Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Antara Dylan Dan Blair


__ADS_3

" Aish terserahlah " Blair menggelengkan kepalanya dan mengusir bayangan masa lalunya.


" Mungkin tuan Rai memang keren dan tampan, tapi aku tidak mau dengan duda " Ocehnya lagi.


Tok, tok, tok !! Suara ketukan pintu membuyarkan pikiran Blair, dia melirik ke arah pintu.


" Siapa ? " Teriaknya bertanya.


" Aku nona " Saut asistennya dengan lantang. Lalu tanpa menunggu izin dari Blair dia sudah membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Blair. Dengan tangan membawa nampan berisi kue dan minuman dingin dia menatap heran Blair yang sedang berbaring malas di atas ranjang.


" Kau harus membersihkan make up mu dulu nona, kalau tidak nanti wajahmu akan berjerawat " Ucapnya seraya berjalan mendekat ke arah ranjang dan meletakkan nampan itu di atas nakas.


" Aku malas, kepala ku pusing " Jawab Blair malas.


" Sini biar ku bersihkan " Ucap Asistennya lalu mengambil cairan pembersih make up dan juga kapas.


" Kau itu model kenapa bisa sembrono begini dalam menjaga kulit wajahmu, untuk artis sepertimu ini adalah aset penting " Lanjutnya seraya membersihkan wajah Blair yang sedang tiduran.


" Aku tidak sabar ingin segera berumur 18 tahun " Ucap Blair tiba-tiba.


" Nanti saat aku sudah cukup umur untuk tinggal sendiri, kau mau kan tinggal denganku kak Sofia, uang yang ku hasilkan dari menjadi model sudah cukup untuk membeli sebuah apartemen " Lanjutnya.


" Kenapa kau ngotot sekali ingin pergi dari rumah ini ? " Tanya wanita yang sudah berumur akhir 20 an tersebut.


" Apa kau tidak bosan setiap hari di tanya-tanya terus oleh papa, apakah aku sudah dekat dengan tuan Rai, apakah aku begini, apakah aku begitu, aku sendiri saja sudah muak terus di tanya seperti itu " Jawab Blair kesal.


" Abaikan saja " Sofia terus saja mengusap-usap lembut wajah Blair dan memijitnya.


" Kalau bukan karena dulu aku sangat ingin menjadi artis juga aku tidak akan mau di suruh mendekati tuan Rai, yaah meskipun dia itu tampan, keren dan sangat mempesona, dan aku tergila-gila padanya tapi aku tidak akan tahan berada di dekatnya lebih dari 20 menit, kalau bukan aku yang pergi karena menyerah pasti aku pergi karena di tendang olehnya " Oceh Blair bercerita.


" Hei kau dulu sangat bahagia saat menerima telepon dari tuan Yuri bahwa kau akan menjadi teman kencannya semalam " Jawab Sofia.


" Tentu saja aku senang, bagaimana mungkin aku melepaskan kesempatan emas menjadi seorang artis dengan mudah, dan lagi menjadi teman kencannya semalam saja sudah membuatku di segani teman-temanku " Sanggah Blair lalu terkekeh sendiri mengingat kenangannya kala itu.


" Iya iya kau tidak menyukainya, lalu tipe seperti apa laki-laki yang kau sukai ? " Tanya Sofia basa basi.


" Seperti apa ya ? Yang humoris, lucu dan bisa selalu membuatku berdebar-debar saat di dekatnya " Jawab Blair sambil berkhayal tentang sosok laki-laki idamannya.


" Seperti teman mu tadi itu kah ? " Tanya Sofia lalu terkekeh melihat Blair yang langsung memberengut kesal begitu mengerti siapa yang di maksudkan oleh Sofia.


" Dia ? Bahkan 10 persen dari tipe ku pun tidak " Cibir Blair kesal.


" Oh ya ? Lalu kenapa kau terus saja mengikutinya tadi ? " Goda Sofia.

__ADS_1


" Aku tidak mengikutinya, kita berada di mall yang sama, dan lagi dia itu teman sebangku ku, kalau aku mengabaikannya lalu dia menyebarkan rumor tentangku bagaimana ? Karier yang sedang ku bangun akan hancur " Kilah Blair ketus.


" Oh ya ? " Goda Sofia seraya terkekeh melihat Blair yang semakin mengerutkan dahinya kesal.


" Sudah jangan membahasnya lagi " Pungkas Blair acuh.


" Menurutku dia itu sangat tampan, apa kau yakin tidak berdebar-debar saat ada di dekatnya ? " Goda Sofia lagi.


" Hahaha... " Blair tersenyum kecut.


" Aku sangat berdebar-debar jika ada di dekatnya, bahkan saking berdebarnya darahku sampai mendidih di kepala " Jawabnya sarkas.


Sofia yang melihat hal itu lalu tertawa keras dan terbahak-bahak. Tapi Blair masih saja tetap merengut kesal jika memikirkan Dylan.


" Aku tidak akan mau berurusan lagi dengannya, tidak akan " Omelnya lagi.


" Kapan sih tuan Ken akan pulang dari liburan, aku ingin mengajukan pindah kelas saja " Gerutunya lagi.


" Hei jangan berlebihan atau nanti kau akan merindukannya saat sudah kehilangan dia " Goda Sofia seraya menahan tawanya yang ingin meledak.


" Cih ! Merindukannya ? Anak sepertinya itu tidak akan ada yang pernah merindukannya, dia itu anak aneh, antik dan bermuka masam yang pernah ku kenal dan ku lihat seumur hidupku, ah tambah satu lagi, dia itu anak yang mesum " Makinya bertubi-tubi.


