Ruby pecah di tengah keheningan suasana.
Dia membayangkan bagaimana mungkin manusia purba ini menjadi idaman para wanita, tentu saja mereka akan kabur setelah melihat sifat aslinya.
" Sayang kemarilah " Suara Rai dingin dan tajam melihat Ruby mentertawakan dirinya.
Seketika Ruby menghentikan tawanya dan berubah pucat, dia tau Rai pasti akan balas mengerjainya. Ruby melotot ke arah Rai dengan tatapan yang seolah-olah berkata jangan macam-macam. Rai bukannya tidak melihat kode dari tatapan Ruby, tapi dia sudah lelah menahan diri dari semua orang yang menggunjing istrinya, wanita yang paling berharga dalam hidupnya. Dia tidak tahan lagi, dia akan membongkar pernikahan mereka sekarang.
" Aku tidak ingin mengulanginya dua kali, kau tau itu " Suara Rai mulai meninggi.
" Baik Tuan, terima kasih " Cecil dengan percaya dirinya mendekati Rai dan berdiri di sampingnya.
Ruby terkejut melihat kejadian itu, begitu juga dengan Rai. Dia tidak menyangka panggilan sayang yang dia tujukan untuk Ruby malah di salah artikan oleh Cecil dan menganggap itu panggilan untuknya.
Ruby menoleh ke arah Ken yang juga sama herannya. Tiba-tiba Ken menaikkan salah satu alisnya, mengerling nakal pada Ruby.
__ADS_1
" Saatnya membalas pertandingan 5 Ronde mu dengannya, balaslah seperti yang persis dia lakukan, ini akan menyenangkan " Ken berbisik lirih, mengajak Ruby bekerja sama untuk mengerjai kakaknya.
" Aku harus bagaimana ? " Tanya Ruby cepat.
" Berpura-puralah kau cemburu, cemburu yang sangat berat " Ken menjawab cepat.
Ruby dengan cepat menoleh kearah Rai, memasang wajah kesal dan cemberut. Kemudian pergi begitu saja meninggalkan Rai.
Rai yang melihat ekspresi Ruby heran kemudian menatap tajam ke arah Ken yang mengangkat bahunya dan memiringkan kepalanya tanda tidak tau. Rai mengepalkan tangannya dan pergi dengan terburu-buru menyusul Ruby, meninggalkan semua orang dengan ekspresi bingung.
Ruby sudah di dalam lift yang menuju kamarnya, dia ngeri membayangkan kejadian yang menimpanya barusan. Wanita-wanita pemuja Rai tidak segan untuk melakukan kekerasan fisik terhadap wanita lain yang dekat dengan Rai. Dia memikirkan Ignes yang seribu kali lebih menyeramkan dari wanita-wanita yang bertengkar dengannya, tidak salah dia sampai ingin berbuat sejauh itu untuk mendapatkan Rai meskipun harus melenyapkannya.
Ruby sudah sampai di depan kamarnya, dia menggerakkan handle pintu tapi terkunci.
" Aish sial, aku lupa kalau pintu ini hanya bisa di buka dengan kartu khusus " Ruby menggerutu.
" Kenapa saat dia yang marah dia bisa bersikap keren dengan pergi ke tempat latihan menembak dan dengan gaya cool menodongkan senjatanya padaku, tapi sekarang lihat aku, saat aku marah aku malah terkunci di luar " Ruby menghentakkan kakinya kesal.
Dari jauh Rai tertawa tanpa suara melihat tingkah Ruby yang sedang kesal dan mengomel sendiri. Ponselnya berdering " Aku menyukai mu, aku menyukai mu, aku menyukai mu ", membuyarkan lamunannya.
" Ya Yuri bagaimana ? " Tanya Rai tegas.
" Hancurkan perusahaannya, bagaimanapun caranya buat kita yang akan membeli perusahaannya, dan sampaikan pesanku pada mereka, kalau mereka ingin perusahaan mereka selamat, pergi temui Ruby yang jadi cleaning service dan suruh mereka berlutut di depannya, aku berikan waktu sampai besok siang. Dan ganti semua pegawai hotel ini, mereka semua penjilat " Perintahnya tegas.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara itu di tempat lain.
Seseorang duduk di kursi yang ada di belakang meja kerjanya yang besar, matanya menatap layar laptopnya dengan serius, dia sedang membaca surel yang masuk di akun emailnya.
Dia membuka pesan gambar yang dia terima, deretan foto Ruby dan Rai yang sedang duduk berduaan di bangku taman sebuah restoran, berpelukan, dan juga tertawa bahagia.
Semua foto-foto itu membuatnya marah, dia menutup laptopnya keras tidak sanggup lagi melihat deretan foto kemesraan Ruby dan Rai.
Tung ting.
Suara surel masuk lagi di laptopnya. Mau tidak mau dia membukanya. Sebuah foto dengan caption bonus untukmu membuatnya membanting laptopnya ke lantai. Foto Ruby yang berjinjit mencium bibir Rai terpampang jelas di layar laptop yang telah retak karena benturan keras ke lantai.
__ADS_1
" Segera siapkan semuanya " Perintahnya kepada seseorang di sambungan telfon.