" Mesum ? " Sofia menghentikan aktifitasnya memijit wajah Blair lalu menatapnya lekat-lekat.


" Haah syukurlah, ku kira dia mesum yang seperti itu, kau harus berhati-hati, jaman sekarang banyak orang berbuat nekat " Pesan Sofia dengan cemas.


" Iya iya aku bisa jaga diri, sudah hentikan jangan membahas itu terus " Blair menyudahi pembicaraan bertemakan Dylan tersebut.


" Kau mau ya tinggal denganku saat nanti aku sudah memiliki apartemen sendiri ? " Rengek Blair memasang wajah melas.


" Kau yakin ? Hidup sendiri itu tidak mudah loh " Tanya Sofia memastikan.


" Itu masih lebih mudah daripada harus jadi barang dagangan ayahku " Jawab Blair sedih.


" Mana ada orang tua yang tega menjual anaknya sendiri, selalu menyuruhnya menempel ke tuan ini, tuan itu seperti orang yang tidak punya harga diri saja " Suara Blair tercekat penuh emosi.


Sofia yang semula memijit wajah Blair kini berganti mengelus-elus kepalanya, dan menenangkannya.


" Mungkin ayahmu ingin yang terbaik untukmu, makanya dia melakukan itu " Ucap Sofia menengahi.


" Bahagiaku bukan standart yang ayah berikan untuk ku, tapi aku sendiri yang menentukan. Harusnya kalau dia memang menyayangiku, dia akan bahagia melihatku bahagia, bukankah begitu sudah cukup ? " Gerutunya kesal namun dengan linangan air mata yang mengalir turun melewati pelipisnya.


" Yaah aku tidak bisa berkomentar, aku tidak ingin kau membenci ayahmu, karena bagaimanapun juga dia ayahmu, mungkin sifatnya memang menyebalkan tapi kalau kau terus berusaha menunjukkan bahwa kau mampu bahagia dengan pilihanmu sendiri, ku rasa lama kelamaan dia akan mengerti " Jelas Sofia sabar.

__ADS_1


" Cih, aku tidak yakin hal itu " Jawab Blair malas.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara itu Dylan yang baru saja keluar dari kamar mandi sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk dan berjalan menuju sofa.


Dia melirik sebuah tas belanja warna putih yang tergeletak disana. Dengan malas dia mengambilnya dan membukanya, melihat isi di dalamnya.


" Cih " Cibirnya lalu tersenyum saat merentangkan sebuah jaket yang ada di tangannya. Setelah menyerahkan ice cream milik Rai dan Ruby tadi, Dylan memutuskan ingin berjalan-jalan sebentar mencari beberapa baju untuknya. Namun Blair yang terus saja menempel dan mengoceh itu membuat telinganya berdenging nyeri. Saat dia memutuskan mengabaikannya, Blair malah terpeleset dan hampir saja jatuh terjengkang.


Sebagai orang yang berada paling dekat dengannya dan di dorong oleh sifat refleks kemanusiaan alam bawah sadarnya, Dylan mengulurkan tangannya menahan punggung Blair, tapi kejadian itu malah membuat baju Blair sedikit tertarik dan memperlihatkan bra hitam miliknya.


Astaga dragon !! Dosa...dosa...


Pekiknya dalam hati, dia langsung memalingkan wajahnya. Tapi Blair sepertinya malah berlama-lama berada di rengkuhannya, tangannya yang pegal bisa saja melepaskan Blair dan membiarkannya jatuh terjengkang, tapi itu bukan tindakan terhormat dari seorang laki-laki, apalagi di depan umum. Jadi Dylan asal bicara saja dan membuat Blair kesal.


" Hei tunggu dulu " Teriak Blair setelah Dylan berjalan agak jauh darinya. Namun Dylan tidak peduli, dia terus saja berjalan mengabaikan Blair yang sudah kesal setengah mati karena ucapannya.


Blair berjalan cepat mengikutinya, lalu menghadangnya dengan merentangkan kedua tangannya.


" Kau tunggu disini sebentar, ada yang ingin ku berikan padamu " Ucap Blair gugup.


Dylan mengernyitkan keningnya bingung, tapi Blair sudah lebih dulu berlari masuk ke sebuah outlet yang ada di samping mereka. Dylan mengamatinya, terlihat Blair sedang berbicara dengan pelayan outlet tersebut, lalu tak berselang lama dia kembali membawa kantong belanjaan putih tersebut.


" Nih untuk mu " Ucapnya ketus seraya menyodorkan tas itu.


Dylan tidak langsung menerimanya dan malah memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.


" Jangan ge-er, aku memberimu ini agar aku tidak punya hutang apapun padamu " Ucap Blair acuh.


" Nih " Dia menarik tangan Dylan keluar dari sakunya dan menggantungkan tas belanja itu di tangan Dylan.


" Kalau tidak suka buang saja " Lanjutnya ketus lalu membalikkan badannya dan langsung pergi.


Dylan baru akan membuka tas belanjaan itu untuk melihat apa yang di berikan oleh Blair, namun ponselnya berbunyi dan dengan buru-buru dia mengangkatnya.


" Ya paman Yuri " Jawabnya begitu panggilannya tersambung.


" Kau dimana ? Ayo kita pergi, kami menunggumu di parkiran " Ucap Sekertaris Yuri dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Dylan segera pergi menuju parkiran dengan buru-buru. Mereka semua akan pergi ke rumah sakit menemani Ruby.


" Jadi hutang jaket " Gumamnya lirih dan tersenyum memandangi jaket pemberian Blair tersebut. Lalu melipatnya lagi dan memasukkannya kedalam tas belanjaan kemudian menaruhnya di ruang ganti.

__ADS_1


__ADS_2